Chapter 31 - Kebenaran

2645 Kata
“Tapi, andai saja Hetalia memberi kesempatan agar adikku bisa sembuh seratus persen atau andai saja negara ini bisa membantu orang miskin seperti kami, pasti ibu dari calon suami adikku juga masih hidup!” “Andai saja aku kaya.” Wajah jurnalis ini tampak mengeras. “Andai saja negara ini bisa lebih makmur.” Tangannya tak luput dari gemetar. Ia mengepal erat. “Andai saja virus ini tidak pernah ada.” Tom merasakan sensasi yang aneh. Ada rasa yang menggambarkan seolah semua hal di hidupnya telah hancur. “Andai saja semua itu tidak terjadi, maka adikku... adikku...!” Tom tidak tahu, dadanya begitu sesak dan berdebar hebat. Kilasan-kilasan balik yang memenuhi kepala dari sosok pria berambut keriting ini telah membuatnya menarik nafas dalam-dalam. Ia jadi teringat dengan perkataan yang diucapkannya pada Ketua Polisi Distrik pusat tempo hari saat dia diinterogasi. Bagaimanapun juga, ia sudah berada di kantor Dewan Parlemen Iranjia, di mana semua orang bahkan seluruh masyarakat di negeri ini terfokus pada sosoknya. Keputusannya untuk datang ke sini dan mengungkapkan segala hal bukanlah sebuah kesalahan. Ia harus segera menyampaikan semuanya. “Orang ... orang yang saat itu ditemukan sudah tinggal tulang belulang di tepi hutan ialah adik perempuanku.” Seluruh awak jurnalis yang berada di ruangan ini sontak menarik nafas begitu mendengarnya. Mata Tom masihlah menatap hampa ke sekitar. Ia melirik ke arah Roy Ayasa yang langsung berdiri menghampirinya begitu Tom mengucapkan sepatah kata tadi. “Omong kosong apa lagi ini? Apa kau disuap oleh Hetalia untuk ikut membual dan membuat drama di sini? Kalian semua pergi dari sini! Sudah cuku—“ “Kenapa?” Liliana langsung memotong ucapan Roy Ayasa dengan tatapan dingin. “Kenapa Anda kepanasan seperti itu? Apakah Anda merasa takut karena kebenaran akan diungkap sebentar lagi?” Wajah Roy Ayasa mengeras. Ia menautkan alisnya sebagai tanda kemarahan yang memuncak saat ini. “Dasar! Kau wanita tak tahu diri!” Seluruh jurnalis yang masih terus menyorotkan kamera langsung menatap ke arah anggota parlemen itu dengan pandangan tak percaya. Sebagai seseorang yang mengatasnamakan diri mereka sebagai wakil rakyat, apakah Roy Ayasa pantas berkata seperti itu pada seorang wanita? Terutama orang yang dikatainya tadi ialah Liliana Seran yang juga merupakan seorang dokter ahli yang menjabat sebagai direktur Rumah Sakit Hetalia. Tak sepatutnya Roy menghina pahlawan yang telah berjibaku menghadang Ex-0 di negara ini. Menyadari akan tatapan semua orang yang terfokus ke arahnya, Roy pun merasa sudah terjebak. Ia terbawa emosi hingga tak sadar dengan aksi bodohnya tadi. “Tuan Roy Ayasa, apakah ini sikapmu yang sebenarnya?” “Sikap Anda yang mengatai seorang wanita terutama dokter seperti itu merupakan sebuah hal yang tidak etis bagi seorang anggota Dewan Parlemen.” “Jadi, ini adalah sikap asli dari Roy Ayasa ketika dirinya merasa terpepet dan terjebak?” Jurnalis yang berada di ruangan ini langsung sahut menyahut dengan opini mereka masing-masing. Suara mereka yang bising langsung memenuhi satu ruangan. Kepala Roy Ayasa pun sontak berdenyut merasakan atmosfer panas akibat emosi negatif yang diarahkan oleh mereka semua kepada dirinya. “Sudah cukup! Bisakah kalian diam?!” bentak Roy pada mereka semua. “Kenapa kalian semua justru berspekulasi sendiri dan memojokkan pemerintah?” “Seharusnya kau yang diam, Tuan Roy Ayasa,” sahut Tom begitu mendengar apa yang diucapkan oleh pria arogan tersebut. Jurnalis yang memiliki rambut keriting itu pun mengeluarkan kartu nama dari saku jaketnya. Dia memandang anggota Dewan Parlemen itu dengan tatapan datar. Di tangannya kini terdapat tanda pengenal dan kartu pers yang mengatasnamakan Tom Hustoff. Semua orang yang berada di sini memang tahu jika pria tersebut adalah seorang jurnalis, sama seperti mereka semua. Akan tetapi, apa maksud dia memperlihatkan tanda pengenal itu? "Apakah kalian tahu dari mana redaksiku berasal?” tanya Tom pada seluruh awak media sembari menenteng kartu pengenalnya. “Aku berasal dari Redaksi Paleo.” Redaksi Paleo merupakan salah satu perusahaan media yang cukup terkenal di Distrik Pusat. Salah seorang anggota redaksi itu pun saat ini juga berada di tempat ini untuk meliput konferensi pers dari Dewan Parlemen. Begitu Tom mengucapkan hal tadi, semua orang yang tak tahu menahu soal itu pun langsung memandangnya dengan tatapan aneh. Lantas kenapa jika Tom Hustoff berasal dari Redaksi Paleo? Rey yang merupakan ketua dari Komisi Pemberantas Korupsi saat ini langsung melirik ke arah ketua Dewan Parlemen di sampingnya. Keringat dingin membanjiri seluruh tubuh dari pria berambut cepak tersebut. Apa ini? Apakah semua hal yang telah dibangun sang kakak di dunia perpolitikan Iranjia akan hancur dalam sekejap gara-gara sebuah vaksin? Mata Tom menatap ke arah Roy yang saat ini berdiri di hadapannya dengan bengis. “Perlu kalian tahu, Redaksi Paleo merupakan sebuah alibi. Semua orang yang berada di Distrik Pusat mengenalnya sebagai salah satu media informasi terpercaya namun, sayang sekali. Nyatanya, redaksi kami itu menyisipkan propaganda terselubung dalam setiap berita yang dihadirkan tanpa kalian sadari.” Tom melirik ke arah wanita berambut hitam dengan kartu pers yang sama seperti miliknya. “Kau berasal dari Redaksi Paleo juga, kan?” Wanita yang berada di posisi depan itu langsung menatap Tom Hustoff dengan gugup. Tatapan hampa dan kosong milik Tom Hustoff terasa begitu mengerikan baginya. Wanita ini adalah pegawai baru di perusahaan itu, dirinya baru melamar pekerjaan di sana sebulan yang lalu. Oleh karena itu, ia tak tahu apa-apa maksud dari perkataan Tom tadi. “Apa kau sebagai jurnalis mendapatkan hak untuk mengakses informasi yang sudah kau liput setelah dirimu menyetorkannya pada editor ataupun pimpinan redaksi?” tanya Tom dengan datar. Wanita itu menggeleng. “Sesuai dengan persyaratan yang tertulis di kontrak kerja, seorang jurnalis di Redaksi Paleo tidak akan diberikan akses untuk melihat informasi yang sudah diliput setelah ia menyerahkannya pada editor.” Tom yang mendengar pernyataan itu langsung mengangguk. Kini ia menatap ke arah seluruh awak media. Pria itu bertanya pada mereka semua. Tidakkah mereka penasaran? Kenapa redaksi tempatnya bekerja memiliki aturan yang tak masuk akal seperti itu? “Jawabannya adalah karena tadi. Koran-koran terbitan Redaksi Paleo selalu eksklusif dan memiliki harga yang mahal. Tidak semua orang di sini bisa membacanya. Aku tahu jika berita yang termuat di sana pasti berkualitas, tapi tetap saja. Ada propaganda yang selalu diselipkan oleh editor pada informasi yang ditulis,” jelas Tom yang langsung membuat mereka terperangah. Wanita yang bekerja pada agensi yang sama dengan Tom tadi pun langsung menatapnya kaget. “Jadi, itu alasan kenapa kami sebagai jurnalis di Paleo tak berhak mendapatkan akses untuk melihat koran yang sudah dicetak? Hal itu karena editor telah mengubah isi berita dari yang kami tulis?” Tom mengangguk. Ia membenarkan pertanyaan dari wanita tadi. Kini mata hitam milik Tom menatap ke arah Roy Ayasa yang tak henti-hentinya mengepalkan tangan. Anggota Dewan Parlemen yang dikenal sebagai raja di balik bayangan itu tampaknya berusaha sebisa mungkin untuk tak lepas kendali dan meluapkan amarahnya di sini. “Apakah kalian semua tahu siapa direktur utama dari Redaksi Paleo? Jawabannya adalah orang ini!” Tom menunjuk ke arah Roy Ayasa dengan tatapan tajam. Sedikit demi sedikit, matanya yang kosong tadi langsung mengeluarkan cahaya yang dipenuhi oleh aura kemarahan. “Roy Ayasa adalah direktur utama dari perusahaan itu. Diam-diam, ia adalah pemilik saham tertinggi di sana. Sehingga secara tak langsung, pria inilah yang telah mengeluarkan aturan seperti tadi!” Tom berteriak dengan murka untuk melampiaskan kekesalannya. “Roy Ayasa adalah pencetus dan pembuat propaganda terselubung yang ada di setiap berita koran tersebut. Di sini aku berdiri untuk mengungkapkan kenyataan sesungguhnya. Ia adalah orang yang begitu busuk! Dia ingin mengubah negara ini!” Para petinggi Hetalia, petugas polisi, awak media, termasuk Rey dan Ketua Dewan Parlemen hanya bisa tutup mulut. Mereka seakan memberikan hak pada Tom Hustoff untuk meluapkan emosinya. Roy Ayasa yang jadi bahan perbincangan utama sekarang pun hanya bisa tertunduk menatap lantai sembari terus mengepalkan tangan. “Dia ini adalah seorang raja di balik layar. Percaya atau tidak, segala keputusan Dewan Parlemen sebesar 60% ditentukan olehnya. Dia juga menguasai dan memonopoli beberapa sektor penting negara, mulai dari pertambangan hingga lembaga tentara di Indonesia. Keluarganya adalah pelaku nepotisme terbesar di Iranjia dan seluruh masyarakat tak ada yang mengetahui hal tersebut,” ungkap Tom. Kini pria itu menunjuk ke arah Rey yang sedari tadi hanya duduk terdiam di meja. Ia muak dengan Roy Ayasa dan seluruh keluarganya. Bagaimana mungkin Komisi Pemberantas Korupsi bertindak sewenang-wenang seperti ini? Padahal bukti yang diberikan Hetalia telah menunjukkan mereka tak bersalah, tapi ketua komisi tersebut justru mengumumkan hasil yang sebaliknya. “Kalian kenal siapa dia? Dia adalah Rey Ayasa, adik dari sosok beringas yang berdiri di depanku saat ini. Bukan hanya dirinya, masih banyak dari keluarga Roy Ayasa yang tersebar di dalam sektor penting negara ini dan bersekongkol untuk memperbanyak keuntungan pribadi mereka!” Tak ada waktu untuk menjelaskan silsilah dan persebaran keluarga besar dari Roy Ayasa. Karena bagaimana pun juga, Tom tahu pasti jika pria di depannya ini adalah seorang mafia raksasa. Mafia yang telah memonopoli segalanya di negeri ini tanpa disadari oleh satu orang pun. Saat ini juga, Tom ingin mengungkapkan kebenaran pada mereka semua. Ia tak ingin Iranjia semakin terpuruk. Tom Hustoff tak akan tinggal diam sampai seluruh warga Iranjia tahu siapa orang yang merupakan pengendali negara ini di balik layar. Dokter Deva akhirnya maju. Ia menyentuh bahu Tom yang bergetar hebat karena rasa amarahnya yang saat ini sudah memuncak. Pria itu mengangguk ke arah jurnalis berambut keriting itu. Tom Hustoff yang melihat Deva berusaha menenangkannya pun langsung menarik nafas dalam-dalam. “Tom Hustoff berencana mengakhiri hidupnya satu minggu yang lalu.” Ucapan dr. Deva itu menarik perhatian semua orang lagi. Dokter muda yang sudah menjadi salah satu dari orang penting di Hetalia itu menceritakan semua hal terkait Tom pada awak media. Tom membenci Hetalia karena ia merasakan ketidakadilan selama adiknya dirawat di rumah sakit tersebut. Kala itu, ada oknum dokter yang depresi karena tekanan akibat kasus Ex-0 yang melonjak di negeri ini. Dengan terpaksa, dokter tersebut akhirnya menyuruh sang adik untuk pulang dan meninggalkan Hetalia karena kondisinya sudah jauh lebih baik meskipun belum sembuh seratus persen. Namun, pada akhirnya tak ada yang tahu kalau akan begini jadinya. Tom saat itu begitu kaget ketika tahu bahwa jasad yang tinggal tulang belulang tersebut ialah Rossa yang merupakan adik perempuannya. Ia yang depresi pun akhirnya mencurahkan emosi pada temannya di kantor Redaksi Paleo yang menjabat sebagai seorang editor. Editor itulah yang mempertemukan ia dengan sosok Roy Ayasa. “Saat itu aku merasa tak berdaya. Aku tidak tahu harus apa. Aku tidak punya dukungan. Namun, semuanya berubah ketika temanku yang menjabat sebagai editor mempertemukanku dengan sosok Roy Ayasa.” Tom mulai menceritakan segala hal. Ia dipaksa oleh temannya untuk menemui Roy Ayasa agar beban yang dipikulnya saat itu bisa berkurang. Kebetulan, Tom Hustoff adalah jurnalis pertama dari Redaksi Paleo yang bisa menemui dan bertatap muka langsung dengan sang direktur. Saat itu, kondisi Tom begitu tertekan. Roy Ayasa yang sepertinya sudah dekat dengan editor yang memperkenalkan Tom dengannya tadi, langsung menyarankan suatu hal pada pria berambut keriting ini. “Aku masih ingat apa yang dikatakannya saat itu.” Mata Tom terus menatap tajam ke arah Roy. Ia berusaha sebisa mungkin menirukan gaya bicara dari pria yang ada di depannya. “Kau harus balas dendam atau adikmu akan terus menderita selamanya di alam baka.” Roy Ayasa pun memanfaatkan kejadian itu. Bagaikan kesempatan dalam kesempitan, pria ini memanfaatkan dendam Tom yang membara. Ia akhirnya memberikan tugas khusus pada pria tersebut untuk melayangkan tuduhan korupsi pada Rumah Sakit Hetalia. Pada akhirnya, Tom menjalankan aksinya itu ketika mereka menyelenggarakan konferensi pers yang bersamaan dengan kedatangan pasien rujukan dari Distrik Utara kemarin. Namun, berita akan pembuatan vaksin dan kasus kecelakaan yang terjadi saat itu justru menggagalkan seluruh rencana yang telah disusun olehnya bersama Roy Ayasa. Ia belum mengungkapkan semua hal pada awak media terkait kasus korupsi atau pun adiknya. Perhatian massa saat itu langsung terfokus pada kecelakaan yang dialami Diana Melia secara tragis. Ia pun akhirnya terpaksa menggagalkan rencananya dan berakhir pada penangkapan yang dilakukan oleh polisi Distrik Pusat. Tom Hustoff saat itu langsung diinterogasi. Ketika interogasi itu dijalankan, perhatian Tom pun langsung tertuju pada sikap Zainudin Keil yang merupakan Ketua Polisi Distrik Pusat padanya. Ia merasa Zain bisa mengerti segala penderitaan yang ia rasakan, sehingga akhirnya Tom mengungkapkan semua hal pada sosok polisi tersebut. Bahkan tak tanggung-tanggung, Tom yang saat itu luluh langsung mengungkapkan siapa orang yang telah memprovokasi dirinya untuk melakukan aksi penuduhan pada Hetalia. Ia juga memberikan segala berkas dan bukti yang bisa digunakan untuk menyelidiki Roy Ayasa lebih lanjut. Bukti tersebut ia berikan khusus pada Kepolisian Distrik Pusat. Tom menghelakan nafasnya panjang. “Aku berjalan tanpa arah. Berlari ke sana ke mari. Kupikir kepolisian atau pun Hetalia yang akan mengejar dan terus memburuku. Namun, dugaan itu semuanya salah.” “Salah? Apa maksudnya? Kau dikerja dan diburu oleh seseorang setelah menyerahkan segala berkas pada kepolisian?” Tom yang mendengar pertanyaan dari wartawan itu pun langsung mengangguk setuju. Dokter Deva kini menatap dingin ke arah Roy Ayasa yang sudah tak bisa berkutik. Tangannya langsung menunjuk ke arah pria itu. “Orang ini. Melalui koneksinya, ia tahu jika saat itu Tom gagal dalam melakukan aksinya untuk menjatuhkan Hetalia. Roy pun terus berusaha memburu Tom Hustoff agar bisa segera dibungkam tanpa menyadari suatu fakta, dimana Tom telah membocorkan namanya pada kepolisian.” Roy Ayasa menggeram. Ia tak henti-hentinya menggeletukkan gigi sejak tadi. Emosi pria itu langsung jadi perhatian sendiri bagi seluruh orang yang berada di ruangan ini. Mereka bisa merasakan perubahan atmosfer yang begitu kentara ketika melihat marahnya Roy. “Aku tak tahu.” Tom mengukirkan senyum miris dibalik masker yang ia pakai. “Aku hanya merasa hidupku hancur. Aku tak bisa merasakan ketenangan, bahkan diriku tak berani pulang ke rumah atau pun panti asuhan yang kuasuh. Karena saat aku pulang, maka sudah dapat dipastikan jika nyawaku mungkin saja tak selamat.” “Dengan alasan itulah, Tom yang sudah merasa depresi pun akhirnya memutuskan untuk jatuh ke dalam Sungai Kale dan berencana mengakhiri hidupnya sendiri daripada harus tewas di tangan Roy Ayasa dan anak buahnya,” sambung dr. Deva. Dokter Deva bisa tahu semua hal ini karena para petinggi di Hetalia sudah banyak berkomunikasi dengan Tom semenjak pria itu siuman kemarin. Awalnya memang susah. Namun ketika Zainudin Keil datang, Tom tak bisa berkutik. Ia tak tahu. Dukungan dan perhatian yang diberikan Hetalia padanya begitu mengharukan. Hatinya yang semula hanya diselimuti dengki pada rumah sakit tersebut pun akhirnya mulai luluh. Tom bisa melihat sendiri bahwa rumah sakit ini begitu mengayomi setiap pasiennya. Hanya karena kesalahan seorang dokter saat itu membuat Tom buta dan termakan akan dendamnya sendiri. Ia yang semakin merasa terpuruk pun akhirnya buka suara pada Liliana dan Deva yang saat itu membesuknya. Pada akhirnya, Tom menceritakan semua hal pada petinggi Hetalia tersebut dan hal itu yang mengantarkan mereka semua untuk berdiri di sini. Semua orang yang berada ruangan ini tak henti-hentinya untuk dibuat kaget sejak tadi. Satu per satu fakta yang diungkapkan oleh kedua belah pihak membuat mereka tak mampu menahan rasa terkejut. Wartawan di sini pun bingung. Pihak mana yang mengatakan kebenaran? Apalagi siaran konferensi pers ini masih disiarkan secara langsung di seluruh stasiun televisi Iranjia. Semua penduduk negara ini pun sontak terfokus pada perang tak kasat mata yang terjadi antara Hetalia dan Dewan Parlemen. Meskipun begitu, reaksi diam yang ditunjukkan oleh Roy Ayasa membuat mereka semua berspekulasi satu hal. Pria ini terpojok. Ia tak bisa berkutik saat ini. Diamnya Roy Ayasa, Rey Ayasa, termasuk Ketua dari Dewan Parlemen saat ini membuktikan bahwa apa yang telah diungkapkan oleh Hetalia dan Tom Hustoff tadi benar apa adanya. Orang yang dijuluki sebagai raja di balik bayangan ini menggeram. Ia sudah tak peduli lagi. Amarahnya begitu memuncak saat ini. Dengan satu kepalan tangan yang terus digenggam kuat olehnya sejak tadi, Roy langsung melayangkan pukulan ke arah Tom Hustoff yang berada di hadapannya. Mata anggota Dewan itu menunjukkan kobaran api amarah. Kejadian yang begitu cepat itu pun langsung membuat jantung semua orang yang ada di sini sekaan berhenti berdetak. Roy Ayasa telah meninju Tom Hustoff dengan menunjukkan kemarahan nyata. “Apa ini adalah balasanmu padaku setelah aku membantumu, hah?!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN