“Roy Ayasa benar-benar ... gila.”
Rafael Zohan kini hanya bisa terfokus pada layar kaca televisi. Kopi hitam yang sedari tadi dipegangnya tampak mulai mendingin. Mata hijaunya tertuju pada acara konferensi pers tersebut. Bukan hanya ia saja, seluruh orang yang berada di area kafetaria Rumah Sakit Hetalia ini langsung menjadikan televisi sebagai pusat perhatian mereka.
Di televisi tersebut, tampak Tom Hustoff yang jatuh dan terduduk di lantai. Pria yang memiliki profesi sebagai jurnalis tersebut hanya bisa diam sembari mengelap sedikit darah yang keluar dari sudut bibirnya. Dari posisi duduknya, Tom melihat ke arah Roy Ayasa yang menatapnya begitu tajam.
“Apa ini adalah balasanmu padaku setelah aku membantumu, hah?!”
Suara bentakan yang menggelegar itu membuat semua orang yang berada di ruang konferensi pers menahan nafas tanpa sadar. Mereka saling melirik namun masih diam tak berkutik. Semua orang yang berada di sini bingung harus bereaksi seperti apa.
Rey pun langsung bergegas menghadang kakaknya yang masih tersulut emosi. Pria yang menjabat sebagai ketua dari Komisi Pemberantas Korupsi ini langsung mencegah Roy Ayasa yang ingin memukul Tom Hustoff sekali lagi.
“Kakak! Apa yang sebenarnya kau lakukan saat ini? Sadarlah!”
“Orang ini benar-benar kurang ajar. Tidak hanya membual, tapi dia juga memfitnah seorang anggota Dewan Parlemen yang terhormat di depan banyak orang!” racau Roy Ayasa pada adiknya.
Ia kini berbalik. Roy Ayasa menatap ke arah semua jurnalis yang melihatnya dengan ngeri. “Perlu kalian ingat, negara kita itu punya peraturan! Dewan Parlemen adalah sebuah lembaga terhormat! Sikapnya yang kurang ajar ini pantas untuk dijatuhi hukuman berat! Kita harus tegas!”
“Tapi, kami juga harus tegas padamu, Tuan Roy Ayasa.”
Ucapan bernada datar dari seorang petugas polisi langsung membuat Roy memandangnya dengan tatapan kesal. Setelah Hetalia dan Tom Hustoff, kini aparat kepolisian mulai ikut mencampuri urusannya. Ia muak dengan para badut tersebut.
Kepolisian Iranjia dikenal sebagai lembaga independen yang sering kali melakukan aksinya sendiri tanpa persetujuan dari pemerintahan. Mereka dikenal begitu tegas. Selain menyidik ataupun melakukan patroli untuk menertibkan masyarakat, polisi juga sering kali berurusan langsung dengan penduduk. Karena ketegasan dan kedisiplinan yang dibangun oleh lembaga itu, Roy Ayasa tak memiliki satu orang pun koneksi dari kepolisian yang bisa dijadikan anak buahnya.
Ia kesal. Begitu kesal sekarang. Bagaimana pun juga, dirinya tak memiliki kekuatan untuk melawan lembaga tersebut karena tak memiliki satu orang pun di sana yang bisa dijadikan bidaknya.
“Apa lagi sekarang?” Mata hitam Roy menatap nyalang ke arah jajaran petugas polisi yang kini membantu Tom Hustoff berdiri tersebut.
“Apa kalian telah dibayar oleh Hetalia untuk memihak mereka? Itukah caramu melemahkan kekuatan Komisi Pemberantas Korupsi beserta Dewan Parlemen?” lanjut Roy Ayasa sambil berjalan mendekati petugas polisi yang menyahutinya tadi.
Petugas polisi itu hanya diam. Ia dan pasukannya saat ini ditugaskan ke sini oleh ketua mereka yang tak lain dan bukan ialah Zainudin Keil. Mereka hanya menjalankan perintah. Perintah dimana kepolisian akan selalu memihak sisi kebenaran.
“Sepertinya Anda yang sudah lancang menghina kepolisian seperti itu. Tidak seperti tentara militer yang telah disusupi oleh orang-orang milikmu, kau tak memiliki satu koneksi pun ke lembaga kami. Apakah itu alasan yang menjadikanmu mengatai hal tak logis seperti itu pada kami?” sanggah polisi tadi.
Roy Ayasa pun menggeram. Badut-badut ini sekali lagi telah membuatnya muak. “Beraninya kau!”
“Apa pun itu, kami datang ke sini untuk menyerahkan surat penangkapan pada Tuan Roy Ayasa untuk memberikan keterangan di kantor kepolisian Distrik Pusat.”
Suasana di ruangan ini semakin tegang. Ekspresi polisi tadi yang begitu datar saat mengucapkan kalimat itu membuat para jurnalis bertanya-tanya. Apakah ini adalah akhir perjalanan dari karier Roy Ayasa?
“Omong kosong! Kalian bahkan tak punya bukti apa pun!” Pria itu berbalik, menatap ke arah seluruh jurnalis dengan emosi yang meluap. Ia menunjuk ke arah Tom Hustoff. “Apakah kalian semua percaya mentah-mentah dengan apa yang dikatakan oleh pria yang satu ini?!”
“Kau tak perlu khawatir, Ketua.”
Sebuah suara rekaman tiba-tiba terdengar jelas di tempat ini. Semua jurnalis langsung mencari arah sumber suara tersebut. Roy yang tahu milik siapa suara itu pun langsung menatap kaget ke arah sekelilingnya. Itu adalah suaranya. Suara milik dirinya ketika Dewan Parlemen mengadakan rapat rahasia tempo hari. Akan tetapi, siapa? Siapa orang yang memutar rekaman suara tersebut?
“Oh ya? Kenapa aku tak perlu khawatir?”
Pria tua dengan jenggot berwarna putih yang kini masih duduk di meja konferensi pers langsung bercucuran keringat dingin. Jantungnya seakan berhenti berdetak ketika mendengar suaranya muncul di rekaman tersebut. Ketua dari Dewan Parlemen itu seakan dihantam oleh sebuah pukulan tak langsung. Akankah ini akhir dari segalanya?
“Karena aku yakin jika 90% anggota parlemen tidak akan mendukung proyek Vaksin Hektovac dan memilih opsi pembelian vaksin dari luar negeri.”
Roy semakin gelisah. Gerak-geriknya semakin tak terkendali. Ia tidak bisa menahan rasa takut dan amarahnya saat ini. Pria itu memelototi semua orang dengan keringat dingin yang membasahi dahinya. Jantung Roy Ayasa berdegap begitu kencang sekarang.
Tidak, ia tidak ingin kariernya berakhir sampai di sini.
Apa ini? Kenapa usahanya yang ingin menghentikan Hetalia justru menjadi bumerang bagi ia dan seluruh keluarga besarnya?
“Kau yakin dengan harga yang telah kau ucapkan tempo hari itu, bukan?”
“Ya, tentu saja. Aku sudah menaikkan harga vaksin luar negeri itu dua kali lipat di laporan anggaran, jadi kau tak perlu khawatir.”
Mata Roy Ayasa bergetar begitu hebat sekarang. Adrenalinnya terpacu. Ia marah pada semua orang yang berdiri di sini. “Siapa?!”
Roy berteriak, ia berjalan ke sekeliling ruangan untuk menemukan rekaman suara itu. Dirinya begitu kalut. Pria ini sudah tak bisa memikirkan hal lain lagi selain mematikan suara rekaman tersebut.
“Siapa di antara kalian semua yang melakukan ini?!” teriak Roy sepenuh tenaga.
Mata pria itu menyiratkan rasa takut yang begitu kentara. “SIAPA DI ANTARA KALIAN YANG SUDAH MEMPERMAINKANKU SEPERTI INI?!”
Diam, semua orang yang berada di sini langsung tak berkutik. Sensasi tekanan dan atmosfer yang dikeluarkan oleh kemarahan Roy Ayasa sat ini membuat semua orang ketakutan. Lidah mereka kelu, semuanya tak bisa memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut karena mereka juga tak tahu dari mana suara ini berasal.
“CEPAT JAWAB AKU, SIALAN!” teriak pria paruh baya itu dengan emosi yang memuncak. Wajahnya merah sempurna saat ini.
“Soal Hetalia bagaimana?”
“Begitu adikku mengumumkan hasil laporan Komisi Pemberantasan Korupsi, maka nama Hetalia akan menjadi abu. Mereka akan jatuh dan masyarakat tak akan percaya padanya.”
Tidak. Tidak. Tidak. Roy Ayasa menggelengkan kepalanya sekuat tenaga. Ia tak bisa menerima ini. Semua orang di sini bahkan seluruh masyarakat di Iranjia sekarang pasti tahu jika suara itu adalah miliknya dan Ketua Dewan.
Apa yang harus dilakukannya? Degup jantung Roy berdebar begitu hebat sekarang. Segala kekuasaan dan pencapaian yang telah ia rintis sejak dahulu akan runtuh saat ini juga. Ia tidak bisa menerima ini. Tidak bisa.
“ARGHHHH!” Roy berteriak. Ia kesal. Ia ingin meluapkan segala hal.
Pria yang sedari tadi berlari mengelilingi satu ruangan ini pun akhirnya jatuh bersimpuh. Kakinya terasa mati rasa. Ia merasakan apa itu yang dinamakan kekalahan telak saat ini juga. Hidupnya hancur. Semuanya telah berakhir.
“Kutunggu momen itu datang.”
“Dengan senang hati, Ketua.”
Suara rekaman percakapan antara Roy Ayasa dengan ketua Dewan Parlemen tadi pun kini terhenti. Ruangan ini begitu sunyi. Tidak ada yang berani bersuara lagi. Mereka memandang horor ke arah Roy Ayasa, Ketua Dewan, beserta Rey yang saat ini hanya bisa menatap ke arah bawah. Ketiga orang itu tak mampu menengadahkan kepalanya. Roy bahkan sampai saat ini masih bersimpuh di lantai dengan tangan yang terus menarik rambutnya sekuat tenaga. Pria itu begitu tertekan. Ia tak bisa menerima kenyataan saat seluruh masyarakat Iranjia mengetahui fakta yang sebenarnya.
Dokter Edgar yang menjabat sebagai wakil direktur di Rumah Sakit Hetalia tampak melirik ke arah Liliana. Wanita yang merasa ditatap itu pun akhirnya mengangguk. Pria lanjut usia itu langsung berjalan menuju meja konferensi pers sembari menenteng sebuah laptop yang sedari tadi ia sembunyikan.
Suara langkah kakinya yang menggema langsung jadi pusat perhatian. Roy yang saat itu masih terduduk kesal di lantai pun langsung melirik ke arah dokter yang lewat begitu saja di hadapannya tersebut.
Laptop itu? Mungkinkah suara tadi berasal dari sana?
Roy menggeram ke arah Edgar. Matanya memelototi pria tua itu. “Kau orang yang—“
“Ya, aku yang memutar rekaman suara tadi.”
“BERANINYA KAU!”
Rey Ayasa yang hendak berlari untuk meninju dokter yang kini berdiri di samping Liliana itu langsung dicekal oleh seorang polisi. Lengan dari ketua Komisi Pemberantas Korupsi tersebut langsung ditarik oleh petugas begitu dirinya membuka langkah. Dengan sigap, polisi langsung memapankan kedua tangan pria itu di belakang agar ia tak bisa berbuat banyak.
Jajaran polisi lain langsung bergerak menuju Roy Ayasa yang saat ini terduduk kaku di lantai. Mata Roy masih melotot ke arah Liliana dan seluruh pasukan Hetalia miliknya. Polisi pun dengan paksa menarik pria tersebut untuk berdiri dan mereka langsung memegangi kedua tangannya.
Ketua Dewan Parlemen pun juga mengalami hal senasib. Ia yang sampai saat ini masih duduk diam langsung dihadang oleh beberapa orang polisi yang berdiri di belakang kursi duduknya. Polisi-polisi yang memakai senjata itu tak berbuat banyak. Mereka hanya berdiri dan siap melakukan pencekalan apabila Ketua Dewan berindikasi akan melawan mereka.
“Suara rekaman ini aku dapatkan dari seorang anggota Dewan Parlemen yang tampaknya sudah muak dengan sistem parlemen. Seperti apa yang dirasakan oleh Tom tadi, wanita yang menyerahkan rekaman ini sudah tak tahan dengan semua ketidakadilan yang ada di negeri ini,” jelas Edgar pada seluruh jurnalis.
Pria itu menjelaskan bagaimana Hetalia bisa memiliki rekaman tersebut. Liliana yang berdiri di sampingnya pun langsung mengangguk setuju.
“Wanita yang menyerahkan rekaman ini pada kami telah diam-diam memasang alat penyadap di layar proyektor, tempat di mana Roy Ayasa melakukan presentasi beberapa hari yang lalu di sebuah rapat rahasia dewan,” lanjut Liliana.
Jurnalis yang sudah mulai menguasai diri mereka masing-masing langsung menyorot dan memfokuskan diri pada apa yang akan dijelaskan oleh Hetalia. Karena bagaimanapun juga, tak ada lagi perdebatan sekarang. Roy Ayasa, Rey, beserta Ketua Dewan Parlemen sudah terbukti bersalah atas rekaman suara tadi. Kini mereka semua, para jurnalis, hanya harus mendengarkan penjelasan dari pihak Hetalia saja.
Dengan kesempatan inilah, Liliana, Edgar, Deva, beserta Intan langsung menjelaskan semua hal secara rinci pada mereka semua. Mulai darau alasan kenapa ada uang aliran dana ke Universitas Tenggara sampai keputusan mereka yang masih melakukan proyek vaksin ini secara diam-diam.
“Saya sangat yakin jika vaksin ini adalah jalan keluar bagi kita semua!” Liliana mengucapkan hal itu sembari menatap serius ke arah mereka semua.
Dokter Deva pun mengangguk. Ia mantap ke arah seluruh kamera yang menyoroti mereka sekarang. “Apa pun yang terjadi nantinya, Hetalia akan bertanggung jawab pada segala hal. Bahkan jika perlu, kami akan mengirimkan vaksin ini keluar negeri dulu untuk dipakai dan dicoba di sana. Apabila vaksin ini terbukti ampuh dan sukses, maka kita semua sebagai rakyat Iranjia akan mendapatkan vaksin tersebut secara gratis.”
“Ingat, Hetalia tak pernah meminta pada pemerintah atau pun penduduk terkait masalah finansial.” Intan mengucapkan hal itu sembari menatap teduh ke arah semua orang.
Edgar pun tersenyum di balik masker yang ia kenakan. “Oleh karena itu, seluruh penduduk Iranjia tak perlu khawatir jika nantinya vaksin ini akan dijadikan barang dagang atau pun lainnya. Kami sebagai pihak Hetalia akan memberikan vaksin ini secara percuma untuk seruh orang di negeri ini sampai Ex-0 hilang dari Iranjia!”
Satu per satu jurnalis pun mulai menunjukkan aura positif. Mereka tersenyum di balik masker yang mereka gunakan. Ini dia. Jalan keluar atas segala masalah kini mulai terpecahkan. Mereka akan bebas dari belenggu parade kematian akibat Ex-0. Nyatanya, Iranjia itu bisa. Iranjia itu kuat. Negara mereka mampu melakukan segala hal sendiri tanpa bantuan orang luar.
“Hidup Vaksin Hektovac!”
Tom Hustoff berseru sembari meninjukan kepalan tangan ke arah atas. Matanya menyiratkan cahaya yang begitu cerah. Karena bagaimana pun, ini adalah cara untuk mengakhiri rantai kesengsaraan di negeri ini selama hampir satu tahun lamanya.
Ya, Vaksin Hektovac yang digagas oleh Rumah Sakit Hetalia adalah jalan keluar bagi mereka semua di negeri ini. Vaksin Hektovac akan menjadi penyelamat semua orang. Kini Hetalia telah mampu menunjukkan sisi kebenaran pada masyarakat.
“Hidup Vaksin Hektovac!”
“Hidup Vaksin Hektovac!”
“Hidup Vaksin Hektovac!”
Suara-suara mulai bersahut. Satu per satu jurnalis mengepalkan tangannya ke arah atas. Mereka punya satu visi sekarang. Mendukung proyek vaksin ini sampai titik darah penghabisan.
“Hidup Vaksin Hektovac!”