Ini adalah satu hari setelah konferensi pers Dewan Parlemen Iranjia dilaksanakan. Suasana baru terasa seperti muncul di negeri ini. Rafael Zohan tak tahu. Pemuda yang kini sedang berjalan santai menuju rumah sakit tersebut tampak melihat ke sekeliling jalan.
Atmosfer hari ini tidak seperti biasanya. Entah kenapa dirinya seolah mampu menghirup hawa segar setelah sekian lama. Semua hal terasa berbeda drastis. Suasana kelam Distrik Pusat yang biasanya dilingkupi oleh hawa kelabu dan sendu kini berangsur mulai pulih akibat adanya angin perubahan baru. Sebuah angin yang menyejukkan bagai air di lautan.
Kini pandangan mata Rafa ke Distrik Pusat telah berubah. Bukan lagi hitam atau pun kelabu, suasana yang ia rasakan saat ini lebih ke biru. Sebuah warna yang menyejukkan dan senantiasa menentramkan hati seseorang. Distrik Pusat yang dipenuhi oleh gedung-gedung pemerintahan yang menjulang itu kini dibanjiri oleh palet warna biru yang indah.
Rafa tersenyum. Apa yang telah terjadi biar terjadi. Ia sekarang juga harus menjalani kehidupannya kembali. Apa pun itu, hari ini adalah hari di mana hasil tes milik Gabriel Delio akan muncul. Pemuda ini sudah bekerja cukup keras untuk ikut membantu penelitian tersebut dan hari ini adalah hari yang mereka nantikan.
“Sekarang, waktunya bekerja kembali!” ujar pemuda bermata hijau itu dengan satu tarikan nafas.
Ia pun sontak mempercepat langkah kakinya begitu melihat Dika Anderald. Teman yang satu tim dengannya tersebut sudah berdiri di depan gerbang utama Rumah Sakit Hetalia. Senyum Rafa merekah.
“Yo! Siap untuk hari ini, Mata Hijau?”
Pemuda yang dikatai seperti itu oleh sang dokter koas pun hanya bisa mendengus geli. “Terserah dirimu, Koas Gila.”
Kemarin aparat polisi langsung membawa Roy Ayasa, Rey Ayasa, beserta Ketua Dewan Parlemen Iranjia ke kantor kepolisian. Acara konferensi pers itu ditutup dengan sorakan para jurnalis yang menyatakan dukungan penuh pada Vaksin Hektovac.
Masyarakat pun semakin paham dengan persoalan ini. Melihat pihak kepolisian yang berada di pihak Rumah Sakit Hetalia, warga pun membuat kesimpulan bahwa ini semua adalah ulah dari Dewan Parlemen. Hetalia bersih dan itu dibuktikan dalam acara konferensi pers yang berlangsung lebih dari tiga jam tersebut.
Tak butuh selang waktu yang lama, Presiden Iranjia langsung membuat konferensi persnya sendiri di istana. Hal itu dirasa perlu karena mempertimbangkan kondisi masyarakat yang masih bingung. Presiden tak ingin penangkapan tiga pejabat penting pemerintahan kemarin membuat keadaan Iranjia semakin buruk. Apalagi kasus kemarin terjadi di acara resmi yang disiarkan di seluruh negeri.
“Dokter Deva!” seru Alexa ketika melihat pembimbingnya tersebut di ujung lorong koridor.
Rambut Alexa yang panjang dan diikat langsung berayun seirama dengan langkah kakinya. Gadis ini mengejar pria paruh baya itu.
“Ada apa?”
“Kemarin kau keren sekali! Ucapan pedasmu langsung memakan telak Dewan Parlemen!”
Ucapan tiba-tiba yang dilontarkan oleh salah satu dokter koas yang berada di bawah bimbingannya ini membuat Deva tersenyum kikuk. Alexa ini memang blak-blakan sekali ya. Apa perlu dia memberinya selamat seperti itu di depan umum? Harusnya simpan saja ucapan itu.
“Kau ini apa-apaan?” Deva tertawa garing. “Kita jadi pusat perhatian kan jadinya?”
Seolah sadar akan suatu hal, gadis itu pun melunturkan senyum lebarnya. Ia meneguk ludah kasar. Kepalanya menoleh ke sekitar dan menemukan bahwa seluruh pengunjung rumah sakit yang berada di lorong ini langsung memandang ke arahnya dan dr. Deva.
“Itu Dokter yang kemarin kan?”
“Eh? Mana? Apakah iya?”
“Itu dokter yang datang ke acara konferensi pers kemarin itu lho!”
“Apa itu benar dia? Wajahnya tertutup oleh masker jadi tak bisa dikenali.”
“Aku yakin itu pasti salah satu dokter kemarin. Dokter koas itu saja berkata seperti tadi.”
Dengan senyum canggung, Alexa menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Ia membungkuk beberapa kali ke arah dr. Deva yang hanya bisa geleng-geleng kepala atas perbuatannya tadi.
Gadis ini tak sengaja. Ia tak tahu kalau bakal jadi pusat perhatian seperti ini. Akhirnya, dr. Deva pun berjalan bersama Alexa menuju ruang laboratorium. Karena bagaimana pun juga, hari ini adalah hari dimana tes dan penelitian yang mereka semua lakukan kemarin akan mengeluarkan hasilnya.
“Apa kau kemarin melihatku?” tanya Deva basa-basi. Pria ini berkata pelan ke arah Alexa sambil meliriknya.
Alexa mengangguk dengan antusias. Ia yang paham alasan kenapa dr. Deva mengecilkan intonasi suaranya pun langsung mengikutinya. Mereka tak ingin jadi pusat perhatian lagi.
“Bagaimana mungkin aku tidak melihatnya? Seluruh stasiun televisi di negara ini menayangkan acara itu secara eksklusif,” balas Alexa dengan berbisik. Deva sontak tersenyum mendengar perkataan gadis tersebut.
Kedua dokter itu mengenakan baju seragam mantel hitam khas milik regu penanganan Ex-0 yang kemarin juga dipakai oleh Deva saat datang ke Kantor Dewan Parlemen.
Baju ini adalah baju kebanggaan Rumah Sakit Hetalia sekarang. Seluruh warga di Iranjia secara tak langsung sudah menganggap bahwa instansi ini identik dengan jas mantel berwarna hitam dengan aksen biru neon itu. Sejujurnya, sampai saat ini kerusuhan di acara konferensi pers dewan kemarin tetap menjadi topik pembahasan utama di seluruh negeri.
Isu demo akbar yang akan terjadi tanggal 30 Oktober atau lebih tepatnya hari ini pun sepertinya sirna. Masyarakat lebih tertarik membahas hal-hal yang terjadi di acara kemarin. Lagi pula, dilihat dari mana pun maka orang yang salah dalam pertempuran antara Dewan Parlemen melawan Rumah Sakit Hetalia ini adalah Roy Ayasa dan segala sekutunya.
Masyarakat yang awalnya membela Dewan Parlemen beserta Roy Ayasa pun terlihat tak berani lagi mengucapkan sepatah kata pun di depan publik sejak kemarin. Mereka dibungkam dengan acara yang ditayangkan di seluruh stasiun TV kemarin. Masyarakat sudah tahu jika suara di rekaman yang dijadikan barang bukti itu adalah suara asli dari Roy dan Ketua Dewan. Ekspresi mereka kemarin pun juga sudah cukup kuat untuk dijadikan bukti bahwa mereka adalah pihak yang bersalah.
Dokter Deva bersiul. Pagi ini adalah pagi yang indah untuk memulai sesuatu dari awal lagi. Suasana hatinya pun begitu tenang. Ia merasa semua orang di sini merasakan hal itu juga pagi ini.
“Yah, lupakan saja. Lagi pula ketiga orang itu sudah jadi urusan polisi dan hukum, bukan kita lagi.”
Alexa pun tersenyum lebar. Tipe kepribadiannya yang ambisius hari ini menyeruak. Ia pun mengangguk dengan penuh semangat dan terus berjalan mengiringi dokter atasannya itu menuju laboratorium.
Di lain sisi, dr. Edgar kini sedang duduk di ruangannya. Jam yang terus berputar di ruang kerjanya telah menunjukkan pukul sembilan pagi. Meskipun begitu, ia masih duduk di sini. Menyesap kopi dan membaca beberapa laporan yang sempat terbengkalai karena seluruh petinggi Hetalia sibuk mengurusi skandal kemarin.
Burung yang berkicau menarik perhatian pria yang satu ini. Ia sedikit menurunkan kacamata yang bertengger di hidungnya. Hari ini memanglah sebuah hari yang indah. Bulan Oktober yang identik dengan hujan justru tampak cerah. Langit pagi ini pun biru bersih dengan beberapa awan putih yang persis dengan serabut kembang gula. Pria tua itu pun tersenyum melihat pemandangan dari jendelanya.
“Berita selanjutnya. Seperti yang kita tahu, Presiden Iranjia langsung mengambil tindakan setelah penangkapan Ketua Dewan, Roy Ayasa, dan Rey Ayasa kemarin. Hanya butuh waktu 15 menit bagi Ibu Negara untuk menyampaikan segala hal terkait informasi krusial yang terjadi di Dewan Parlemen.”
Suara televisi yang menyala di kantornya kali ini mengalihkan perhatian dokter tua itu. Ia melihat layar kaca yang menampilkan konferensi pers resmi yang dirilis oleh presiden kemarin.
Iranjia adalah sebuah negara republik dimana kekuasaan tertinggi dipegang oleh presiden yang tak lain ialah wanita yang kini sedang berpidato itu. Wanita anggun nan cantik itu ialah Presiden Iranjia, Hasta Rika.
Di negara ini, kekuasaan presiden ialah 70% dan Dewan Parlemen memegang sisanya. Oleh karena itu, saat rapat rahasia yang diselenggarakan oleh Dewan Parlemen kemarin, mereka tidak langsung mengumumkan hasil rapat pada publik melainkan harus menyetorkannya pada presiden.
“Saya menerima laporan atas rapat yang diselenggarakan Dewan Parlemen tempo hari. Saat menerima itu, saya bingung. Apakah ini dirumuskan saat rapat rahasia? Ketika masih mempertimbangkan setuju atau tidaknya dengan hasil rapat yang menyebutkan bahwa seluruh anggota dewan tak setuju dengan vaksin buatan Hetalia, mereka datang menghampiriku di istana.”
Gambar televisi yang semula menampilkan sosok Presiden Rika kini berganti. Kamera menyorot ke arah seluruh ruangan di mana tempat itu terlihat tiga orang lain yang sudah tak asing lagi bagi dr. Edgar.
Di kursi rapat istana tersebut tampak Adam Hillary, Darius Hitman, beserta seorang anggota dewan yang merupakan kenalan dari Liliana. Anggota dewan itulah yang menyerahkan bukti rekaman yang ia putar saat konferensi pers dewan kemarin.
Masih belum cukup, ternyata di tempat itu juga terdapat anggota dewan lain yang jumlahnya hampir lebih dari 20 orang. Sepertinya, tidak semua anggota dewan itu adalah orang yang busuk. Mereka yang menemui presiden bersama dengan Adam ini pasti sudah merasa lelah dengan sistem parlemen yang kacau semenjak Roy Ayasa menjadi raja di balik bayangan.
Anggota-anggota parlemen tersebut kompak melaporkan Roy dan Ketua Dewan pada presiden. Aksi itu pasti dipimpin oleh kenalan Liliana kemarin.
“Bersama dengan salah satu orang terkaya di Indonesia, Presiden Rika menjelaskan bahwa Darius Hitman memiliki banyak bukti betapa busuknya Roy Ayasa. Pria itu telah memonopoli jalannya ekonomi dan mafia di berbagai bidang, termasuk tanah.”
Layar kaca saat ini menampilkan Darius Hitman, ayah dari Ardius Leon, seorang pemilik dari industri rokok terkenal di negara ini yang merasa begitu dirugikan dengan segala tindakan monopoli yang dilakukan oleh Roy Ayasa.
“Ketua dari Sepkai Farmasi, Adam Hillary, juga menjelaskan segala hal pada Presiden serta seluruh rakyat Iranjia tentang bagaimana proses dan cara kerja vaksin yang dibuatnya bersama Rumah Sakit Hetalia tersebut. Pria lulusan dari universitas ternama negeri Eropa itu menjamin segala hal terkait keamanan dan keefektifan dari vaksin yang dibuat olehnya.”
“Dasar, Adam memang bukan main-main,” komentar dr. Edgar sembari mengukirkan senyum simpulnya.
Pria tua ini tak pernah mengira jika apa yang dilakukannya untuk mengatasi skandal ini adalah dengan menemui langsung sang presiden. Apalagi anak itu juga menggandeng Darius Hitman yang notabenenya ialah orang berpengaruh di negeri ini dalam hal ekonomi. Segala tindakan yang ia lakukan sudah terorganisir dan presiden pun tampaknya juga setuju.
“Berdasarkan hasil keputusan kemarin, Presiden Rika secara resmi mengizinkan Sepkai Farmasi, Universitas Tenggara, serta Rumah Sakit Hetalia untuk membuat Vaksin Hektovac. Nantinya Vaksin Hektovac akan diberikan sumbangan dana dari pemerintah agar cepat bisa digunakan di bulan Januari depan.”
Dokter Edgar tersenyum puas. Akhirnya, segala skandal yang telah menjerat Hetalia selama satu bulan terakhir ini berakhir sudah.
Presiden dan negara sudah memberikan izin resmi pada mereka semua untuk melanjutkan proyek vaksin ini. Mulai besok, segala hal yang dilakukan di laboratorium bawah tanah milik Universitas Tenggara akan dilanjutkan kembali seperti sedia kala. Terlebih lagi, pemerintah tampak mendukung vaksin ini dalam segi finansial.
“Berita selanjutnya, misteri Mario Regardus, rektor dari—“
Televisi itu dimatikan ketika dr. Edgar mendengar sayup-sayup ketukan pintu yang begitu keras. Ada apa sebenarnya?
Pria tua tersebut langsung berjalan tergesa ke arah pintu. Ia menaikkan masker yang semula terletak di bagian dagunya.
“Iya, ada apa?” tanya dr. Edgar sembari membuka pintu.
Di depannya, terlihat Maria Silviatan. Seorang dokter koas yang memakai baju hitam khas milik regu penanganan Ex-0. Ia adalah regu dari Tim B yang bertugas secara langsung merawat Gabriel Delio, pasien yang terduga kena infeksi Ex-0 varian Zetta.
Gadis ini dibanjiri oleh keringat. Matanya melebar. Mulutnya terus terbuka dan tertutup, ia berusaha mencari udara sebanyak mungkin untuk bernafas. Sepertinya Maria memacu hormon adrenalinnya untuk berlari sekuat tenaga ke ruangan ini. Apa yang sebenarnya terjadi?
“Dokter Edgar! Gabriel Delio dalam keadaan kritis!”
Detak jantung dr. Edgar seakan terhenti. Benar juga, ini bukanlah akhir dari segalanya. Skandal kemarin memanglah berakhir dengan indah namun, satu hal yang pasti. Ex-0 masih menghantui mereka semua.