Chaapter 34 - Kabar

1783 Kata
Ia selalu menghabiskan hari di sini. Di sebuah ruangan putih besar yang hanya diisi oleh dirinya seorang. Tak ada suara. Semua terasa senyap dan begitu hening. Suara cecak yang sering ia dengar setiap malam sebelum tidur pun sekan tak dapat di dengar di sini. Sebenarnya, tempat apa yang digunakan oleh orang-orang berbaju hitam itu untuk mengurungnya? Apa yang salah dengan dia? Dia tidak merasa begitu sakit. Hanya sakit terkadang saja. Akan tetapi, perlukah ia ditempatkan di ruangan besar yang hening ini? Ini menakutkan. Begitu menakutkan. Badannya menggigil begitu hebat ketika merasa kedinginan dari hawa ruangan ini menyeruak ke dalam tubuh. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa salahnya sampai dikurung di sini? Ia sama sekali tak paham. Ia tak ingat apa pun. Kepalanya terasa begitu berat dan sakit setiap kali mengingat suatu hal. Untuk pertama kalinya, anak bernama Gabriel Delio ini merasakan ketakutan yang mendalam. Ia takut sendiri. Di sini begitu sunyi, dingin, dan gulita. Tak ada seorang pun yang bisa dijadikan teman. Kenapa dunia harus ada untuk membuatnya sengsara? Lebih baik dia mati saja bukan daripada merasa seperti ini? “Gabriel! Gabriel!” Sayup-sayup, ia mendengar suara seseorang yang terus menyerukan namanya. Matanya yang sedari tadi tampak terpejam langsung berusaha untuk terbuka namun nihil. Ia tak bisa melakukan hal itu. Semuanya kabur. Ada banyak orang yang seakan menatap ke arahnya. Ada apa? Apa yang terjadi? “Oi, Bocah Nakal.” Sebuah suara yang diselingi dengan nada getir memasuki indra pendengarannya. “Jangan main-main! Ayo bangun!” Suara ini? Mungkinkah ini adalah suara milik salah satu dari tiga orang menyebalkan yang selalu berkunjung ke ruangannya. Wajahnya meringis. Ia berusaha mengingat siapa nama orang yang memanggilnya tersebut. Akan tetapi, rasa sakit yang begitu menyiksa justru menghampiri kepalanya. “Gabriel! Kumohon, jangan seperti ini!” “Maria, segera panggil Dokter Hutson atau siapa pun itu!” “Kau gila? Hari ini dr. Hutson cuti! Aku akan coba menghubungi dr. Edgar yang ada jadwal hari ini!” “Terserah dirimu, Gadis Cerewet! Pokoknya segera panggil mereka semua ke sini!” Kenapa? Apa yang sebenarnya salah dengan dia? Suara ini adalah suara yang ia kenali. Suara dari tiga manusia yang selama ini selalu mengganggunya dengan memberikan guyonan garing yang sama sekali tak lucu. Tapi, kenapa? Kenapa ia masih tak bisa mengingat apa pun? Ini begitu menyiksa. Mereka adalah orang yang berharga bagi dirinya bukan? Mereka adalah teman barunya. Teman yang telah menghilangkan keheningan, kegelapan, serta kedinginan dari ruang mengerikan ini. Meskipun ia tak bersikap ramah dengan ketiganya namun dari lubuk hatinya terdalam anak ini begitu menyayangi mereka. “Untuk ... orang yang aku lupa lagi.” Dua orang laki-laki yang kini hanya bisa bersimpuh di lantai itu langsung menatap kaget ke arah anak itu. Mereka menyangga tubuh lemah anak itu dengan hidungnya yang terus meneteskan darah. Wajah anak ini meringis, tanda ia menahan rasa sakit yang begitu dalam. Apa yang terjadi? Apa anak ini mencoba mengingat suatu hal lagi saat kondisinya masih seperti ini sehingga ia kesakitan seperti itu? Anak ini benar-benar keras kepala. “Gabriel, hentikan ini! Jangan berusaha ingat apa pun!” “Kau akan sembuh, Anak Nakal. Itu pasti, sangat pasti. Jadi, sudahlah. Jangan seperti ini. Dirimu terlihat begitu kesakitan.” Anak ini bergeming. Ia terus menunjukkan wajah meringis sebagai tanda menahan rasa sakit yang begitu kuat. Matanya sedikit-sedikit mulai terbuka kembali dengan sayu. “Untuk, orang yang aku lupa lagi siapa nama kalian.” Gabriel mengucapkan hal itu sembari menarik nafas dalam-dalam. Jantungnya berdegup kencang. Mulutnya terus membuka menutup sebagai tanda bahwa ia sulit mencari nafas. Kepalanya yang masih terus berdenyut hebat pun sedari tadi terus ia abaikan. Anak berusia 9 tahun ini hanya bisa menunjukkan wajah meringis dengan senyum simpul yang bertengger di sana. “Terima kasih. Terima ... kasih, untuk semua ... hal.” Dua orang laki-laki yang tak lain dan bukan merupakan Ardi dan Rino ini hanya bisa menahan nafas mereka. Wajah keduanya tercekat. Tubuh mereka bergetar begitu hebat karena tak bisa mendengarkan suara pilu nan sayu milik anak yang terbaring lemah ini. “Apa yang kau katakan?” tanya Rino dengan wajah memerah. Ia tak kuasa menyembunyikan tangisan di sudut matanya. “Semua hal apanya coba? Kau akan sembuh!” Gabriel terkekeh dengan nada suara yang menyakitkan. Anak ini merasakan sakit yang begitu teramat. “Tapi, ini sakit ... sekali. Kalau kau jadi aku, kau pasti ... akan menangis karena tidak kuat.” Hati Ardi luluh. Lidahnya kelu. Air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk matanya kini perlahan mulai turun tanpa sadar. Pemuda dari jurusan kedokteran ini terus melirik ke arah pintu tempat perginya Maria beberapa saat yang lalu. Kenapa anak itu tak kunjung kembali saat kondisi Gabriel semakin kritis seperti ini? Apakah tak ada satu pun dokter ahli di rumah sakit ternama ini? “Kalau kau berkata seperti itu, itu tandanya ... kau kuat.” Dengan badan gemetar, Ardi berkata demikian. “Jadi, bertahanlah sampai dokter ahli datang ya?” Tidak ada jawaban. Ruangan ini hening. Kedua laki-laki ini terus menatap lekat ke arah Gabriel Delio yang dadanya sejak tadi terus-terusan naik turun. Anak ini sepertinya memerlukan banyak oksigen untuk bicara. Tak harusnya dia bicara pada mereka seperti saat ini. Keringat dingin semakin banyak membanjiri tubuh Rino dan Ardi saat ini. Mereka begitu takut. Mereka begitu takut dengan segala kemungkinan terburuk yang akan diterima oleh Gabriel nantinya. Satu hal yang pasti, keduanya begitu berharap untuk kebahagiaan anak ini. Gabriel akan baik-baik saja, bukan? Anak ini akan menjadi seorang komikus terkenal seperti apa yang ia bilang tempo hari tentang cita-citanya, bukan? Ini ... bukan akhir dari segalanya, kan? “Di mana Gabriel Delio?!” Suara pintu yang dibuka dengan keras langsung menarik atensi kedua mahasiswa tersebut. Mereka secara bersama menoleh ke arah pintu. Suara langkah kaki yang memasuki ruangan dengan tergesa langsung memenuhi tempat ini. Beberapa dokter ahli yang datang bersama dr. Edgar serta Maria yang memakai mantel hitam langsung membopong anak yang tubuhnya sudah tak berdaya itu ke tempat tidur. Baik Ardi maupun Rino tidak melakukan apa pun. Kerja dari seluruh dokter tadi begitu sigap dan cepat. Mereka berdua langsung berdiri dan menghampiri dr. Edgar beserta Maria di ambang pintu. Suara lari lain yang terdengar dari arah luar ruangan langsung menarik perhatian dari keempat orang tersebut. Mereka membuka pintu. Terlihat Tim A dan C beserta pembimbing mereka berlari secepat mungkin ke arah ruangan ini. Ada beberapa benda yang mereka bawa tampaknya. Mungkin, sebelum menemui dr. Edgar tadi, Maria juga memberitahukan pada kedua tim tersebut tentang apa yang terjadi. Semua hal yang terjadi pada Gabriel Delio tadi secara tiba-tiba. Tubuh anak itu langsung drop tanpa alasan yang jelas. Sebelumnya, hari ini Gabriel keras kepala ingin melihat cuaca di luar yang begitu cerah. Sangat jarang, kejadian ini baru pertama kali setelah ia tiba di sini. Anak ini juga ingin merasakan hawa luar. Ia bersikukuh tetap ingin keluar meskipun Maria, Rino, dan Ardi sudah melarangnya. Kejadian itu pun akhirnya terjadi. Anak tersebut tetap memaksa keluar. Ia melepaskan selang infusnya dengan kasar. Segera bangun dan turun dari tempat tidur yang sudah menjadi pendamping hidupnya di ruangan ini. Begitu kakinya yang tanpa alas menapak lantai ruangan, anak ini menegang. Ia terdiam beberapa saat sambil matanya tak berkedip sama sekali. “Aku tak tahu apa yang terjadi. Mata anak itu membulat seperti orang kaget ketika kakinya digunakan sebagai tumpuan berdiri. Tubuhnya pun kaku dan menegang,” jelas Ardi pada dr. Edgar beserta kedua tim yang lain. Hendra yang merupakan anggota dari regu A langsung memandang heran ke arah Rino. “Tunggu, Rino, kenapa kau tak membujuknya agar tak nekat seperti itu? Kau kan dari jurusan psikologi.” “Aku sudah berusaha terus untuk membujuk anak itu dengan berbagai cara dan teknik namun, hasilnya nihil. Ia muak dengan segala hal yang terjadi di sini,” jelas Rino pada mereka semua. Maria yang merupakan teman setimnya pun mengangguk sebagai tanda membenarkan. Setelah berdiri beberapa saat yang lalu, kondisi tubuh Gabriel tiba-tiba melemas. Kakinya tak sanggup dijadikan tumpuan oleh tubuh anak ringkih itu. Ia segera ambruk dan berhasil ditangkap oleh Rino dan Ardi. Saat mereka berdua ingin memapahnya ke tempat tidur kembali, anak itu kumat memegangi kepalanya. Ia berteriak sekuat tenaga yang ia punya. Teriakan kesakitannya itu membuat tiga orang anggota Tim B itu menegang ketakutan. Mereka tak tahu apa yang terjadi, tapi satu hal yang pasti ialah anak ini begitu kesakitan sekarang. Hidung Gabriel pun perlahan dengan pasti mengeluarkan cairan merah segar yang begitu banyak. Ia mimisan. Baik anggota Tim B, C, dan A saat ini langsung bersitegang. Tim A yang bertugas di bagian farmasi langsung memarahi kinerja Tim B yang tak becus. Dika yang merupakan anggota Tim C pun ikut-ikutan menghardik Tim B, terutama pada Ardi, atas semua hal yang terjadi pada Gabriel hari ini. Permusuhan yang terjadi antara dokter koas yang satu ini dengan Ardius Leon langsung menguar begitu saja karena kejadian hari ini. Tim B yang dihina pun tak mau tinggal diam. Setiap hari mereka sudah berusaha sekuat tenaga menangani anak itu. Apa mereka pantas berkata seperti itu pada Ardi, Rino, dan Maria? “Kalian cukup!” Alexa memotong pembicaraan antara tiga tim ini yang terus berdebat. “Ini bukan waktu bagi kita untuk berdebat. Apakah kalian tidak tahu ada dr. Edgar, dr. Deva, beserta Bu Intan di tempat ini?” Suasana di depan pintu ruangan ini yang semula ricuh langsung menjadi hening. Alexa yang melihat itu sontak langsung memandang mereka semua dengan tatapan tak habis pikir. “Di dalam sana, ada banyak dokter ahli yang akan menangani Gabriel Delio. Mereka tengah mati-matian untuk menyelamatkan anak itu. Ini bukan saatnya untuk menilai siapa yang salah karena takdir yang sudah terjadi seperti ini,” ujar Alexa panjang lebar. Rafael Zohan yang sedari tadi terdiam langsung melirik ke arah dr. Deva. Pria berusia tiga puluh tahunan tersebut sontak mengangguk ke arah pemuda bersurai coklat itu. Ia mengizinkan Rafa untuk buka suara dan memberitahu mereka semua. “Saat Maria pergi ke laboratorium tadi, kami bertiga menemukan suatu hal yang tak terduga.” Ucapan pemuda berdarah campuran Iranjia dan Eropa tersebut langsung jadi pusat perhatian mereka semua. Kini semua orang yang berada di sini langsung memfokuskan diri mereka pada apa yang ingin diucapkan oleh Rafa. Bahkan, Bu Intan dan dr. Edgar pun langsung memperhatikan dengan serius anak bermata hijau itu. Alexa dan Dika yang sudah tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Rafa tadi langsung menghelakan nafas panjang di balik masker yang mereka kenakan. “Gabriel Delio. Usia 9 tahun. Seorang anak yatim piatu dari Distrik Utara positif terpapar oleh virus Ex-0 varian Zetta dengan mutasi baru yang belum pernah ditemukan di luar negeri. Mutasi ini dinamakan mutasi ZE.3.01.” Di detik itu juga, detak jantung setiap orang yang berada di sini kecuali Tim C seakan berhenti berdetak. Mulut mereka terbuka tanpa sadar. Mereka tidak mungkin salah dengar, kan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN