Chapter 35 - Masa Aman

1844 Kata
Pada awalnya Gabriel Delio adalah seorang anak berusia 9 tahun yang datang ke Rumah Sakit Hetalia karena rumah sakit daerah di Distrik Utara tak bisa menanganinya lagi. Namun, semua hal berubah ketika ia mulai mengeluhkan sakit kepala yang terasa begitu menyakitkan. Dalam satu bulan terakhir ini, beredar berita yang menjelaskan bahwa di luar negeri sudah banyak ditemui mutasi Ex-0 jenis Zetta. Di lain sisi, Iranjia belum pernah mencatat akan temuan mutasi baru tersebut selama beberapa bulan terakhir. Keanehan yang terjadi pada Gabriel pun seakan menjadi tanda tanya bagi staf medis Hetalia. Mungkinkah anak ini terpapar oleh varian Zetta? Berdasarkan penelitian yang sudah banyak dilakukan oleh ilmuwan luar, varian Zetta memiliki kemampuan untuk menyamar sebagai sel yang berada dalam jaringan otak. Banyak pasien yang terpapar oleh mutasi ini mengatakan bahwa mereka begitu tertekan akibat peningkatan hormon kortisol secara ekstrem. Karena yang diserang otak, kebanyakan dari mereka mengeluhkan rasa sakit yang luar biasa di bagian kepalanya. Hal yang perlu diketahui ialah virus Ex-0 menyebabkan otak memproduksi hormon kortisol secara berlebih sehingga pengidapnya mengalami depresi. Hormon kortisol merupakan sebuah hormon yang berperan sebagai pemicu ketika seseorang mengalami depresi atau tertekan. Orang yang mengidap virus ini memiliki gejala stres dan mood turun dalam kurun waktu satu sampai lima hari. Gejala berlanjut dengan kesusahan bernafas, mual, dan detak jantung yang tak beraturan. Gejala berkelanjutan itulah yang disebut oleh para tenaga medis mirip dengan penyakit anxiety tingkat kronis. Namun, segala hal menjadi rumit ketika sebuah varian baru ditemukan dari hasil mutasi virus Ex-0 di luar negeri. Mutasi baru ini disebut sebagai Varian Zetta. Zetta lebih ganas dari Ex-0 biasa karena menyerang saluran dalam otak yang bisa menyebabkan efek samping berupa sakit kepala yang begitu luar biasa. Meskipun begitu, sampai saat ini belum ada penelitian yang mengatakan bahwa Zetta bisa menyebar lebih cepat daripada Ex-0 biasa. Gabriel pun sama seperti itu. Ia akhir-akhir ini sering mengeluh kepalanya terasa begitu sakit. Semua orang di Hetalia pun curiga jika anak itu terpapar oleh Varian Zetta. Dan, semua teka-teki yang menghantui Hetalia dalam beberapa hari terakhir ini pun akhirnya terjawab. Gabriel Delio dinyatakan positif terinfeksi oleh virus Ex-0 varian Zetta dengan mutasi baru bernama ZE.3.01 pada tanggal 30 Oktober kemarin. Kini hari-hari telah berlalu. Angin sore yang berembus dengan pelan membawa kesejukan sendiri bagi setiap orang. Tak terasa, bulan November telah menyapa umat manusia di seluruh dunia. Hari ini adalah tanggal 6 November. Sudah hampir seminggu sejak kondisi Gabriel dalam keadaan kritis beberapa hari yang lalu. Anak dengan mata hitam tajam itu baru siuman kemarin setelah empat hari lamanya ia mengalami masa kritis. Sebenarnya, sebuah keajaiban ia bisa membuka matanya kembali. Dokter-dokter ahli pun merasa jika ini adalah sebuah anugerah dari Tuhan. Kondisinya kemarin saat drop begitu memprihatinkan. Apalagi setelah ia siuman beberapa hari yang lalu, mata hitam Gabriel tampak begitu kusam. Tak ada cahaya di sana. Anak itu sudah lelah dengan hidupnya. Ia terlihat begitu muak dengan dunia ini. “Adam Hillary baru saja memberitahuku.” Dokter Edgar terlihat membuka percakapan dengan Liliana. Kedua orang yang memegang jabatan paling krusial di rumah sakit ini tampak berjalan beriringan menuju ruang kerjanya masing-masing. Suasana sore yang mendung dengan matahari yang bersembunyi di balik awan terasa begitu nyaman. Liliana pun tanpa sadar menguap di balik masker yang ia kenakan. “Ia sudah menyampaikan persoalan varian Zetta ini pada pihak pemerintah?” tebak wanita itu sembari mengusap air mata yang sedikit keluar ketika dirinya menguap tadi. Edgar pun sontak mengangguk. Kabar ini adalah kabar yang sangat heboh dan mengejutkan. Warga pasti tak siap dengan berita yang satu ini. Padahal kondisi Iranjia dalam beberapa hari terakhir sudah kembali kondusif setelah insiden penangkapan Roy Ayasa tempo hari. Akan tetapi, Hetalia tak bisa menyembunyikan fakta ini sendiri. Mengumumkan varian baru Zetta di Iranjia tersebut harus dilakukan dengan cepat dan segera. Hal itu bertujuan agar masyarakat bisa waspada dan melindungi diri mereka. Akan sangat gawat bila terjadi lonjakan kasus di negeri ini akibat mutasi baru dari varian Zetta yang terkenal begitu menyakitkan rasanya. Namun, proses pengumuman ini tak semudah dengan apa yang dibayangkan. Butuh waktu sekitar tiga hari lamanya bagi Hetalia untuk membuat laporan penelitian lengkap dan bukan dalam bentuk lembaran kertas hasil tes semata. Mereka harus membuat penjelasan secara rinci agar mudah dipahami oleh pemerintah dan masyarakat awam yang lain. Di lain sisi, setelah banyaknya isu dan skandal yang terjadi pada instansi ini membuat Hetalia mau tak mau enggan mengumumkan hal tersebut lewat konferensi persnya sendiri. Edgar dan Liliana dengan kompak menyerahkan tugas ini pada Adam Hillary. Sejak insiden penangkapan Roy Ayasa kemarin, Adam langsung dikenal luas oleh orang-orang di lingkungan pemerintah. Ia bahkan punya hak untuk menghubungi Presiden dan Kementerian Kesehatan secara langsung terkait kelangsungan vaksin Hektovac. Dengan kesempatan itulah, Hetalia menugaskan Adam untuk menyampaikan kabar ini pada Kementerian Kesehatan. Hal ini bertujuan agar pihak negara mengumumkan sendiri soal temuan pasien yang terkena mutasi baru dari varian Zetta di negeri ini pada masyarakat. “Kapan konferensi persnya akan diselenggarakan?” tanya Liliana sekali lagi. “Malam ini juga. Lagi pula, sudah enam hari sejak hasil tes Gabriel keluar. Kita harus cepat memberitahukan hal ini pada masyarakat. Kalau tidak hari ini, kapan lagi?” Liliana mengangguk. “Prioritas kita sekarang adalah menyembuhkan Gabriel dan mengubah susunan formula vaksin yang sudah diproses dalam lab agar bisa menyesuaikan perkembangan mutasi baru ini.” “Kau benar. Meskipun belum ditemukan data bahwa varian Zetta bisa menyebar lebih cepat, nyatanya rasa sakit yang ditimbulkan oleh varian baru ini hampir empat kali lebih menyakitkan daripada Ex-0 biasa.” Mata Liliana menerawang jauh. Ini semua terasa semakin sulit saja. Akan tetapi, paling tidak Hetalia telah diterima oleh masyarakat untuk membuat vaksin dan pemerintah pun sudah melegalkan hal tersebut. Sepertinya mulai sekarang, mereka harus menambah jumlah ilmuwan yang bertugas dalam proyek vaksin serta menambah dokter ahli untuk membantu penanganan Gabriel agar ia bisa cepat sembuh. “Kalau begitu, sudah sampai di sini dulu. Aku harus kembali ke ruanganku sekarang,” ujar dr. Edgar yang langsung menyadarkan Direktur Hetalia itu dari lamunannya. Liliana terenyak kaget. Ia pun langsung menyadari bahwa keduanya telah berdiri di depan tangga yang mengarah ke ruangan dr. Edgar. Perempuan itu pun mengangguk. Ia mempersilahkan dr. Edgar untuk kembali bertugas dan kembali ke ruangannya. Akhirnya, Liliana berjalan seorang diri menuju ruangannya yang berada di lantai empat sembari memikirkan berbagai rencana yang harus dilakukan oleh Hetalia ke depannya. Di lain sisi, hari ini adalah hari dimana tugas dari Tim A, B, dan C untuk mengurus Gabriel Delio berakhir. Sesuai dengan kesepakatan awal yang telah dibuat oleh Liliana Seran, regu gabungan antara Mahasiswa Tenggara dan dokter koas itu akan dibubarkan ketika hasil penyelidikan tentang dugaan mutasi Zetta pada tubuh Gabriel Delio keluar. Lagi pula, pemerintah kini juga sudah mengeluarkan izin untuk proyek vaksin Hektovac. Para mahasiswa dari Universitas Tenggara akan kembali menjalankan tugasnya di laboratorium dan bukan menjadi relawan lagi di rumah sakit ini. “Di mana Rino berada?” Rafael Zohan tampak menggerutu. Pemuda bermata hijau itu kini tampak bersandar di samping tangga yang mengarah ke lantai enam, tempat di mana Gabriel Delio dirawat. Mahasiswa dari jurusan mikrobiologi itu tampaknya sedang menunggu temannya yang tak lain dan bukan ialah Rino Falderon, seorang mahasiswa psikologi dari universitas yang sama dengan dirinya. Rafa berdiri di tempat ini karena ia dipaksa oleh Rino, Dika, dan Alexa untuk menyampaikan salam perpisahan pada Gabriel. Pemuda bersurai coklat ini sangat sadar bila dirinya tak terlalu bisa dekat dengan anak kecil. Saat Alexa dan Dika menyampaikan salam perpisahan kemarin saja, Rafa tak ikut karena ia merasa hal itu tak perlu. Perlu diketahui bahwa beberapa anggota dari ketiga tim itu sudah menyampaikan salam perpisahan pada Gabriel setelah anak itu siuman beberapa hari yang lalu. Tim A, B, dan C secara kompak bergantian menjenguknya kemarin. Hanya Rafa yang tak tampak hari itu. Rino yang merasa tak terima pun akhirnya memaksa Rafa pagi tadi untuk menemui Gabriel sebelum mereka secara resmi meninggalkan Hetalia besok hari. Dengan paksaan dari Alexa dan Dika juga, akhirnya mau tak mau Rafa pergi ke sini. Sekarang ia sudah berada di tempat tersebut selama hampir 30 menit lamanya namun, si pemaksa alias Rino belum tampak batang hidungnya sejak tadi. Di tangannya sudah ada berbagai tas yang berisi kue kering untuk Gabriel. Ia terus berdiri di tempat itu sembari menggerutu. Ke mana sebenarnya Rino pergi? Kalau tahu akan begini, harusnya Rafa tak perlu menyempatkan diri datang menemui Gabriel sampai bawa kue sebanyak ini. “Oi, Rafa!” Suara teriakan dari seseorang langsung membuat perhatian Rafa mengarah padanya. Dari ujung koridor di sebelah utara, mata hijau Rafa bisa melihat Rino yang berlari tunggang langgang ke arahnya. Kedua pemuda yang memakai jas mantel berwarna hitam milik regu penanganan Ex-0 ini langsung berdiri berhadapan. “Kau ini ke mana saja? Aku sudah menunggumu di sini selama berabad-abad lamanya,” gerutu Rafa. Rino yang merasa bersalah pun hanya bisa cengengesan tak berarti di wajah sayunya. Pemuda yang satu ini memang identik dengan wajah sayu yang terlihat mengantuk dan malas. “Maaf, maaf. Aku tadi baru saja menelepon Tuan Adam Hillary.” “Adam? Untuk apa?” “Dia menyuruhku untuk menghubungi salah satu staf kepresidenan agar bisa menemui Presiden Rika.” Kedua mahasiswa dari Universitas Tenggara itu berjalan menaiki tangga. Mereka menuju ke ruangan Gabriel sembari terus mengobrol di sepanjang perjalanan. “Apakah akan terjadi sesuatu?” “Negara akan mengumumkan temuan mutasi baru dari varian Zetta malam ini.” Rafa tampak mengangguk-anggukkan kepala mendengar ucapan salah satu temannya tersebut. Sudah bukan hal asing lagi bagi mereka, jika Rino selalu tahu info-info terbaru saat orang lain belum tahu apa-apa. Pemuda dari jurusan psikologi tersebut secara ajaibnya memiliki banyak koneksi di dunia luar. Sehingga tak kaget bila Adam menyuruhnya untuk menghubungi staf kepresidenan karena orang itu pasti merupakan koneksi yang dimiliki oleh Rino. Sebenarnya, Rafa juga tahu jika kepergian Adam serta Darius Hitman menemui Presiden Rika saat penangkapan Roy Ayasa kemarin karena bantuan dari anak yang satu ini. Adam yang merupakan ketua pelaksanaan dari proyek vaksin Hektovac tersebut tahu jika Rino mempunyai banyak koneksi pada publik figur. “Kenapa Adam tak memberi tahu Presiden secara langsung? Mereka kan sudah saling mengenal. Pasti keduanya sudah berbagi kontak,” celetuk Rafa. Rino pun hanya bisa menggelengkan kepala. “Entahlah, ya. Adam bilang padaku kalau Presiden Rika tadi tak bisa dihubungi. Oleh karena itu, ia meminta tolong padaku untuk menelepon staf kepresidenan.” Rafa pun akhirnya mengerti. Pantas saja kalau begitu. Kedua pemuda ini pun akhirnya sampai di depan pintu ruangan Gabriel Delio. Mereka saling pandang untuk beberapa saat. Dengan satu tarikan nafas yang panjang, akhirnya Rafa sudah bisa mempersiapkan diri untuk bertemu dengan anak itu. Aneh juga, kenapa ia sangat gugup hanya karena bertemu anak kecil? Apa ini karena Rino bilang kalau anak itu mirip dengannya? Tapi, mirip dari sisi yang mana? Ah, entahlah. Memikirkan hal itu hanya membebani pikirannya saja. Sekarang yang harus ia lakukan adalah masuk, menyerahkan kue ini, lalu mengucapkan salam perpisahan. Itu mudah sekali. “Kau sudah siap, Rafa?” Rafa mendengus geli. “Kau ini apa-apaan? Aku hanya menemui seorang bocah, bukan orang penting.” Dan akhirnya kedua pemuda itu membuka pintu. Mereka dengan perlahan mulai memasuki ruangan. Langkah kaki kedua pemuda itu langsung bergema.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN