Chapter 36 - Perkenalan

1719 Kata
“Kenapa dia hanya duduk diam di sana?” “Dia itu anak yang aneh! Lihat! Matanya berwarna hijau, sudah seperti monster saja.” “Rambutnya juga ada warna coklat. Dia pasti memang seekor monster atau pun alien!” “Dia tinggal di rumah besar tengah sawah itu. Banyak orang yang bilang di sana itu ada orang gila lho!” “Apa kau tak tahu kalau ibunya itu gila? Oleh karena itu, ibuku melarangku untuk mendekatinya. Nanti kita bisa ketularan gila. Di sini kan tidak ada orang gila.” Anak yang menjadi topik pembicaraan itu terduduk. Diam dan hanya mendengarkan hal itu dalam tatapan hampa. Telinganya terasa berdenging. Anak itu menenggelamkan kepalanya dalam lipatan tangan yang dibentuknya di meja kelas. Ia tenggelam dalam dunianya. Matanya terpejam begitu rapat. Selalu dan selalu saja begini. Kenapa? Kenapa? Kenapa teman-temannya tak pernah memperlakukannya normal? Dia bukan orang aneh. Dia bukanlah monster atau pun alien. Dia manusia. Rafael Zohan adalah manusia. Anak ini tetap tap tak mengerti apa yang salah dengan dirinya. Ia tak bisa terus-terusan diperlakukan seperti ini oleh mereka semua. Sebenarnya, siapa yang salah? Dirinya atau justru dunia ini? Kilasan balik itu memukul Rafa telak begitu ia membuka pintu ruangan di lantai enam tersebut. Matanya terus terpaku pada seorang anak yang kini duduk di atas kasurnya dengan lutut yang terus ia tekan ke arah d**a. Anak itu duduk berjongkok dengan kedua tangan terus memegang telinganya erat. Ia kenapa? Apa yang didengarnya samapi harus bersikap seperti itu? “Eh? Loh? Gabriel? Kau tak apa?” Rino berteriak. Ia segera berlari menuju tempat tidur anak tersebut yang diikuti oleh Rafa di belakangnya. Wajah kedua pemuda itu menyiratkan rasa cemas yang begitu dalam. Apa yang salah dengan Gabriel sebenarnya. Mereka sama sekali tak paham. Saat keduanya tiba di sini pun tak ada perawat atau dokter yang tengah menjaga anak tersebut. Jadi, sebenarnya ia ketakutan perihal apa? Mata Gabriel terus melebar. Pupil hitamnya bergetar penuh ketakutan. Ia masih tak menyadari kalau ada dua orang yang kini berada di samping kanan dan kirinya. Ia ketakutan, sangat ketakutan. Ia mendengar sesuatu. Teriakan, kemarahan, dan tangisan yang terdengar begitu kuat langsung memekakkan telinganya sampai sekarang. Ia tak tahu dari mana dan siapa yang berbicara. Tak ada siapa pun orang di sini. Namun, kenapa dirinya masih mendengar suara teriakan yang membuat telinganya berdenging seperti ini? “Rino, apakah kita perlu menghubungi dokter yang sekarang merawat ini?” saran Rafa pada pemuda jurusan psikologi tersebut. “Tunggu sebentar, Rafa.” Rino terus mengamati perilaku Gabriel yang tak seperti biasanya tersebut. “Ini aneh.” “Aneh?” Rafa memang tak begitu ahli kalau dalam hal berurusan dengan orang lain atau lebih tepatnya menilai orang lain. Ia sebenarnya juga tak jago bersosialisasi kalau hal itu tidak begitu diperlukan. Pemuda yang satu ini tak tahu menahu tentang kondisi atau perasaan orang sebelum orang tersebut memberitahukan padanya secara langsung. Akan tetapi, temannya yang satu ini beda. Rino adalah seorang pengamat yang handal. Selama kenal dengannya dalam sepuluh bulan terakhir ini, pemuda ini selalu tahu apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh orang lain meskipun orang itu tidak memberitahunya secara langsung. Mungkin, itu adalah alasan kenapa anak ini lebih memilih untuk mengambil jurusan psikologi di universitas. Dia pasti ingin melatih kemampuannya tersebut. “Mata Gabriel terus bergetar. Aku tak tahu dia kenapa. Badannya pun juga menegang. Ia terus berusaha menutup telinganya rapat-rapat. Anak ini pasti tengah berhalusinasi.” Alis Rafa pun mengernyit. “Apa aku tak salah dengar?” “Seperti seorang pengidap skizofrenia, pengidap Ex-0 mengalami depresi.” Mata Rino tak lepas dari anak tersebut. “Depresi itu membuatnya berhalusinasi jika dibiarkan semakin lama. Aku menduga jika anak ini pasti ketakutan terhadap sesuatu yang tak pernah ia lihat.” Untuk beberapa detik keadaan di ruangan ini menjadi hening. Rino pun menatap serius ke arah Gabriel. Ia memegang bahu anak tersebut, berusaha untuk menyadarkannya dan membawa kembali dirinya ke dunia nyata bukan dalam dunia khayalan. “Gabriel,” panggil pemuda yang tubuhnya lebih pendek dari Rafa itu. “Gabriel! Gabriel! Gabriel! Dengarkan aku!” lanjut Rino dengan intonasi yang lebih keras. Rafa hanya diam memperhatikan. Ia melihat apa yang dilakukan oleh Rino saat ini dalam diam. Tak ada respons yang mumpuni, Gabriel tetap dengan ekspresinya tadi. Anak itu bahkan seolah tak mendengar apa pun. Ia terlalu fokus dengan dunia halusinasi yang telah diciptakannya tanpa sadar. “Gabriel!” Rino mulai berani bertindak. Ia menggoyang-goyangkan bahu anak tersebut. “Gabriel! Bisakah kau mendengarkan suaraku? Sadarlah! Hei, bocah! Jangan bermain-main!” Rafa sedikit meringis. Tindakan Rino kali ini sedikit lebih brutal daripada beberapa saat yang lalu. Rafa pun langsung ambil inisiatif. Ia langsung menyentuh bahu Gabriel yang sebelah kiri. “ARGGHHH!” Gabriel berteriak dengan keras. Ia langsung memandang ke arah Rino dan Rafa dengan pandangan kaget. Di lain sisi, Rafa bahkan belum sempat berkata apa pun. Ia kaget. Tentu saja, dirinya dan Rino langsung terperanjat begitu anak ini berteriak seperti itu. Rafa pun sontak melepaskan genggamannya pada bahu Gabriel. Apa yang salah dengan anak ini tadi saat ia menyentuhnya? Padahal, Rafa merasa jika pegangannya pada bahu anak itu tidak terlalu kuat. Gabriel tak mungkin berteriak karena merasa sakit, bukan? “Gabriel, apa kau baik-baik saja?” tanya Rino begitu anak tersebut menoleh ke arahnya. Mata Gabriel pun menatap nyalang ke arah pemuda psikologi itu. Orang-orang berbaju hitam ini lagi. Kenapa mereka selalu datang menghampirinya? Kenapa mereka selalu mengganggunya? Atau, mungkinkah suara tadi berasal dari orang-orang ini? “Apa lagi mau kalian, hah?!” Rino mengedipkan matanya beberapa kali untuk sejenak. Otaknya tak bisa memproses pertanyaan dari Gabriel tersebut. Tunggu, mungkinkah anak ini sudah lupa siapa dirinya sehingga memerahi Rino seperti tadi? Astaga, lagi-lagi ia dianggap sebagai orang asing karena anak ini lupa tentang dirinya. Di lain sisi, Rafa yang ditanyai seperti itu langsung menunjukkan tas yang berada di genggamannya. “Aku membawakan kue kering untukmu.” Pandangan Gabriel yang semula terpusat pada Rino langsung berubah ke arah Rafa begitu pemuda bersurai coklat tadi berkata demikian. Diam, Gabriel hanya memperhatikan Rafa dari ujung kaki sampai pucuk kepalanya. Pemuda itu pun sontak merasa bingung. Apa yang salah dengan dirinya sampai anak ini tak henti-hentinya menatap ia seperti itu? “Apa kau ini alien?” Tunggu, apa? Rafa tidak mungkin salah dengar kali ini. Ia pun langsung memandang anak itu dengan tatapan heran. “Apa maksudmu berkata seperti itu?” “Kenapa matamu berwarna hijau?” Dahi Gabriel mengerut. Ia tampak memikirkan sesuatu sebelum berujar, “Tapi, wajahmu manusia. Kau pasti punya kekuatan super untuk berkamuflase.” Ada suara tawa yang terus berusaha diredam oleh Rino. Pemuda bertubuh pendek itu tak bisa menyembunyikan gelak tawanya. Apa yang diucapkan oleh Gabriel tadi begitu polos. Apakah mungkin anak ini masih berhalusinasi? Wajah Rafa pun mengeras. “Aku ini bukan alien. Aku manusia.” Ini memang pertama kalinya bagi Rafa untuk bertemu dengan anak ini. Tapi, ia tak pernah mengira akan disangka seperti itu oleh Gabriel. Anak ini begitu menyebalkan. Bukannya marah atau bagaimana, ia sudah kebal dengan sebutan itu. Ketika Gabriel mengatakan hal itu padanya, otak pemuda ini langsung terbayang dengan sesuatu di masa kecilnya. Melihat suasana hati Gabriel yang sepertinya membaik akibat kehadiran Rafa, Rino pun lamgsung mengeluarkan ponselnya. Ia memanggil anak itu. “Gabriel, coba lihat ini.” Di ponsel yang ditunjukkan oleh Rino, terdapat potret Gabriel bersamanya. Keberadaannya di Tim B membuat pemuda yang satu ini dengan mudah mengambil foto bersama Gabriel karena setiap hari ia mengurus anak tersebut bersama Ardi dan Maria. Gabriel pun sontak terdiam. Ia berusaha mengingat sesuatu sambil memegang kepalanya. Ah, benar. Ini bukan orang-orang berbaju hitam kemarin. Mereka berdua pasti salah satu dari orang aneh yang selalu menemaninya dulu. Meskipun ia tak ingat nama mereka, tapi Gabriel masih merasa kalau orang-orang ini dekat dengannya. Bahunya yang sedari tadi menegang pun sontak turun. Ia lebih tenang sekarang. Bagaimana pun juga, kedua pemuda ini bukanlah orang asing dan tak akan menyakitinya. “Bagaimana kondisimu?” tanya Rino basa-basi. Pemuda itu mengambil kursi yang tak jauh darinya dan duduk di sana. Gabriel mengukirkan senyum samar. “Aku tidak apa-apa.” “Hari ini adalah hari terakhir aku di Rumah Sakit Hetalia. Apa kau ingat? Kemarin aku dan teman-temanku datang ke sini untuk mengucapkan salam perpisahan padamu.” Rafa diam. Ia tetap berdiri di posisinya sambil memperhatikan percakapan antara dua orang tersebut. Rino benar-benar ahli kalau dalam hal berkomunikasi dengan orang lain. Di sisi lain, Gabriel yang sejak tadi berusaha untuk mengingat apa yang dikatakan oleh Rino pun akhirnya menyerah. Ia tak ingat apa pun. “Tak apa kalau kau sudah lupa. Aku ke sini datang bersama Rafa. Dia tidak bisa ke sini kemarin, jadi datangnya sekarang,” ujar Rino dengan santai. “Rafa? Si mata hijau ini?” tanya Gabriel sembari menunjuk ke arah orang yang jadi topik obrolan tersebut. “Ya, itu aku. Apa kau keberatan?” sahut Rafa dengan sewot. Pemuda itu memalingkan wajahnya. Gabriel yang melihat ekspresi itu pun sontak tertawa. Mengejek kakak yang satu ini terasa begitu lucu. Rino tak bisa menahan senyum untuk merekah di balik masker yang ia pakai. Ia sudah menduga jika anak ini pasti akan cocok dengan Rafa. Namun, kesamaan yang terjadi sekarang itu bukanlah dugaannya. Ia menduga jika Gabriel akan cocok dengan Rafa karena kepribadian mereka yang murung terasa sama. Apa yang terjadi sekarang memberinya pandangan baru. Ternyata, Gabriel merasa begitu terhibur dengan datangnya Rafa. Ketiga orang itu pun akhirnya mengobrol santai. Sesekali ketiganya tertawa bersama. Gabriel juga langsung tertawa begitu Rafa dan Rino memperdebatkan suatu hal yang sepele. Anak ini seperti lupa dengan apa yang dirasakannya beberapa saat lalu. Suara tangis dan teriakan yang memekakkan telinganya tadi langsung sirna. Hampir tiga jam lamanya mereka bertiga mengobrol dan tertawa bersama. Waktu berlalu begitu cepat. Akhirnya, Rafa dan Rino pun berpamitan pada Gabriel di pukul delapan malam. “Kau harus cepat sembuh, ya?” ujar Rino pada anak itu. Yang ditanyai seperti tadi pun langsung mengangguk dengan penuh semangat. Rafa yang melihat itu sontak tersenyum. Ia memandang teduh ke arah Gabriel. “Kalau lapar, makan saja kue ini. Kau harus cepat sembuh, akan kuajak jalan-jalan ke tempat yang kuceritakan tadi kalau kau sudah merasa lebih baik.” “Janji ya?” “Oh tentu saja. Kenapa tidak?” “Awas kalau kau berbohong, Alien.” Mereka pun tertawa bersama. “Jangan panggil aku seperti itu, Bocah Nakal.” Dan pada tanggal 10 November, Gabriel Delio dinyatakan meninggal dunia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN