Chapter 37 - Kembali

1018 Kata
Universitas Tenggara adalah kampus modern yang komprehensif, multibudaya, dan humanis yang mencakup disiplin ilmu luas. Universitas ternama di Iranjia ini selalu berusaha menjadi salah satu universitas riset atau institusi akademik terkemuka di dunia. Sebagai universitas riset, upaya-upaya pencapaian tertinggi dalam hal penemuan, pengembangan, dan difusi pengetahuan secara regional dan global selalu dilakukan. Oleh karena alasan itulah, jajaran petinggi Universitas Tenggara kala itu setuju untuk turut serta dalam hal pengembangan vaksin yang digagas oleh Rumah Sakit Hetalia serta Sepkai Farmasi. Karena sekali lagi, dunia dalam keadaan krisis akibat pandemi yang disebabkan oleh virus Exitium-zero, virus yang menyebabkan penderitanya mengalami depresi berlebihan. Jumlah pasien Ex-0 per 10 November di seluruh dunia adalah 14.013.667 jiwa dengan 50% dinyatakan meninggal dunia. Mario Regardus adalah rektor di Universitas Tenggara untuk periode 1996 - 2001 yang sebelumnya melanjutkan kepemimpinan Prof. Dr. Ir. Inggrid Satya, sebagai rektor universitas itu pada periode 1991-1996. Sebelumnya, beliau adalah seorang guru besar dan ketua Kelompok Keahlian Biologi dan Rekayasa Molekuler, Fakultas Sains dan Matematika Universitas Tenggara. Ketika menjalani perannya sebagai seorang guru besar, Mario aktif mempublikasikan beberapa jurnal mengenai penelitian ilmiah yang dilakukan olehnya. Saat penangkapan Roy Ayasa tempo hari, nama Mario Regardus sempat disebut. Publik pun sebenarnya sedikit penasaran, kenapa ada aliran uang yang mengarah ke orang tersebut? Namun sayangnya, ketika mereka mengetahui bahwa uang sebesar 800 juta itu digunakan untuk keperluan sewa laboratorium maka tidak ada lagi hal yang patut dipertanyakan oleh masyarakat negeri ini. Akan tetapi, satu hal yang Rafael Zohan tahu ialah ada sesuatu yang dirahasiakan oleh rektornya, Mario Regardus. Hari ini ia mengambil cuti pada Adam Hillary untuk menjalankan tugas yang diperintahkan oleh ketua Sepkai Farmasi tersebut. Ia akan pulang ke rumahnya dan memeriksa sendiri sebenarnya ada apa dengan Universitas Tenggara. Rafa berangkat pukul tiga pagi untuk menghindari teman-temannya yang mungkin saja akan bertanya banyak hal. Ia tak ingin menjelaskan pasal masalah ini pada mereka semua sekarang. Sebagai ketua tim, Rafa ingin tahu dengan mata kepalanya sendiri hal yang sebenarnya terjadi. Dan di sinilah pemuda itu berada saat ini. Ia sudah berdiri di depan gerbang tinggi nan megah milik universitas kenamaan Iranjia tersebut. Universitas Tenggara sudah ada di depan matanya. Pemuda itu melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya untuk beberapa saat. “Sudah pukul enam pagi. Kereta sekarang berjalan lebih cepat. Aku hanya butuh waktu tiga jam dari Distrik Pusat ke kampus.” Pemuda itu menata hatinya. Ia melirik ke kanan dan ke kiri untuk melihat seseorang yang bisa ia temui atau ajak mengobrol namun, nyatanya nihil, tak ada seorang pun yang dapat ia jumpai di depan gerbang tersebut. Rafa pun menarik nafas sepanjang mungkin. Apa boleh buat, sepertinya ia harus segera masuk ke dalam sendirian. Lagi pula masih pukul enam pagi, tak aneh bila kampus ini masih sepi. Apalagi sekarang kan masa pandemi, pembelajaran pun dilakukan dengan jarak jauh. Universitas Tenggara memiliki arsitektur yang unik dan megah. Secara geografis, universitas ini terletak di perbatasan Distrik Timur dan Selatan. Oleh karena itulah, kampus megah yang sudah diakui dalam dunia internasional tersebut dijuluki sebagai Universitas Tenggara. Begitu seseorang masuk ke dalam lingkungan kampus, ia akan disambut oleh gapura yang menjulang tinggi. Gapura berwarna hitam itu memiliki ketinggian hampir 15 meter. Di kanan kiri gapura itu, terdapat pagar dinding dengan tinggi serupa yang mengelilingi area kampus. Rafa memasuki area kampusnya sambil terus menatap sekeliling. Sudah hampir setahun ia tak pernah datang ke sini. Suasana yang ada di universitas ini entah kenapa terasa begitu berbeda di matanya. Di kanan kiri jalan utama terdapat patung abstrak dengan tinggi hampir 7 meter yang bentuknya menyerupai gading gajah. Patung itu adalah suatu hal baru baginya. Ia masih ingat jika sebelumnya benda-benda putih ini belum ada di tempat ini awal tahun lalu. Rafa terus berjalan dan berjalan. Ruang rektor yang berada di lantai tiga membuat pemuda yang satu ini melewati tempat atau pun spot baru yang dulunya tidak ada di Universitas Tenggara. Ketika mata hijau pemuda itu terus mengamati sekitar, ia tak sengaja menabrak seseorang. Badan pemuda itu menegang. Ia tersentak kaget. “Maaf. Aku sama sekali tak melihat jika ada orang yang berjalan ke arahku.” “Loh, Rafa? Kau Rafa, bukan?” “Hah?” Mata hijau Rafa langsung mengamati sosok di depannya begitu orang tersebut menanyainya seperti tadi. Alisnya berkedut, mencoba mengingat siapa gadis tersebut. “Kau ... Nias?” Gadis berambut panjang itu tergelak penuh tawa. Ia tertawa terbahak-bahak melihat reaksi orang di depannya. “Kau benar-benar Rafael Zohan? Astaga, apa yang kau lakukan di sini?” Muka Rafa yang awalnya menunjukkan ekspresi bingung langsung terlihat kesal begitu melihat gadis ini tertawa begitu ringan. Astaga, kenapa orang pertama yang ditemuinya di tempat ini adalah orang sepeti dia? Lagi pula, apa yang dilakukan gadis ini di kampus pada pukul enam pagi? “Bukankah kau sedang sibuk saat ini, Tuan yang Lulus Tanpa Skripsi?” Ekspresi jengah semakin tercetak jelas di wajah pemuda itu. Ia melirik ke arah gadis berambut panjang itu dengan tatapan malas. “Aku tidak ada urusan denganmu.” “Kenapa? Apa kau marah soal pernyataan dariku ketika diwawancarai kemarin?” Nias bertanya dengan tatapan menggoda. Ia paling suka membuat temannya yang satu ini kesal akibat ulahnya. Rafa mengalihkan kepalanya. Ia langsung berjalan begitu saja melewati gadis itu. “Aku sama sekali tak peduli. Sampai jumpa.” Rafael Zohan berlalu begitu saja. Ia berjalan melewati Nias Rosetta tanpa ada beban apa pun. Sementara itu, di sisi lain Nias tak mampu untuk menahan gelak tawanya. Ia berbalik dan menatap punggung milik pemuda berambut coklat tersebut. “Oi, apakah kau mau pergi ke ruangan rektor?” Diam, Rafa bahkan tak membalikkan badannya untuk melihat ke arah Nias lagi. Ia tetap bergeming dan berjalan maju. Nias yang melihat itu langsung menurunkan masker ke bagian dagunya. Ia menorehkan senyum tak habis pikir. Anak ini sama sekali tak berubah sejak semester satu dulu. “Kalau kau memang ingin ke ruangan rektor, maka percuma. Ruangannya sudah bukan di sana. Ia pindah ke gedung baru di sebelah.” Ucapan itu sukses membuat Rafa menghentikan langkahnya. Pemuda dengan mata berwarna hijau itu sontak memusatkan perhatiannya ke arah gadis tersebut. “Apa?” Wajah Rafa berkerut heran. Ia tak salah dengar, bukan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN