Beberapa saat sebelum kematian Gabriel Delio.
Alexa Liezel kembali menjalankan tugas normalnya sebagai dokter koas di Hetalia. Tak terasa, gadis itu telah melalui masa-masa yang begitu panjang di tempat ini. Bulan Januari nanti merupakan tanda bahwa masa koasnya telah mencapai satu tahun. Segala masa suka dan duka telah banyak ia habiskan di sini bersama teman-temannya yang lain. Apalagi semenjak Ex-0 menyerang, semua hal terasa begitu pahit. Pemandangan orang tewas bukanlah hal asing lagi bagi tim dokter koas itu.
Hari ini adalah hari pertama bagi Alexa untuk menjalankan tugasnya kembali sebagai dokter koas setelah regu gabungan antara mereka dan Mahasiswa Tenggara telah resmi dibubarkan dua hari yang lalu. Berdasarkan apa yang ia dengar, Rafa dan timnya akan menjalani kegiatan di lab kembali. Meskipun begitu, mereka akan sesekali berkunjung ke sini untuk melihat perkembangan dari Gabriel.
Ikatan yang telah dibentuk antara keempat anggota Mahasiswa Tenggara dengan Gabriel Delio semakin hari semakin dekat. Gabriel menatap mereka dengan pandangan positif, meskipun keempat pemuda itu tak bisa melihat ia secara langsung di ruangannya.
Bagaimana pun juga, kondisi Gabriel Delio semakin hari semakin darurat. Beberapa perawat yang tergabung dalam regu penanganan Ex-0 dan melakukan kontak langsung dengan anak itu kini telah dinyatakan positif terkena paparan mutasi Zetta. Total ada tiga orang perawat yang saat ini dalam kondisi yang sama dengan anak tersebut.
Saat ini, seluruh masyarakat di penjuru negeri sudah tahu bahwasanya ada varian baru dari virus Ex-0 yang lebih berbahaya di Iranjia. Mereka semakin waspada. Kondisi ini begitu terbalik dengan keadaan masyarakat yang sudah berani mencanangkan gerakan keluar rumah saat kondisi negara ini kacau pada beberapa hari yang lalu. Seluruh masyarakat Iranjia kembali diterpa teror ketakutan lagi.
Apakah mutasi ini merupakan pertanda bahwa parade kematian akibat Ex-0 akan kembali terajut?
Tidak ada yang tahu. Semua ahli di Iranjia pun tak ada yang tahu, termasuk seorang dokter koas seperti Alexa. Gadis itu menghela nafas begitu panjang. Jumlah kenaikan pasien Ex-0 per tanggal 10 November hari ini saja sudah meningkat drastis dengan 50% dinyatakan tewas. Bukannya mereda, virus menyebalkan ini justru kembali menyusahkan banyak orang di akhir tahun. Gadis ini tak mau menerima kenyataan yang ada, tapi apa boleh buat. Kalau keadaan Ex-0 semakin membabi buta seperti ini, maka tak kaget bila tahun depan pandemi masih akan berlanjut.
Apa yang diharapkan Alexa kali ini hanyalah kondisi negaranya agar kembali tenteram. Ia sangat berharap jika Vaksin Hektovac dapat cepat selesai dan bisa meminimalisasi ancaman Ex-0 yang semakin super.
Gadis berambut panjang yang memakai jas dokter putih biasa itu kini tengah berada di kamar mandi. Ia mencuci tangannya setelah membantu beberapa pasien yang menjadi korban kecelakaan.
“Tunggu, kalau dibilang korban juga tidak sih. Orang-orang yang kecelakaan tadi memang sengaja menabrakkan dirinya ke arah kendaraan yang lewat,” ucap gadis itu. Ia bermonolog terus sedari tadi.
Alexa kesal. Pekerjaan ini seperti tiada habis. Orang dengan murah hatinya menyerahkan nyawa mereka yang begitu berharga kepada Tuhan. Gadis ini hanya bisa bertanya, kenapa? Semua orang tiba-tiba menjadi kehilangan akal warasnya. Kalau begini terus yang ada parade kematian ini akan semakin berlanjut sampai populasi manusia menipis.
“Aku sangat membenci virus ini sampai ke titik darah penghabisan. Orang mana pula yang membawa biang kehancuran in pertama kali di dunia?”
Alexa masih terus menggosok tangannya agar tak terkontaminasi oleh virus. Gadis itu bahkan masih terus mengomel seorang diri di kamar mandi tersebut. Ia kini menengadah, menatap cerminan dirinya di kaca besar yang tersedia di depan wastafel. Matanya menatap tajam ke arah bayangan itu, berusaha memikirkan suatu hal yang tiba-tiba lewat di pemikirannya.
“Ngomong-ngomong soal orang yang membawa kehancuran tadi, kalau tidak salah Diana Melia saat itu mengatakan kenapa ayahnya membawa virus ini bukan?”
Alexa bermonolog lagi. Ia membilas tangannya lalu menutup kran dengan warna perak tersebut. Keadaan di kamar mandi yang semula bising dengan suara air kran dan celoteh Alexa tadi kini mendadak jadi hening. Gadis itu terdiam dan menatap kosong ke arah cermin di depannya.
Tunggu, tunggu. Ia sama sekali tak bisa memproses informasi yang baru saja lewat di otaknya beberapa saat lalu itu. Kenapa Alexa baru terpikirkan soal itu hari ini? Bahkan, orang lain pun seperti tak ada yang menyadarinya. Apa motif Diana Melia mengatakan hal aneh itu sesaat setelah ia tiba di Hetalia?
Mata hitam Alexa tak bisa untuk berkedip. Ia terus menatap tajam bayangannya yang berada di cermin. Gadis ini berpikir begitu keras. Ia berusaha memecahkan teka-teki yang baru saja disadarinya tersebut. Ini semua terasa begitu aneh ketika dirinya memikirkan hal itu sekali lagi. Semua hal yang ada di otaknya saat ini hanyalah kenapa dan kenapa. Ia tak bisa menemukan jawaban apa pun.
Tanpa sadar, Alexa menggebrak meja wastafel di depannya. Jantungnya berdegup begitu kencang sat ini. Hormon adrenalin dokter koas muda itu langsung terpacu begitu teka-teki ini membawa suatu hal aneh di pikirannya. Apakah mungkin ayah dari Diana Melia adalah orang yang berpengaruh? Tidak. Tidak ada yang tahu soal ini.
Diana Melia adalah korban kecelakaan yang tewas di depan Rumah Sakit Hetalia saat diadakannya konferensi pers mengenai program pembuatan Vaksin Hektovac bulan lalu. Ia juga merupakan kakak kandung diari Gabriel Delio. Seorang anak laki-aki berusia sembilan tahun itu juga dinyatakan sebagai pasien pertama yang terpapar oleh varian baru dari mutasi Zetta di Iranjia. Mereka berdua datang dari Distrik Utara bersama rombongan pasien lainnya untuk diisolasi di sini.
“Diana Melia ... Gabriel Delio ....,” ujar Alexa dengan nada menggantung. Gadis ini masih berusaha menghubungkan semuanya menjadi satu benang yang bisa ia tarik kesimpulan. “Orang-orang ini memiliki kasus istimewanya sendiri.”
“Diana Melia adalah korban kecelakaan tragis saat konferensi pers kemarin.” Alexa mengingat momen di mana ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Diana terpental jatuh membentur jalanan ketika tubuhnya ditabrak oleh truk besar.
“Gabriel Delio sendiri adalah seorang anak yang dinyatakan terpapar oleh mutasi Zetta. Bukan mutasi yang sama dengan luar negeri, tapi justru mutasi baru.” Gadis ini mengingat dengan pasti apa hasil dari penelitian yang telah dilakukannya bersama Rafa dan Dika.
Mata Alexa terlihat berbinar. “Di sisi lain, ada ayah dari kedua orang itu yang dituduh oleh Diana sebagai pembawa virus. Semua ini terasa semakin kompleks saja.”
Gadis itu langsung menegakkan tubuhnya. Ia melirik ke arah jam tangan yang melingkari lengannya. Pukul 12 siang dan ini adalah jam istirahat. Ia harus segera kembali ke ruang koas untuk menemui rekannya yang lain. Hal ini tak boleh Alexa simpan seorang diri. Gadis ini harus segera memberitahu koas lainnya juga.
Dengan tergesa, Alexa pun sontak berlari keluar ruangan. Satu hal yang pasti saat ini ialah dirinya harus segera mengatakan segala hal yang telah dipikirkannya tadi kepada mereka semua sebelum hal lain datang dan membuat kehidupan mereka menjadi lebih susah.
Suara gebrakan pintu langsung menarik perhatian dari seluruh orang yang saat ini duduk di atas karpet berwarna merah. Ini adalah jam istirahat. Karena hari ini adalah hari Senin, Hetalia memberikan jadwal kepada seluruh dokter koas untuk masuk secara bersama di jam pagi hingga malam dengan keringanan akan mendapatkan jam istirahat setiap enam jam sekali. Oleh karena itu, mereka semua mau tak mau menginap di Hetalia semalam suntuk untuk mengatasi lonjakan pasien yang biasanya terjadi di hari Senin.
“Alexa, kau ini apa-apaan?” Ais menggerutu. Gadis yang awalnya berbaring itu langsung duduk dan melotot ke arah Alexa. “Aku baru saja berusaha untuk tidur selama lima belas menit!”
Alexa terlihat tersengal-sengal. Gadis ini telah berlari secepat mungkin menemui teman-temannya di ruang kaos. Dengan tergesa, dokter kaos yang cukup dekat dengan Rafa tersebut langsung menutup pintu dan berjalan ke arah empat temannya yang lain.
“Ada suatu hal yang harus kubicarakan dengan kalian semua.”
Tubuh semua orang yang berada di ruangan ini langsung menegang. Alexa itu bukan orang yang memiliki kepribadian serius. Melihatnya berbicara dengan sorot mata dalam begitu langsung membuat para dokter koas ini tegang. Apa yang sebenarnya telah terjadi?
Beni yang semula bermain konsol game dengan Dika pun sontak mematikan permainan video tersebut. Sebagai ketua dari dokter kaos tahun ini, ia harus siap dengan segala hal. Apa yang akan dikatakan Alexa kali ini sepetinya begitu penting karena tak mungkin gadis ini bersikap aneh seperti itu.
“Katakan.” Beni duduk di depan Alexa dengan muka serius. “Apa yang telah terjadi?”
Alexa menarik nafasnya dalam-dalam. Ia melihat bergantian ke arah Maria, Ais, Dika, dan Beni. Pandangan mereka saat ini langsung terpusat pada dirinya.
“Ayah dari Gabriel adalah orang yang mencurigakan. Kita harus menyelidiki hal tersebut.”
Sementara itu, di sisi lain Rafael Zohan saat ini duduk seorang diri di kursi taman Universitas Tenggara. Ia menatap kosong ke arah ponselnya yang saat ini menampilkan pesan dari sang ibu untuk selalu memakai pakaian tebal ketika keluar. Di luar negeri saat ini pasti mulai memasuki musim dingin. Jadi, pantas saja ibunya berpesan seperti itu.
Namun, bukan pesan dari sang ibu yang membuat pemuda bermata hijau itu menatap kosong ke arah ponselnya. Fakta tentang ketiadaan Mario Regardus ini telah membuat Rafa bersikap demikian. Ia telah mencari orang itu ke mana-mana, namun hasilnya nihil.
Pemuda ini tak habis pikir. Kenapa ini semua terasa semakin rumit? Sebenarnya apa yang telah terjadi di kampus ini selama ia dan teman-temannya yang lain pergi ke Distrik Pusat untuk proyek pengembangan vaksin Hektovac? Ia merasa kedatangannya ke sini pun telah menjadi hal yang sia-sia.
“Mau kopi?”
Suara dari seorang gadis langsung membuyarkan lamunan dari pemuda itu. Ia menengadahkan kepala dan melihat sosok Nias yang menyodorkan segelas kopi padanya. Rafa pun langsung berterima kasih dan menerima kopi tersebut. Nias yang melihat itu langsung tersenyum. Sontak, dirinya pun duduk di kursi yang ada di depan pemuda itu.
Beberapa saat yang lalu, Rafa akhirnya mau tak mau ditemani oleh Nias menuju ruang rektor mereka. Ia memutar arah dan menuju gedung baru yang merupakan tempat dimana ruang rektor sekarang berada. Nias pun sepertinya tak mau ambil pusing. Ia langsung menghilang begitu saja setelah mengantar pemuda tersebut. Dan kini secara tiba-tiba, dirinya ditelepon oleh Rafa untuk menemui anak itu di taman. Terasa aneh saja. Apa yang sebenarnya terjadi?
“Tadi awalnya kau mengabaikanku dan kini kau meneleponku. Untung saja aku masih ada di sini. Jadi, ada apa sampai memintaku datang ke mari?” tanya Nias sembari menyesap kopinya sedikit demi sedikit.
Rafa yang ditanyai seperti tadi pun sontak mengalihkan mukanya. Ia enggan mengakui bahwa dirinya saat ini memang memerlukan Nias untuk mengorek informasi darinya. Gadis itu masih disibukkan dengan banyak organisasi kampus di semester akhir seperti sekarang. Kalau dilogika, anak ini pasti tahu akan suatu hal yang mengganjal pikirannya saat ini.
“Oh ya, sebelum itu, izinkan aku untuk bertanya satu hal padamu,” ucap Rafa.
Wajah serius dari Rafa langsung membuat alis gadis itu mengernyit heran. “Apa itu?”
“Apa yang kau lakukan di sini sejak pukul enam tadi?”
Monumen jam di tengah taman membuat Rafa bisa tahu jam berapa sekarang. Jam besar berbentuk lingkaran itu kini menunjukkan pukul 12 siang. Ia jadi ingat jika dirinya sampai di kampus ini tadi pukul enam. Kalau pukul enam saja Nias sudah berada di sini, maka ia ada di sini sejak jam berapa? Terasa aneh sekali. Apa yang dilakukan gadis ini di jam-jam pagi seperti itu?
“Aku ada urusan untuk bimbingan skripsi,” ujar gadis berambut hitam itu dengan ketus.
Kalau membahas soal skripsi, Nias sebenarnya agak sentimental. Ia dan Rafael Zohan adalah rival. Mereka telah bersaing banyak hal dalam urusan akademis sejak semester satu kemarin. Berada di jurusan yang sama dengan pemuda ini membuat Nias habis kesabaran. Rafael Zohan teralu hebat. Kepintarannya itu absolut. Apa yang dilakukan Nias terasa bukan sia-sia karena ia selalu kalah dengan Rafa. Hal yang membuatnya lebih kesal lagi adalah fakta bahwa pemuda itu dibebaskan dari skripsi dan tinggal mengikuti wisuda saja nantinya.
Ini semua terasa tak adil. Tapi, Nias juga mengakui ketangguhan dan kejeniusan pemuda yang satu ini. Dia benar-benar mengapresiasi kehebatan Rafa, meskipun hati kecilnya meronta karena rasa iri.
“Kau dibimbing oleh siapa?” tanya Rafa.
“Profesor Jack Hannes.”
Mata hijau Rafa melebar. Jadi, Profesor Jack Hannes sedang ada di kampus saat ini? Kalau begitu, ini adalah kesempatannya. Ia tak bisa mengabaikan kesempatan tersebut. Jika Mario Regardus tak ada di Universitas Tenggara sekarang, maka Jack Hannes pasti tahu akan suatu hal.
Namun, sebelum itu ia harus berbicara dengan gadis berambut hitam panjang di depannya ini. Ia wajib mencari informasi yang banyak pada orang sepeti Nias Rosetta. Permusuhan yang dibentuk olehnya dengan Nias membuat persahabatan di antara mereka terasa begitu unik. Pemuda ini sudah hafal betul dengan sikap Nias. Seharusnya, ini akan mudah bila hanya meminta informasi darinya.
“Aku ingin membahas suatu hal penting denganmu.”
Mata hijau Rafa melirik ke arah sekitar, memastikan bahwa taman di belakang gedung kampus ini memanglah sepi dan aman untuk dijadikan tempat mengobrol.
Angin bulan November pun kembali berembus. Angin dingin itu melewati Rafael Zohan dan Nias Rosetta yang kini saling berhadapan. Mendung yang sedari tadi menggantung di atas Universitas Tenggara membuat atmosfer menjadi lebih dingin.
Mata hitam tajam milik Nias langsung terpaku pada netra hijau milik Rafa yang menatapnya dengan serius saat ini. Gadis itu menatap lekat ke arah teman sekaligus rivalnya itu. Ia menarik nafas panjang.
“Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?”