Tangan Diana Melia memegang kepalanya begitu kuat. Ia berjalan mundur secara pelan dengan badan sempoyongan. Dokter Hutson memberikan isyarat pada staf medis untuk menangkapnya sebelum ia berjalan ke jalan raya. Namun, suara jeritan wanita itu membuat semua orang menahan nafas untuk kedua kalinya.
Wanita itu menggosok wajahnya dengan tangan. Rasa frustrasi jelas terlihat di wajahnya. “Arghhhhhhh, kenapa ini harus terjadi? Kenapa adikku yang masih kecil pun terkena imbas virus ini? Kenapa ayah membawa petaka seperti ini ke Iranjia? Jawab aku, Ayah!”
Ingatan itu tentu saja muncul di benak para dokter koas tersebut. Mereka ada di sana ketika Diana Melia mengalami kecelakaan sebulan yang lalu. Hujan yang turun di hari tragis itu tidak melunturkan ingatan mereka tentang apa yang diucapkan oleh wanita cantik tersebut. Kini Alexa hanya bisa menatap rekan-rekannya dengan pandangan serius. Ia masih menatap Dika, Beni, Ais, dan Maria secara bergantian. Gadis ini menunggu bagaimana reaksi mereka semua.
“Kenapa ini harus terjadi, kenapa adikku yang masih kecil pun terkena imbas virus ini, kenapa ayah membawa petaka seperti ini ke Iranjia. Itu yang diucapkan oleh Diana bukan?” tanya Alexa.
Gadis ini tak mau kehabisan cara. Setelah menjelaskan panjang lebar tentang hasil pemikirannya, Alexa mencoba untuk mengatakan kalimat yang telah diucapkan oleh Diana hari itu. Siapa tahu dengan ia mengucapkannya lagi, maka rekan-rekannya ini bisa menyadari hal itu.
Mata Maria tampak berbinar. “Aku ingat sekarang. Saat itu Diana memang berkata demikian.”
Alexa yang melihat respons dari temannya yang tomboi itu pun sontak semringah. Ia mengangguk dengan penuh semangat. “Benar. Benar sekali, Maria! Dia memang berkata seperti itu dulu.”
“Aku sama sekali tak mengingat jika orang itu berkata seperti tadi,” respons Dika dengan pandangan jengah.
Pemuda yang satu ini masih bingung dengan apa yang telah diungkapkan oleh Alexa tadi. Memangnya kenapa kalu Diana mengucapkan hal tadi? Mereka bahkan tak tahu petaka apa yang dimaksudkan gadis itu dulu. Dika pun sontak menoleh ke arah Alexa.
“Tunggu dulu, Alexa. Ini belum tentu soal virus bukan? Seperti apa yang kau ucapkan tadi, Diana bilang petaka? Kalau petaka ya belum tentu dalam artian si ayahnya Gabriel ini pembawa virus atau apalah itu,” tutur pemuda itu dengan ketus.
Ais yang berada di samping Maria terlihat mengangguk. Gadis itu menatap Alexa dengan pandangan bosan. “Apa yang diucapkan Dika benar, Alexa. Sebaiknya kita tak perlu mencampuri urusan keluarga Gabriel. Biarkan saja. Kau ini terlalu terbawa oleh dunia fantasi dan khayalanmu.”
Sorot mata Alexa yang semula terlihat bersemangat langsung berubah menjadi tajam ketika Ais berkata demikian. Rahangnya menegas. Alexa tak suka dengan apa yang dikatakan oleh temannya yang satu ini.
“Apa maksudmu? Tanya Alexa dengan dingin. “fantasi dan khayalan? Kau bercanda? Bukannya sudah jelas ada suatu hal yang tersembunyi di sana. Diana dengan jelas mengatakan kalau ayahnya membawa petaka ke Iranjia.”
Semuanya hanya diam. Kalau dipikir-pikir lagi, apa yang diucapkan oleh Alexa ini tak berdasarkan logika. Tak sepatutnya mereka ikut campur dan mencari tahu lebih dalam terkait masalah keluarga Diana Meli dan Gabriel Delio. Pasti ada alasan kenapa Diana mengatakan itu. Akan tetapi, satu hal yang merek tahu ialah tak mungkin petaka itu dalam artian virus atau apa pun yang berhubungan Ex-0.
“Kenapa wajah kalian tiba-tiba seperti itu? Kalian ragu dengan apa yang kukatakan?”
Alexa tiba-tiba buka suara setelah mereka berlima terdiam untuk beberapa saat. Ia kaget dan kecewa melihat wajah keraguan di raut teman-teman koasnya ini. Kenapa mereka merasa hal ini adalah hal sepele padahal bisa saja ini adalah suatu hal penting? Bisa saja bukan jika ayah dari Diana Melia tadi adalah seorang pembawa virus ke Iranjia?
Alexa tahu jika ia memang dikenal oleh mereka semua sebagai orang yang suka berimajinasi dan memiliki ketertarikan pada hal-hal fantasi. Tapi, apa salahnya ia jika meyakini teori tentang ada hal yang tak beres pada diri ayah Diana dan Gabriel tersebut?
“Alexa, dengarkan aku,” desak Beni. Ketua dari tim dokter koas ini terlihat membujuk Alexa yang sepetinya ingin marah.
Beni menarik nafas dalam, berusaha memberikan pengertian pada temannya yang satu ini. “Kau tak salah. Akan tetapi, tetap saja. Aku dan lainnya merasa kalau terimu itu terlalu liar dan tak ada bukti yang kiat. Jika kita mencari tahu lebih dalam, takutnya akan terlalu mencampuri urusan keluarga orang lain. Lagi pula, mau mencari tahu pada siapa? Gabriel itu yatim piatu. Kita tidak mungkin menanyai Gabriel juga karena anak itu pasti tak ingat.”
Untuk sesaat Alexa terdiam. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain dan enggan untuk menatap keempat rekannya tersebut. Gadis ini mengepalkan tangannya kuat-kuat sembari menggigit bibirnya. Setelah suasana di ruangan ini menjadi hening selama beberapa menit, Alexa akhirnya menghelakan nafas panjang. Ia menatap Dika, Beni, Ais, dan Maria secara bergantian.
“Maafkan aku apabila kekanakan atau bagaimana. Kalian benar, aku merasa salah dalam hal tadi,” ujar gadis dengan rambut panjang diikat ini.
Ais dan Maria pun sontak tersenyum. Mereka berdua berpandangan lalu menatap kembali ke arah Alexa dengan ramah. Kedua gadis ini memang sudah dekat dengan Alexa, tapi mereka belumu tahu bagaimana Alexa jika marah.
Selama ini, Alexa selalu dikenal sebagai gadis yang berkepribadian energik, ceria, dan sesekali emosional dalam hal perasaan sehingga sering ikut terbawa suasana. Namun, bagaimana pun juga Alexa ini tak pernah marah. Sesekali ia hanya kesal dan tal pernah meluapkan emosinya. Baik Maria maupun Ais tak tahu apa yang terjadi bila gadis cantik berambut panjang diikat itu meluapkan emosinya.
“Maafkan kami juga apabila terkesan kasar atau bagaimana. Kami tidak bermaksud seperti itu, Alexa,” ujar Maria mewakili seluruh orang.
Beni pun tampaknya mengangguk dan setuju dengan apa yang dikatakan oleh gadis berambut sebahu itu. “Yang terpenting bagi kita sekarang adalah kembali menjalankan tugas koas dengan baik. Bulan Januari nanti kita sudah setahun kerja di Hetalia, loh. Kita akan mengakhiri masa koas saat bulan Juni depan. Jadi, ayo semangat karena kurang sebentar lagi kita akan lulus dalam fase ini.”
Mereka semua tak bis menyembunyikan senyum ketika Beni berkata demikian. Alexa juga tersenyum simpul di balik masker yang ia keenakan. Gadis ini kembali menatap ke arah teman-temannya.
“Kalau begitu, aku pergi keluar dulu ingin cari makanan ya?”
Ais pun mengangguk. Ia kembali ke dalam posisi berbaringnya tadi. “Jangan lama-lama, oke? Hari ini kita akan kedatangan pasien rujukan dari Distrik Timur pukul dua siang nanti.”
Mendengar penuturan Ais tadi, Alexa pun mengacungkan jempolnya tanda setuju. Di sisi lain, Dika sejak tadi hanya diam dan memperhatikan gerak-gerik dari gadiss yang satu tim dengannya di Tim C kemarin. Ia menatap lekat ke arah Alexa. Pemuda yang satu ini masih tak paham dengan pemikiran Alexa yang terkadang begitu liar. Ia tiba-tiba teringat dengan insiden penyelamatan Tom Ayasa kemarin. Gadis ini juga begitu keras kepala saat itu.
“Usahakan sudah kembali ke sini sebelum jam setengah dua, Gadis Urakan.”
Alexa yang sudah berdiri di depan pintu langsung menoleh ke arah Dika dengan pandangan malas. Sifat bos dari pemuda yang satu ini datang kembali. Dasar. Ia pun dengan malas menyahut, “Aye aye, Kapten!”
Suara pintu yang tertutup langsung mengakhiri percakapan antara Alexa dengan keempat rekannya tadi. Gadis yang masih mengenakan jas berwarna putih itu berdiri tegak di depan pintu ruangan koas yang sudah ia tutup rapat tadi. Sorot matanya tampak begitu dalam. Alexa saat ini mantap lurus ke depan dengan pandangan tajam.
“Kalau memang tidak ada yang merasa aneh dengan apa yang diucapkan oleh Diana, maka aku akan mencari tahunya sendiri dengan perlahan. Aku pasti akan menemukan fakta tersembunyi dari kaata-kata terakhir Diana itu.”
Rahang Alexa kali ini mengeras. Ia menganggukkan kepalanya dengan pasti. Tekadnya kini telah bulat. Ia akan mencari tahu sendiri sebenarnya apa yang telah terjadi pada Diana dan keluarganya. Alexa akan mencari tahu itu apa pun caranya.
Di sisi lain, awan mendung kini masih menggaungi langit Distrik Timur dan Selatan. Di sebuah universitas ternama, angin musim dingin bertiup membawa dedaunan yang menguning di pohon. Daun-daun yang jatuh berguguran itu berembus terbawa angin melewati sepasang pemuda dan pemuda yang saat ini saling duduk berhadapan. Keduanya ialah Nias Rosetta dan Rafael Zohan yang masih duduk bersama di sebuah taman belakang gadung kampus.
Wajah Nias saat ini hanya bisa teraku. Mata hitamnya menatap hampa ke arah Rafa. “Mau dipikirkan berapa kali pun, ini semua masih terasa aneh. Jadi, awalnya Tuan Mario Regardus tidak mengirim kalian ke Distrik Pusat tapi jajaran profesor ternama di kampus ini? Dan sekarang, ia sama sekali tidak bisa dihubungi?”
“Tambahkan fakta bahwa ia juga tak ada di kampus sekarang,” sambung Rafa dengan nada jengah.
Wajah Nias pun tampak merenung. Ia mencoba untuk mengingat sesuatu. “Aku lupa kalau dia sekarang pergi ke luar negeri.”
Raut wajah Rafa yang semula tenang langsung terkejut bukan main. Kedua mata hijau pemuda ini sontak melebar. Mulutnya langsung menganga kaget. Ia tak salah dengar, bukan?
“Kenapa kau tak bilang dari tadi, hah?!” Rafa benar-benar tak bis menahan emosinya.
Nias ini menang keterlaluan. Kalau tahu begini sejak awal, ia tidak akan repot-repot mengelilingi seluruh kampus untuk mencari tahu keberadaan dari sang rektor. Setelah pergi ke ruangan rektor dan tak menemukan apa-apa di sana, Rafa pun mengelilingi satu kampus untuk mencari tahu informasi dan keberadaan dari rektornya itu namun, tetap saja hasilnya masih nihil. Kampus ini begitu sepi. Ia hanya bertemu satu dua orang mahasiswa yang sepertinya adalah adik tingkatnya. Tak mungkin juga mengorek informasi dari mereka yang tak tahu apa-apa.
Nias Rosetta adalah satu-satunya mahasiswa di sini yang tahu akan tugas rahasia yang telah dibebankan Universitas Tenggara pada Rafa, Hendra, Ardi, dan Rino untuk turut andil dalam proyek pembuatan vaksin Hektovac. Gadis ini tahu akan hal itu karena diberitahu oleh Rino tanpa sengaja. Baik Rino dan Nias adalah anggota dari Badan Eksekutif Mahasiswa di Universitas Tenggara. Jadi tak aneh apabila kedua orang itu cukup dekat sampai Rino akhirnya keceplosan akan informasi tadi.
Nias yang dimarahi oleh Rafa langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia memasang raut wajah bersalah. “Kau tahu? Aku sama sekali tak paham kalau masalahnya begitu. Kau sama sekali tak berkata apa pun padaku awalnya. Siapa yang tahu jika ada masalah seperti ini?”
“Kenapa kau masih tak mengerti?” Rafa menatap kesal ke arah temannya tersebut. “Aku ini marah padamu karena dengan seenaknya mengungkapkan kalau orang yang demo di Taman Adiyasa kemarin adalah aku. Tentu saja aku kesal dan malas berbicara denganmu. Dan sekarang apa? Kau tak memberitahu sejak awal kalau rektor kita ada di luar negeri.”
Wajah Nia kali ini menampilkan emosi yang campur aduk. Di sisi lain ia bersalah pada Rafa, tapi kalau dipikirkan lagi ia merasa atak salah karena pemuda ini tak mengatakan apa pun sejak awal.
“Kau tahu kalau aku ini percaya deganmu sampai mengatakan masalah ini padamu, kan?”
Nias mengangguk. Sebenci apa pun Rafa padanya, pemuda ini selalu bersikap biasa lagi. Mereka adalah rival dan teman sejak awal. Perselisihan dan perdebatan bukanlah hal asing lagi bagi keduanya. Meskipun begitu, kedua orang ini sudah saling percaya sejak awal. Mereka tak segan berbagi informasi penting.
“Aku tahu. Aku benar-benar minta maaf, bagaimana pun juga aku lupa. Aku ini juga sibuk dengan tugas skripsi di tengah-tengah pandemi sepeti sekarang. Pahamlah dengan kondisiku juga. Aku lupa karena sangat pusing dengan masalah skripsi,” jela Nias.
Setelah lama terdiam, Rafa pun akhirnya menghela nafas panjang. Ia menatap Nias dengan pandangan tajam tapi bukanlah tatapan mengintimidasi. Pemuda ini menatap gadis itu dengan serius.
“Kalau begitu, tolong beritahu aku tentang segala hal yang terjadi di kampus ini sejak aku pergi ke Distrik Utara.”
Nias tanpa ragu mengangguk setuju. Ia pun menjelaskan semua hal pada Rafa. Percakapan ini sepertinya akan menjadi percakapan yang panjang antara kedua mahasiswa universitas ternama tersebut.