Chapter 40 - Tidak Tahu

1552 Kata
Terhitung sudah sepuluh bulan lamanya sosok Rafael Zohan pergi dari wilayah kampung halamannya. Tempat dimana berdirinya universitas kenamaan Iranjia itu telah ia tinggalkan karena proyek pembuatan Vaksin Hektovac di Distrik Pusat. Pemuda ini sudah lama sekali pergi dan tidak menyambangi kampusnya. Mata hijau milik Rafa terus menatap tajam ke arah depan. Ia berjalan menyusuri lorong koridor kampus yang begitu sepi. Berdasarkan pada apa yang dikatakan oleh Nias tadi, selama bulan Maret kemarin mahasiswa sama sekali tak diizinkan untuk memasuki area kampus. Ini terkesan begitu aneh dan mencurigakan. Meskipun begitu, kegiatan kampus kembali normal lagi di bulan April hingga sekarang. Kampus ini kembali dibuka sejak April meskipun belum bisa melakukan pembelajaran tatap muka secara langsung karena pandemi Ex-0. Rafa sebenarnya curiga. Ada apa? Kenapa universitas elite seperti ini menutup akses dirinya pada orang luar, termasuk mahasiswanya sendiri selama satu bulan penuh? Tentu saja, ini terlihat begitu mencurigakan. Universitas Tenggara tak memiliki alasan kuat untuk melakukan hal tersebut. Nias tadi juga tak lupa mengungkapkan bahwa Mario Regardus telah pergi ke luar negeri sejak tiga minggu yang lalu. Gadis itu sama sekali tak paham alasan apa yang menyebabkan rektor mereka harus pergi ke luar negeri dalam kondisi pandemi seperti sekarang. Apalagi, sampai detik ini Rafa masih belum mampu untuk menghubungi Mario. Satu-satunya cara untuk memecahkan masalah ini adalah dengan menemui profesornya yang tak lain dan bukan ialah Profesor Jack Hannes. Ia adalah profesor kenamaan universitas ini. Pria itu juga memiliki posisi di kampus ini sehingga ia pasti tahu sesuatu tentang Mario Regardus. Jack Hannes juga merupakan salah satu profesor yang ada di jajaran nama yang semula akan diikutkan dalam proyek vaksin ini sebelum Rafa dan temannya yang lain. Apa pun yang terjadi, Rafa harus bertemu dengan Jack Hannes hari ini. Pemuda berambut coklat itu kini berdiri di depan sebuah pintu berwarna putih yang terletak di samping laboratorium sains. Ia melihat sekeliling lalu menarik nafas dalam-dalam. Rafa telah mencoba untuk mencari Jack ke seluruh penjuru gedung kampus namun hasilnya nihil. Ruangan ini adalah pilihan terakhirnya sebelum ia menyerah pulang. Profesor Jack Hannes pasti berada di sini. Kedekatannya dengan profesor itu membuat Rafa tahu betul tempat-tempat yang biasanya disambangi oleh pria tersebut, termasuk ruangan kecil di samping lab ini. “Profesor Jack Hannes,” ujar Rafa sembari mengetuk pintu. “Profesor, apakah Anda ada di dalam ruangan ini?” Tak ada jawaban. Rafa terus-terusan menggedor pintu berwarna putih itu dengan kuat. “Profesor! Profesor! Tolong, jawab aku!” Rafa menatap tajam pintu di depannya. Mata hijaunya menyiratkan rasa kecewa yang begitu dalam. Ini adalah harapan terakhirnya. Kalau Profesor Jack tak ada di sini maka sia-sia sudah kedatangannya ke Universitas Tenggara untuk mencari informasi. “Profesor, kumohon jawab aku.” Nada ucapan Rafa semakin pelan dan pelan. Ia benar-benar sudah putus asa. “Aku tahu kalau kau pasti ada di—“ Pintu dibuka. Suara pintu yang terbuka itu pun langsung membuat Rafa menghentikan ucapannya. Ia terpaku dan terdiam dalam beberapa saat. Mata hijaunya yang semula terlihat putus asa langsung berbinar. Sementara itu, seorang pria dengan rambut jabrik dan berwarna gelap tampak berdiri di balik pintu putih yang terbuka. Laki-laki tinggi yang kini mengenakan jas lab berwarna putih itu hanya bisa menatap tak percaya ke arah pemuda di depannya. Mata gelap sang profesor membelalak lebar. Ia tak salah lihat, bukan? “Rafael Zohan ... ? Apa yang kau lakukan di sini?” Pria dengan pakaian lab itu ialah sang profesor yang telah Rafa cari sejak tadi. Ia adalah Jack Hannes, profesor sains kenamaan di Universitas Tenggara yang kemampuannya telah begitu dikenal oleh banyak orang. Pria ini bahkan memiliki ratusan jurnal ilmiah yang telah ia publikasikan di situs-situs terkenal. Jack Hannes sudah dekat dengan Rafa sejak pemuda itu duduk di jenjang semester tiga. Pria ini tak pernah menyangka jika orang di hadapannya sekarang adalah benar-benar Rafael Zohan. “Profesor, aku ingin berbicara satu hal denganmu.” Muka Jack yang semula kaget dan tegang langsung berubah menjadi konyol. “Oi oi oi, apa kau bercanda? Kau datang ke sini seperti hantu dan mengagetkanku. Sekarang kau ingin mengatakan suatu hal tanpa basa-basi terlebih dahulu?” Inilah sisi Jack Hannes yang tak begitu disukai oleh Rafa. Pria ini sangat suka sekali bersikap konyol dan menganggap enteng semua hal. Rafa tahu kalau misal Profesor Jack Hannes ini adalah orang yang cukup diandalkan karena ia pasti mampu menyelesaikan suatu masalah. Tapi tetap saja, Rafa membenci sisi konyolnya ini. Dengan tatapan tajam, Rafa berucap, “Profesor, kumohon seriuslah. Aku ingin berbicara empat mata denganmu.” Ada senyum yang merekah di balik masker yang digunakan oleh profesor dengan kacamata bulat itu. Ia mengibas-kibaskan tangannya santai. “Oh ayolah, masuklah ke dalam dulu bersamaku dan mari kita minum teh bersama.” Dengan ogah-ogahan, Rafa pun akhirnya menuruti paksaan profesor yang satu ini. Ia duduk di meja kecil yang ada di ruangan ini dengan muka yang tertekuk kesal. Pemuda itu sebenarnya penasaran. Gerak-gerik Profesor Jack saat melihatnya untuk pertama kali tadi begitu aneh. Kenapa ia sangat terkejut? Bukankah responsnya itu begitu berlebihan? Saat Profesor Jack kembali datang menjumpai Rafa dengan dua cangkir teh di tangannya, pemuda bermata hijau ini langsung menatap setiap gerak-geriknya. Ia tak bisa menghabiskan banyak waktu lagi di sini. Rafa harus segera mengakhiri segala permainan yang telah disusun oleh Universitas Tenggara. “Profesor, aku ingin membahas suatu hal denganmu.” Dengan senyum yang sama, Profesor Jack justru berkata, “Kenapa kau ini selalu tak mau untuk basa-basi? Ayo minum—“ “Profesor!” Dengan kesal, Rafa pun meninggikan nada bicaranya. “Kumohon bersikaplah serius. Jangan buang-buang waktuku.” Ruangan yang semula hangat ini tiba-tiba berubah menjadi dingin akibat atmosfer yang dibentuk oleh kedua orang tersebut. Aura ramah dari Profesor Jack Hannes seakan sirna begitu saja. Pria ini menatap Rafa dengan tatapan dingin dan begitu serius. Ia terbatuk beberapa saat untuk mendatangkan wibawanya kembali. “Dari gerak-gerikmu itu, sepertinya kau sudah tahu suatu hal ya, Rafa?” Ucapan Profesor Jack dengan nada dingin itu membuat alis Rafa terpaut. Ia menatap profesor di depannya dengan pandangan yang tak kalah tajam. Rasa kesalnya akibat dibohongi membuat hati Rafa begitu kesal. Atmosfer yang tercipta di ruangan ini terasa semakin dingin. Dengan nada yang tak kalah dingin, Rafa berkata, “Dan dari gerak-gerikmu, sepertinya kau menyembunyikan suatu hal ya, Profesor?” Dua orang ini menatap satu sama lain dalam diam. Untuk sesaat, ruangan ini terasa begitu hening sebelum suara tawa yang begitu keras memecah kesunyian tersebut. Rafa langsung menatap heran ke arah Profesor Jack. Apa yang lucu sampai orang ini tertawa seperti itu? “Orang-orang Hetalia itu pasti mengatakan sesuatu padamu, bukan? Siapa yang memberitahumu?” “Tuan Adam Hillary.” Tawa Jack Hannes semakin pecah. Praia ini membuat atmosfer dingin yang tercipta sebelumnya seakan sirna. Rafa pun menatap kesal profesor yang sudah begitu dekat dengannya ini. Pemuda ini marah. Ia datang ke sini bukan untuk mendengar gelak tawa Profesor Jack Hannes. “Hahaha, Adam? Adam yang memberitahukan hal ini padamu?” Jack tertawa renyah ketika bertanya seperti itu. “Aku ke sini bukan untuk berbasa-basi denganmu atau pun mendengarkan tawamu! Tolong, bersikaplah serius dan katakan kebenaran padaku!” Setelah berhasil menguasai dirinya kembali, Jack pun hanya bisa tersenyum. Ia mengambil cangkir teh yang terletak di meja dan menyesap minuman itu sedikit demi sedikit. “Apa teman-temanmu yang lain sudah tahu soal hal ini?” pertanyaan dari pria berambut jabrik ini dibalas galengan kepala oleh Rafa. Pemuda itu pun menatap Jack Hannes dengan pandangan yang begitu tajam. “Jadi, apakah semua kebohongan itu benar? Kalian menipu kami untuk melakukan proyek pembuatan Vaksin Hektovac ini dengan imbalan uang hasil korupsi itu?” “Bukankah Hetalia telah mengatakan bahwa uang yang dialirkan pada Mario Regardus itu bukanlah uang hasil korupsi, melainkan aset miliknya sendiri?” Jack membalas perkataan Rafa dengan pertanyaan retoris. “Jadi, aliran dana yang diberikan Hetalia itu murni uang sewa untuk menggunakan laboratorium bawah tanah tersebut?” Rafa bertanya dan profesor di depannya itu dengan santainya mengangguk setuju. “Lalu, kenapa Mario Regardus tidak bisa dihubungi? Apa alasan dia melarikan diri ke luar negeri? Dan aku sangat tahu pasti, orang-orang pemerintahan pasti tahu suatu hal dari universitas ini sehingga mereka berusaha menuduh Hetalia melakukan korupsi saat konferensi pers dulu.” Rafa mengucapkan hal tadi dengan emosi yang meluap. Ia meninggikan nada bicaranya dan memarahi profesor tersebut. Kepalanya terasa mau meledak saat ini. Segala ketidaktahuan dan rasa kecewa akibat ditipu membuat pemuda yang satu ini merasa kesal bukan main. Profesor Jack Hannes dengan sabar mendengarkan rasa tidak terima yang diutarakan oleh Rafa. “Aku sama sekali tak paham kenapa profesor-profesor yang awalnya akan dikirim untuk proyek ini tergantikan dengan mahasiswa biasa seperti aku dan teman-temanku yang lain? Padahal nyatanya, profesor di sini tak pergi ke luar negeri atau apalah itu alasan yang kalian buat. Kenapa juga Universitas Tenggara menutup segala akses untuk memasuki area kampus selama satu bulan lamanya tanpa ada alasan kuat? Kenapa? Kenapa?!” Rafa frustrasi. Ia tahu betul jika rasa tidak tahu dan bingung tentang rencana yang telah dibuat oleh Universitas Tenggara ini membuat dirinya merasa tak berdaya. Dengan sorot mata yang memancarkan kobaran api kemarahan, Rafa menggebrak meja kecil di hadapannya tersebut. “Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan? Apa yang kalian rencanakan, hah?!” Di detik itu juga, senyum khas milik Profesor Jack Hannes langsung merekah. Pria ini tersenyum menyeringai di balik masker biru medis yang ia kenakan. Sepertinya, percakapan ini akan terasa begitu menarik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN