Seharusnya sejak awal Rafa sudah tahu jika kedatangannya ke sini adalah sebuah hal yang sia-sia. Seharusnya ia juga tahu bahwa dirinya sangat lemah dalam hal menilai atau memahami gerak-gerik seseorang. Pemuda ini telah membuat kesalahan dengan memikul masalah ini sendiri di pundaknya tanpa memberitahukan kepada ketiga temannya yang lain.
Kalau nasi belum jadi bubur, akan lebih baik jika ia membawa Rino datang bersamanya. Rino pasti akan tahu apakah semua hal yang dikatakan oleh Profesor Jack Hannes adalah sebuah kebohongan atau kebenaran. Selain itu, mungkin Ardi akan lebih tegas dalam bertindak. Hendra juga pasti bisa meredam emosinya dan bersikap tenang dalam masalah ini. Namun, sudahlah.
Rafa sangat tahu bahwa hal itu sia-sia. Dirinya sudah ada di sini, di Universitas Tenggara dan berhadapan dengan Profesor Jack Hannes. Pria itu adalah akar dari segala masalah yang terjadi.
“Minum dulu tehmu,” ujar Profesor Jack santai.
Rafa menatap kesal ke arah pria itu. Dengan ketus ia mengambil cangkir teh yang ada di meja dan menyesapnya sedikit demi sedikit.
“Aku akan mulai dari pertanyaanmu yang pertama. Kenapa Mario Regardus tidak bisa dihubungi? Mana kutahu, aku bukan keluarganya.”
Nada bicara santai dari Profesor Jack Hannes ini membuat Rafa mengepalkan tangannya kuat. Ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak emosi dan tetap diam mendengarkan jawaban dari pria berambut jabrik di depannya.
Jack memandang Rafa dengan mata menyipit. “Untuk pertanyaanmu yang kedua. Apa alasan dia melarikan diri ke luar negeri? Harusnya kau tahu kalau tugasnya itu banyak dan ke luar negeri bukanlah hal aneh atau pun tabu bagi rektor. Pertanyaanmu itu lucu sekali. Melarikan diri apanya coba?”
Mata Rafa melotot. Dia merendahkan nada ucapannya, berusaha menahan emosi sebisa mungkin. “Aku tak percaya dengan omong kosongmu ini. Aku tahu dia pasti sengaja pergi ke luar negeri dan melarikan diri ke sana karena tahu kalau keadaan negara kacau!”
Jack tertawa renyah. Pria ini menurunkan maskernya ke bawah dagu. Dia menghela nafas panjang. “Ruangan ini panas sekali ya? Emosimu bahkan sampai melelehkan AC di sini, Rafa.”
Tahu kepada siapa ejekan itu ditujukan, Rafa pun semakin dibuat kesal. Kenapa orang yang satu ini selalu menganggap sepele dalam segala hal? Ia hanya meminta keseriusannya, itu saja. Meskipun begitu, Profesor Jack Hannes tetap saja susah untuk diajak serius.
Dengan nada dingin, Rafa berucap, “Seriuslah.”
Jack yang mendengar perkataan singkat dan padat itu sontak tertawa lagi. “Pertanyaan ketiga. Kenapa profesor yang awalnya ikut digantikan oleh kalian? Jawabannya sangat sederhana, kami tak mau ambil risiko dalam proyek ilegal itu.”
Meskipun Rafa sangat susah mengenali gerak-gerik seseorang, tapi kali ini ia merasa bahwa ucapan Profesor Jack tadi kalau dilogika benar adanya. Pria jabrik ini menjawab pertanyaan ketiga tadi dengan serius. Bagaimana pun juga, Vaksin Hektovac dibuat tanpa adanya perizinan dari pemerintah dan Kementerian Kesehatan dulu. Pihak Hetalia dan Sepkai Farmasi baru mengumumkan hal ini pada publik ketika proyeknya sudah setengah jadi.
“Lalu, kenapa pergantian itu diadakan secara mendadak bukannya jauh-jauh hari? Kenapa pula kalian tak memberi tahu kami soal hal ini terlebih dahulu?” Rafa bertanya sembari terus menatap Jack dengan tajam.
“Oh, itu. Itu karena kami malas saja. Dan soal kalian, kami juga terlalu malas menjelaskan.”
Badan Rafa gemetar. Ia ingin sekali meninju pria yang satu ini. Kedekatannya dengan Profesor Jack membuat Rafa tahu betul bagaimana kepribadiannya. Setiap kali ia bertemu dengan orang ini, Rafa pasti selalu diuji emosinya. Meskipun begitu, pemuda ini mengakui bahwa Profesor Jack begitu hebat dalam hal penelitian sainsnya walaupun dia menyebalkan. Hal itulah yang menjadi satu-satunya alasan bagi Rafa untuk berhubungan dengan orang yang satu ini.
Profesor Jack kembali menyesap tehnya sedikit demi sedikit. Ia melirik ke arah Rafa beberapa saat. “Dari mana kau bisa tahu kalau Universitas Tenggara menutup aksesnya selama satu bulan penuh, termasuk larangan pada mahasiswa untuk memasuki kampus?”
Atmosfer dingin ini kembali terbentuk. Kedua pria ini menatap tajam satu sama lain. Rafa sedikit mengalihkan pandangannya. “Aku tahu dari seseorang dan kau tak perlu ikut campur dalam urusan ini.”
Jack terus memperhatikan gerak-gerik mahasiswa didiknya tersebut. Anak ini mengalihkan pandangannya, sepertinya dia membual. Pria jabrik ini pun mendengus geli. Rafa memang lemah kalau dalam urusan komunikasi. Terlihat sekali, dia membohongi profesor yang satu ini. Jack pun meletakkan cangkir teh ke mejanya lagi.
“Universitas Tenggara menutup akses selama sebulan penuh karena kedatangan tamu penting dari luar negeri.”
“Kau gila?” Rafa menatap tak percaya pria di hadapannya. “Bagaimana mungkin kalian menerima tamu dari luar negeri padahal tahu kalau negara ini melarang penduduk asing masuk selama pandemi? Bagaimana juga Rektor bisa keluar negeri tanpa ada larangan?”
Jack tertawa renyah. “Itu mudah saja. Hal itu semudah Hetalia menyelenggarakan proyek pembuatan vaksin tanpa diketahui oleh negara.”
Mata hijau Rafa membelalak lebar mendengar pernyataan dari Jack Hannes. Pemuda ini tahu bahwa praktik ilegal dalam negeri masih marak terjadi. Bahkan sekelas rumah sakit ternama seperti Hetalia dan juga Universitas Tenggara pun melakukan hal itu. Anehnya, pemerintah juga tak begitu tegas sehingga mereka tak tahu.
“Jangan bertindak naif, Rafa.” Ucapan serius dari Profesor Jack kali ini menarik perhatian mahasiswa tersebut. Rafa menatap profesornya dengan tatapan tak mengerti.
Jack sendiri kali ini tampak mengelus cangkir tehnya. Ia mengusap bekas bibirnya di cangkir porselen tersebut. “Kau tahu? Negara luar saat ini gencar memberitakan tentang Iranjia.”
Alis Rafa mengernyit heran. Ia mengaku kalau dirinya tak begitu tertarik dengan negara lain yang berada di luar sana, sehingga dia pun tak tahu soal ini. “Lalu kenapa? Apa yang diberitakan?”
“Negara-negara di Eropa memandang rendah Iranjia. Kita adalah sebuah negara besar namun bukan kategori negara maju seperti mereka semua. Di setiap pemberitaan, negara-negara itu tengah membahas aksi kudeta yang Hetalia lakukan terhadap Ketua Dewan Parlemen dan anggotanya.”
Rafa hanya diam. Ia tetap mendengarkan penjelasan dari pria di depannya. Kali ini adalah waktu yang tepat baginya untuk meminta informasi dari Profesor Jack saat dia tengah serius.
“Ini terasa sangat menjijikkan, bukan? Dewan Parlemen yang dianggap sebagai lembaga terhormat di luar negeri malah aslinya busuk di sini. Mereka hanya mengandalkan uang. Bahkan, ada mafia tersembunyi di parlemen yakni Roy Ayasa. Oh ya, asal kau tahu. Aku yang memberitahukan pada Roy Ayasa kalau Hetalia tengah mengembangkan vaksin.”
Di detik itu juga, detak jantung Rafa seakan berhenti berdetak. Apa ini? Ia tak salah dengar, bukan?
Melihat reaksi kaget dari Rafa membuat Jack terkekeh pelan. Anak di depannya ini sepertinya terkejut bukan main dengan fakta yang baru saja ia ucapkan. “Kau kaget? Hahaha.”
Rafa menggebrak meja sekali lagi. Teh dalam gelasnya tampak goyang dalam beberapa saat. Ia menatap tajam ke arah Jack. “Kau ini gila atau bagaimana? Apa maksudmu? Jadi, kau adalah biang keladi dalam masalah ini?”
“Oi, santai dulu.” Jack tertawa lagi. “Aku memberi tahu Roy Ayasa tanpa memberitahukan padanya kalau itu aku, seorang profesor dari Universitas Tenggara. Aku menghubunginya dari telepon umum sehingga pria itu tak bisa melacakku. Dia sampai sekarang tak tahu kalau informasi yang didapatkannya saat itu berasal dari Universitas Tenggara.”
“Jadi, itu alasannya dia juga tak tahu tempat dimana pembuatan vaksin dilaksanakan?”
Jack mengangguk. “Tentu saja. Aku tak mau aset universitas ini sampai hancur karena mafia gila itu nekat membakar atau melakukan hal lain.”
Rafa mengangguk. Apa yang diucapkan oleh pria ini ada benarnya. Roy pasti akan nekat melakukan apa pun untuk memenuhi tujuannya. Pemuda itu kini beralih menatap Jack Hannes dengan pandangan heran.
“Lalu, apa motifmu melakukan itu? Kau ingin ada pertentangan antara Hetalia dan Pemerintahan?”
“Coba bayangkan.” Jack tersenyum ke arah Rafa. Maskernya yang diturunkan membuat senyum pria ini terlihat dengan jelas. “Kalau aku tak menghubungi Roy Ayasa saat itu, apakah kedoknya sebagai mafia akan terbongkar?”
Mata Rafa tersentak. Jack Hannes ada benarnya. Kalau saja dia tak memberi tahu Roy Ayasa sesaat sebelum Hetalia akan melaksanakan konferensi pers itu, pasti ia tak akan melayangkan tuduhan korupsi melalui Tom Hustoff. Melalui tuduhan itulah, publik menjadi penasaran dan menyelidiki asal-usul isu korupsi itu bermula. Apalagi sejak Roy Ayasa tampil pada orasi yang disampaikannya di Taman Adiyasa kemarin, masyarakat Iranjia semakin penasaran akan sosoknya yang kontroversial.
“Jujur ya, aku tak pernah menyangka kalau Roy sendiri yang akan turun tangan bahkan sampai melakukan orasi di Taman Adiyasa tentang penolakannya terhadap vaksin. Apalagi berdasarkan penuturan Nias, ternyata kau adalah orang yang menentangnya saat itu ya?” tanya Jack dengan senyum menyeringai.
Rafa sendiri bersikap tak peduli. Ia mengalihkan pandangan. “Itu bukan urusanmu.”
Jack tertawa dengan riang. Mahasiswa didiknya yang satu ini memang berbeda. Ia begitu unik. Secara tak langsung, Rafa telah membantu pekerjaannya untuk membuka kedok Roy Ayasa kepada masyarakat. Bagaimana pun juga, akhirnya seluruh penduduk di Hetalia tahu kalau ada mafia tersembunyi di anggota parlemen dan Presiden akan melakukan perombakan divisi Dewan Parlemen sebentar lagi setelah kasus kemarin.
“Aku melakukan itu semua karena ada isu yang mengatakan kalau Roy Ayasa akan mencalonkan diri sebagai presiden tahun depan menggantikan Presiden Rika. Sebelum itu terjadi, jajaran petinggi di Universitas Tenggara langsung turun tangan. Kalau sampai Roy berhasil menarik simpati rakyat, maka habis sudah. Oleh karena itu, kami memanfaatkan proyek Vaksin Hektovac ini sebagai umpan untuk memancing Roy menunjukkan sisi aslinya,” jelas Jack.
Entah kenapa, Rafa yang mendengarnya sontak mengukirkan senyum simpul di balik maskernya. Pemuda yang satu ini bersyukur. Universitas Tenggara pada akhirnya melakukan ini semua demi kepentingan negara ini. Dugaan Adam kemarin salah, nyatanya Jack Hannes melakukan ini semua untuk masa depan Iranjia yang lebih baik.
Rafa mengambil cangkir tehnya di meja. Ia menatap Profesor Jack666 beberapa saat sebelum meneguk teh tersebut. “Jadi, pada akhirnya kau tetap ada di sisi Hetalia bukan?”
“Tidak juga.”
Suara batuk yang begitu keras langsung terdengar di ruangan ini. Jack yang melihat Rafa terbatuk-batuk karena tersedak langsung meringis. Ia tak sengaja membuatnya seperti itu.
“Kenapa? Bagaimana mungkin kau tak memihak Hetalia?!” tanya Rafa setelah berhasil menenangkan batuknya. Pemuda itu langsung mengembalikan cangkir tehnya ke meja.
“Alasan kenapa Universitas Tenggara menutup aksesnya selama sebulan penuh karena kampus ini kedatangan tamu kehormatan dari salah satu kampus ternama di Eropa, Universitas Herminton.”
Mata Rafa langsung menyiratkan rasa kaget. “Kau bercanda? Apa yang dilakukan universitas elite Edelton itu di sini?”
Universitas Herminton adalah salah satu universitas tertua yang ada di dunia. Universitas ini merupakan universitas paling bergengsi dan mempunyai pendapatan terbesar di antara universitas-universitas di seluruh dunia. Rangking universitas negeri milik Edelton ini menempati urutan pertama berdasarkan survei yang diselenggarakan oleh Lembaga Riset Dunia, sedangkan Universitas Tenggara yang merupakan kampus terbaik di Iranjia hanya menempati urutan ke-313.
Edelton sendiri merupakan sebuah negara adidaya di Eropa. Berbeda dengan Iranjia yang masih berkembang, negara itu sudah lama dikenal oleh seluruh orang di dunia sebagai negara maju bahkan sebelum perang dunia dilaksanakan. Oleh karena itu, tak aneh apabila universitas terbaik di dunia terletak di Edelton.
Tentu saja Rafa terkejut bukan main, ini adalah suatu hal yang sangat aneh menurutnya. Universitas terbaik dunia itu tak sepatutnya datang berkunjung ke sini tanpa alasan pasti, apa lagi di masa pandemi Ex-0.
"Saat pertemuan itu, Universitas Herminton dan Universitas Tenggara membahas harapan hidup di Iranjia."
Apa yang sebenarnya terjadi?