Chapter 42 - Fakta

1142 Kata
Tahun 2000, tahun dimana manusia mengira masih mampu mempertahankan eksistensinya selama dua milenium ini justru terjadi serangan wabah virus yang luar biasa. Telah dipastikan oleh organisasi kesehatan dunia bahwa kemunculan virus yang bernama Exitium Zero ini terjadi setelah perayaan tahun baru 2000 yang disambut secara besar-besaran oleh masyarakat dunia. Berbeda dengan wabah black death atau wabah lain yang pernah menyerang manusia, virus ini menyerang sistem kerja otak sehingga menyebabkan peningkatan hormon kortisol yang memicu depresi. Belum dapat dipastikan dengan pasti virus yang kerap disebut Ex-0 (eks-zero) ini berasal dari mana. Dugaan yang paling banyak adalah virus ini berasal dari daging sapi di Negara Seraporl, sebuah negara maju dengan wilayah kecil yang terletak di barat negeri ini. “Kau tahu bukan kalau banyak ilmuwan dan pakar yang berpendapat bahwa virus ini diduga berasal dari negara tetangga kita?” Jack Hannes bertanya pada Rafa dengan mata yang menyorot aura serius. Rafa dengan raut yang tak kalah serius langsung mengangguk setuju. Ini sudah menjadi rahasia umum. Secara tak langsung, negara Seraporl telah dijadikan kambing hitam dari segala kekacauan ini. Padahal nyatanya, opini itu belum terbukti asli. Virus ini pertama kali ditemukan pada orang yang mengonsumsi daging sapi di negara tersebut. Sedikit aneh memang. Kalau dilogika lagi, sapi itu jarang terkena virus yang mematikan seperti ini bila dikonsumsi oleh manusia. “Beberapa staf Universitas Herminton yang semula berkunjung secara rahasia ke Seraporl langsung menuju ke Iranjia. Mereka membahas hal ini dengan kami, Universitas Tenggara. Ilmuwan di sana bertanya-tanya, kenapa pada awal penyebaran virus ini dulu negara Iranjia yang notabenenya adalah tetangga dari Seraporl justru terdampak Ex-0 beberapa bulan kemudian?” Memang, virus ini ditemukan pertama kali saat tahun baru. Di mana kala itu banyak orang di seluruh penjuru dunia terutama Asia dan Eropa yang melakukan aksi bunuh diri dalam waktu yang berdekatan. Berbanding terbalik dengan hal itu, Iranjia justru menyatakan kasus pertamanya di bulan Maret kemudian. Ada jeda selama dua bulan sejak virus ini pertama kali muncul. Tentu saja hal ini jadi tanda tanya bagi para ahli di luar negeri. Terasa tak masuk akal saja kalau dinalar. Rafa mengerutkan keningnya. “Mungkinkah mereka berpendapat kalau Iranjia tak becus sehingga kasus Ex-0 yang bisa saja ditemukan sejak bulan Januari lalu malah terdeteksi pada Maret?” Senyum seringai khas milik Jack langsung merekah begitu Rafa mengungkapkan apa hasil pemikirannya. Mengobrol dengan mahasiswa yang satu ini memang sangat mengasyikkan. Ia pasti akan kesepian ketika Rafa wisuda semester ini. “Kau benar sekali. Universitas kenamaan itu melayangkan peringatan kepada Iranjia melalui kampus ini. Namun, ada satu kesalahan fatal yang dilakukan oleh Mario Regardus kala pertemuan itu.” Detak jantung Rafa seolah berhenti berdetak. Mata hijaunya memandang Jack dengan tatapan curiga. “Kesalahan apa itu?” “Mario yang merasa tak terima karena Iranjia dihina akibat atak becus langsung menyatakan bahwa negara ini tengah mengembangkan vaksinnya sendiri mulai bulan Maret lalu semenjak kasus Ex-0 melonjak.” Rafa semakin bingung. Semua ini menjadi semakin kompleks. Apa yang ia dan Adam ketahui di permukaan, ternyata bukanlah fakta yang sebenarnya. Ada beragam hal yang terjadi di universitas ini tanpa sepengetahuan dirinya. “Pada akhirnya Universitas Herminton yang berencana datang ke sini selama seminggu justru menetap selama satu bulan lamanya. Mereka mengawasi segala gerak-gerik Iranjia melalui kampus kita untuk dilaporkan kepada Organisasi Persatuan Bangsa atau OPB. Karena bagaimana pun juga, Iranjia adalah suatu negara yang besar sehingga negeri ini menyumbangkan banyak kasus Ex-0 di dunia,” jelas Jack. Untuk sesaat terjadi keheningan di sini. Rafa hanya bisa menatap profesornya itu dalam diam. Ia berusaha mencerna segala hal yang terjadi di sini. “Jadi, itu adalah alasan kenapa Universitas Tenggara menarik nama-nama profesor yang akan ikut andil dalam pembuatan vaksin? Hanya karena Universitas Herminton menetap di sini?” tebak Rafa setelah beberapa saat terdiam. Jack hanya mengangguk. “Asal kau tahu juga, Mario ada di luar negeri sekarang karena memenuhi undangan Universitas Herminton untuk datang ke Edelton. Rektor itu melaporkan proyek vaksin yang dibuat oleh Iranjia saat ini.” “Tunggu, kupikir Universitas itu tak peduli pada vaksin ini. Buktinya mereka hanya ingin mengawasi Iranjia, bukan Proyek Vaksin Hektovac-nya,” sanggah Raffa. “Oh, mereka mengawasi pemerintah dan juga Vaksin Hektovac dalam sebulan ketika berada di sini. Atas dasar kerja sama dan perjanjian yang telah dibuat, Universitas Herminton akan membantu segala hal untuk suksesnya program vaksin ini. Oleh karena itu, Mario langsung ke Edelton ketika proyek ini sudah berstatus 50%.” Mata Rafa berbinar. Pada akhirnya, Universitas Tenggara tetaplah yang terbaik. Mereka tidak melakukan semua ini tanpa alasan, apa lagi demi keuntungannya sendiri. Semua ini hanya untuk negerinya tercinta, Negara Iranjia. Apa yang Adam pikir beberapa saat lalu ternyata salah. Ekspresi senang yang dipancarkan oleh raut wajah Rafa langsung membuat Jack ikutan senyum juga. “Tapi, jangan senang dulu.” Seringai lebar milik Jack Hannes merekah. Itu langsung jaadi perhatian Rafa. Apa lagi sekarang? “Dari lima belas staf yang datang ke sini, hanya dua orang yang bersedia membantu Iranjia dalam proses pengembangan vaksinnya.” Jack Hannes masih merekahkan senyum seringainya. Ia menunggu reaksi Rafa. “Kau bercanda?” “Tentu saja, tidak.” Ucapan itu membuat dahi Rafael Zohan mengerut bingung. Jack yang masih tersenyum langsung berkata, “Tiga belas orang sisanya menemukan fakta tak terduga tentang negara ini dan mereka pun langsung memandang rendah negeri kita. Dasar memang, tipikal orang negara maju yang selalu merendahkan negara berkembang.” Mata hijau milik Rafa melebar karena rasa terkejut. Ia menatap tak percaya pada Jack Hannes. Fakta tak terduga apa lagi sekarang? Jack pun langsung menjelaskan semua hal pada Rafa. Tiga belas orang staf profesor dari Universitas Herminton itu menemukan fakta bahwa ada indikasi temuan Ex-0 di negeri ini sejak Januari lalu. Namun nyatanya, Iranjia tak bisa menyadari itu dan justru mengumumkan kasus pertamanya di bulan Maret. Hal ini menunjukkan dengan jelas bahwa negeri ini sama sekali tak becus. Kasus-kasus Ex-0 yang bisa ditemukan sejak Januari justru terdeteksi dua bulan kemudian. Oleh karena itu, alasan kenapa bulan Maret lalu Iranjia langsung memberikan sumbangan lonjakan pasien Ex-0 adalah karena pasien-pasien itu tak terdeteksi dari awal. Dengan fakta itulah, para ilmuwan dari Universitas Herminton berpendapat jika Iranjia memiliki harapan hidup yang rendah bagi warganya. Apalagi kalau pemerintah justru memanfaatkan kasus pandemi ini sebagai ladang ekonomi, maka tak ada harapan lagi pada negeri besar ini. Atas rasa belas kasihan, dua profesor lain dari Universitas Herminton itu langsung memberikan bala bantuan pada Iranjia melalui Universitas Tenggara dalam proses pembuatan vaksinnya. Bantuan ini diharapkan mampu meningkatkan harapan hidup di negeri ini agar tak banyak lonjakan kasus pasien Ex-0. Meskipun awalnya ditentang oleh tiga belas profesor yang lain, pada akhirnya Universitas Herminton secara resmi telah menyetujui perjanjian kerja sama antara Universitas Tenggara dengan pihaknya untuk membuat vaksin ini lebih efektif dan tuntas dalam waktu yang singkat. Jack Hannes dan Rafael Zohan terus mengobrol sampai langit mulai menggelap. Keduanya hanyut dalam dunia yang mereka bangun sampai tak menyadari bahwa siang telah terganti menjadi malam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN