Sore yang sama di langit Distrik Pusat. Angin bulan November yang dingin berembus pelan menyusuri penjuru kota. Jam yang berada di halaman gedung Rumah Sakit Hetalia kali ini telah menunjukkan pukul lima sore. Jajaran regu penanganan Ex-0 beserta tim dokter koas baru saja menyelesaikan tugas mereka untuk menangani pasien rujukan dari Distrik Timur yang kali ini mencapai ratusan lebih. Masyarakat Iranjia tampaknya memang semakin ke sini semakin acuh dengan Ex-0, itu yang menyebabkan kenapa semakin hari lonjakan kasus semakin bertambah.
Di lain sisi, berita akan temuan mutasi zeta kemarin membuat geger seluruh penduduk. Masyarakat yang sempat acuh itu mulai panik kembali dalam beberapa hari belakangan. Berdasarkan tes yang dilakukan oleh Hetalia per 10 November hari ini, telah ditemukan 12 kasus mutasi zeta dari beberapa pasien rujukan yang datang ke sini. Tentu saja itu fakta yang mengejutkan. Tanpa sadar, mutasi Ex-0 yang lebih mengerikan ini telah membaur di sekitar lingkungan masyarakat sipil. Kalau ini dibiarkan, bisa saja Iranjia akan mengalami lonjakan kasus Ex-0 dalam kategori maha dahsyat.
Alexa sekarang duduk di salah satu kursi yang disediakan di koridor. Ia telah melepas mantel hitam milik regu penanganan Ex-0 yang dipakainya saat penerimaan pasien rujukan tadi. Saat ini ia hanya mengenakan jas putih ala dokter biasa. Beberapa saat yang lalu, gadis dengan rambut panjang yang kini digelung ke belakang tersebut ditemani oleh Maria. Namun, Maria saat ini meninggalkannya seorang diri karena ia pergi ke kamar mandi.
Koridor ini cukup sepi. Ini adalah lorong yang menuju pintu belakang. Itu sebabnya kenapa tempat ini sepi dan tak ada orang yang berkeliaran di sekitar sini. Gadis dengan wajah oriental tersebut sedari tadi tampak memegang ponsel. Ia tengah melakukan panggilan video dengan seseorang.
“Kudengar dari perawat akhir-akhir ini, ingatanmu semakin membaik ya?” tanya Alexa pada orang di seberang telepon itu.
Layar ponsel milik Maria yang dipegang oleh Alexa kali ini menampilkan wajah seorang anak kecil laki-laki yang tengah duduk di ranjang rumah sakit. Ya, orang itu adalah sosok Gabriel Delio. Alexa sedari tadi menelepon dan berbincang dengan Gabriel di lorong ini. Karena Maria tengah pergi ke kamar mandi, Alexa pun mengobrol seorang diri dengan pasien yang pertama kali terpapar oleh mutasi zeta itu.
Dari seberang telepon, Gabriel tampak mengangguk dengan antusias. Alexa pun tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Ia turut senang jika anak itu semakin membaik. Itu menandakan bahwa kerja keras yang dilakukan oleh staf medis di sini telah membuahkan hasil.
Alasan kenapa Alexa tak menghampiri Gabriel langsung di ruangannya karena demi keamanan bersama. Hanya dokter dan perawat yang menangani mutasi zeta yang diizinkan berinteraksi secara langsung dengan anak itu. Ia dan dokter koas lainnya pun tak bisa berinteraksi langsung dengan Gabriel meskipun mereka berlima cukup dekat dengannya. Kalau mau berkomunikasi, maka kelima dokter koas itu harus menggunakan ponsel mereka. Gabriel juga tampaknya bahagia apabila menerima telepon dari lima orang tersebut. Jika anak itu merasa bahagia, maka kesembuhannya pun semakin cepat.
Mata Alexa menyipit, menandakan bahwa gadis itu tengah tersenyum lebar di balik maskernya sekarang. “Kalau boleh tahu, apa saja yang sudah kau ingat?”
“Aku mengingat semuanya!” Suara antusias dari Gabriel langsung membuat gadis tersebut terkikik pelan.
“Coba sebutkan.”
“Aku tahu namaku siapa. Aku juga ingat wajah kalian semua. Perawat di sini mengatakan kalau kalian adalah dokter koas. Meskipun begitu, aku belum bisa mengingat nama kalian.”
Wajah Alexa menunjukkan raut menggoda. “Kalau begitu, coba tebak. Siapa namaku? Diawali oleh huruf A.”
Di layar ponsel yang dipegang olehnya, Gabriel tampak mengingat-ingat sesuatu. Ia bergumam, “Dika, Maria, Ais, Beni, Alexa ... ehm, tunggu dulu. Huruf A-nya ada dua. Tapi kalau dari wajahnya sepertinya orang ini Alexa.”
Suara tawa yang keras dari Alexa langsung menarik atensi anak itu. Ia memandang gadis itu dengan wajah yang bersemu merah, entah karena marah atau malu. Ekspresi Gabriel sangat lucu di mata Alexa, benar-benar tipikal anak kecil yang begitu polos.
“Kau menggumam dengan keras. Aku jadi tahu kan kalau begitu ceritanya? Ahahaha.” Alexa meledek Gabriel dengan tawa yang tak mampu ia bendung. Yang diledek pun hanya bisa tersenyum malu sambil terus tertawa.
Setelah berhasil menguasai dirinya, gadis yang rambutnya digulung ke belakang itu memandang Gabriel dengan ramah dan penuh antusias. “Lagi-lagi. Apa lagi yang kau ingat?”
“Aku juga sudah ingat di mana aku sekolah dan tinggal. Aku tahu alasan kenapa aku di sini karena terkena Ex-0. Awalnya aku kaget karena ingatan tersebut, tapi dokter mengatakan kalau dunia saat ini terinfeksi wabah virus itu. Aku pikir ini sangat keren, sudah seperti film-film fantasi dari luar negeri saja ahahaha.”
Alexa terus mendengarkan apa yang dikatakan oleh Gabriel. Ia sangat bahagia mendengar tawa anak itu. Hatinya terasa begitu tenteram tanpa ada alasan pasti. Kondisi koridor yang sepi semakin membuat suasana telepon mereka berdua seperti dunia milik sendiri. Apa lagi Maria tak kunjung kembali. Kemarin gadis itu memakan bakso dengan sambal yang begitu banyak, kemungkinan ia tengah diare saat ini.
“Lalu, ada lagi?”
Wajah Gabriel tampak memikirkan suatu hal sejenak. Anak laki-laki dengan rambut hitam lurus itu lalu memasang senyum lebar. “Aku juga ingat siapa keluargaku, termasuk nama ayah, ibu, dan kakakku. Seingatku dulu aku ke sini bersama Kakak, tapi entah kenapa dia tak mengunjungiku. Perawat di sini bilang kalau Kakak sedang pergi ke tempat yang jauh.”
Di saat itu juga, detak jantung Alexa seakan berhenti. Ia tak bisa memproses informasi yang telah disampaikan oleh Gabriel tadi. Posisi duduknya yang semula santai langsung berubah. Gadis itu sontak duduk tegak dengan peluh yang membasahi dahinya. Jadi, anak ini sudah mengingat masa lalunya?
“Yah, aku juga tak akan kaget. Kakakku itu orang paling pintar di desa. Ia akan melanjutkan kuliahnya ke Edelton. Apa kau tahu di mana itu Edelton, Kak Alexa?”
Alexa yang masih berusaha menerima kenyataan kalau Gabriel telah mengingat masa lalunya hanya bisa menggumam. “Edelton ... ?”
Di seberang telepon, Gabriel pun sontak tertawa. Ia menganggap Alexa ini adalah seorang kakak yang konyol dan bodoh sampai tak tahu di mana itu negara Edelton. Orang ini benar-benar kebalikan dari kakaknya yang kalem dan pintar. Meskipun begitu, Gabriel tetap menyukai Alexa. Watak Alexa yang konyol dan ceplas-ceplos selalu membuat hatinya bahagia dan dengan mudahnya ia tertawa.
“Ahahaha! Kau tak tahu apa itu Edelton? Itu loh, negara terkenal dari Eropa. Kakakku pasti sudakah berangkat ke sana. Dia yang terbaik pokoknya. Kak Diana itu kuliah di universitas peringkat nomor satu di dunia!” pamer Gabriel pada Alexa.
Mata Alexa langsung melebar tak percaya dengan fakta yang telah dibeberkan oleh Gabriel. Ia sama sekali tak tahu kalau Diana adalah calon mahasiswa di Edelton. Gadis itu pasti akan kuliah di Universitas Herminton kalau Gabriel bilang kakaknya kuliah di universitas terbaik dunia tadi. Ia pasti seorang jenius namun, sayang sekali gadis cantik itu harus tewas sebulan yang lalu.
Tunggu, Alexa baru menyadari sesuatu. Kenapa Gabriel mengatakan kalau kakaknya saat ini berada di Edelton? Apakah ia tak ingat jika Diana Melia alias kakaknya telah tewas? Sebenarnya, sampai mana ingatan anak itu kembali? Apakah ingatannya hanya sebatas saat virus Ex-0 belum muncul di dunia ini?
Dengan detak jantungnya yang berpacu, Alexa menatap Gbariel dengan pandangan selidik. “Lalu, apa lagi Gabriel?”
Gabriel kembali terdiam. Ia terlihat mengingat sesuatu namun, wajahnya menjadi kesal beberapa saat kemudian.
“Tunggu, kenapa ini jadi sesi tebak-tebakan? Kau memberikan tebakan tentang apa saja yang kuingat dan aku memberimu jawaban begitu?” protes anak laki-laki tersebut dengan wajah merengut.
Alexa yang dibantah pun langsung tersenyum canggung. Raut wajahnya menunjukkan ekspresi kikuk. Gadis ini sebenarnya agak takut membahas masa lalu Gabriel dengan anak itu. Meskipun ia bisa menemukan fakta sebenarnya tentang keluarga Gabril namun, dokter koas ini tak berani ambil risiko. Ia takut jika anak ini akan mengalami sakit luar biasa kembali ketika mengingat suatu hal. Alexa hanya ingin Gabriel cepat pulih dan tak ingin memperparah keadaannya.
Gadis itu hanya bisa menatap teduh ke arah Gabriel. Ia melemparkan senyum tulus padanya. “Kau dan kakakmu tampaknya begitu dekat ya?”
Gabriel kali ini terlihat mengambil anggur di samping tempat tidurnya. Ia memakan anggur itu sembari mengangguk-angguk ke arah Alexa. “Tentu saja, soalnya kami hanya tinggal berdua. Ayah dan ibu telah tiada.”
Wajah Alexa kembali tak mampu untuk menyembunyikan ekspresi kagetnya. Raut muka gadiss itu sontak menjadi pucat pasi. Ia tak salah dengar, bukan?
Gabriel yang melihat raut wajah Alexa yang berubah langsung tak mampu menyembunyikan tawanya. “Apa-apaan ekspresimu itu, Kak Alexa? Santi saja kali.”
“A-ah ...,” ujar Alexa. Gadis itu bingung ingin mengucapkan apa. Ia meneguk ludahnya kasar. “Maafkan aku, aku sama sekali tak bermaksud untuk—“
“Sudahlah, santai saja.” Gabriel menggeleng santai ke arah dokter koas itu. Ia melanjutkan aksi makan anggurnya dengan ekspresi tenang. “Ayahku meninggal awal tahun lalu. Ini sedikit memalukan sih, tapi ia bunuh diri saat itu.”
Dan di detik itu juga, ponsel putih milik Maria langsung jatuh terhempas ke arah lantai. Mata hitam milik Alexa bergetar dengan posisinya yang melebar sempurna. Gadis ini telah dibuat senam jantung untuk ke sekian kalinya oleh Gabriel Delio. Tubuh Alexa kali ini dipenuhi oleh peluh dingin. Badannya turut bergetar karena terkejut. Ia tak bisa menyembunyikan ekspresi tak percayanya.
Di lorong koridor yang sepi ini, Alexa menggigil ketakutan seorang diri. Kecurigaannya siang tadi terbukti. Ia tak tahu fakta apa yang telah ditemukannya saat ini. Tapi, memang dari awal ada yang tak beres dari keluarga Gabriel Delio. Dan sekarang, anak laki-laki berusia sembilan tahun itulah yang telah menjabarkan kenyataan padanya.
“Kak Alexa? Kak Alexa?”
Diam. Jiwa Alexa saat ini seakan melayang jauh. Ia masih belum mampu menormalkan detak jantungnya yang berpacu dengan keringat dingin yang terus membanjiri badannya yang bergetar hebat akibat rasa tak percaya.
“Halo, Kak Alexa? Kau masih di sana bukan? Apa yang terjadi? Kenapa layarnya tiba-tiba menampilkan langit-langit rumah sakit?”
Tangan Alexa yang bergetar mencoba untuk mengambil ponsel putih milik Maria. Mulut gadis itu menutup dan terbuka. Ia tak tahu harus menjawab seperti apa. Badannya masih bergetar. Setelah dirasa lebih tenang, Alexa kembali menatap layar ponsel itu.
“Ah, kau masih ada di sana rupanya. Aku kira ada apa sampai layar ponselnya tiba-tiba menghadap ke arah langit-langit,” ucap Gabriel dengan santai. Anak itu bahkan menyengir ke arah Alexa.
Dengan tegukan ludah kasar, gadis itu berkata, “Gabriel, apakah di sana ada dokter atau perawat lain?”
Anak itu menggeleng. Ia mengalihkan kameranya ke kamera belakang dan memvideo seluruh sisi ruang rawat inapnya. “Lihat. Aku seorang diri di sini. Biasanya dokter dan perawat akan tiba jam tujuh malam. Aku sangat senang karena kau bisa mengobrol denganku sekarang, hihihi.”
Alexa ikut tersenyum, meskipun senyumnya masih terlihat canggung menurut gadis itu sendiri. “Maaf kalau aku tidak sopan. Tapi, bisakah kau bercerita denganku?”
Anak berusia sembilan tahun itu masih asyik dengan kegiatan makan anggurnya. “Bercerita? Soal apa? Ayahku tadi? Tentu saja tidak apa-apa. Kenapa kau harus minta maaf? Ahahaha.”
Saat itu juga, Alexa langsung menghirup nafas dalam-dalam. Ini adalah kesempatannya. Sebuah kesempatan yang tak akan datang dua kali. Dilihat dari mana pun juga, Gabriel sama sekali tak merasa kesakitan ketika membicarakan ayah atau pun keluarganya. Oleh karena itu, ini pasti bukan masalah besar bagi anak tersebut. Alexa harus memanfaatkan hal ini baik-baik untuk menemukan titik terang dari pemikiran-pemikiran liar yang telah menghantui akal sehatnya mengenai latar belakang keluarga Gabriel Delio.
Dan ini adalah saatnya. Ia akan memanfaatkan waktu yang singkat ini untuk mengetahui hal tersebut.