Taman Adiyasa adalah sebuah taman besar yang menjadi simbol dari Distrik Pusat. Taman itu terletak di pusat kota dan berhadapan langsung dengan Rumah Sakit Iranjia. Areanya yang cukup luas membentang hampir seukuran lapangan sepak bola yang ada di stadion. Alexa masih ingat dengan jelas kenangan-kenangan yang telah ia habiskan di taman itu sebelum ditutup akibat pandemi sekarang.
Sejak kedatangannya ke Distrik Pusat untuk menempuh pendidikan tinggi di sini, terhitung sudah hampir lima puluh kali dirinya mendatangi taman tersebut. Alexa biasa jalan-jalan, olahraga, bersantai, serta mencari camilan di taman tersebut. Gadis dengan wajah cantik itu terakhir kali datang ke sana saat perayaan tahun baru yang diselenggarakan secara besar-besaran kemarin.
Ya, sebuah perayaan tahun baru yang saat itu ditutup dengan tragedi di pukul tiga malam. Hari itu, tanggal 1 Januari tahun 2000, saat seluruh orang di dunia merayakan tahun baru, korban-korban pertama dari keganasan Ex-0 mulai berjatuhan. Iranjia sendiri tak menyadai hal tersebut. Negara ini dengan bangganya menyatakan bahwa bangsanya aman dari amukan Ex-0 yang saat itu menyerang dunia di bulan Januari. Namun, Alexa masih ingat dengan jelas. Pukul tiga malam, tanggal 1 Januari 2000, ada seseorang yang bunuh diri tepat di hadapannya di Taman Adiyasa.
“Jadi, ayahku meninggal saat tahun baru dulu. Aku tidak ingat pasti, tapi yang kutahu dia jatuh dari menara tinggi di sebuah taman terkenal di Distrik Pusat.”
Untuk sesaat, otak Alexa langsung menghubungkan kejadian yang ia ingat tadi dengan apa yang diucapkan oleh Gabriel. Gadis ini sangat yakin jika ia sama sekali tak salah mendengar hal tadi. Ayah dari Gabriel Delio tewas bunuh diri saat tahun baru di taman terkenal yang ada Distrik Pusat.
“Distrik pusat itu kecil,” ujar Alexa. Gadis itu menatap Gabriel melalui layar ponsel dengan saksama. “Hanya ada dua teman di sini. Kalau boleh tahu, itu di Taman Oud Centra atau Taman Adiyasa?”
Untuk sesaat, suasana kembali hening. Gabriel terlihat berpikir keras, anak itu mengingat-ingat nama taman yang dikunjung keluarganya saat itu. “Sepertinya taman itu didahului oleh huruf A. Mungkin Taman Adiyasa tadi.”
“Kenapa kau ragu soal itu? Apakah dulu dirimu tak ikut saat kejadian?” tanya Alexa.
Yang ditanyai pun hanya bisa mengangguk santai. “Ya, saat tahun baru dulu aku ada karyawisata bersama teman dan guruku di Sekolah Dasar. Jadi, aku sama sekali belum pernah mengunjungi Distrik Pusat ataupun taman itu tadi.”
“Oh, pantas saja.”
Gabriel yang mendengar tanggapan itu pun hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya. “Ngomong-ngomong, aku baru ingat. Kakak Alien kemarin janji akan mengunjungi Taman Adiyasa dan lokasi wisata Oud Centra saat aku sembuh nanti. Aku benar-benar tak sabar.”
Alis Alexa yang mendengar itu sontak mengernyit heran. “Tunggu, siapa itu kakak alien?”
“Aku lupa. Orang itu yang selalu bersama kalian dulu tapi sekarang sudah tak ada d sini. Seorang laki-laki aneh berwujud manusia dengan mata hijau yang menyala dan rambutnya berwarna coklat.”
“Pfft!” Tentu saja, Alexa tak bisa menahan tawanya. Ia langsung tertawa terpingkal-pingkal begitu mendengar Gabriel mendeskripsikan orang yang ia maksud sebagai kakak alien. Gadis ini tahu siapa orang yang dimaksud oleh anak itu. Bagaimana pun juga, Rafael Zohan mungkin adalah satu-satunya orang di Iranjia yang memiliki rambut coklat dan mata hijau, jadi yang dimaksud oleh Gabriel pasti pemuda itu.
Gabriel pun tertawa. Ia kemudian melanjutkan kisah tentang ayahnya yang bunuh diri saat itu. “Asal kau tahu ya, Kak Alexa. Ayahku itu baru pulang dari luar negeri sebelum ia nekat bunuh diri. Entah apa yang dipikirkan oleh pria itu dulu.”
“Oh ya? Memangnya dia dari mana?”
“Seraporl.”
Di detik itu juga, jantung Alexa seakan berhenti berdetak. Wajahnya kaku. Gadis ini diam membisu. Ia tak tahu harus menganggapi bagaimana perkataan Rafa tadi. Bagaimana pun juga, Seraporl adalah negara yang banyak diasumsikan oleh ilmuwan sebagai tempat munculnya Ex-0 yang pertama kali.
Kalau ayahnya datang dari Seraporl, mungkinkah ia terinfeksi Ex-0 saat kembali ke Iranjia? Apalagi Gabriel juga bilang jika ayahnya bunuh diri di Iranjia. Mungkin saja, orang yang dilihat Alexa jatuh dari menara Taman Adiyasa kemarin adalah ayah dari Gabriel Delio dan Diana Melia.
“Saat itu aku tak mengerti. Ayah sudah bekerja di Seraporl sejak aku berusia tiga tahun. Sudah enam tahun lamanya dia di sana dan bulan November tahun lalu ia pulang. Tapi, ayah malah melakukan hal seperti itu di tempat wisata yang didatanginya bersama ibu dan Kak Diana.”
Untuk sesaat, Alexa berusaha mengembalikan ekspresinya yang semula. Ia berusaha tidak tegang dan berwajah santai. “Aku tidak bisa membayangkan betapa sedihnya kau saat itu, Gabriel. Maaf telah membuatmu menceritakan hal ini padaku.”
Di seberang telepon, Gabriel Delio hanya menggelengkan kepala santai.
“Aku tidak begitu dekat dengan ayahku. Saat itu tentu saja aku sedih, tapi entah kenapa aku sedih karena melihat ibu dan Kak Diana tak bisa berhenti menangis. Mereka bahkan sampai pingsan.”
Ah, Alexa mulai paham. Ittu reaksi normal yang diberikan oleh anak kecil ketika orang yang tak begitu dekat dengannya mengalami musibah. Pantas saja Gabriel menceritakan hal ini dengan santi karena peristiwa itu sama sekali tak membebani pikirannya.
Mungkin, Ayah Gabriel sangat jarang menghubungi keluarganya sehingga anak itu jarang berkomunikasi dengan ayahnya. Bisa juga jika setiap ayahnya menelepon, Gabriel tak pernah ada di rumah. Jarak yang dibuat oleh sang ayah dengan anak laki-laki ini membuat hubungan keluarga mereka tak begitu dekat. Ibu dan kakak perempuan dari Gabriel tentu saja menangis histeris karena mereka sudah menghabiskan waktu yang lama dengan sang ayah sebelum pria itu bekerja di Seraporl.
Alexa merasa sudah cukup Gabriel menceritakan tentang masa lalu soal ayahnya. Ia mulai paham dengan apa yang terjadi di keluarga itu. Untuk selanjutnya, gadis ini bisa mencari kebenaran dari kasus ini sendiri. Ia sama sekali tak ingin kondisi mental Gabriel semakin terganggu. Hal yang terpenting ialah dirinya sudah mengantungi fondasi kuat untuk mencari kebenaran dari kasus ini. Secara tak langsung, Alexa sangat berterima kasih pada anak laki-laki tersebut.
Dengan senyum tulus dan tatapan hangat, Alexa berucap, “Aku rasa sudah—
“Alexa! Alexaa! Alexaaa!”
Suara teriakan dari Maria di ujung lorong langsung menarik perhatian gadis dengan rambut yang digulung itu. Gabriel yang ada di seberang telepon juga ikut keheranan dengan suara teriakan yang penuh dengan syarat kepanikan itu. Apa yang sebenarnya terjadi?
“Maria, apa yang terjadi? Kenapa kau berlari seperti orang kesetanan seperti itu? Apakah dirimu baru saja melihat penampakan di toilet?” tanya Alexa dengan tatapan khawatir namun masih saja menyelipkan guyonan di perkataannya.
Maria mengerang. Ia mengibas-kibaskan tangannya dengan kesal. Pandangan gadis itu menatap tajam ke arah Alexa namun dipenuhi oleh sorot ketakutan. “Dokter ... ! Dokter anu ... itu!”
Dengan kesal, Alexa meletakkan ponsel putih milik Maria yang ia gunakan untuk bertelepon tadi di kursi sampingnya. Gadis ini berdiri dan menggoyangkan lengan Maria dengan kuat agar ia bisa jelas mengatakan sesuatu. Mata hitam Alexa menatap tajam dan khawatir ke arah gadis berambut hitam sebahu itu.
“Oi, seriuslah. Katakan dengan jelas! Apa yang terjadi?!” desak Alexa dengan nada bicara yang sudah tak tahan lagi.
Wajah Maria menunjukkan kebimbangan. Raut ekspresinya terlihat begitu sedih. “Dokter Hutson mimisan.”
Mata Alexa melebar. Tunggu, ia tak salah dengar bukan? Dokter senior yang sudah sangat dekat dengan para dokter koas itu mengalami mimisan? Pikirannya langsung melayang ke mana-mana. Ia segera membentuk spekulasi terburuk dari hal ini.
Alexa bergumam, “Mungkinkah?”
Wajah Maria semakin menunjukkan ekspresi pilu. Gadis ini tak sanggup mengatakan apa pun lagi. Ia menangkup kedua pipinya dengan tubuh yang bergetar hebat. Alisnya berkedut. Maria benar-benar tak sanggup untuk berdiri saat ini. Ia jatuh terduduk dengan ekspresi menahan tangis.
Namun, hal itu percuma saja. Di lorong belakang yang sepi ini, tangis Maria pecah dalam diam. Gadis itu terduduk dengan air mata yang terus membanjiri kedua pipinya.
“Dokter Hutson, positif terpapar oleh varian Ex-0 mutasi zeta!”
Di detik itu juga, mata Alexa langsung melebar tak percaya. Ini semua mimpi, bukan? Dokter Hutson adalah dokter senior di rumah sakit ini yang begitu hangat dan ramah pada setiap orang. Pria itu sudah lama menjadi anggota dari regu penanganan Ex-0. Akan tetapi, Alexa sama sekali tak menyangka jika hari ini akan tiba. Hari di mana Dokter Hutson kalah dalam pertempuran dan harus menerima serangan dari virus Ex-0 yang selama ini selalu ia habisi.
Meskipun begitu, Alexa tak mampu menahan air matanya yang ikut mengalir. Ia menangis dalam diam dan terus berdiri membeku. Kenapa dokter sebaik Dokter Hutson harus terkena mutasi zeta dari segala varian yang ada? Bagaimana pun juga, mutasi zeta adalah mutasi Ex-0 yang paling menyakitkan. Alexa sama sekali tak membayangkan bagaimana perasaan kesakitan yang dihadapi oleh dokter senior yang begitu baik tersebut.
Kedua wanita ini pun menangis dalam diam. Maria jatuh terduduk dan Alexa masih berdiri dengan kedua tangannya yang mengepal kuat. Hatinya mendidih. Sekali lagi, parade kematian Ex-0 terus berlanjut. Kali ini, korban dari keganasan Ex-0 adalah orang yang cukup dekat dengan Alexa. Setelah sekian lama, hari ini Dokter Hutson gugur dalam peperangan melawan Ex-0. Pria tua baik hati itu harus menerima kekalahan dalam pertempuran yang ia lalui ketika melawan Ex-0.
“Bagaimana ... bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Alexa dengan nada yang bergetar.
Untuk sesaat Maria terdiam, gadis ini masih berusaha mengendalikan luapan emosinya. “Tubuhnya drop tiba-tiba dan kini tengah dirawat. Kondisi Dokter Hutson dalam keadaan kritis.”
Tanpa disadari oleh kedua gadis itu, seseorang mendengar percakapan mereka. Seseorang yang saat ini hanya bisa membeku dan diam dengan mata yang melebar tak percaya. Bagaimana pun juga, layar ponsel milik Maria masih menyala di tempat Alexa meletakkan benda kecil tersebut. Dan, Gabriel Delio dengan jelas mendengarkan semua percakapan yang dibicarakan oleh dua dokter koas itu.