Chapter 45 - Realita

1941 Kata
“Sudah ada dari kalian yang bisa menghubungi Rafa?” Pertanyaan yang keluar dari mulut Ardi itu langsung menarik perhatian Hendra dan Rino. Ketiga pemuda yang merupakan mahasiswa elite dari Universitas Tenggara itu tengah duduk santai di apartemen mereka. Yang ditanyai pun hanya bisa saling pandang dan mengendikan bahu. Mereka baru saja pulang dari laboratorium bawah tanah di Oud Centra. Ardi menghela nafas kasar. Ia mengerang. Ke mana sebenarnya sang ketua itu pergi? Pemuda yang dikenal sebagai berandal dari jurusan kedokteran di Universitas Tenggara itu benar-benar tak habis pikir. Rafael Zohan alias ketua tim mahasiswa ini sudah pergi sejak fajar tadi dan ia belum kunjung kembali. Bukan hanya itu, ia juga tak memberikan kabar apa pun pada ketiganya. Ini benar-benar sangat aneh. Orang semacam Rafa biasanya tak suka berkeliaran seorang diri dalam waktu yang lama seperti saat ini. Rino yang sedari tadi menonton televisi sambil memakan keripik singkong pun hanya bisa melirik ke arah Ardi dengan tatapan malas. “Tumben sekali kau khawatir pada manusia hijau itu?” Hendra yang saat ini duduk di samping Rino hanya bisa diam. Ia dan Rino dengan santai menonton pertandingan basket. Mereka menghiraukan Ardi yang masih terus berjalan ke sana ke mari menunggu kedatangan Rafa. Anak dari salah satu konglomerat di Iranjia itu hanya bisa mengalihkan pandangannya. “Bukan seperti itu juga!” “Bukan seperti apa coba?” Rino memandang intens ke arah Ardi. “Kau lupa pernah mengatai Rafa di depan Dokter Deva sebagai orang yang panjat sosial saat demo di Taman Adiyasa kemarin?” Hendra yang melihat Ardi dan Rino kembali cekcok hanya bisa menghela nafas. Kedua orang ini selalu saja berdebat setiap harinya sejak mereka berempat tinggal di apartemen ini bersama. Ia sudah terlalu malas ikut andil dalam perdebatan dua laki-laki yang sudah ke sekian kali itu. Ardi yang saat ini memakai kaos hitam dan celana putih selutut ini tampak merengut kesal. Ia yang sedari berdiri dan mondar-mandir kini tampak duduk di salah satu kursi ruang tamu apartemen. Untuk sesaat ruangan menjadi hening. Sepertinya Ardi dan Rino tak melanjutkan perdebatan mereka. Hendra pun tersenyum dalam hati. Suara komentator dari pertandingan basket di layar kaca itu mengisi keheningan di ruangan ini. Jam yang terus berputar sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Jujur, dalam hati Hendra juga bertanya-tanya. Sebenarnya ke mana perginya Rafael Zohan? Pemuda dari jurusan mikrobiologi itu hanya meninggalkan secarik kertas di meja ruang tamu tadi pagi. Ia, Rino, dan Ardi sama sekali tak menyadari kepergian Rafa saat fajar. Dalam surat itu, Rafa hanya bilang jika ia ada urusan penting yang mendadak dan harus naik kereta pukul tiga pagi. Pemuda itu bahkan menyampaikan permohonan pada mereka bertiga untuk memberitahu Adam Hillary, selaku ketua dari proyek vaksin ini, agar diizinkan tak bekerja selama satu hari. Sorot mata Hendra berubah. Ketika memikirkan hal tadi, ia jadi teringat oleh sesuatu. “Ngomong-ngomong, apa kalian ingat bagaimana ekspresi Tuan Adam Hillary saat kita bilang kalau Rafa izin selama satu hari untuk tak bekerja tadi?” “Apa maksudmu?” balas Ardi dengan pandangan tak mengerti. Ia pun langsung memusatkan perhatian ke arah Hendra. Hendra masih bersikap santai. Ia memangkukan wajahnya ke tangan kiri sambil terus memperhatikan pertandingan basket di televisi. “Kalau aku ingat-ingat lagi, tadi dia tersenyum loh. Terasa aneh, bukan?” Kali ini bukan hanya Ardi saja yang tertarik dengan hal yang dibilang oleh Hendra, Rino yang semula hanya memusatkan perhatian ke televisi kini memandang pemuda farmasi tersebut dengan tatapan tak percaya. “Kau serius?” tanya Rino pada pemuda yang duduk di sampingnya tersebut. “Ya, kenapa tidak?” Ardi yang semakin penasaran pun tampaknya langsung menghampiri kedua temannya itu. Ia kini duduk di sebelah kiri Rino yang masih lenggang. Mereka bertiga kini sudah duduk bersampingan di depan televisi yang masih terus menampilkan siaran langsung pertandingan basket mancanegara tersebut. “Sebenarnya, aku merasa ada hal yang aneh pada Rafa,” ungkap Hendra sambil menatap Rino dan Ardi yang berada tepat di sebelah kirinya. Rino yang berada di tengah-tengah Ardi dan Hendra hanya bisa menganggukkan kepala pelan. “Jujur, aku juga merasa begitu. Dia mulai aneh sejak insiden penyelamatan aksi bunuh diri Tom Hustoff, jurnalis yang menuduh Hetalia melakukan korupsi, di Sungai Kale kemarin.” “Ck, Tim C itu benar-benar kurang kerjaan sekali. Kenapa mereka menyelamatkan orang seperti itu sampai mempertaruhkan nyawa coba?” kata Ardi dengan nada bicara kesal. Rino yang berada di samping Ardi hanya bisa menatap berandal yang satu itu dengan pandangan tajam di mata sayunya. “Kau jangan begitu. Bagaimana pun juga, Rafa dan timnya berhasil membawa kunci dari permasalahan yang melibatkan skandal Hetalia kemarin. Tanpa Tom Hustoff, kita pasti masih jadi relawan di rumah sakit karena pemerintah tak mengizinkan proyek vaksin Hektovac ini.” Ardi berdecap kesal. “Aku tahu hanya saja, apa yang dibilang oleh Hendra tadi itu fakta. Rafa benar-benar terasa aneh sejak kejadian itu. Dia bukan lagi seorang ketua tim yang sering mengomel. Setiap pulang dari rumah sakit, anak itu pasti langsung masuk ke kamarnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia juga terus menghabiskan waktunya di rumah sakit bersama Dika dan Alexa. Benar-benar seperti orang asing saja.” “Hal yang paling jadi perhatianku adalah ketika kita mengunjung Gabriel saat hari terakhir di Hetalia kemarin. Rafa tak ikut dengan seribu alasan, kan? Aku tahu dia itu malas kalau berurusan dengan anak kecil. Tapi semalas-malasnya Rafa, pasti ia akan tetap ikut meskipun hanya berdiam diri di pojok ruangan,” ungkap Rino sambil menoleh ke arah Hendra dan Ardi di sampingnya. Pertandingan basket yang semula menjadi perhatian di ruangan ini langsung terabaikan begitu saja. Rino dan Hendra yang sedari tadi menontonnya kini justru asyik membahas soal Rafa bersama dengan Ardi. Ketiga pemuda ini dengan santainya bergosip tentang ketua mereka yang tak lain dan tak bukan ialah Rafael Zohan. “Tapi, hari itu kau berhasil memaksanya untuk mengucapkan salam perpisahan pada Gabriel bukan?” tanya Ardi pada Rino. Pemuda dari jurusan psikologi itu sontak mengangguk. Hendra adalah satu-satunya orang di antara mereka bertiga yang memiliki hubungan cukup dekat dengan Rafa. Kesamaan sikap antara kedua pemuda yang kalem tersebut menjadikan ia dan Rafa menjadi sahabat semenjak datang ke Distrik Pusat ini dulu. Sehingga, apa yang biasanya tidak diketahui oleh Ardi dan Rino pasti diketahui oleh Hendra. Akan tetapi, hal-hal yang terjadi pada Rafael Zohan akhir-akhir ini benar-benar aneh dan mencurigakan. Ketua timnya itu bahkan selalu mengunci kamar setiap ia pulang. Padahal Rafa tak pernah melakukan hal itu sebelumnya. Pemuda dari jurusan mikrobiologi itu juga sama sekali tak pernah berbagi cerita dengannya dalam beberapa minggu terakhir. Hal ini tentu saja menjadi tanda tanya besar bagi Hendra, Ardi, dan Rino. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Rafa? “Aku tahu kalau Rafa itu memang tipe orang yang kalem dan tak suka bicara omong kosong. Tapi, ia juga suka mengomeliku kalau aku berbuat hal yang menjengkelkan. Sikapnya akhir-akhir ini benar-benar membuatku merinding. Dia bahkan tak mengomeliku saat aku mencuri obat tidurnya,” ucap Ardi sembari mencurahkan isi hatinya. Rino pun memandang pemuda di sampingnya dengan tatapan tak habis pikir. “Jadi, sedari tadi kau mondar-mandir terus karena mengkhawatirkan Rafa yang bersikap aneh akhir-akhir ini?” Ardi yang ditanyai seperti itu pun langsung menjitak kepala Rino dengan kesal. “Tentu saja, Bodoh. Aku sangat takut kalau misal dia berbuat yang tidak-tidak. Kalian tahu bukan kalau murung dan pendiam itu salah satu ciri orang yang terindikasi virus Ex-0? Aku takut kalau Rafa bunuh diri atau semacamnya.” Baik Rino maupun Hendra langsung menatap pemuda dari jurusan kedokteran itu dengan tatapan tak habis pikir. Mana mungkin hal seperti itu membuat Ardi menyimpulkan kalau Rafa terinfeksi Ex-0? Bukankah sifat Ardi kali ini sudah terlalu paranoid hanya karena ia tak mendapat omelan dari seorang Rafael Zohan selama beberapa minggu terakhir? Tidak semua pasien E-0 itu selalu digejalai oleh ekspresi murung dan pendiam. Hendra dan Rino juga sangat yakin kalau Rafa tak mungkin terpapar oleh virus Exitium Zero tersebut. “Kau ini aneh-aneh saja.” Hendra mengucapkan hal itu dengan nada tak habis pikir. Ia kembali menatap layar televisi. Sepertinya sesi gosip mengenai Rafael Zohan ini harus dihentikan sebelum topiknya jadi melebar ke mana-mana. “Aku tak yakin Rafa seperti itu. Mungkin saja, dia menemui keluarga atau temannya kan?” Rino pun sontak mengangguk setuju. Melihat reaksi kedua temannya yang acuh tak acuh itu membuat Ardi merengut kesal. Bagaimana pun juga, dia benar-benar khawatir dengan Rafa sekarang. Ini sudah jam tujuh malam dan anak itu belum menunjukkan tanda-tanda mau pulang. Ke mana sebenarnya si ketua itu pergi? “Ngomong-ngomong soal ekspresi pendiamnya Rafa ..., itu bukan pertama kalinya aku melihat dia bersikap seperti akhir-akhir ini,” ujar Rino dengan kedua matanya yang terus fokus ke arah televisi. Ucapan yang tiba-tiba dari Rino itu sedikit mencuri perhatian Hendra dan Ardi. Kedua pemuda ini saling menatap dengan heran. Alis mereka berkedut karena rasa bingung. Apa sebenarnya maksud dari mahasiswa psikologi ini? “Kalian bertanya kenapa aku bisa tahu soal itu?” Rino memandang bergantian ke arah Hendra dan Ardi yang berada di sampingnya. “Itu karena aku adalah—“ KRINGG! Suara dering telepon yang berbunyi nyaring dari saku celana Rino membuat pemuda dari jurusan psikologi tersebut mau tak mau menjeda ucapannya. Ia langsung merogoh ponselnya dan melihat siapa orang yang menelepon di malam-malam seperti ini. “Siapa? Apakah itu Rafa?” tanya Ardi dan Hendra bersamaan. Kedua pemuda ini langsung mengintip ke layar ponsel milik Rino. Yang ditanyai pun hanya bisa menggelengkan kepala, Rino berucap, “Bukan. Ini dari Maria. Kenapa gadis itu meneleponku di jam malam seperti ini?” “Hah? Maria yang dokter koas itu, bukan?” tanya Hendra tak habis pikir. “Bukannya di jam-jam seperti ini biasanya Hetalia sedang sibuk-sibuknya?” Ardi sendiri juga heran namun, pemuda dari keluarga konglomerat tersebut langsung mendesak Rino untuk segera mengangkat telepon itu. Siapa tahu ada keperluan penting. “Sudah, angkat saja teleponnya.” “Halo?” ujar Rino ketika ia akhirnya memutuskan untuk mengangkat telepon dari Maria. Untuk sesaat, tidak ada jawaban dari gadis berambut sebahu itu. Rino, Hendra, dan Ardi pun sontak mengernyitkan alis. Apa yang sebenarnya terjadi? “Coba keraskan sepikernya.” Saran dari Hendra tersebut langsung dibalas anggukan oleh Rino. Pemuda itu sontak mengeraskan panggilan suara yang kini tengah berlangsung itu agar Hendra dan Ardi juga bisa mendengar dengan jelas apa yang ingin dibicarakan oleh Maria saat ini. “Kenapa ... kenapa kau tak segera mengangkat teleponnya, Bodoh?” Suara Maria di seberang telepon terdengar begitu lirih dan pelan. Hal ini tentu saja membuat mereka bertiga keheranan. Ini bukan Maria yang galak seperti biasanya. Pasti ada suatu hal yang terjadi. Rino, Ardi, dan Hendra pun hanya bisa diam. “Sekarang, dirimu ada di mana?” Ini benar-benar aneh. Suara Maria masih begitu lirih. Dengan ragu, Rino pun menjawab, “Aku berada di rumah. Eh tidak, maksudku apartemen yang ada di Distrik Pusat. Ada apa?” “Maria,” sahut Hendra dengan nada pelan. “Kenapa suaramu lirih sekali?” Ardi pun tak mau ketinggalan. Pemuda yang satu itu hanya bisa menatap bingung ke layar ponsel Rino. “Apa yang sebenarnya terjadi? Beri tahu kami. Ini bukan seperti dirimu saja.” Ada jeda lagi dalam panggilan telepon ini. Maria tak langsung menjawab pertanyaan dari mereka bertiga. Hal ini tentu saja membuat Hendra, Rino, dan Ardi keheranan sendiri. “Gabriel Delio telah menghembuskan nafas terakhirnya 15 menit yang lalu.” Sontak, saat itu juga jantung dari ketiga mahasiswa tenggara ini seakan berhenti berdetak. Mereka melebarkan mata tak percaya. Maria sedang tidak bercanda, bukan? Atau mungkinkah mereka bertiga salah dengar? “Gabriel telah berpulang. Ia gugur dalam pertarungannya melawan Ex-0.” Dan sekali lagi, parade kematian ini tak bisa berhenti. Ia terus berlanjut dan melaju seperti roda yang berputar. Ex-0, Ex-0, dan Ex-0. Kenapa seluruh dunia harus menderita olehnya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN