Rafael Zohan berlari tunggang langgang di sepanjang jalan raya. Ia baru tiba di stasiun Distrik Pusat. Pemuda bermata hijau itu menoleh ke kanan ke kiri, mencoba untuk mencari keberadaan taksi atau angkutan umum lainnya yang bisa ia naiki. Sesekali Rafa melirik ke arah jam tangan miliknya yang sudah menunjukkan pukul delapan malam. Jantung milik pemuda itu berdegup kencang saat ini.
Kondisi Iranjia yang kembali berstatus darurat setelah adanya temuan mutasi zeta kemarin membuat masyarakat kembali enggan untuk melakukan aktivitas di luar rumah. Hal ini terbukti dengan betapa sepinya jalan raya di depan Stasiun Distrik Pusat pada pukul delapan malam ini.
“Astaga, ini baru jam delapan loh. Bahkan ini belum ada jam dua belas malam, tapi kenapa tidak ada kendaraan yang lewat?” gerutu Rafa.
Pemuda yang kini memakai jaket kanvas berwarna coklat itu hanya bisa menunggu. Ia tak mungkin meminta salah satu dari temannya untuk datang menjemput ke sini. Bagaimana pun juga, mereka semua, termasuk para dokter koas dan temannya dari mahasiswa tenggara, pasti sedang berduka di rumah sakit. Rafa baru saja dihubungi jika Gabriel Delio menghembuskan nafas terakhirnya petang tadi. Ia sama sekali tak paham kenapa hal ini bisa terjadi, padahal seingatnya kondisi Gabriel semakin hari semakin membaik.
Jujur, pemuda bermata hijau ini memang tak terlalu dekat dengan anak itu. Akan tetapi, ia dan Gabriel juga memiliki ikatan sendiri. Saat pertemuan kemarin, keduanya telah menghabiskan waktu bersama untuk membicarakan banyak hal. Meskipun dari luar Gabriel seperti anak nakal yang suka berontak, nyatanya Rafa bisa tahu jika Gabriel hanyalah anak polos seperti biasanya. Ia anak lugu dan cerdik. Sungguh disayangkan jika anak itu harus mengalami semua hal ini.
Saat melamun memikirkan banyak hal, Rafa menyadari jika ada sorot cahaya dari kendaraan di ujung jalan. Dengan sigap, pemuda itu langsung memanggil mobil lewat itu untuk minta diantarkan ke Rumah Sakit Hetalia yang jaraknya hanya beberapa kilometer dari stasiun ini. Beruntung bagi Rafa karena pemilik mobil tersebut mau mengantarkannya.
“Terima kasih banyak karena telah menolong saya. Saya akan membayar ganti rugi biaya bahan bakarnya nanti, Pak.” Rafa mengucapkan hal itu setelah ia duduk di kursi belakang.
Pemilik mobil yang merupakan seorang pria di kursi pengemudi hanya diam. Pria yang seusia dengan Dokter Deva tersebut hanya menganggukkan kepala tanpa menoleh ke arah Rafa. Perjalanan kedua orang yang tak saling mengenal itu pun dihabiskan dalam diam.
Beberapa saat sebelum Gabriel meninggal.
Di sini gelap, tentu saja hanya itu yang ia pikirkan. Lampu putih yang menerangi seluruh ruangan pun tak mampu ditangkap oleh retina matanya. Gabriel hanya terdiam. Bagaikan sebuah fatamorgana, kegelapan semu di ruangan ini langsung membuat anak itu duduk membisu di atas tempat tidur. Entah kenapa, suasana tiba-tiba berubah menjadi gelap nan sunyi.
Anak ini tak bisa memproses informasi yang baru saja ia dapatkan. Ponsel yang masih menyala di tangan kanannya langsung ia abaikan. Iris mata Gabriel bergetar. Ia melebarkan mata tak percaya. Dokter Hutson terinfeksi oleh mutasi zeta? Ini semua pasti gara-gara dia, bukan?
“Dokter Hutson ... dia? Ini semua pasti bohong.”
Gabriel terbata-bata, ia tak mampu mengungkapkan perasannya saat ini dengan kata-kata belaka. Air matanya lolos begitu saja melewati pipi. Ia tak mampu menahan tangisnya.
Sejauh yang ia ingat sampai sekarang, Dokter Hutson adalah dokter yang paling dekat dengannya setelah jejeran para koas dan mahasiswa tenggara dulu. Gabriel dan Dokter Hutson telah menghabiskan waktu bersama semenjak tim koas dan mahasiswa tenggara dibubarkan kemarin. Dokter senior itulah yang selalu menemani dan mengecek kesehatannya setiap hari.
Gabriel dan pria tua itu dipertemukan pertama kali saat Dokter Hutson memimpin Tim B yang bertugas merawat dan menjaganya dulu. Meskipun samar, anak ini masih ingat dengan betul jika ia sempat mengatai Dokter Hutson dan anggota Tim B lainnya agar mati. Gigi Gabriel pun bergemeletuk kesal. Anak tersebut menyesali segala hal yang telah ia ucapkan saat itu. Sebuah kilas balik tentang pertemuan antara dirinya dengan Dokter Hutson kala itu langsung menyeruak ke dalam otak Gabriel.
“Ya, Gabriel. Kami semua sekarang ada untukmu, bahkan kalau kau mau, kami bisa menjadi keluargamu.”
“Aku tak ingin berteman dengan kalian. Aku ingin kalian semua mati saja.”
Kepala Gabriel pun berdenyut. Tubuhnya bergerak kasar hingga tak sadar ponsel yang sedari tadi di atas pahanya kini terjatuh ke lantai dan mati. Hal itu pun mengakibatkan panggilan yang ia lakukan dengan Alexa sejak tadi langsung terputus.
Gabriel meronta. Rasa sakit ini datang lagi setelah sekian lama. Ia mencengkeram kepalanya kuat-kuat dengan tangan yang bergetar hebat. Gabriel berusaha sebisa mungkin untuk menahan rasa sakit. Ia menggelengkan kepala kuat-kuat. Anak ini sama sekali tak ingin jika Dokter Hutson kenapa-kenapa. Ia sama sekali tak pernah bermaksud untuk mengungkapkan perkataan seperti itu dulu. Ia sungguh tak ingin Dokter Hutson meninggalkan dunia ini.
“Apa ... apa yang telaah aku lakukan?” racau Gabriel disela isak tangis akibat rasa sakitnya.
Anak ini meraung. Ia menjerit karena kepalanya begitu sakit sampai kedua tangannya yang mencengkeram kepala pun seperti tak berefek. Dengan kesal, Gabriel berteriak, “Tapi, apa yang bisa kuperbuat?!”
Anak itu mulai menangis tersedu. Ia tertunduk lemas. Rasa sakit ini semakin membabi butala namun, ia tak mampu melakukan apa pun. Ia kesal, sangat kesal, namun juga tak berdaya dalam waktu yang bersamaan.
“Dokter Hutson dalam keadaan kritis dan tubuhnya drop secara tiba-tiba. Ini semua karena aku kan?”
Rasa sakit yang semakin menjadi langsung membuat darah segar menetes dari hidung Gabriel Delio. Ini adalah waktu yang sudah cukup lama semenjak terakhir kali ia mimisan. Merasakan ada cairan amis yang keluar dari hidungnya, tangan Gabriel pun dengan perlahan menyentuh darah tersebut. Matanya membelalak kaget. Apa ini? Ia mimisan?
Untuk sesaat, Gabriel hanya terdiam. Matanya melebar dan mulutnya terbuka karena rasa terkejut yang begitu dalam. Di saat itu juga, sekelebat kenangan-kenangan yang pernah ia lalui dari masa kecil tiba-tiba muncul kembali di otaknya. Ingatan-ingatan itu bermunculan dan saling melengkapi tempat kosong pada diri Gabriel, sehingga semua hal kembali menjadi runtut. Anak ini terdiam. Ia tak bisa membuka suara apa pun ketika ingatan-ingatan yang telah hilang itu kembali muncul.
“Apa ... ini?” tanya Gabriel dengan suara bergetar setelah sekian lama diam.
Air mata anak berusia sembilan tahun itu meluncur begitu saja. Ia langsung meneteskan air mata dengan wajah kosong begitu mengingat semua kenangannya kembali. Semua ingatannya berputar seperti kaset usang dan menampilkan berbagai momen dramatis yang sempat hilang dari hidupnya selama beberapa minggu terakhir semenjak ia dirawat di ruang isolasi ini.
Gabriel ingat tentang bagaimana tubuh ayahnya terbujur kaku ketika disemayamkan. Ia juga ingat bagaimana tubuh ibunya tergeletak tak berdaya di kamar mandi dengan mulut berbusa. Gabriel juga ingat bagaimana tubuh kakaknya yang terhempas dari truk dan terbanjiri oleh darah.
Anak ini kembali mencengkeram kedua sisi kepalanya dengan tangan. Ia sesenggukan akibat rasa sakit dan kenangan sedih yang kembali muncul di otaknya. Alasan Gabriel berada di tempat ini adalah ayahnya. Sang ayah yang sangat ia benci karena menyebabkan kehancuran di keluarga mereka. Gabriel ingat. Ia ingat semua hal sekarang. Anak ini merasa apa yang tellah ia paparkan pada Alexa beberapa saat lalu adalah sebuah kebohongan besar.
“Ayah.” Anak ini menggigit bibir bawahnya pilu. Ia masih mencengkeram kuat kepalanya. “Kenapa kau harus membawa petaka seperti ini?”
Tentu, Gabriel sangat tahu apa makna dari ucapan sang kakak dulu ketika ia baru saja tiba di Rumah Sakit Hetalia bulan lalu. Kakaknya memiliki trauma pada bangunan tinggi. Gedung Hetalia yang memiliki tujuh lantai pasti membuat kakaknya kesakitan saat itu. Secara tak langsung, kakaknya kembali dipaksa untuk mengingat suatu kejadian di mana itu adalah titik kehancuran dari keluarga mereka.
Saat itu, Gabriel pergi berpariwisata. Kakak perempuannya terus memaksa orang tua mereka untuk berlibur bersama ke Distrik Pusat karena pemerintah menjanjikan pesta kembang api besar-besaran untuk menyambut tahun baru saat itu. Diana terus memaksa kedua orang tuanya karena hubungan ayah dan ibu mereka merenggang selama setahun terakhir. Kejadian itu bermula semenjak ayahnya diisukan dekat dengan seorang wanita di luar negeri.
Gabriel yang merasa kesal dengan ayahnya yang setiap hari membuat sang ibu menangis pun akhirnya memilih untuk menghabiskan tahun baru bersama teman-temannya di sekolah dasar. Ia tak ikut ke Taman Adiyasa. Akan tetapi, hal buruk justru terjadi. Saat itu, tepat pada tanggal 1 Januari, sang ayah lompat dari menara tinggi Taman Adiyasa dan tewas seketika di tempat.
Gabriel meneteskan air matanya kembali untuk beberapa saat. Ingatan yang muncul di otaknya ini terasa sangat menyakitkan. Matanya melebar ketika anak berusia sembilan tahun itu kembali mendengar suara bisikan dan teriakan yang memenuhi indra pendengarnya. Ketika Gabriel melihat sekeliling, tak ada seorang pun yang bisa ditangkap oleh matanya. Lantas, apa ini sebenarnya?
Dulu, anak berambut hitam ini sama sekali tak tahu apa maksud dari sang dokter ketika ayahnya dilarikan ke rumah sakit dengan darah yang menggenangi seluruh bagian kepalanya. Gabriel dijemput oleh sang kakak dan keduanya menemani ibu mereka yang menunggu ayahnya. Sang ayah saat itu ditangani oleh salah satu rumah sakit di Distrik Pusat. Meskipun ayahnya tewas di tempat kejadian, polisi menganjurkan pada keluarga mereka untuk melakukan autopsi saat itu.
Dokter bilang ada temuan aneh di bagian otak ayahnya. Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya pada seseorang yang bunuh diri. Rumah sakit ingin melakukan penelitian lebih lanjut namun, ibu Gabriel menolak saat itu. Mereka pun akhirnya mengebumikan ayah Gabriel di tempat tinggalnya yakni Distrik Utara.
Kasus ini tak berhenti. Satu bulan semenjak ayah Gabriel meninggal, ibu dari Diana dan Gabriel memutuskan untuk menyusul ayah mereka. Wanita paruh baya itu tewas karena meneguk racun di dalam kamar mandi. Tentu saja, ini menjadi pukulan telak bagi kedua orang itu. Gabriel yang saat itu tak terima dengan keadaan ini langsung ditenangkan oleh kakak perempuannya. Mereka mau tak mau menerima kenyataan ini sebagai takdir dari Tuhan.
Hari demi hari terus berganti. Seluruh orang di Iranjia mulai tahu kalau dunia saat itu digegerkan dengan temuan virus baru yang aneh dan menyerang seluruh negara. Virus yang menyebabkan orang berjatuhan dengan cara bunuh diri ini dikabarkan mulai muncul di bulan November hingga Desember namun, kasus kematiannya bermula saat tahun baru kemarin. Iranjia pun mulai mengumumkan kasus pertamanya di bulan Maret.
Gabriel tahu kalau kakaknya adalah seorang mahasiswa yang pintar dan rajin. Dari sorot mataannya, anak berusia sembilan tahun tersebut paham kalau kakaknya pasti sedang memikirkan suatu hal. Dan semua hal itu terbukti benar ketika sang kakak mengatakan kebenaran pada dirinya. Diana saat itu bercerita kalau segala hal terkait gejala dan ciri-ciri diari pasien Ex-0 memiliki kesamaan dengan apa yang telah ditunjukkan oleh ayah dan ibunya sesaat sebelum mereka memutuskan untuk mengakhiri hidup.
Sejak saat itu, Diana dan Gabriel menyimpan hal ini sebagai rahasia pribadi. Kakak adik ini tetap bungkam, mereka tak berani mengatakan sepatah kata pun terkait hal-hal yang berbau Ex-0. Bahkan, keduanya memilih untuk menghindari topik bahasan ini ketika seseorang membicarakannya.
Meskipun begitu, Tuhan memiliki takdirnya sendiri. Di bulan September kemarin, Gabriel dan kakaknya harus menerima kenyataan kalau mereka positif terpapar Ex-0. Kondisi dua orang bersaudara tersebut semakin parah ketika mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Distrik Utara selama sebulan lamanya. Hal itulah yang menyebabkan mereka harus dirujuk ke Rumah Sakit Hetalia pada pertengahan Oktober lalu.
“Ini semua terjadi secara toba-tiba. Andai saja saat itu ayah tak pulang dari Seraporl dan menghabiskan hidup di sana bersama selingkuhannya pasti semua hal ini tak akan terjadi.”
Gabriel meracau di tempat tidurnya. Ia bingung. Di satu sisi, anak ini ingin menutup telinganya agar suara-suara teriakan yang mengganggunya sekarang tak menimbulkan teror tersendiri bagi anak kecil tersebut. Namun di sisi lain, Gabriel juga tak mampu menahan rasa sakit di kepalanya tanpa cengkeraman dua tangan yang dimilikinya.
“Kalau Ayah tak pulang, Kak Diana pasti tak akan berusaha memperbaiki hubunganmu dengan Ibu.”
“Kalau Ayah tak pulang, Ibu dan Kak Diana pasti menemaniku di sini sekarang.”
“Kalau Ayah tak pulang, pasti Ex-0 ini tak akan memasuki Iranjia. Kenapa ayah harus meninggalkan warisan semacam ini?”
Air mata terus membanjiri wajah Gabriel. Anak ini menangis. Ia merasakan kalau hidupnya semakin hari semakin sulit. Apalagi saat ini tak ada seorang pun yang menemaninya. Anak ini justru merasa kalau hidupnya sekarang adalah sumber bencana. Dokter Hutson adalah dokter yang begitu baik dan ramah padanya. Ia tak sepatutnya harus terpapar mutasi zeta karena dirinya, kan?
Apakah Tuhan sedang bercanda dengan garis hidup Gabriel Delio? Apa maksud dari semua ini? Kenapa takdir macam ini harus terjadi padanya?
“Kalau begitu, untuk apa kamu hidup? Ayo datang ke sini dan akhiri segala rasa sakitmu.”
Saat itu juga, mata Gabriel yang sedari tadi menahan tangis karena rasa sakit dan sedih itu tiba-tiba melebar ketakutan. Suara bisikan ini dan lagi. Sebenarnya apa ini?