“Terima kasih telah mengantarkan saya sampai sini.”
Rafael Zohan membungkukkan badannya beberapa kali sebagai tanda terima kasih. Tak lupa, pemuda ini juga memberikan uang ganti rugi bensin pada pria yang telah mengantarkannya tadi. Tanpa orang ini, entah sampai kapan Rafa harus menunggu di stasiun.
Pria dalam mobil yang memakai kacamata hitam itu mengangguk. Mobil putih yang ditumpanginya pun melaju keluar dari halaman rumah sakit dan Rafa berlari masuk. Pemuda ini mengencangkan maskernya berulang kali karena Rumah Sakit Hetalia menjadi tempat yang lebih berbahaya ketika mutasi zeta semakin banyak memakan korban.
Rafa terus berlari menaiki tangga menuju ke lantai tiga. Di sana sudah ada ketiga temannya yang lain dari Universitas Tenggara dan kelima dokter koas yang kini berkumpul. Rafa pun langsung jadi pusat perhatian ketika dirinya menghampiri mereka semua dalam kondisi terengah-engah karena berlari secepat mungkin.
“Astaga!” Ardi adalah orang pertama yang bereaksi begitu mereka melihat sosok Rafa. Pemuda yang dikenal berandal ini adalah orang yang paling khawatir karena Rafa pergi sejak jam tiga pagi tadi. “Kau ini dari mana sebenarnya, Bos?”
“Loh? Memang anak ini tak bersama kalian bertiga?” tanya Dika bingung begitu ia mendengar ucapan Ardi yang kesal tadi.
Hendra tampak mengusap bagian belakang lehernya, ia bingung harus mengatakan seperti apa. “Ehm, Rafa ada urusan sendiri. Sejak pagi tadi dia sudah pergi dari apartemen dan izin untuk tidak datang ke lab.”
Alis Beni pun mengernyit. “Lalu, siapa yang memberitahu Rafa kalau kita semua ada di Rumah Sakit Hetalia?”
“Aku yang meneleponnya tadi.” Rino menjawab pertanyaan dari ketua tim dokter koas itu dengan malas.
Rafael Zohan pun menyadari kalau dirinya jadi topik pembicaraan sekarang. Pemuda ini berjalan lebih dekat ke arah mereka semua. Dengan sedikit membungkukkan kepala, Rafa berujar, “Maafkan aku kalau membuat kalian semua khawatir. Tadi aku memang ada urusan sebentar.”
Rafa melihat sekeliling. Ia melihat reaksi ketiga temannya yang lain. Ardi sendiri tampaknya masih kesal sampai sekarang, sementara Rino dan Hendra bersikap biasa. Rafa pun mengela nafas panjang.
“Ponselku baru saja aku nyalakan saat perjalanan pulang tadi, jadi maaf kalau sejak pagi kalian susah menghubungiku. Rino memberitahuku kalau ..., kalau Gabriel sudah ... meninggal.”
Untuk sesaat semuanya kembali diam, tak ada reaksi apa pun yang diberikan oleh delapan orang di hadapan Rafa tersebut. Pemuda bersurai coklat ini pun memandang heran mereka semua.
“Sebenarnya, apa yang terjadi?” tanya Rafa tak paham.
Hendra yang ditanyai itu pun langsung menatap ke arah Rafa. “Aku juga tidak tahu pasti. Kami bertiga dihubungi oleh Maria jam tujuh tadi. Dia mengatakan kalau Gabriel menghembuskan nafas terakhirnya sekitar pukul 18.45.”
Keringat mulai membanjiri dahi Rafa. Ia tak bisa menerima kenyataan kalau Gabriel telah meninggal saat ini. “L-lalu ... lalu di mana Gabriel sekarang? Apakah dia sudah dimakamkan?”
Semua orang menggelengkan kepalanya pelan. Rafa yang melihat itu sontak berbinar. Ini adalah kesempatannya. Ia bisa melihat Gabriel terakhir kali sebelum anak itu benar-benar menghilang dari dunia ini. “Kalau begitu, di mana—“
“Jangan senang dulu, Rafa.” Ais memotong pertanyaan Rafa begitu melihat pemuda yang satu ini memiliki harapan untuk melihat Gabriel terakhir kalinya.
Alis Rafa mengernyit. “Ais? Apa maksudmu? Apakah kita tidak diperbolehkan melihatnya?”
“Begitulah kenyataan yang ada. Kita semua sekarang hanya bisa menunggu. Tak ada satu orang pun dari kita yang bisa melihat anak nakal itu saat ini.”
Rafa menggelengkan kepala tak percaya begitu mendengar penjelasan dari Ais. Ini semua terasa tak adil. Mereka bersembilan telah menghabiskan waktu dengan anak itu selama beberapa minggu terakhir. Ketiga tim gabungan ini telah memiliki kisahnya sendiri bersama Gabriel Delio. Lantas, bagaimana mungkin kesembilan orang ini tak memiliki izin untuk melihat anak itu yang terakhir kalinya?
Alis Rafa menukik tajam. “Apa kalian bercanda? Kita tak bisa diam saja dengan hal ini. Kita semua harus—“
“Rafa, sudahlah!” Dika kali ini yang memotong perkataan pemuda bermata hijau itu. Dokter koas yang memiliki wajah ketus ini pun memandang tajam ke arah Rafa di depannya. “Apa kau sama sekali tak bis memahami situasi sekarang, Bodoh?”
“Jaga ucapanmu, sialan!”
Tentu saja Ardi langsung naik pitam. Ia menunjuk ke arah Dika dengan sorot mata yang begitu tajam. Permusuhan antara dua orang ini tampaknya masih berlanjut. Ardi sama sekali tak terima ketika Dika mengatai Rafa seperti tadi.
Bukannya diam, Dika malah semakin tak terima. “Rafa saja yang bodoh. Bagaimana mungkin dia tak bisa memahami situasi saat ini? Mutasi zeta bukanlah hal sepele. Virus ini semakin hari semakin berbahaya. Untuk apa kita harus mengorbankan nyawa sat ini, hah?!”
Beni yang merupakan ketua dari para dokter koas ini merasa situasi antar mereka semakin kacau saja. Dengan tenang, pemuda ini memberikan penjelasan kepada Rafa dan mahasiswa tenggara lainnya.
“Kalian pikirkan hal ini matang-matang. Gabriel tewas karena mutasi ini sangat berbahaya. Hetalia setiap harinya juga kedatangan pasien baru dengan kasus mutasi yang sama. Lokasi ruangan lantai lima ke atas pun menjadi area terlarang bagi tenaga medis. Bahkan, Dokter Hutson saat ini dalam keadaan kritis karena tubuhnya tiba-tiba drop. Beliau dinyatakan positif Ex-0 mutasi zeta.”
Saat itu juga, keempat mahasiswa tenggara itu melebarkan mata tak percaya. Baik Ardi, Rino, dan Henda yang sejak tadi sudah berada di sini sama sekali tak tahu akan fakta tersebut. Mereka bertiga tak mengerti kalau saat ini Dokter Hutson kritis. Begitu juga dengan Rafa, pemuda yang satu ini hanya bisa tertunduk lesu. Kedua tangannya saat ini pun mengepal karena emosi. Lagi dan lagi. Kenapa virus ini tiada hentinya menyebabkan kesedihan bagi setiap orang?
Rafa merasa begitu hina. Ia adalah seorang mahasiswa mikrobiologi. Virus bukanlah hal asing bagi peneliti makhluk hidup kecil sepertinya. Apa lagi, ayah dan ibunya ialah seorang ilmuwan ternama. Bagaimana mungkin dirinya masih diam saja dan tak bertindak dengan bom penghancur ini? Ex-0 bena-benar menyebalkan.
Membuat vaksin apanya? Menyelamatkan satu orang anak kecil pun ia tak mampu. Berapa banyak lagi nyawa yang akan melayang saat ini akibat mutasi zeta? Rafa sama sekali tak terima. Kematian Gabriel Delio saat ini secara tak langsung telah menegaskan bahwa ia sama sekali tak becus. Segala hal yang Rafa lakukan saat ini sia-sia saja.
“P-padahal ... aku sudah berjanji membawa anak itu jalan-jalan di Distrik Pusat saat ia sembuh.”
Nadaa suara Rafa bergetar hebat. Pemuda yang masih membawa tas ransel dan memakai jaket itu jatuh terduduk. Tubuhnya merosot di dinding rumah sakit dan kini hanya bis menatap kosong ke lantai putih di depannya.
“R-rafa?”
Dika yang melihat itu pun sontak terkejut. Ada apa dengan anak ini? Tak biasanya ia emosional seperti sekarang. Rafael Zohan yang selama ini Dika kenal selalu bersikap tenang dan tak pernah meluapkan emosi seperti saat ini. Apakah kematian Gabriel Delio benar-benar memberikan pukulan telak bagi pemuda bersurai coklat tersebut?
Alexa yang sedari tadi diam dengan mata berkaca-kaca hanya bisa menatap temannya yang satu itu dengan pandangan sendu. Ia melirik ke arah Maria yang berdiri di saingnya. Kedua gadiss tersebut ialah dua orang yang terakhir kali berbicara dengan Gabriel Delio sebelum anak itu meninggal.
Rafa memegang kedua sisi kepalanya dengan frustrasi. “Padahal setiap jam 10 malam ia selalu meneleponku. Dia bilang dirinya mencuri telepon Dokter Hutson agar bisa menghubungiku diam-diam. Gabriel selalu bercerita banyak hal padaku.”
Semua orang yang berada di sini hanya bisa diam. Jam dinding yang berada tak jauh dari mereka tellah menunjukkan pukul sembilan malam. Baik dokter koas maupun mahasiswa tenggara itu hanya bisa menatap sendu sama lain. Kenyataan akan kematian Gabriel yang tiba-tiba ini telah membuat kesembilan orang itu tak bedaya. Ini semua terlalu mendadak. Mereka tak bisa menerima hal ini.
“Rafa, kumohon tenangkan dirimu dahulu.” Alexa yang tak tega pun kini duduk berjongkok di depan mahasiswa berurai coklat itu.
“Kita semua di sini sangat kaget dan terpukul tentang kematian Gabriel. Tapi, ini bukanlah akhir dari segalanya. Kita tak boleh sedih terlalu lama,” sambung Alexa. Gadis ini menatap ke sekitar dan menemukan teman-temannya yang lain juga berusaha tersenyum ke arah pemuda bersurai coklat itu.
Untuk sesaat Rafa hanya terdiam. Pikirannya saat ini seperti tak mampu untuk merespons apa pun. Ia pun menengadahkan kepalanya dan menatap Alexa dengan pandangan kosong.
“Alexa, sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana kronologi Gabriel bisa jatuh sakit lagi? Bukankah dia bilang kalau semakin hari kondisi tubuhnya semakin baik?” tanya Rafa pada gadiss di depannya itu.
Kini ganti Alexa yang hanya bisa diam. Gadis ini sejak tadi memang belum mengucapkan sepatah kata pun pada mereka semua. Teman-temannya di sini tak ada yang tahu kalau dirinya adalah orang terakhir yang berbicara dengan Gabriel sesaat sebelum ia meninggal. Hanya Maria yang tahu akan hal itu, namun gadis berambut sebahu itu juga memilih tutup mulut. Keduanya bingung harus berkata seperti apa.
“Ini semua terjadi secara tiba-tiba. Aku dan Maria sempat berbicara dengannya satu jam sebelum ia meninggal dunia.”