Chapter 48 - Ajakan

1990 Kata
Alexa menjelaskan banyak hal pada teman-temannya yang lain. Gadis itu masih duduk berjongkok di hadapan Rafael Zohan yang memandangnya dengan mata bergetar. Semua orang di sini begitu kaget mendengarkan penjelasan dari Alexa. Maria yang juga ikut mengobrol dengan Gabriel sebelum ia pergi ke kamar mandi pun hanya bisa diam. Dia dipeluk oleh Ais yang berdiri di sampingnya. “Gabriel mengatakan kalau kondisinya semakin membaik, ia bahkan bercerita banyak hal padaku. Anak itu bilang kalau ingatannya kini sudah berangsur-angsur pulih.” Rafa menatap Alexa dengan mata yang sedikit berbinar. Seutas senyum sedikit terbentuk di balik masker yang ia kenakan. “Benar kan apa kataku tadi? Ia sudah pulih. Lantas kenapa tubuhnya tiba-tiba drop secara mendadak?” Mata hitam milik Alexa kini beralih menatap Rafael Zohan yang berada di hadapannya. Gadis itu terdiam. Wajahnya menyiratkan rasa tidak tahu juga. Dengan kepala menggeleng, Alexa menjawab, “Aku juga tidak tahu.” Gadis itu kemudian melanjutkan, “Saat Maria datang memberitahuku kalau kondisi Dokter Hutson sedang kritis, teleponnya sudah mati padahal saat aku cek. Aku tidak tahu sama sekali apa yang terjadi di ruangannya.” Ketiga mahasiswa tenggara lainnya yang masih berdiri di sebelah jajaran dokter koas itu hanya bisa saling pandang. Ardi dan Rino yang cukup dekat dengan Gabriel karena selama ini merekalah yang merawat anak itu hanya bisa tertunduk sedih. Ardi tampak memandang Alexa. “Lalu, bagaimana kata dokter?” tanyanya. Beni yang berada tepat di samping mahasiswa kedokteran itu hanya bisa menggeleng. Ardi pun sontak tahu apa makna dari isyarat tubuh ketua tim koas tersebut. “Sampai sekarang dokter belum bicara sama sekali. Kami yang bertugas sebagai dokter koas pun tidak memiliki hak untuk mengetahui hal itu sekarang. Kemungkinan besar, besok Hetalia akan mengadakan konferensi pers terkait berita kematian ini,” jelas Beni pada semua orang karena sejauh ini hal itu yang ia ketahui. Alexa sendiri hanya diam. Ia memandang ke arah Rafa yang masih tertunduk lesu. Pemuda di depannya benar-benar hilang semangat. Ini sama sekali bukan Rafael Zohan yang ia kenal. Ada apa sebenarnya dengan anak ini? Untuk sesaat, wajah Alexa menunjukkan kebimbangan. Gadis ini bertanya-tanya dalam hati. Apakah perlu dirinya mengungkapkan masa lalu dari Gabriel Delio sesuai cerita dari anak itu tadi? Alexa Liezel pun menatap ke sekeliling. Ia bisa melihat wajah dari teman-temannya yang lesu dan penuh dengan aura sendu. Kalau dipikir-pikir lagi, ini bukan saat yang tepat baginya untuk menceritakan hal itu pada mereka semua. Ia harus diam untuk sementara waktu dan menyimpan hal itu untuk dirinya sendiri. “Ini sudah jam 9. Aku harus melakukan jadwal jagaku di UGD,” ucap Dika sembari melihat ke arah jam yang melingkar di lengan kirinya. Ucapan dari dokter koas yang terkenal ketus itu langsung jadi pusat perhatian koas yang lain. Mereka harus kembali menjalankan tugas mereka. Bagaimana pun juga, ini bukan kasus kematian pertama yang kelimanya hadapi selama bertugas di Hetalia. Jadi, sudah sepatutnya kelima dokter koas itu tak terlalu larut dalam kesedihan dan harus menjalankan tugasnya kembali. Ais yang melihat Dika ingin pergi begitu saja langsung memanggil pemuda itu. “Tapi Dika, tidak seharusnya kita—“ “Tidak seharusnya apa, hah?!” Dika membentak dengan nada kasar pada gadis berkacamata itu. Melihat Ais yang terkejut langsung membuat Dika sadar akan perbuatannya tadi yang sudah kelewatan. Pemuda itu menarik nafas dalam-dalam dan berusaha meredam emosinya. Aksi perdebatan antara dokter koas itu langsung jadi pusat perhatian dari mahasiswa tenggara. Baik Ardi, Rino, Hendra, maupun Rafa yang masih duduk hanya bisa memperhatikan mereka semua. “Ayolah, kenapa kita harus masih berada di sini? Ini sudah jadwal kita untuk bertugas. Dalam setahun terakhir ini, sudah ada ratusan pasien yang meninggal. Kalau kita terlalu larut dalam kesedihan, lantas siapa yang akan bertugas sekarang?” tanya Dika setelah ia memberikan penjelasan pada mereka. Maria yang sedari tadi hanya diam, langsung memandang Dika dengan tatapan tak mengerti. “Tapi ini Gabriel loh, dia—“ “Gabriel, Gabriel, dan Gabriel. Apa istimewanya dia dari pasien lain yang sudah tewas? Ada banyak pasien tewas yang juga dekat dengan kita dulu. Akan tetapi, apakah kita saat itu larut dalam kesedihan seperti saat ini?” Dengan wajah ketus Dika bertanya demikian. Semua orang hanya diam. “Menurutku aksi kita ini sudah kelewatan. Aku tidak mau nilaiku jelek karena terus menangis dan melamun di tempat ini. Aku akan ke UGD sekarang, menjalankan tugasku, dan menyelesaikan praktik koas ini. Aku tak peduli dengan kalian semua!” sambung pemuda dengan perawakan tinggi itu. Dia diam untuk beberapa saat, melihat reaksi dari teman-temannya yang lain. “Kematiannya ini terlalu mendadak. Setidaknya aku ingin menunggu sampai ia dikremasi,” ujar Ais yang langsung diberi anggukan setuju oleh Maria. Beni yang melihat perdebatan itu bingung harus memihak siapa. Baik sisik Dika maupun Ais sama-sama benar dan salah. Pemuda itu menoleh ke arah Ais. “Kemungkinan besar, Gabriel akan dikremasi pukul 11 malam nanti. Dokter berkata ada hal yang harus diteliti dulu.” Dika yang mendengar itu pun sontak memandang Ais dengan tatapan kemenangan. “Kau dengar itu, Mata Empat? Apa kau akan menanti di sini selama dua jam lamanya, bersedih, dan tak melakukan apa-apa? Bukankah kau sendiri yang bilang kalau nilai adalah segalanya?” Lidah Ais kelu. “Aku tahu. Hanya saja—“ Dika kesal. Ia kesal dan kesal. Hanya itu yang ada di pikirannya sekarang. Sambil merengut, pemuda itu berbalik. Ia berjalan menjauhi mereka semua seraya berkata, “Sudahlah. Kalian semua naif. Aku akan pergi menjalankan tugasku. Kuharap kalian tidak akan ada di sini terus. Ayo Alexa, kita ke UGD!” Hari ini adalah jadwal jaga UGD bagi Alexa, Dika, dan Ais. Ketiga orang itu harusnya berada di UGD sekarang. Tapi, suasana tak kondusif yang ada saat ini seperti tidak memungkinkan. Untuk sesaat, Alexa hanya diam. Ia masih berjongkok di depan Rafa dan tak membalas ucapan Dika yang sudah berjalan pergi tadi. Tak ada suara apa pun yang dihasilkan oleh para dokter koas dan mahasiswa tenggara itu. “Kalau dipikir-pikir, apa yang dikatakan Dika tadi benar. Ayo kita kembali menjalankan tugas sekarang.” Beni berkata demikian setelah lama terdiam. Sontak saja ucapannya itu langsung jadi pusat perhatian semua orang, termasuk Ais dan Maria yang tadi membantah ucapan Dika. Kedua gadis ini terdiam. Mereka kembali merenungkan ucapannya tadi. Memang kalau dilogika, apa yang dikatakan Dika beberapa saat lalu benar, bahkan Beni juga berkata demikian. Tapi tetap saja, keduanya masih susah harus memutuskan bagaimana. “Tunggu,” ujar Hendra yang langsung jadi pusat perhatian. “Aku tadi tidak salah dengar kan? Kenapa jenazah Gabriel harus dikremasi dan bukannya dimakamkan?” “Oh, benar juga. Aku sama sekali tak kepikiran tadi,” tanggap Ardi. Beni yang melihat itu pun sontak mengangguk. “Kalian tidak salah dengar. Gabriel akan dikremasi di ruang kremasi rumah sakit. Ini kebijakan baru. Setahuku untuk meminimalisir penyebaran mutasi zeta, pasien yang terpapar oleh mutasi baru itu harus dikremasi di ruangan khusus lalu abunya dimakamkan.” Ardi, Hendra, dan Rino sontak mengangguk paham. Kebijakan baru ini ada benarnya juga. Bagaimana pun juga meski mutasi zeta memiliki tingkat penyebaran yang rendah namun, orang yang terpapar varian ini selalu saja mengalami rasa sakit yang parah. Untuk mencegahnya, kremasi adalah jalan terbaik saat ini. “Kalau begitu, ayo kita menyusul Dika untuk menjalankan tugas kita sekarang.” Beni mengatakan itu sembari melihat ke arah Maria, Ais, dan Alexa. Ketiganya pun mengangguk paham. Sebelum pergi, ketua dari dokter koas itu menoleh ke arah mahasiswa tenggara. “Kalian tidak apa-apa kalau kami tinggal?” Rino yang ditanyai pun hanya bisa menganggukkan kepala. “Santai saja, kami sepertinya akan pulang sekarang. Besok saja kita ziarah ke makam Gabriel setelah dia dikebumikan.” Ucapan itu disetujui oleh Hendra dan Ardi. Tidak ada gunanya juga mereka di sini lama-lama kalau keempatnya tak bisa melihat Gabriel untuk terakhir kalinya. Lagi pula mereka juga harus ke lab besok jadi, pulang adalah keputusan yang terbaik sekarang. Beni, Maria, dan Ais yang mengerti pun sontak mengangguk paham dan pergi berlalu dari hadapan mereka. Ketiga dokter koas itu harus menjalankan tugasnya sekarang. Kini tersisa Hendra, Rino, Ardi, Rafa, dan Alexa di tempat tersebut. Ketiga mahasiswa tenggara yang masih berdiri itu hanya bisa saling pandang untuk sesaat. Entah kenapa, suasana tiba-tiba berubah menjadi canggung karena Alexa dan Rafa masih saling duduk berhadapan. Sepertinya, ketiga orang itu harus pergi ke luar dahulu meninggalkan Alexa dan Rafa di sini untuk beberapa saat. “Ehm.” Ardi saling pandang dengan kedua temannya yang lain. Ia melanjutkan, “Sepertinya kami harus keluar dulu sekarang, Alexa. Kami akan menunggu Rafa di tempat parkir saja.” Alexa yang kaget dengan ucapan itu sontak terkejut. Ia langsung mengangguk dan mengucapkan iya pada ketiganya sebagai tanda setuju. Setelah ketiga teman Rafa tadi keluar, gadis itu hanya ada di sini bersama Rafael Zohan. Suasana hening sangat terasa saat ini. Alexa melirik jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul sembilan lebih lima belas menit, sepertinya ia harus ke UGD sekarang. “Kau tidak mau pulang?” Pertanyaan dari Alexa itu hanya dibalas diam oleh Rafa. Gadis itu masih duduk berjongkok di hadapan pemuda tersebut. “Kau ini sebenarnya kenapa?” Diam. Rafael Zohan masih tertunduk lesu dan enggan menjawab pertanyaan dari Alexa. “Kau sangat berbeda dari biasanya. Apa yang terjadi? Rafael Zohan bukanlah orang emosional seperti saat ini.” “Aku lelah,” jawab Rafa setelah sekian lama terdiam. “Lelah kenapa?” “Semua yang kulakukan terasa sia-sia.” Kepala Rafa mulai menengadah. Pemuda itu kini saling pandang dengan Alexa. “Aku bahkan tidak mampu untuk menyelamatkan anak kecil sepertinya. Ia masih punya kehidupan yang panjang andai aku bisa lebih cepat dalam bekerja dan membantu proyek vaksin ini. Aku sama sekali tak becus. Semua hal yang terjadi sekarang semakin rumit dan rumit. Aku tidak bisa menanggung ini sendiri.” “Aku pikir rasa putus asamu ini sia-sia saja. Dari awal, Gabriel sepertinya telah menyerah pada kehidupan yang ia lalui. Ia tewas saat ini karena anak itu tidak mau menjalani hidupnya lagi. Itulah yang aku simpulkan dari kasus kematian Ex-0 lainnya, kemungkinan Gabriel juga sama,” balas Alexa. Gadis itu berdiri dengan senyuman di balik masker yang ia kenakan. “Kau tidak menanggung bebanmu sendiri. Aku bisa membantumu.” Alis Rafa mengernyit. “Kau sama sekali tak paham dengan apa yang kukatakan, Alexa.” “Oh ya? Kau baru saja bertemu dengan seseorang yang memberitahukanmu kebenaran, bukan?” Mata Rafa membelalak lebar. “A-apa maksudmu?” “Kau ini sama sekali tak bisa menyembunyikan gerak-gerikmu, Rafa. Begini-begini, kakak sepupuku adalah psikolog ahli di bidang kriminologi. Jadi, aku bisa tahu kebenaran seseorang seperti yang telah diajarkannya padaku. Berbeda dari Rino, aku sangat suka menilai gelagat seseorang yang menyembunyikan suatu. Sejak awal kau datang ke sini semuanya terasa aneh. Aku tahu ada yang salah denganmu. Dari reaksimu yang kaget tadi, sepertinya dugaanku benar.” Rafa hanya terdiam. Ia kalah telak. Alexa pun kembali berjongkok di hadapannya. “Kau harus ingat. Tidak ada hal yang sia-sia di dunia ini. Kau telah mengajariku untuk tidak terlalu mengandalkan emosi di setiap kesempatan kan? Jadi, aku harap kau bisa menerapkannya kali ini. Apa yang terjadi pada Gabriel sekarang adalah jalan takdir Tuhan dan bukan kesalahan siapa pun. Manusia tidak akan pernah bisa mengubah takdir tentang kematian. Kau harus ingat itu.” Ucapan Alexa kali ini telah membuka mata Rafa lebar-lebar. Pemuda ini memandang tak percaya pada gadis di depannya. Apa yang dikatakan Alexa tadi memang sepenuhnya benar. Kalau Tuhan sudah berkehendak tentang maut seseorang, maka tidak ada yang bisa mengubahnya. “Aku tidak bisa di sini lama-lama,” ujar Alexa sembari berdiri dari posisi jongkoknya. Gadis itu melirik ke arah Rafa sebentar. “Apa kau senggang minggu depan?” “Apa maksudmu?” “Sepertinya masih ada banyak hal yang ingin kau bicarakan. Aku juga ingin mengatakan suatu hal padamu. Kalau bisa, bagaimana jika ketua keluar berdua minggu depan?” Dan saat itu, Rafa hanya bisa terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Alexa. Gadis itu pun tersenyum dan pergi berlalu begitu saja di hadapannya. Pemuda bermata hijau itu menampilkan wajah bimbang. Apakah tepat jika ia menceritakan hal ini pada Alexa?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN