Chapter 49 - Kelanjutan

1501 Kata
“Kami, Rumah Sakit Hetalia yang merupakan regu penanganan utama dari Ex-0 di Iranjia, menyatakan bahwa pasien pertama dari mutasi zeta atas nama Gabriel Delio meninggal dunia kemarin sekitar pukul tujuh malam.” Lampu kamera terus menyorot ke arah Liliana dan beberapa pejabat di negara ini yang saat ini tengah melakukan konferensi pers di gedung Kementerian Kesehatan. Sejak kasus kemarin, hubungan antara pemerintah terutama Kementerian Kesehatan dan Rumah Sakit Hetalia kian harmonis. Hal-hal penting terkait Ex-0 akan selalu diumumkan oleh Hetalia melalui perantara Kementerian Kesehatan. Seperti saat ini, Liliana dan beberapa petinggi Hetalia tengah duduk bersama staf kementerian untuk mengumumkan berita kematian Gabriel ke seluruh negeri. “Berdasarkan pada apa yang kami selidiki, siklus mutasi zeta yang terjadi pada diri seseorang akan terjadi melalui tiga tahap. Pertama kita akan kehilangan sebagian besar ingatan disertai rasa sakit yang menyerang kepala. Selanjutnya, berbagai halusinasi akan menyerang diri kita dan mempengaruhi mental. Di tahap akhirnya, berdasarkan apa yang dialami oleh Gabriel, ia akan mendapatkan ingatannya kembali dengan konsekuensi yang cukup berat. Gabriel tak mampu membedakan antara hal nyata dan halusinasi dan ia akhirnya menyerah pada hidupnya,” jelas Liliana panjang lebar. Wanita anggun itu menunjukkan berbagai berkas penunjang terkait kondisi Gabriel sebelum ia tewas kemarin. Dokter yang menjabat sebagai Direktur Hetalia ini masih ingat dengan jelas bagaimana keadaan Gabriel Delio kemarin sebelum ia menghembuskan nafas terakhir. Setelah melihat di kamera pengawas yang memperlihatkan Gabriel berteriak kesakitan, staf medis pun datang ke ruangan anak itu. Akan tetapi, apa yang terjadi justru membuat mereka terkejut. Kondisi Gabriel saat itu sama sekali tak terkendali. Staf medis yang ingin memberikan obat penenang pun kewalahan menghadapi anak kecil yang terus berteriak itu. Saat yang paling sulit adalah ketika Gabriel terus berteriak dan meminta staf medis untuk membunuhnya saat itu juga. Ia menangis dan meronta. Anak itu berteriak banyak hal. Gabriel bilang bahwa ia diganggu oleh suara-suara yang menyuruhnya untuk mati karena tak berguna. Sambil berteriak sekuat mungkin, tubuh Gabriel drop seketika. Ia pingsan di detik itu juga dan dinyatakan meninggal beberapa saat kemungkinan. Berdasarkan apa yang diteliti oleh Liliana dan lainnya kemarin, ada kemungkinan anak itu mengalami henti jantung mendadak atau sudden cardiac arrest yang merupakan kondisi di mana jantung berhenti berdetak secara tiba-tiba. Akibat kondisinya yang tertekan, Gabriel mengalami tekanan darah tinggi yang menyebabkan ia mengalami sudden cardiac arrest dalam waktu lama dan menyebabkan ia meninggal. Staf Kementerian Kesehatan yang melihat Liliana telah menyelesaikan penjelasannya terkait kasus kematian Gabriel Delio ini sontak memandang serius ke arah para jurnalis di depannya. Juru bicara khusus Ex-0 di Iranjia ini tampak menarik nafas untuk beberapa saat. “Atas kejadian ini, saya sangat berharap kepada seluruh masyarakat Iranjia agar membuka matanya lebar-lebar!” Wanita bersurai pendek itu menatap ke arah kamera dengan sorot mata tajam. “Ex-0 belum hilang, tapi virus ini semakin berbahaya. Satu-satunya cara untuk melindungi kita adalah terus berdiam diri di rumah. Aku sangat berharap kalian menyadari hal ini dan mencegah penularan mutasi zeta yang sangat berbahaya ini.” Tiba-tiba, seluruh orang yang berada di meja konferensi pers itu berdiri. Mereka saling menatap sejenak sebelum membungkukkan badannya ke arah kamera dari para jurnalis. Wanita berambut pendek yang menjabat sebagai juru bicara itu berucap, “Sebagai perwakilan dari seluruh rekan hari ini, saya memohon pamit pada kalian semua. Terima kasih telah datang hari ini dan melihat pengumuman terkait Ex-0. Akhir kata, jaga terus kesehatan dan tetap di rumah untuk keamanan kita.” Konferensi pers itu pun akhirnya ditutup. Lensa kamera terus menyorot ke arah staf Kementerian Kesehatan beserta petinggi dari Rumah Sakit Hetalia yang berjalan pergi meninggalkan tempat pers. Seluruh masyarakat di negeri ini dibuat bungkam saat itu. Mereka ketakutan dan khawatir. Dari rumah masing-masing, penduduk Iranjia bertanya. Sebenarnya, sampai kapan neraka ini akan berakhir? Seminggu setelah kejadian itu, hari-hari di seluruh distrik Iranjia menjadi sepi kembali. Tak ada seorang pun yang berani menampakkan batang hidungnya di luar rumah. Mereka diam, mendekam di rumah masing-masing dengan harapan agar terus selamat. Truk-truk logistik yang biasanya masih lewat mengantar barang-barang pun semakin jarang ditemui. Para kurir sekarang tak ada yang berani mempertaruhkan nyawa mereka. Hanya ada segelintir orang yang masih dermawan memberanikan diri mereka untuk membantu masyarakat lain. Hari ini adalah tanggal 17 November 2000. Masih beberapa bulan lagi sebelum tahun baru datang. Di zaman yang mana informasi sudah dapat ditemui dengan mudah melalui internet, televisi, dan radio, masyarakat di seluruh Iranjia menjadi tahu dengan cepat bagaimana perkembangan mutasi zeta di negara ini. Terhitung sejak kematian Gabriel Delio kemarin, pasien yang terindikasi mutasi baru yang sangat mematikan ini melonjak hampir 30% banyaknya. Hal ini pun jadi pusat perhatian dunia. Mutasi zeta varian baru yang muncul di Iranjia ini mulai menyebar ke beberapa negara lain. Tentu saja, Organisasi Kesehatan Dunia langsung menjadikan ini sebagai perhatian khusus. Beberapa media luar negeri pun membicarakan hal ini meskipun tak sampai jadi bahasan utama. Karena bagaimana pun juga, peluang kematian dari setiap kasus mutasi zeta ini hampir menyentuh 50% yang berarti 5 dari 10 orang yang terinfeksi mutasi zeta baru ini berpeluang besar mengalami kematian dan tak dapat disembuhkan. Lab bawah tanah Universitas Tenggara pun semakin sibuk. Proyek Sepkai Farmasi yang membuat Vaksin Hektovac kali ini sedikit tertunda. Tim pembuat vaksin kali ini dibelah menjadi dua regu. Adam Hillary sebagai ketua dari proyek vaksin tersebut mengerahkan sebagian tim farmasi untuk mengembangkan obat yang bisa mengurangi rasa sakit dari efek samping mutasi zeta ini. Karena jumlah kru yang menggarap vaksin berkurang, Universitas Tenggara akhirnya mengirimkan jajaran profesor untuk membantu pengerjaan vaksin. Hubungan Universitas Tenggara dan Hetalia pun mulai membaik dalam satu minggu terakhir. Di sinilah Rafael Zohan berada. Tidak seperti kebanyakan penduduk sipil yang takut untuk keluar rumah, pemuda yang satu ini justru tengah duduk santai di Taman Adiyasa yang sangat sepi. Ia mengencangkan masker dua lapis yang dikenakannya, jaga-jaga kalau sampai ada virus di sini. Tidak seperti biasanya di mana Rafa selalu mengenakan jas putih dan seperangkat pakaian lab lainnya, pemuda ini justru mengenakan kemeja hitam dan kaos putih di bagian dalamnya. Rafa juga terlihat santai dengan celana jeans berwarna coklat serta sepatu kets hitam. Pemuda bersurai coklat itu terus menoleh ke kanan dan ke kiri. Suasana sejuk di sore hari kali ini sepertinya tidak membuat masyarakat pergi keluar dan jalan-jalan di taman. Bagaimana pun juga, penduduk di sini pasti paranoid dengan lonjakan kasus Ex-0 dalam beberapa hari terakhir. Sembari menghela nafas, pemuda ini berujar, “Di mana sebenarnya anak itu berada?” “Aku di sini!” Suara teriakan dari ujung taman kali itu sontak mencuri perhatian Rafa. Di ujung taman sana, terlihat Alexa yang berlari menuju ke arahnya. Sontak saja senyum Rafa merekah. Akhirnya orang yang ia tunggu sedari tadi datang juga. Dengan gaun putih dan jaket jeans, entah kenapa Alexa terlihat berbeda di mata Rafa. Untuk sesaat, pipi dari pemuda bermata hijau itu memerah. “Sudah lama, Bung?” Seakan tersadar dari sesuatu, Rafa langsung tergagap. “A-ah, tentu saja. Kau ini lamban sekali.” Alexa pun dengan santai duduk di kursi hadapan Rafa. Gadis itu menggaruk pipinya yang tak gatal dengan kikuk. Ia tertawa renyah. “Maaf saja. Hetalia baru kedatangan pasien rujukan lagi. Jadi, aku agak pulang telat hari ini. Untung dapat jatah pagi, jadi kita bisa bertemu sore ini.” Benar, hari ini adalah hari di mana Rafa dan Alexa keluar bersama. Mereka memilih sore hari sebagai waktu untuk pergi bersama karena keduanya senggang di sore ini. Keduanya membawa topik bahasan masing-masing. Ini adalah waktu yang tepat bagi mereka berdua untuk melanjutkan perbincangan yang tertunda tempo hari. Mereka belum bertemu sama sekali sejak hari itu. Angin sore kembali berembus pelan. Rambut Alexa yang biasanya terikat kali ini tampak tergerai bebas. Beberapa untaian rambut panjangnya melayang tertiup angin. Untuk sesaat, Rafa hanya bisa diam memperhatikan gadis di hadapannya yang benar-benar berbeda dari biasa. Alexa yang Rafa kenal selama ini adalah sosok gadis konyol, selalu bercanda, dan terkadang sedikit emosional. Akan tetapi, ia benar-benar berbeda kali ini. Rafa pun bertanya, apa yang aneh darinya? “Hei, kau atau aku dulu yang bercerita? Kenapa malah diam saja?” tanya Alexa tak sabar. Dengan kikuk lagi, Rafa menjawab, “E-ehm, apa?” “Hadeh.” Untuk sesaat Alexa hanya bisa menepuk jidatnya tak habis pikir. “Ngomong-ngomong, apa kau sudah mengunjungi makam Gabriel? Aku dan dokter koas lainnya baru sempat ke sana tanggal 15 kemarin.” Mata Rafa entah kenapa terlihat meredup begitu Alexa menanyakan hal tadi. “Ya, aku dan mahasiswa tenggara lainnya datang ke sana tanggal 11.” Kedua anak muda itu terdiam beberapa saat. Membahas Gabriel selalu membawakan hawa sendu tersendiri bagi mereka. Setelah beberapa saat terdiam, Alexa berusaha mencairkan suasana yang aneh ini. Ia bercanda dengan Rafa sebentar. Gadis ini pun akhirnya mulai menceritakan hal-hal terkait Gabriel Delio. Alexa memberi tahu Rafa tentang apa saja yang ia dengar dari penuturan Gabriel hari itu. Tentu saja mata pemuda bersurai coklat ini melebar tak percaya. Ia bertanya-tanya dalam hati. Apakah saat ini Alexa membual? Tapi, dari sorot mata gadis itu tampaknya ia bersungguh-sungguh soal ini. Dengan lidah kelu dan tak tahu harus merespons seperti apa, pemuda ini bertanya, “Apa kau bercanda?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN