Chapter 50 - Kedok [SEASON 1 END]

1593 Kata
Alexa membenarkan apa yang telah ia katakan beberapa saat lalu. Dialam diam, Rafa merenungkan ini semua. Apakah secara tak langsung selama ini keluarga Gabriel atau yang lebih tepat ayahnya adalah pasien pertama Ex-0 di Iranjia yang asli? Kalau ini benar, maka temuan Universitas Herminton yang menyatakan bahwa sudah ada Ex-0 di Iranjia sejak bulan Januari adalah benar apa adanya. Ini semua kembali terasa masuk akal. “Lalu, setelah tahu semua hal ini apa yang ingin kau lakukan?” tanya Rafa pada Alexa. Untuk beberapa saat wajah Alexa tampak berpikir keras. “Aku tidak tahu. Semua dokter koas yang lain sama sekali tak tertarik dengan hal ini dan aku adalah satu-satunya orang yang tahu. Awalnya kupikir ini sesuatu hal yang harus kurahasiakan sendiri tapi, pada akhirnya aku menceritakan ini padamu.” Rafa terdiam. Informasi terkait Ex-0 semakin hari semakin kompleks saja. Pemuda itu menghela nafas panjang. “Yah, lagi pula Iranjia juga sudah mengumumkan pasal pasien Ex-0 pertama pada bulan Maret lalu secara resmi. Kalau kita membawa info ini ke publik pasti tidak akan perubahan yang signifikan terjadi. Masyarakat pasti cuma oh begitu.” Perkataan Rafa tadi membuat Alexa tertawa renyah. Info ini memang baru baginya, tapi masyarakat yang tidak tertarik pasti akan biasa saja seperti apa yang diucapkan oleh Rafa. Memang, ada kemungkinan berita ini akan jadi topik perbincangan selama beberapa hari namun ke depannya pasti akan terlupakan begitu saja. Disimpan sendiri adalah keputusan terbaik saat ini untuk kasus keluarga Gabriel. Karena Alexa sudah bercerita begitu panjang dan lebar, akhirnya gadis itu memaksa Rafa untuk melanjutkan perbincangan mereka kemarin di rumah sakit. Tempo hari saat kematian Gabriel, wajah Rafa seperti masih menyimpan segudang beban. Gadiss ini bisa tahu dengan jelas karena Rafa tidak seperti biasanya. “Seminggu yang lalu, sebenarnya aku pergi ke Distrik Timur. Oh, lebih tepatnya Universitas Tenggara,” ungkap Rafa. Alis Alexa mengernyit heran. “Lalu?” “Kau harus merahasiakan ini dari siapa pun. Belum ada dari satu temanku yang kuberitahu soal informasi ini.” “Aku janji.” Rafa pun mulai bercerita banyak hal pada Alexa mulai dari perbincangannya dengan Adam, informasi yang ia dapat dari Nias, kepergian Mario, serta penjabaran dari Profesor Jack Hannes yang membuatnya kaget kemarin. Semua hal Rafa ceritakan pada Alexa tanpa terkecuali. Gadis itu hanya bisa terdiam. Ia memandang Rafael Zohan dengan tatapan yang sangat serius. “Hal yang menjadi tanda tanya bagiku adalah kenapa saat Adam Hillary meminta profesor dari Universitas Tenggara menggantikan beberapa staf medis yang membuat obat untuk mutasi zeta ini mereka justru langsung mengiyakan?” sambung Rafa. Wajah Alexa masih menunjukkan raut muka serius. “Karena mereka sudah tidak kedatangan Universitas Herminton lagi, bukan? Jadi Universitas Tenggara bermaksud untuk memperbaiki hubungan yang telah ia rusak dengan Hetalia dan Sepkai Farmasi.” Rafa sedikit terperangah. Apa yang dikatakan oleh Alexa tadi ada benarnya. Kenapa selama ini ia tak berpikiran seperti itu dan terus mencurigai Universitas Tenggara? Padahal tempatnya menempuh ilmu itu adalah tempat terbaik yang sudah lama ia kenal selama ini. Melihat diamnya Rafa, Alexa pun tersenyum di balik masker yang ia kenakan. “Kau pasti sudah melaporkan hal ini pada Tuan Adam Hillary bukan?” Rafa mengangguk. “Aku sudah melaporkannya sehari setelah Gabriel meninggal dunia.” “Apa tanggapannya?” Pemuda bermata hijau ini hanya bisa memandang Alexa dengan tatapan heran. Ia mengingat bagaimana reaksi Adam saat itu dan beberapa saat kemudian wajahnya terperangah. “Saat itu, dia ... kaget.” “Nah, itu dia. Berdasarkan dugaanku, sesaat setalah Adam Hillary menyampaikan dugaannya padamu, kau secara tak sadar langsung terdoktrin oleh persepsi yang mengatakan bahwa Universitas Tenggara adalah sosok antagonis dari kasus ini. Oleh karena itu, kau masih terus saja curiga dengan kampusmu padahal ia hanya ingin memperbaiki hubungan dengan Hetalia dan Sepkai Farmasi karena telah membatalkan keputusan secara sepihak dulu.” Wajah Rafa kali ini tercengang. Apa yang dikatakan oleh Alexa beberapa saat lalu memang ada benarnya. Ia terlalu fokus dengan apa yang sebenarnya masih disembunyikan oleh Universitas Tenggara hingga mengabaikan fakta kalau apa yang telah disampaikan Jack kemarin ada benarnya. Pantas saja saat Rafa melaporkan berita ini pada Adam, pria itu langsung kaget. Bagaimana pun juga, dugaan Adam salah total. Tidak seperti Rafa yang masih curiga, Adam yang bersalah karena telah berpersepsi buruk pada kampusnya langsung berniat mengundang jajaran profesor itu kembali untuk membantu proyek Vaksin Hektovac. Kesalahan yang telah Rafa buat ialah dirinya yang justru masih curiga pada Universitas Tenggara padahal Adam yang memberikannya doktrin malah berniat memperbaiki hubungan dengan kampus itu. “Aku tidak tahu harus mengatakan apa padamu, tapi apa yang telah kau ucapkan tadi ada benarnya Alexa.” Ucapan Rafa itu langsung membuat wajah Alexa cerah. Dengan wajah tertunduk, Rafa melanjutkan perkataannya tadi, “Selama seminggu terakhir ini aku terus saja berpikiran sempit dan tidak membuka mata lebar-lebar. Kau telah membuka persepsi baru untukku.” Alexa tersenyum lebar sembari menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir. “Saat malam itu, kau benar-benar bukan seperti Rafa yang kukenal. Kau berbeda drastis. Dirimu kacau, tidak tenang seperti biasanya, dan sangat emosional.” Mendengar kata itu, Rafa mulai menengadahkan kepalanya. Ia menatap Alexa dalam diam dan mengingat hal yang terjadi di malam tanggal 10 November kemarin. Sesaat sebelum ia pulang, Profesor Jack Hannes memintanya untuk berkunjung lagi beberapa bulan ke depan. Profesor yang sama-sama bukan berdarah asli Iranjia itu meminta Rafa untuk membicarakan Eropa, tempat kelahiran mereka berdua. Saat Rafa menanyainya kenapa, Jack Hannes menjawab kalau ada hal aneh yang terjadi di Eropa saat ini. Pembicaraan terakhirnya dengan Jack di stasiun itu harus terjeda karena tiba-tiba dirinya mendapatkan telepon dari Rino saat ponselnya menyala. Rino mengabarkan kalau Gabriel meninggal dan pemuda bermata hijau ini langsung terkejut bukan main. Rafael Zohan sama sekali tak mampu menerima kenyataan itu. Ia merasa hancur di saat itu juga begitu mendengar kematian Gabriel Delio. Wajah Rafa tampak sendu. Pemuda itu mengusap belakang lehernya dengan kaku. “Saat itu, aku sama sekali tak terima kalau Gabriel meninggal. Diriku hanya merasa tak berguna. Padahal selama ini, setiap orang memujiku karena aku langsung cepat tanggap dan ahli dalam hal biologi molekuler. Universitasku bahkan mempercayai aku memimpin tim ini dalam proyek Vaksin Hektovac.” Alexa mendengarkan perkataan Rafa dalam diam. Pemuda itu mengangkat kedua tangannya yang bergetar hebat. Dengan senyum pilu, Rafa berkata, “Meskipun begitu, kenapa kedua tangan ini bahkan tak mampu menyelamatkan nyawa seorang anak kecil yang tengah berjuang keras melawan virus aneh ini?” Rasa tidak berdaya itu. Alexa sangat paham betul bagaimana perasaan Rafa sekarang. Kalau seperti ini ceritanya, gadis bersurai panjang itu langsung mengerti alasan kenapa Rafa begitu emosional malam itu. “Rafa, apakah ini kematian pertama dari seseorang yang dekat denganmu?” Wajah Rafa langsung menegang kaku. Ia menatap bingung ke arah Alexa. “Maksudmu?” “Bukan maksudku untuk bertanya seperti itu. Hanya saja, reaksimu seperti orang yang begitu hancur. Aku hanya berspekulasi. Apakah kematian Gabriel kemarin adalah yang pertama bagimu?” Wajah Rafa tampak kosong untuk beberapa saat. Detak jantungnya seperti berhenti berdetak saat itu juga. Berbagai ingatan langsung muncul di otaknya bagaikan kaset yang rusak. Untuk beberapa saat, Rafa hanya terdiam. Diamnya Rafa kala itu langsung membuat Alexa merasa bersalah. Apakah ia telaah salah mengatakan hal tadi? Setetes air mata meluncur begitu saja dari mata hijau pemuda ini. Alexa sontak panik melihat itu. “Eh? Rafa, apakah kau baik-baik saja?” “A-ah” Tentu saja, Rafa terperanjat saat mendengar pekikan Alexa tadi. Ia dengan buru-buru mengalihkan wajah sembari mengusap kasar air matanya tadi. Pemuda ini berteriak dalam hati. Apa yang telah ia lakukan tadi? Menangis di depan wanita? Sungguh memalukan. Alexa pun hanya bisa memandang khawatir pemuda itu. Sebuah ingatan tiba-tiba terlintas di otak Alexa. Gadis ini tiba-tiba teringat akan fakta kalau ayah Rafa adalah Profesor William Zohan yang telah tewas beberapa tahun lalu akibat kecelakaan hebat. Mata Alexa pun melebar. Ia telah membuat kesalahan fatal dengan betanya seperti tadi. “Oh tidak, Rafa. Maafkan aku, aku sama sekali tidak bermaksud untuk membuatmu sedih. Kau pasti langsung teringat dengan kematian ayahmu itu ya? Maafkan aku,” ujar Alexa sembari mendekati Rafa. Gadis itu berniat untuk menyentuh pemuda itu namun tangannya sedikit ragu. Rafa pun sebisa mungkin bersikap biasa. Ia tertawa ringan. “Ah, tidak. Ini bukan masalah besar kok.” Wajah Alexa sendu. Gadis ini tersenyum masam. Ia tak tahu harus bilang apa di saat suasana canggung akibat ucapannya tadi. Bukannya menghibur, Alexa malah membuat Rafa semakin sedih. Ia langsung merutuki kebodohannya itu. “Mau aku belikan es krim?” ajak Alexa dengan ramah. Gadis itu menyipitkan mata sembari tersenyum lebar ke arah Rafa. Untuk sesaat, wajah Rafa kembali bersemu. Jarak Alexa kali ini terlalu dekat dengannya. Pemuda bermata hijau itu pun sontak mengalihkan wajahnya malu. Ia langsung mendorong Alexa untuk menjauh dan berjalan mendahului gadis itu. “A-aku bukan anak kecil ya! Aku bisa membeli sendiri bahkan membelikanmu satu rombong, Alexa,” ucap Rafa dengan gagap. Wajah pemuda itu masih terasa begitu panas. Melihat reaksi Rafa yang seperti itu, Alexa pun sontak tersenyum. Anak itu sudah kembali seperti semula. Ia pun dengan segera berlari menyusul pemuda yang telah berjalan mendahuluinya itu menuju toko es krim di seberang jalan. Dengan riang, Alexa berjalan santai mengekor Rafa yang telah berada di depannya. Saat berjalan itulah, mata Rafa tampak meredup untuk beberapa saat. Pemuda itu tersenyum kecut. Ia bergumam dalam hati. ‘Dalam kasusku ini, bukan hanya Profesor William Zohan saja yang meninggalkanku, Alexa. Semuanya ... pergi meninggalkanku.’ Hari-hari pun telah berlalu. Angin musim hujan terus membawa perubahan baru setiap harinya. Ia berembus sepanjang hari dalam beberapa bulan terakhir hingga tak sadar waktu telah berganti begitu cepat. Besok adalah perayaan tahun baru 2022 dan kejadian dahsyat melanda Iranjia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN