Chapter 51 - Desember

1483 Kata
Malam di bulan Desember terasa begitu berbeda dari biasanya. Hari ini adalah tanggal 31 Desember, hari di mana tahun ini akan berakhir. Manusia akan membuka lembaran baru mulai esok atau lebih tepatnya tahun 2001. Meskipun begitu, dunia masih suram seperti biasanya. Tak ada banyak hal yang berubah dalam dua bulan terakhir ini. Kasus Ex-0 masih bertebaran di mana-mana, bahkan lebih parah karena meningkat terus. Mutasi zeta baru yang berasal dari Iranjia pun semakin hari semakin membahayakan. Banyak dari masyarakat Iranjia yang terkonfirmasi positif terpapar oleh varian baru ini. Tercatat, hampir 70% kasus Ex-0 di Iranjia diakibatkan oleh mutasi tersebut. Bahkan beberapa negara lain di dunia saat ini juga mengumumkan temuan mutasi baru ini di negaranya. Hal itu membuat nama Iranjia menjadi sorotan. Masyarakat di luar negeri sana dibuat bertanya-tanya. Sebenarnya di manakah letak Iranjia itu? “Kalian jadi pergi malam ini?” Rafa menatap ke arah tiga temannya yang lain. Pemuda itu bersama teman-temannya dari mahasiswa tenggara baru saja pulang dari lab. Mereka berjalan di sepanjang peron stasiun. Kereta yang ditumpangi oleh ketiga mahasiswa tersebut telah tiba di stasiun dekat Rumah Sakit Hetalia beberapa saat yang lalu. Untuk pulang menuju apartemen, keempatnya harus naik kereta terlebih dahulu karena memakan waktu hampir 1 jam lamanya dari lokasi lab bawah tanah di Oud Centra. Ardi pun menyunggingkan senyum lebar begitu Rafa bertanya demikian. “Oh ya, tentu saja! Kenapa tidak?” Rino yang berjalan di samping pemuda itu hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya penuh semangat. Kedua pemuda itu berjalan di depan Rafa dan Hendra. Melihat reaksi dari mereka yang terlihat begitu semangat, Hendra hanya bisa melirik Rafa di sampingnya. “Kau yakin tidak akan ikut dengan kami bertiga?” tanya pemuda dari jurusan farmasi tersebut. Rafa menggeleng. Ia menguap. “Tidak, aku terlalu malas untuk kegiatan seperti ini. Aku akan pulang terlebih dahulu kalau begitu.” Ucapan itu sontak jadi pusat perhatian dari ketiga pemuda lainnya. Mereka secara serempak memandang ke arah ketua tim tersebut. Tidak biasanya Rafa malas begini. Kalau ditanya soal kemalasan, di antara mereka berempat, orang yang paling malas itu adalah Rino dan Hendra. Tetapi kenapa di saat Rino dan Hendra antusias, justru manusia bermata hijau ini yang malas? “Kau yakin tidak ikut, Bos?” Ardi mengernyitkan alis heran. Pemuda dari jurusan kedokteran ini tak habis pikir dengan motif Rafa menolak untuk ikut. “Tidak.” Senyum Ardi merekah dan pemuda itu menatap Rafa dengan pandangan menggoda. “Meskipun Alexa ada di sana?” Dengan mata melotot, Rafa langsung memandang tak habis pikir ke arah pemuda jangkung itu. “Apa maksudmu? Kalau dia di sana ya sudah. Apa hubungannya denganku?” Baik Ardi, Rino, maupun Hendra saat ini hanya bisa bersiul sambil saling melirik. Ketiga orang ini paling suka kalau menggoda Rafa, apa lagi jika itu berhubungan dengan Alexa. Sejak Rafa dan Alexa pergi berdua sore itu, ketiga mahasiswa tenggara ini selalu mengejeknya. Mereka mengira kalau dua manusia itu tengah menjalin hubungan istimewa sekarang. Gerak-gerik Rafa dan Alexa terlihat sangat jelas, apa lagi sejak malam kematian Gabriel di rumah sakit kemarin. Keduanya bahkan mengobrol empat mata. Terlebih reaksi Rafa yang selalu marah tak terima ketika diledek ini membuat tiga pemuda itu gemas sendiri. Marah sih boleh saja, asalkan Rafa tak perlu memerah wajahnya. Reaksi seperti itulah yang membuat Ardi, Rino, dan Hendra untuk berspekulasi yang bukan-bukan. “Sudahlah, kalian hentikan semua ini.” Rafa berhenti melangkah. Ia melipat tangan di d**a sembari memandang tajam mereka semua. “Lagian di suasana seperti sekarang, aku rasa tak perlu merayakan festival tahun baru segala.” Benar, ketiga mahasiswa tenggara tersebut berencana melakukan perayaan tahun baru bersama dokter koas Rumah Sakit Hetalia. Keputusan ini sempat ditentang oleh Rafa beberapa hari yang lalu, namun semuanya tetap keras kepala. Ardi, Rino, dan Hendra tampaknya mengabaikan apa yang telah ia ucapkan kemarin. Kondisi negara ini semakin gawat dari lonjakan kasus Ex-0 selama beberapa hari terakhir dan mereka justru merayakannya. Aneh sekali. “Oh, ayolah. Ini perayaan satu tahun sekali. Apa kita tidak bisa merayakannya tahun ini?” rengek Ardi. Rafa langsung mengabaikan ucapan pemuda itu. Ia justru beralih dan menatap Hendra di sampingnya. “Hendra, selama ini kau adalah orang yang paling dekat dan penurut denganku. Apa kau memihak mereka berdua dan tidak mematuhi apa ucapanku kemarin?” Pemuda dengan mata pada karena hobi bermain game ini hanya bisa melirik Rafa dengan tatapan sungkan. “Bagaimana ya? Aku kalah saat turnamen e-sport dua hari yang lalu. Tak salah kan kalau aku cari hiburan? Hehehe.” Rafa pun sontak menatap tajam ke arah mereka bertiga. Semakin hari ia merasa kalau anggota tim ini semakin susah diatur saja. Banyak sekali mau mereka dan ia selalu dibantah setiap mengeluarkan keputusan. Keempat mahasiswa tersebut kini sudah berdiri di luar stasiun. Mereka berdebat di tepi jalan raya. “Aku sudah peringatkan kepada kalian semua. Kalau sampai kalian ditangkap oleh polisi karena berkeliaran di luar saat jam malam, maka aku tidak akan bertanggung jawab.” Pemuda bermata hijau ini mengancam mereka bertiga dengan jari telunjuknya yang menunjuk ketiganya satu per satu. “Jangan bawa-bawa namaku!” Dengan kesal, pemuda bersurai coklat tersebut berlalu begitu saja di hadapan ketiganya. Rafa langsung melangkah menuju area parkir dan mengambil sepedanya. Keempat mahasiswa ini setiap harinya pergi ke stasiun dengan mengendarai sepeda masing-masing. Baik Ardi, Rino, maupun Hendra sekarang hanya bisa memandang Rafa dalam diam. Mereka tak berani bersuara apa pun. Rafa saat ini sedang marah, sepertinya ini dipicu oleh godaan Ardi tadi yang membahas Alexa. Padahal saat mereka bilang ingin merayakan tahun baru kemarin saja reaksi Rafa tak semarah hari ini. Dengan mata tajam, Rafa terus menatap ketiganya. Ia mengayuh sepedanya dengan cepat seraya berkata, “Aku akan mengunci pintu apartemen! Kalau sampai pulang larut malam, kalian tidur di luar!” Ucapan itu sontak membuat Hendra dan Rino menatap Ardi dengan pandangan marah. Ini semua gara-gara ulah orang yang satu ini. Benar-benar, si berandal ini. Ia selalu saja berulah. “Ya maaf hehehe,” ujar Ardi sembari meneguk ludahnya paksa. Ia hanya bisa tersenyum kikuk ketika ditatap kesal oleh Hendra dan Rino. Ketiga orang itu akhirnya mengambil sepeda yang terparkir tak jauh dari situ. Mereka pun menuju ke tempat yang sudah disepakati sebelumnya untuk bertemu dengan dokter koas Hetalia. Apa pun yang terjadi, ketiga mahasiswa tenggara itu ingin bertemu mereka lagi setelah dua bulan terakhir tak pernah bertemu. Mereka mengayuh sepeda dengan santai sambil menikmati pemandangan Iranjia atau lebih tepatnya Distrik Pusat saat sepi seperti ini. Negara Iranjia adalah negara yang dikenal dengan pemandangan yang asri dan masih terjaga kehijauannya. Meskipun begitu, wilayah negara ini hanya terdiri dari satu daratan besar dan beberapa pulau-pulau kecil tak berpenghuni. Selain keindahan alam dan lingkungannya yang eksotis, ada satu hal tabu yang pernah terjadi di sini. Hal yang perlu diketahui dari negara tempat tinggal Rafa dan teman-temannya ini adalah ia pernah dijajah saat masa perang dunia dulu. Bangsa-bangsa maju di luar Iranjia kala itu mengalami konflik hebat satu sama lain. Mereka saling berseteru dan berusaha sebisa mungkin memperlebar kawasan negaranya. Dengan paksaan, negara maju-maju itu mengeksploitasi sumber daya alam dan manusia di negara lain untuk menunjang kebutuhan perang. Iranjia yang saat itu hanyalah negara tertinggal pun akhirnya takluk dalam kekuasaan itu dan berhasil dijajah. Salah satu negara maju yang menjajah bangsa lain untuk menunjang perang di zaman dahulu adalah Negara Edelton. Bangsa maju di benua Eropa tersebut memiliki kekuasaan mutlak dan adidaya beberapa puluh tahun lalu. Ia memiliki ratusan negara koloni yang berhasil dijajah dan memimpin dunia selama belasan tahun lamanya. Namun, kejadian itu sirna setelah Edelton dinyatakan kalah di akhir perang. Negara yang merupakan tempat berdirinya Universitas Herminton itu kalah perang dari Arizona. Arizona sendiri adalah negara yang secara tak langsung menjadi kiblat seluruh dunia saat ini. Bagaimana tidak, bangsa yang menjadi pemenang ketika perang dunia itu juga merupakan negara maju dengan sistem pemerintahan yang begitu kuat. Beberapa organisasi terkenal dunia seperti Organisasi Kesehatan Dunia dan Organisasi Persatuan Bangsa pun berdiri di sana. Mata uangnya bahkan ditetapkan sebagai alat pembayaran resmi dari perdagangan dunia. Selain itu, Bahasa Arizona dinyatakan bahasa internasional. Perlu diketahui, Edelton dan Arizona memiliki konflik tersendiri sampai sekarang meskipun dunia sudah dinyatakan damai dan tidak terjadi perang. Kedua negara itu masih terus bersaing dalam berbagi hal secara tak kasat mata. Jadi, meskipun masyarakat menganggap hubungan antar negara itu sudah rukun namun kenyataannya tidak demikian. Mengingat sejarah yang terjadi dulu ketika perang dunia, Rafael Zohan langsung terpikirkan oleh ucapan Profesor Jack Hannes saat di lab tadi. Pemuda bersurai coklat ini baru saja mandi. Ia mengacak-acak rambutnya yang basah dengan handuk. Rafa saat ini hanya menggunakan kaos putih polos dan celana selutut. Mata hijaunya tampak menerawang jauh. “Apakah kalian tahu kalau negara-negara maju di luar sana sedang membicarakan Iranjia?” Ingatan tentang apa yang diucapkan oleh Jack Hannes padanya dan Tuan Adam Hillary ketika di lab tadi membuat Rafa bertanya-tanya. Apa yang dibicarakan oleh negara-negara maju itu tentang Iranjia? Apa ini berkaitan dengan lonjakan Ex-0 yang semakin hari semakin tinggi di negeri ini? Atau justru, ada motif lain?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN