Chapter 52 - Hiburan

1500 Kata
Kalau membicarakan tentang lonjakan kasus di Iranjia memang tiada habisnya. Ex-0 menjadi momok tersendiri di negeri ini. Setiap orang tua di Iranjia bahkan melarang anaknya untuk pergi meninggalkan rumah akhir-akhir ini, dengan harapan agar sang anak tak mengalami trauma. Teror akan kematian ini mengintai siapa saja. Ketika seseorang berkeliaran di saat-saat seperti ini, maka ia dengan mudahnya menemukan mayat tergeletak tak berdaya. Bagi seorang anak, tentu hal itu akan sangat mengerikan. Saat pulang dari stasiun tadi, Rafa bahkan bertemu dengan beberapa regu penanganan Ex-0 yang membawa orang tewas setelah bunuh diri dari jembatan layang. Dalam beberapa hari terakhir setlah Ex-0 kembali melonjak, pemandangan orang tewas seperti itu bukanlah hal yang aneh lagi. Semakin hari semakin banyak orang yang terbiasa dengan hal tersebut. Meskipun pemerintah sudah menutup akses ke jembatan dan melarang banyak kendaraan yang lewat, tapi masih saja banyak korban tewas akibat bunuh diri sembarangan di tempat umum. Orang-orang yang bunuh diri itu punya segala cara untuk menjatuhkan diri dari jembatan meskipun aksesnya sudah ditutup. Mereka bahkan tak segan untuk berjalan ke tengah jalan dengan harapan ada kendaraan yang menabraknya. Bahkan kalau dihitung, pasti sudah ada banyak orang yang nekat menceburkan diri ke sungai atau laut tanpa diketahui orang lain sebagai upaya bunuh diri. Segala hal yang dilakukan polisi untuk membatasi mobilisasi masyarakat seakan sia-sia saja akibat masih banyaknya orang bunuh diri. Masyarakat yang tidak terpapar oleh Ex-0 pun semakin hari semakin berani ambil risiko saja. Mereka rela mempertaruhkan nyawa dan melihat pemandangan orang tewas di tempat umum demi sesuap nasi. Tanpa bekerja, orang-orang seperti itu tak mampu bertahan di kondisi pandemi seperti sekarang. Keluar rumah adalah jalan terbaik meskipun nyawa yang jadi taruhan. Parade kematian Ex-0 masih terus berlanjut. Setiap orang berusaha meninggalkan dunia dengan caranya sendiri. Dari beberapa kru lab yang bekerja sama dengan Rafa untuk membuat Vaksin Hektovac ini, sudah ada hampir dari 30% yang tewas akibat terkena Ex-0. Dokter Hutson yang kemarin dinyatakan kritis pun meninggal dunia saat akhir November lalu. Kematiannya itu membuat pukulan terbesar bagi mereka semua, terutama Hetalia. Rumah Sakit Utama penanganan Ex-0 itu bahkan ditetapkan sebagai zona hitam agar tak sembarang orang bisa berkunjung ke sana. Berdasarkan apa yang Rafa dengar, sekarang Hetalia tidak menerima lagi pasien dengan penyakit umum. Sejak awal Desember lalu, Hetalia telah bertransformasi menjadi rumah sakit khusus Ex-0. Pasien dengan keluhan penyakit umum akan dialihkan ke klinik atau pun rumah sakit daerah agar bisa mendapat perawatan yang maksimal. “Sebenarnya apa maksud dari pertanyaan Profesor Jack tadi? Kenapa ia bertanya seperti itu padaku dan Tuan Adam Hillary?” gumam Rafa seorang diri. Pemuda ini tak habis pikir dengan sikap Profesor Jack yang masih sama sejak dulu. Ketika Rafa dan Adam Hillary sedang membahas suatu hal tadi, profesor jangkung dengan darah campuran Eropa itu menghampiri mereka dan bertanya demikian. Rafa pun menanyainya balik, pemuda ini bingung dengan apa yang dimaksud oleh profesornya. Meskipun begitu, Jack Hannes justru tertawa dan berlalu pergi seraya menyuruh pemuda tersebut untuk mencari tahu sendiri. Profesor itu benar-benar aneh dan eksentrik seperti biasanya. “Tunggu dulu.” Rafa berhenti mengusap rambutnya. Mata hijau pemuda itu berbinar. “Apakah pertanyaan dari Profesor Jack tadi ada hubungannya dengan dia yang ingin membahas bangsa Eropa denganku?” “Tapi, apa hubungannya coba?!” Pemuda itu berteriak dengan penuh frustrasi. Ia memasuki kamar tidurnya dan menyampirkan handuk yang digunakan untuk mengeringkan rambut tadi di belakang pintu. Ketika Rafa ingin duduk di kursi belajar, suara bel pintu terdengar. Alis pemuda berambut coklat itu mengernyit heran. Ia melirik ke arah jam yang saat ini menunjukkan pukul 10 malam. “Siapa yang berkunjung jam 10 malam begini?” Dengan menggerutu, Rafa kembali keluar dari kamarnya dan berjalan menuju pintu utama. Ia membuka kunci lalu menemukan lima orang laki-laki lain yang kini sedang tersenyum tak berdosa ke arahnya. Rafael Zohan seketika menatap datar ke arah mereka semua. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, pemuda itu kembali menutup pintu dengan cepat. “Woi Rafa! Izinkan kami masuk!” “Rafa tolong buka pintunya! Kami mengaku salah!” “Tidak ada satu tempat pun yang buka malam ini, bahkan polisi berpatroli dengan membawa banyak pasukan!” Pemuda bermata hijau itu hanya bisa merengut kesal di balik pintu yang terus digedor tersebut. Ia berdiri menghadang pintu sembari menghela nafas panjang. “Lalu apa peduliku? Cari hotel sana di luar biar dikira homo sekalian!” gerutu Rafa. Kini bukan lagi suara Ardi, Rino, maupun Hendra yang terdengar melainkan Beni dan Dika yang juga ikut-ikutan memohon agar pintu apartemen ini dibuka. Kedua dokter koas itu sepertinya ikut ke sini karena rencana acara tahun baru mereka harus gagal. “Rafa, ayolah. Kalau terus-terusan di luar, maka polisi bisa menangkap kami!” Beni berteriak dengan nada ketakutan. Alis Rafa mengernyit. Ia melirik sekilas ke pintu yang ditutupnya tadi. Dengan nada suara yang sangat dingin, pemuda ini berujar, “Apa maksudmu?” Dika tampak membalas pertanyaan dari Rafa itu dengan nada suara yang agak gugup. Kesan ketus dan garangnya entah kenapa sirna begitu mendengar nada suara Rafa yang sangat tidak enak. “K-kau tahu bukan kalau polisi terus berjaga saat tahun baru? Kami ketahuan dan sedang diburu sekarang.” Ardi yang berada di samping Dika pun hanya bisa mengangguk. “Kalau kami semua dibawa oleh polisi lalu tugas pekerjaan besok bagaimana? Tidak mungkin kami bisa pergi ke lab atau pun rumah sakit, bukan?” Untuk sesaat, kelima pemuda di luar ruang apartemen yang dikhususkan untuk mahasiswa tenggara itu tak mendengar suara sahutan apa pun dari Rafa. Pemuda itu tampaknya terdiam untuk jangka waktu yang lama. Mereka pun hanya bisa saling pandang sambil meneguk ludah kasar. Habis sudah. Mereka akan tamat kalau sampai polisi yang mengejar tadi sampai ke apartemen ini. Kelimanya hanya bisa harap-harap cemas seraya berdoa agar Rafa memiliki belas kasihan saat ini. “Kalian tahu bukan kalau ini hanya apartemen, tidak mungkin ada enam orang di sini. Memangnya kita mau saling menularkan Ex-0 di tempat ini? Aku tidak mau menjadi mayat di sini.” Suara ketus dari Rafa itu membuat kelimanya mengernyit heran. Semarah-marahnya Rafael Zohan, biasanya pemuda itu tak pernah ketus seperti sekarang. Beni pun inisiatif menjawab ucapan tersebut. “Bukankah apartemen ini cukup besar sampai punya empat kamar? Aku dan Dika akan tidur di luar. Lagi pula kami berdua sudah melakukan sterilisasi kok, jadi tidak perlu khawatir.” Rafa terdiam. Hal itu sontak membuat kelima pemuda tadi langsung meneguk ludah kembali. Hendra yang khawatir kalau polisi tadi segera tiba di sini pun akhirnya berinisiatif untuk membujuk Rafa. “Rafa, ayolah. Dengarkan kami. Apa yang dikatakan Dika dan Beni tadi benar. Mereka bisa di luar nanti, yang terpenting untuk sekarang adalah kuai bisa mengizinkan kami masuk agar tak ditemukan oleh polisi,” ujar mahasiswa farmasi tersebut. Rino yang berada di sampingnya mengangguk. “Kami berjanji akan menurutimu lagi setelah ini. Kami bertiga sangat menyesal atas kejadian ini.” Dengan enggan, Ardi pun akhirnya mengakui kalau apa yang telah diperbuatnya kali ini adalah kesalahan fatal. Ia telah memprovokasi Rino dan Hendra untuk mau melakukan perayaan tahun baru bersamanya, tapi yang terjadi malah seperti sekarang. “Kami sangat menyesal dan berjanji tak akan melakukan ini semua.” Diam lagi. Selama lima menit setelah Ardi berkata demikian, tak ada suara lagi dari Rafa. Kelima pemuda yang sudah tegang berdiri di luar tersebut langsung menghembuskan nafas lega tatkala terdengar suara pintu terbuka. Tanpa memandang ke arah mereka, Rafa pun berucap, “Ayo, segera masuk.” Langsung saja, perkataan tadi membuat senyum kelima pemuda itu merekah. Mereka saling pandang dengan bahagia sebelum berjalan masuk ke apartemen ini. Meskipun perayaan tahun baru yang telah digagas oleh Ardi sebelumnya kacau, tapi rasanya tak buruk juga menginap di tempat yang sama selama satu malam. Suasana yang ada di apartemen ini entah kenapa mengingatkan mereka tentang kegiatan kemah saat SMA dulu. Benar-benar terasa hangat. Ardi, Rino, Hendra, Beni, dan Dika pun akhirnya saling duduk di ruang tamu. Rafa yang melihat mereka pun menghela nafas panjang lalu berjalan menuju kamarnya. “Eits!” Dika langsung berteriak sembari berjalan menghampiri pemuda bermata hijau itu. Alis Rafa berkedut. Dari sudut mana pun, sudah jelas kalau pemuda ini tengah emosi sekarang. “Apa lagi ... ?” “Kua tidak mungkin tidur sekarang kan? Sini. Kita duduk dan mengobrol dulu sampai tengah malam nanti,” ucap Dika seraya tersenyum lebar di balik masker yang ia kenakan. Teman-teman Rafa lainnya yang saat ini duduk di sofa pun langsung mengangguk setuju. Di antara keenam pemuda yang berada di ruangan apartemen ini, Rafa adalah satu-satunya orang yang tidak mengenakan masker. Bagaimana pun juga, dirinya tadi seorang diri di sini. Kehidupannya yang damai dikacaukan oleh kedatangan mereka. Melihat tatapan teman-temannya yang memelas itu, Rafa pun menghela nafas begitu panjang. Ia akhirnya menuruti apa yang mereka mau dan berusaha mungkin untuk meredam emosi saat ini. Yah, bagaimana pun juga, tak salahnya kalau ia bersenang-senang sebentar sampai tengah malam nanti bukan? Rafa tersenyum simpul secara diam-diam tanpa diketahui oleh siapa pun. Dalam hati, pemuda itu bersyukur. Ia sebenarnya juga kangen dengan suasana santai bersama teman seperti ini. Semoga saja malam tahun baru kali ini lebih indah dari biasanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN