Chapter 53 - Nama

1683 Kata
“Kenapa kalian bisa dikejar-kejar oleh polisi?” tanya Rafa sembari mengambil es teh yang dibawa oleh Rino beberapa saat lalu. “Kenapa pula hanya Dika dan Beni di sini? Dokter koas lainnya tak ikut?” Dalam hatinya, Ardi yang mendengar pertanyaan tersebut hanya bisa menorehkan senyum tak habis pikir. Dasar Rafa ini, malu-malu kucing. Di luarnya saja ia marah ketika Ardi meledeknya, namun si mata hijau itu justru mencari kesempatan untuk menanyakan Alexa dengan dalih memakai nama dokter koas lain. Ada-ada saja dia. Kini Rafa yang merupakan ketua dari tim mahasiswa tenggara tersebut sudah ikut duduk bersama yang lain. Dika yang membujuknya untuk tidak memasuki kamar tadi pun sudah duduk di sebelah mahasiswa mikrobiologi tersebut. Mereka duduk santai dan berbincang bersama. Keenamnya saling duduk di sofa ruang tengah ini kecuali Ardi, Beni, dan Rino yang lesehan di karpet putih bawah sofa. Rino yang menaruh gelas-gelas es teh itu sontak menggeleng. “Ceritanya begitu panjang. Dokter koas lain tak jadi ikut karena mereka dapat jadwal jaga mendadak.” “Apa yang dikatakan Rino itu benar. Aku dan Dika sangat beruntung hari ini karena bisa mendapat jatah jaga pagi tadi, jadi kami bisa datang ke sini.” Beni mengucapkan itu seraya tersenyum lebar. Ia mengambil ponsel dari sakunya dan melakukan selfie bersama mahasiswa tenggara ini. Dalam hatinya, ketua dari tim dokter koas Hetalia tersebut tersenyum girang. Akhirnya ia punya kesempatan untuk balas dendam kepada Ais, Alexa, dan Maria. Kapan lagi ia dan Dika bisa bersantai seperti sekarang? Beni pun membagikan momen santai kali ini pada ketiga gadiss itu agar mereka merasakan apa yang dinamakan oleh iri dan dengki. “Kalau soal polisi tadi, sebenarnya itu kesalahan kami karena terlalu santai,” sahut Hendra. Ardi yang mendengar itu sontak mengangguk. “Tempat janji kita itu kan awalnya di Taman Adiyasa, namun bukannya cepat-cepat pergi dari sana, kami justru santai mengobrol. Akhirnya, kami pun diburu oleh polisi sampai ke depan apartemen. Oleh karena itu, kalau kau tak cepat-cepat buka pintunya tadi, maka habis sudah nasib kita.” Ketiga teman Rafa dari Universitas Tenggara ini benar-benar merasakan apa yang dinamakan karma karena telah menentang keputusannya hari ini. Untung saja sekarang Rafael Zohan sama sekali tak memiliki energi untuk marah-marah pada ketiga orang itu. Ia sudah cukup marah ketika di stasiun tadi. Pemuda bermata hijau tersebut hanya bisa berharap kalau kejadian ini bisa menjadi pelajaran bagi mereka bertiga. “Lagian kalian ini yang aneh-aneh. Merayakan tahun baru apanya? Kalian itu dokter dan pegiat kesehatan loh. Masa iya ingin memberikan contoh buruk?” tanya Rafa dengan malas. Ucapan Rafa tersebut sontak dibalas dengan senyum kikuk oleh mereka bertiga termasuk Beni dan Dika yang berstatus sebagai dokter koas. Pemuda bermata hijau ini kembali menghela nafas melihat reaksi itu. Tak ada gunanya memarahi orang-orang keras kepala seperti ini. Pemuda itu pun mengambil remot TV yang tergelatak begitu saja di meja kecil, tempat Rino meletakkan gelas es teh tadi. Rafa menyalakan televisi dan memilih-milih saluran yang menurutnya menarik. Mata hijaunya kali ini melirik ke arah teman-temannya yang sedang sibuk mengobrol. “Jadi, apa rencana pengganti kalian untuk acara tahun baru malam ini?” tanya pemuda itu. Dika yang duduk di samping Rafa langsung mengendikan bahu. Dokter koas itu melirik ke arah Ardi yang tampaknya juga sama-sama bingung. “Entahlah, sepertinya kami akan bengong saja di sini. Tak ada salahnya menghabiskan malam tahun baru bersama kawan-kawan, kan?” Rafael Zohan tersenyum simpul begitu mendengar perkataan dari Dika tadi. Benar juga, mereka berenam telah menjadi teman baik sejak disatukan menjadi tim beberapa bulan yang lalu. Rafa bahkan tak mengira ia dan teman-temannya yang dulu selalu bertengkar dengan para dokter koas ini, terutama Dika, malah jadi teman karib seperti sekarang. Bahkan mereka berenam tak segan untuk menghabiskan malam tahun baru bersama dari pada dengan keluarga atau sahabatnya yang lain. “... Ini memang jadi topik bahasan hangat di negara luar. Meskipun begitu, banyak dari masyarakat Iranjia yang tak tahu kalau negeri ini jadi topik obrolan di seluruh dunia.” Suara dari saluran televisi kali ini tiba-tiba menarik perhatian Rafa. Ia yang hendak membalas ucapan Dika tadi bahkan langsung mengurungkan niatnya. Pemuda ini melebarkan mata tak percaya. Posisi duduknya yang membungkuk dan malas pun langsung berubah menjadi tegak karena terkejut mendengar hal tersebut. Mungkinkah ini yang dibahas oleh Profesor Jack Hannes ketika di lab siang tadi? Astaga, benar juga. Sudah berapa lama ia tak melihat televisi selama beberapa bulan terakhir sejak bekerja di lab terus-menerus? Rafa baru mengingat suatu fakta kalau dirinya sangat jarang melihat televisi sampai tak tahu info-info baru seperti yang dibahas di berita tersebut. Dengan tegang, pemuda itu membesarkan volume TV di depannya. “Karena kasus peningkatan Ex-0 yang signifikan di negara ini, membuat sebagian besar orang di luar negeri jadi memandang Iranjia. Apa lagi setelah mutasi zeta varian baru yang muncul di Iranjia kemarin mulai menyebar ke negara lain, dunia akhirnya semakin memusatkan perhatian ke sini.” “Oi Rafa, kau ini kenapa?” Rino yang duduk di karpet paling ujung langsung menunjukkan muka kesal. “Kenapa menonton televisi sampai sekencang ini volumenya?” Rafa melirik ke arah pemuda dari jurusan psikologi itu. Dengan ekspresi tegang, laki-laki bermata hijau itu pun akhirnya menatap mereka semua satu per satu. “Tolong kalian semua diam dulu dan biarkan aku memperhatikan berita ini.” Reaksi tak biasa dari Rafa tersebut sontak membuat para mahasiswa tenggara dan dokter koas itu mengernyit heran. Mereka langsung memfokuskan diri ke arah televisi yang dilihat oleh Rafa dengan tatapan mata begitu tegang. “Hal yang paling mengejutkan adalah beberapa jam lalu, salah satu lembaga penelitian terkenal di Edelton menyatakan kalau virus Ex-0 ternyata merupakan hasil rekayasa genetik. Ada suatu oknum yang mengedit genom virus dari suatu patogen yang telah ada sejak beberapa puluh tahun lalu menggunakan teknologi CRISPR.” Di detik itu juga, mata Rafa melebar tak percaya. Ia tak salah dengar kan? Lelucon macam apa ini? Otaknya berputar dengan cepat seperti kaset rusak. Untuk sesaat, pemuda bermata hijau ini tiba-tiba teringat oleh perkataan Alexa dulu. “Hei Rafa, pernahkah kau berpikir bahwa virus ini dibuat oleh seseorang?” “Kau ini apa-apaan, Alexa? Bercandamu itu tidak lucu. Kau ini dokter. Kenapa percaya dengan ilmu cocoklogi yang beredar bebas di media sosial seperti itu? Sudah jelas bahwa virus ini berasal dari sapi jenis hereford di Negara Seraporl, negara tetangga kita.” “Aku hanya terpikirkan saja. Bagaimana kalau teori itu benar? Mungkinkah pembuat virus ini punya tujuan atau motif tertentu di balik ini semua?” Mata Rafa bergetar hebat. Jantungnya sedari tadi terus berpacu dengan kencang. Ia menggelengkan kepala tak percaya. “Ini semua hanya lelucon bukan?” Sementara itu, Dika dan Hendra yang kali ini duduk bersebelahan juga langsung saling pandang dengan tatapan tak percaya. Si dokter koas dengan wajah ketus itu bahkan langsung berdiri dari posisi duduknya. Ia menunjuk ke arah televisi itu dengan pandangan tak percaya. “Ini semua pasti berita cocoklogi itu. Bukankah sudah jelas kalau virus ini bukan berasal dari buatan siapa pun melainkan suatu hal yang alamiah?!” Alis Dika menukik tajam ke arah Rafa yang masih memperhatikan berita tersebut. “Rafa, coba ganti saluran yang lain. Berita ini pasti berita bohong.” “Woi, Dika!” Rino yang duduk di karpet paling ujung pun langsung berteriak kesal. “Bisakah kau diam terlebih dahulu dan dengarkan isi berita itu sampai akhir?!” Hendra yang sedari tadi jarang buka suara pun langsung memijit pelipisnya yang tiba-tiba pening. Pemuda dari jurusan farmasi tersebut menatap Dika yang berdiri di sampingnya. “Apa kau tak lihat, Dika? Ini adalah saluran televisi milik Liden TV. Kita semua tahu kalau Liden TV itu stasiun ternama yang tak mungkin menayangkan berita palsu atau pun cocoklogi. Aku juga tak percaya dengan berita ini tapi coba kita lihat terlebih dahulu,” ungkap Hendra sembari memegang pelipisnya. “Lembaga penelitian ternama dari Edelton yang menyatakan hal tersebut merupakan bagian dari Universitas Herminton yang kita kenal sebagai kampus yang memiliki predikat terbaik nomor satu di seluruh dunia. Dilansir dari media pers nasional di Edelton, penemuan hal tersebut disiarkan secara langsung melalui konferensi pers oleh jajaran ilmuwan di sana.” Semua orang yang berada di ruang tengah apartemen tersebut langsung melebarkan mata tak percaya begitu mendengar berita tadi. Layar televisi kali ini menampilkan dengan jelas cuplikan presentasi para ilmuwan yang menyatakan kalau virus Ex-0 ini merupakan hasil rekayasa genetik. Beni menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. Ketua tim dokter koas itu tak bisa menerima berita ini. “Siapa pun tolong katakan kalau ini semua bukanlah lelucon.” Sambil menggigit bibir bagian bawahnya, Ardi yang masih terus memfokuskan diri ke televisi itu langsung membalas, “Ini bukan lelucon, Bodoh. Mereka bahkan menyelenggarakan konferensi pers resmi.” “Berdasarkan konferensi pers itu, para ilmuwan di Universitas Herminton menyatakan bahwa sejak teknologi rekayasa genetik untuk menghasilkan tanaman transgenik dikembangkan oleh Ruben Royern dan Stand Leehen pada tahun 1943, teknik edit genom semakin ke sini menjadi lebih mudah. Jadi, tak aneh bila mendengar ada seseorang yang mengubah suatu genom organisme tertentu.” Detak jantung Beni terus berpacu. Meskipun ia tak bisa menerima fakta ini, namun rasanya aneh saja kalau ia masih tak percaya dengan berita tersebut. “Gila, ini Universitas Herminton yang mengumumkannya loh. Seberapa besarnya kita menolak, rasanya tak mungkin kalau universitas terkenal itu membual.” “Meskipun begitu, ada suatu hal yang menjadi sorotan saat konferensi pers yang diakan pukul tujuh malam waktu Edelton tersebut.” Baik mahasiswa tenggara maupun dokter koas yang duduk dengan ekspresi tegang itu langsung menoleh satu sama lain tatkala penyiar berita tadi menjeda suaranya. Detak jantung mereka berpacu tanpa ada alasan pasti. Informasi ini saja telah membuat keenam pemuda itu terkejut bukan main. “Jajaran ilmuwan dari Universitas Herminton itu mengungkapkan dugaan bahwa orang yang telah merekayasa organisme menjadi virus Ex-0 yang telah kita kenal sampai sekarang tengah berada di sini atau lebih tepatnya, negara kita, Iranjia.” Di detik itu juga, mata keenam pemuda tersebut melebarkan mata tak percaya untuk ke sekian kalinya. Lelucon macam apa ini? Apakah Edelton tengah menyalakan sumbu perang dengan Iranjia sampai menuduh negara mereka telah berbuat hal yang demikian? Lagi pula, orang gila mana di negara berkembang seperti Iranjia ini yang mampu menciptakan hal di luar nalar seperti itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN