“Kau sudah melihat berita tadi malam di Liden TV?”
“Itu bercanda bukan? Tuduhan mereka sama sekali tak masuk akal.”
“Hei, apa yang terjadi semalam? Aku tidur karena tidak ada perayaan tahun baru. Apa aku ketinggalan sesuatu?”
“Edelton benar-benar kelewatan sampai menjadikan Iranjia sebagai kambing hitam.”
“Benar sekali. Padahal Ex-0 itu pertama kali muncul di Seraporl. Mentang-mentang negara itu adalah sekutu Edelton, jadi mereka menuduh kita sebagai dalang di balik ini semua begitu?”
Alexa berdiri mematung. Hari ini ia pergi ke rumah sakit menggunakan kereta. Gadis itu berdiri karena kursi penumpang telah terisi penuh. Bagaimana pun juga, kursi-kursi dalam gerbong kereta ini diberi jarak satu sama lain sehingga penumpangnya pun terbatas. Bagi mereka yang tak bisa duduk di kursi, maka harus rela berdiri dengan posisi jaga jarak.
Gadis ini mengernyit heran. Kedua matanya terus melirik ke sana ke mari, ia memperhatikan beberapa pegawai yang sibuk mengobrol sejak tadi. Sebenarnya, apa maksud pembicaraan mereka itu?
Apa yang disiarkan Liden TV semalam? Alexa tak mampu melihat televisi karena tadi malam Hetalia kedatangan cukup banyak pasien Ex-0.
Mengapa mereka mengatakan kalau Edelton melakukan tuduhan ke negara ini? Apa maksud perkataan dari para pekerja yang mengatakan kalau Iranjia tengah dijadikan kambing hitam?
“Permisi, bolehkah aku bertanya?”
Alexa menatap seorang wanita yang berusia sekitar 40 tahun di sampingnya. Wanita berambut panjang dengan baju jas itu tampak menoleh ke arah Alexa yang berdiri tak jauh darinya. Melihat respons wanita tersebut yang menaruh perhatian ke arahnya, Alexa pun langsung tersenyum di balik masker yang ia kenakan.
“Aku sama sekali tak mengerti dengan apa yang kalian semua bicarakan saat ini. Apa ada hal yang terjadi?” tanya gadis dengan kemeja berwarna merah gelap tersebut.
Wanita itu tersenyum. “Oh itu, apakah tadi malam kau tak melihat televisi?”
Reaksi Alexa yang menggelengkan kepala itu langsung membuat wanita tadi mengangguk paham. “Tadi malam, Liden TV menyiarkan berita tentang acara konferensi pers yang diselenggarakan di Edelton.”
“Lalu apa yang salah dari konferensi pers tersebut?”
“Salah satu lembaga penelitian di Edelton yang menjadi bagian dari Universitas Herminton kemarin menyatakan kalau Ex-0 itu ternyata adalah rekayasa genetik buatan manusia. Di akhir konferensi pers, mereka juga menyebutkan bahwa ada dugaan kemungkinan kalau Ex-0 pertama kali dibuat di Iranjia.”
Di detik itu juga detak jantung Alexa seakan berhenti berdetak. Suara laju kereta yang keras ini seakan lenyap secara tiba-tiba dari pendengarannya. Telinga gadis itu seakan berdenging saat ini. Ia tak bisa mendengar apa pun untuk sesaat begitu otaknya menerima informasi dari wanita tadi. Dengan mata yang terus bergetar, Alexa teringat dengan ucapannya saat bertemu dengan Rafa pertama kali.
“Hei Rafa, pernahkah kau berpikir bahwa virus ini dibuat oleh seseorang?”
“Aku hanya terpikirkan saja. Bagaimana kalau teori itu benar? Mungkinkah pembuat virus ini punya tujuan atau motif tertentu di balik ini semua?”
Sial. Sial. Sial. Alexa mengumpat dalam hatinya untuk beberapa kali. Ia tak salah dengar kan? Apa-apaan ini? Gadis ini memang sempat berpikiran seperti itu, namun tetap saja. Ia tak bisa menerima kenyataan ini. Apakah Edelton sedang bercanda?
“Yang kutahu dari acara Liden TV semalam, saat ini Organisasi Persatuan Bangsa langsung meluncur ke Edelton untuk meminta keterangan dari pernyataan mereka itu,” ujar wanita yang memakai setelan jas tadi. Alexa yang sempat melamun pun langsung menatap serius ke arahnya.
Dari sorot mata pegawai wanita itu, ia terlihat jelas kalau tak terima dengan sikap Edelton. Wanita itu menatap Alexa serius lantas mengajukan opininya.
“Kalau dipikir-pikir lagi, tuduhan Edelton ini sama sekali tak mendasar. Mereka hanya mengatakan jika ada dugaan virus Ex-0 dibuat di Iranjia saat konferensi persnya berakhir tanpa mengucapkan alasan atau sepatah kata pun. Mereka langsung undur diri saja begitu. Padahal nyatanya, di negara ini pasti tak ada orang yang bisa membuat hal seperti itu bukan? Seluruh orang di dunia pasti tahu kalau Iranjia hanya negara berkembang biasa. Jenius gila mana yang bersembunyi di sini coba?”
Alexa merenung untuk beberapa saat. Separuh wajah gadis itu yang tertutup oleh masker tak bisa menunjukkan bagaimana ekspresinya sekarang. Ia menyentuh bagian dagunya dengan jari telunjuk dan jempol.
“Hal itu benar juga. Ini sama sekali tak masuk akal.”
Wanita itu menghela nafas panjang dan ini langsung mencuri perhatian Alexa. “Hahhhh, bagaimana pun juga, ini memang seperti lelucon. Meskipun begitu, kita tak boleh mengabaikan ini semua. Universitas Herminton adalah universitas dengan peringkat terbaik di dunia. Mereka tak mungkin salah melakukan penelitian, bukan?”
Mata hitam milik Alexa meredup. Gadis itu menatap lantai kereta yang dinaikinya saat ini. “Benar juga, apalagi Edelton adalah negara maju dan berpengaruh dalam catatan sejarah. Rasanya aneh kalau mereka mengatakan hal kontroversial seperti ini tanpa alasan.”
Kereta yang ditumpangi oleh Alexa dan para pegawai ini terus melaju dengan cepat menuju bagian jantung kota Distrik Pusat, di mana segala aktivitas pemerintah dan perkantoran berada di sana. Meskipun Ex-0 sedang dalam masa genting-gentingnya, Iranjia sama sekali tak memberikan libur atau cuti pada pegawai sipil yang bekerja di kantor pemerintahan.
Bagaimana pun juga, para pegawai sipil itu digaji dari pajak yang dibayarkan oleh rakyat sehingga mereka tak boleh cuti tanpa alasan yang jelas, terutama di saat pandemi seperti sekarang. Oleh karena itu, tak heran apabila gerbong kereta pagi yang dinaiki oleh Alexa kali ini terisi penuh. Gadis itu berangkat di jam yang bersamaan dengan waktu pegawai pergi ke kantor.
Alexa tinggal agak jauh dari lokasi Rumah Sakit Hetalia yang terletak di jantung kota. Ia pun harus naik kereta menuju tempat koas tersebut setiap harinya. Gadis itu terus melamun, pikirannya tengah ke mana-mana saat ini. Otaknya terus teringat akan Rafael Zohan yang sempat ia ajak bicara tentang virus Ex-0 yang kemungkinan hasil buatan manusia kemarin.
Dan sekarang, apa yang dipikirkan oleh Alexa itu telah terwujud. Bahkan kali ini, Universitas Herminton di Edelton-lah yang mengumukan hal tersebut. Namun tetap saja, ia sama sekali tak ingin kalau hal ini terjadi. Ini adalah mimpi buruk dan bertambah semakin buruk tatkala Edelton menuduh Iranjia sebagai dalang di balik semua ini tanpa alasan yang jelas.
“Nomor yang Anda hubungi saat ini sedang sibuk. Cobalah beberapa saat lagi.”
Telepon Alexa sedari tadi terus mengeluarkan nada yang sama. Gadis itu mengerutkan keningnya. Bukan ini yang ia inginkan, dirinya sama sekali tak ada niat untuk mendengar suara dari operator itu.
Alexa terus mencoba lagi dan lagi. Dalam diamnya, gadis itu terus berusaha sekuat tenaga menghubungi Rafael Zohan.
“Nomor yang Anda hubungi saat ini sedang sibuk. Cobalah beberapa saat lagi.”
“Nomor yang Anda hubungi saat ini sedang sibuk. Cobalah beberapa saat lagi.”
“Nomor yang Anda hubungi saat ini sedang sibuk. Cobalah beberapa saat lagi.”
Percuma, Alexa merasa usahanya untuk menghubungi Rafa sia-sia saja. Pemuda bermata hijau tersebut tampaknya sedang berbicara dengan orang lain dalam waktu lama lewat teleponnya. Tapi, ada satu hal yang membuat gadis itu bertanya-tanya. Di jam-jam pagi seperti ini, siapa yang tengah dihubungi oleh Rafa dari tadi?
“Mungkinkah, laboratorium Rafa tengah sibuk hari ini akibat pernyataan dari Edelton tadi?” gumam Alexa. Tangannya yang menggenggam telepon langsung terkulai lemas ke bawah.
Mata hitam Alexa menerawang jauh sambil melihat beberapa pegawai lain yang berdiri dan duduk di sekitarnya. Ketika gadis itu tak sengaja menangkap seorang pria yang tengah membaca koran dengan matanya, sekelebat ide langsung menghampiri Alexa. Benar juga, kalau dia tak bisa melihat siaran televisi malam tadi maka Alexa akan berusaha membeli koran di stasiun. Pasti ada suatu hal yang bisa ia dapat dari sana.
Lagi pula, mustahil kalau berita semalam tak jadi bahan obrolan hangat para penduduk hari ini. Presiden Rika pasti akan segera ambil tindakan dan mengeluarkan pernyataan resminya melalui staf kepresidenan. Siapa yang akan menyangka jika tanggal 1 Januari ini di mana seluruh penduduk berharap akan ada perubahan yang lebih baik justru hal buruklah yang terjadi pada Iranjia?
Sementara itu, di sisi lain beberapa orang terus berlari ke sana ke mari. Ruangan serba putih dengan banyak kaca tersebut tampak begitu sibuk sejak jam lima pagi tadi. Semua orang yang harusnya tiba pukul delapan justru dipanggil untuk datang pukul lima hari ini. Orang-orang berjas putih lab itu tengah berusaha keras untuk membuktikan kebenaran dari apa yang dikatakan oleh lembaga penelitian Edelton kemarin malam.
Rafael Zohan yang merupakan bagian dari laboratorium itu juga tampak sibuk sejak tadi. Ia membawa beberapa tumpukan berkas di kedua tangannya sembari menelepon seseorang. Karena kedua tangannya tak bisa dipakai, pemuda itu menaikkan bahu sebelah kananya agar bisa memegang telepon dan mendekatkan benda kecil itu ke telinganya.
“Aku sama sekali tak tahu, Ibu. Berita ini juga baru aku dapatkan tadi malam. Orang-orang di sini langsung heboh. Bagaimana dengan Jesai? Apakah di sana juga terus membicarakan Iranjia?”
Bukan hanya Rafa saja, seluruh profesor kenamaan yang saat ini tengah berada di laboratorium bawah tanah milik Universitas Tenggara itu tak henti-hentinya menerima telepon dari banyak orang. Gelar profesor mereka bukanlah sandangan nama belaka. Profesor yang saat ini bekerja dalam proyek Vaksin Hektovac ini adalah orang-orang jenius yang sudah ahli dan dikenal oleh banyak orang sehingga tak heran apabila mereka memiliki banyak kenalan dari luar negeri.
Profesor-profesor di luar negeri sana tampaknya menghubungi mereka untuk memastikan kebenaran dari pernyataan Edelton semalam. Apakah benar kalau Ex-0 itu dibuat di Iranjia?
Berita akan konferensi pers yang diadakan oleh lembaga penelitian yang masih merupakan bagian dari Universitas Herminton kemarin langsung merebak ke seluruh dunia. Seluruh masyarakat di negara-negara lain juga terus membicarakan hal ini. Padahal dalam beberapa minggu terakhir ini, citra Iranjia tengah buruk akibat kemunculan mutasi baru dari varian zeta yang berasal dari sini.
Pernyataan dari Edelton itu pun langsung membuat nama Iranjia melambung dan orang di luar negeri yang tak tahu negara ini pun sontak penasaran. Kenapa bisa ada orang jenius gila yang bersembunyi di negara berkembang tersebut?
Adam Hilary yang merupakan ketua penyelenggara dan penanggung jawab dari proyek ini pun tak kalah sibuk sejak tadi. Ia terus berdua bersama Rino Falderon yang merupakan rekan seuniversitas Rafa dari jurusan psikologi. Bukan rahasia lagi kalau Rino itu memiliki banyak koneksi ke publik figur dan orang-orang penting di negeri ini. Adam pun juga tak tahu kenapa anak itu bisa memilikinya. Dengan bantuan dari Rino itulah, ketua dari Sepkai Farmasi tersebut sekarang bisa meminta keterangan dari pemerintah terkait pernyataan kemarin.
Di lain sisi, Jack Hannes hanya bisa duduk diam di salah satu kursi. Mata hitamnya menerawang jauh dan ia terus melamun sembari memandang orang-orang di sini yang begitu sibuk sejak tadi. Profesor nyentrik yang seusia dengan Dokter Deva itu tampak santai saat ini dan tidak mondar-mandir seperti profesor yang lainnya.
Meskipun begitu, pikiran Jack Hannes saat ini tengah melayang ke mana-mana. Hatinya tengah panas. Alis profesor itu pun jika lebih diperhatikan akan terlihat menukik kesal sejak tadi. Batinnya terus berteriak.
Apa yang sebenarnya terjadi saat ini? Edelton menuduh Iranjia telah bertanggung jawab atas semua kekacauan bunuh diri masal ini begitu? Apakah mereka sudah gila?