*Happy Reading* "Masih belum nyerah dia?" Intan melirik Pak Vino yang sedang menemani Papa bermain catur di sofa, saat mengunjungiku siang itu. "Begitulah," desahku lelah. "Lo gak usir?" Intan kembali bertanya. "Udah berbusa mulut gue, Tan. Tapi ya ... gitu, deh." Lagi, aku membuang napas dengan berat. "Ego cowok, Tan. Makin ditolak, makin keukeuh." Nurbaeti menimpali seraya asik mengunyah kwaci yang di bawanya. Akan tetapi, benar juga sih yang dikatakan si gemoy ini. Salah satu alasan dia keras kepala sama aku juga karena penolakan aku kali, ya? Namanya sultan biasanya kan apa bae gampang dapaetin maunya? Nah, sama aku malah ditolak. Makanya egonya tercubit. Begitu, kan? Tapi ... ya kali aku harus pura-pura nerima biar dia melepaskan aku. Ih, gak banget. "Tapi, emang lo gak cape

