Daniel duduk dengan tatapan mata kosong. Ia sama sekali tak bicara, tubuhnya ia sandarkan pada sandaran sofa. Tidak lama kemudian Arbbeto, Dante dan Dilsa datang dengan wajah yang tak kalah panik. "Dan!" ucap Arbetto. "Kak Daniel?" gumam Daisy menutup mulut tak percaya melihat kondisi kakaknya yang seperti patung hidup, tetapi tidak bergerak sama sekali. Sementara Dante menarik napas sedalam mungkin. Ini kedua kalinya Dante melihat sang kakak hancur dalam hidupnya. Dulu, saat kehilangan istri pertamanya Daniel tak hanya hancur, tetapi juga merasa tak ingin hidup dan ingin menyusul sang istri. Selama sepuluh tahun ia menepi, mencoba melupakan semua kenangan dan rasa sakit yang dirinya rasa. Sekarang, kedua kalinya ia harus merasakan kehilangan yang teramat sangat menyiksa dan membua

