Bab 7. Keluar kota

1035 Kata
"Kamu tinggal sendiri?" Daniel menutup pintu mobil. Lelaki itu menelisik area apartemen Daisy yang tampak sepi. "Iya, Pak. Ada tetangga sebelah," jawabnya. "Bapak tunggu di sini aja, saya mau ambil barang sebentar." Daisy berucap sambil melepaskan heelsnya. "Emang saya nggak ditawarin masuk?" Kening Daniel mengerut. Kadang dia heran dengan sosok Daisy yang terlihat begitu cuek. Gadis itu tidak neko-neko dan tidak berusaha mencari perhatiannya seperti karyawan wanita lainnya. Daisy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sebenarnya bersama Daniel seperti mencekik lehernya kuat, Daisy takut jika lelaki itu mengingat wajahnya. Untung saja mereka berdua dalam pengaruh alkohol sehingga Daniel tidak ingat wajahnya. Walaupun begitu, Daisy tetap was-was, dia tidak mau membuat Daniel mencurigai gerak-geriknya yang tak biasa. "Iya udah deh, saya nunggu di sini aja." Daniel melipat kedua tangannya sambil bersandar di daun pintu mobil, lelaki itu terlihat kecewa. "Ayo masuk, Pak. Saya bikinin kopi," ajak Daisy. Keduanya masuk ke dalam lift. Apartemen Daisy berada di lantai paling atas. Gadis itu memang memilih pergi dari rumah daripada harus terus diledek oleh ibu dan kakak tirinya, apalagi Evan dan Lia sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan. Demi mengamankan jiwanya tetap waras, Daisy memilih menepi. Sebab, tak ada orang yang baik-baik saja ketika melihat orang yang dia cintai bahagia bersama orang lain. Begitu juga dengan Daisy yang memilih pergi dari kehidupan Evan. "Masuk, Pak," ucap Daisy. Daniel membalas dengan anggukan kepala. Lelaki itu bergidik ngeri melihat suasana apartemen yang tampak berantakan. "Hehe maaf, Pak, saya belum beres-beres." Daisy mengambil bekas bungkus makanan di atas meja. "Kamu ambil barang-barang kamu. Waktu kita nggak banyak!" Daniel duduk di sofa sembari melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Daisy mengambil dengan cepat barang-barangnya. Ia tidak mau membuat boss besar itu menunggu. Bisa-bisa gajinya dipotong, masa percobaannya masih satu bulan lagi. Jangan sampai dia gagal mendapatkan gaji 30 juta sebulan. Bukan apa, cicilan apartemen ini harus dibayar tepat waktu setiap bulannya, kalau lewat dari tanggal jatuh tempo, maka akan mendapatkan denda. Keduanya kembali masuk ke dalam mobil. "Kita langsung, Pak?" Daniel membalas dengan anggukan kepala. Lalu Daisy menjalankan mobilnya meninggalkan apartemen. "Kamu benar-benar tinggal sendiri?" Daniel masih penasaran. Sudah dua bulan Daisy menjadi sekretarisnya, tetapi dia tidak tahu latar belakang gadis ini. "Orang tua atau saudara kamu ke mana?" Entah kenapa Daniel merasa begitu penasaran dengan sosok sekretaris judesnya, tetapi selalu bisa diandalkan dalam segala hal. "Jauh, Pak," jawab Daisy singkat padat dan jelas. Tak ada lagi pertanyaan, mendengar jawaban Daisy yang begitu singkat. Daniel memahami bahwa gadis ini tidak ingin kehidupannya diketahui oleh Daniel. Tidak lama kemudian ponsel lelaki itu berdiri. Lelaki itu mendesah pelan melihat nama yang tertera di sana. Siapa lagi kalau bukan sang ibu yang terus mendesaknya untuk menikah. Tatkala wanita itu mengenalkan anak rekan bisnisnya pada Daniel. Namun, hingga kini belum ada gadis atau wanita manapun yang seusai dengan kriteria dirinya. Dia masih terjebak dengan cinta almarhum sang istri. Akan tetapi, saat ini pikiran Daniel hanya terfokus pada gadis malam itu. Bayangan gadis itu terus terngiang di kepalanya, tetapi sayang dia sama sekali tidak mengingat wajah gadis yang menghabiskan malam dengannya itu. "Hufh, setiap dekat pak Daniel gue ngerasa napas gue tersedak," batin Daisy. Daniel menutup panggilan teleponnya, beberapa kali lelaki itu menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia tampak frustasi dan mengusap wajahnya kasar. "Sy!" panggilnya. "Iya, Pak? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Daisy menoleh ke arah Daniel. "Setelah meeting selesai, kita langsung ke Bandung ke acara nikahan keponakan ibu saya," ucapnya. "Baik, Pak." Daisy membalas dengan anggukan kepala. "Satu lagi..." Daniel lagi-lagi mendesah. "Apa, Pak?" Huh, rasanya Daisy tak sanggup satu mobil dengan bossnya itu. Bayangan panas mereka masih terngiang di kepalanya. "Di sana ada acara catering, otomatis ketemu sama rekan-rekan kerja saya yang lain dan gadis-gadis yang bakal dikenalin ke saya," ujar Daniel. "Lalu?" "Kamu lakukan apapun supaya mereka nggak nempel sama saya. Bila perlu kamu ngaku sebagai pacar saya aja!" * * * Evan keluar dari mobil dengan wajah lemasnya. Jika bukan karena ponselnya yang sedari tadi terus berisik, lelaki itu begitu malas untuk datang ke sini. "Evan, kenapa sih kamu lambat?" protes seorang wanita paruh baya. "Mama dari tadi nungguin kamu," ujarnya. "Aku ada meeting, Ma," jawab Evan. "Lia nunggin kamu dari tadi," katanya. "Awas aja kalo kamu ambil kesempatan dekat sama Sisy," sambungnya kemudian. Evan tak menanggapi, lelaki itu duduk di kursi tunggu butik milik kakak sepupunya. Ia memijit pelipis beberapa kali. Melihat Daisy setiap hari di kantor dan begitu dekat dengan Daniel, rasanya membuat d**a lelaki itu sesak. Dia masih mencintai Daisy, perasaannya tak berubah sama sekali. "Kamu masih mikirin Sisy?" tanya Sonya — ibu kandung Evan. "Ingat ya, Evan, sebentar lagi kamu bakal nikah sama Lia, kamu nggak boleh mikirin w************n itu lagi!" tekan Sonya. "Ma!" tegur Evan. "Berhenti ngomongin Sisy wanita nggak benar. Semua nggak seperti yang Mama pikirkan," ujar Evan membela. "Alah, perempuan kayak gitu kamu belain," ketus Sonya menatap anaknya sinis. Evan berdiri dari duduknya. Hal ini lah yang membuatnya malas jika bertemu sang ibu, mereka pasti akan bertengkar. "Sejak awal Mama emang nggak suka sama perempuan itu. Kamu aja yang keukeh pertahanin dia," ujar Sonya. Tatapan matanya terlihat sinis dengan sudut bibir sebelah yang tertarik jelas. "Ma–" "Sayang!" Tampak Lia dan Melinda berjalan menuju kedua orang itu. Lisa memakai gaun pengantin yang membungkus tubuh indahnya. Hari ini mereka akan melakukan foto prewedding. "Lia, kamu cantik banget, Sayang!" Sonya berdiri menyambut calon menantunya itu. "Makasih, Tante." Lia tersipu malu. "Jangan panggil tante, panggil aja mama, kamu sebentar lagi jadi anak Mama," kata Sonya. "Evan emang nggak salah pilih kamu sebagai istrinya," ujarnya tersenyum bangga. Lia hanya tersenyum malu-malu. Namun, berbeda dengan Evan, lelaki itu sejak tadi diam saja dan menampilkan wajah datar tanpa ekspresi. "Evan, ayo kita ke studio!" ajak Sonya. "Duluan aja, Ma. Nanti aku susul," sahut Evan. "Sayang." Lia duduk di samping lelaki itu dan memeluk lengan Evan dengan manja. "Ayo, kita ke studio!" ajaknya memasang senyuman semanis mungkin. Evan bernapas kasar. Lalu dia berdiri dan menurut, walaupun sekarang dia sedang melakukan foto prewedding, tetapi hatinya tidak fokus sama sekali. Hanya ada Daisy yang sekarang memenuhi otak dan pikirannya. "Sy, aku minta maaf. Maafkan aku, Sy. Aku terpaksa. Semoga kamu mengerti suatu hari nanti, aku masih mencintai kamu, Sy. Sangat!" ucap Evan dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN