"Jadi pacar Bapak?" ulang Daisy menoleh ke arah bossnya itu.
"Saya rasa pendengaran kamu masih baik," sindir Daniel.
"Tapi, Pak..." Daisya mendesah pelan.
"Tapi, kenapa?" Kening Daniel mengerut. "Kamu punya pacar?"
Daisy menggeleng dengan cepat. "Nggak, Pak," sahutnya.
"Lalu?" Daniel tampak penasaran menatap Daisy yang terlihat ragu.
"Saya takut viral, Pak," sahut Daisy pelan.
"Viral?" Lagi-lagi Daniel tak mengerti melihat ekspresi Daisy.
"Bapak itu 'kan terkenal di kantor, gimana kalo saya malah digosipin godain Bapak?" Beban hidup Daisy sudah terlalu banyak, apalagi saat Evan mengkhianatinya.
"Ngapain harus peduliin kata orang? Nggak usah kamu pikirin," ujar Daniel.
"Iya, Pak," kata Daisy yang tak mau banyak beralasan.
Sejauh ini Daniel memang merasa bahwa Daisy adalah sekretaris yang berbeda. Hanya gadis ini satu-satunya yang tidak tertarik atau sekedar mencari perhatian dirinya. Apalagi Daisy memiliki potensi dan selalu serius dalam mengerjakan tugas dan tanggungjawabnya.
"Pak, kita langsung ke hotel, saya sudah menyewa dua kamar untuk kita menginap malam ini," ujar Daisy.
Daniel membalas dengan anggukan kepala, tetapi dirinya malah sibuk dengan iPad yang ada di tangannya.
"Kita cari makan dulu, saya lapar!" titahnya.
"Baik, Pak," sahut Daisy.
Perjalanan cukup jauh telah membuat mereka sampai di kota Bandung. Daisy menyunggingkan senyumnya, entah kapan terakhir dia menginjakkan kaki di kota ini. Jelasnya, banyak kenangan yang tertinggal di kota ini.
Daisy menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah restoran. Dia turun duluan dan membuka pintu untuk bossnya.
"Silakan, Pak!" ucapnya sopan, tetapi enggan menatap wajah Daniel.
Lelaki dingin itu membalas dengan anggukan kepala. Dia keluar seraya memperbaiki jasnya yang setengah bergeser.
Lalu mereka berdua berjalan masuk ke dalam. Banyak yang menatap Daniel dengan kagum, siapa yang tak kenal pengusaha muda dan kaya itu? Pria tampan kesayangan sejuta umat. Apalagi statusnya yang duda menjadi incaran banyak wanita. Namun, sejak kepergian sang istri dan calon anaknya, Daniel enggan membuka hati, kecuali pada gadis yang menghabiskan malamnya saat itu.
Daisy langsung memesan makanan untuk Daniel, sebab tanpa ditanya dia memang sudah tahu makanan kesukaan bossnya itu. Apalagi sudah bekerja dengan Daniel selama kurang lebih tiga bulan.
"Oh ya karena bulan ini, bulan ketiga kamu jadi sektretaris saya, maka kamu akan menerima gaji penuh. Kamu juga saya angkat jadi sekretaris tetap saya!" ujar Daniel memulai pembicaraan.
Yes, Daisy bersorak dalam hati. Akhirnya dia bisa merasakan gaji 30 juta sebulan. Setidaknya gaji Daisy hampir setara dengan Evan yang sombong tingkat provinsi itu.
"Makasih, Pak." Daisy tersenyum malu.
"Saya harap kamu udah paham job desk kerja kamu," ucapnya.
"Siap, Pak. Sejauh ini saya sudah paham," sahut Daisy.
Tidak ada yang buruk menjadi sekretaris Daniel. Lelaki menyeramkan yang begitu Daisy takutkan itu, ternyata tak semenyeramkan yang dirinya bayangkan. Namun, satu hal yang selalu Daisy jaga adalah menyembunyikan diri bahwa dia adalah gadis yang berbagi ranjang malam itu dengan bossnya.
Tak bisa Daisy bayangkan, bagaimana ekspresi Daniel nantinya jika tahu bahwa dirinya adalah wanita yang sudah membayar seorang Daniel dengan harga dua ratus ribu rupiah.
Senyum Daisy seketika memudar melihat siapa yang berada di meja tidak jauh darinya.
"Evan?" gumamnya. Bagaimanapun tak ada orang yang mudah bangkit begitu saja setelah patah hati.
Daniel mengikuti arah pandang Daisy.
"Siapa?" tanyanya.
"Hah?!" Daisy malah melonggo mendengar pertanyaan Daniel.
"Siapa yang kamu lihat?" tanyanya lagi. "Pak Evan?" Sebenarnya Daniel penasaran, ada hubungan apa antara Daisy dan Evan. Tatapan mata gadis itu menyiratkan sesuatu yang tak bisa.
"Nggak apa-apa kok, Pak," kilah Daisy.
"Sy!"
Kedua orang itu menoleh ke arah suara. Terlihat Evan dan Lia yang berdiri di samping meja mereka. Lia memeluk lengan Evan yang agresif, seolah sedang menunjukkan bahwa lelaki itu adalah miliknya.
"Hai, Sy," sapa Lia ramah, tetapi wajahnya tampak mengejek.
Daisy tak menjawab. Gadis itu malah diam saja tanpa peduli dengan sapaan kakak tirinya.
"Malam, Pak Daniel," sapa Evan.
"Malam, Pak Evan," balas Daniel. "Di sini juga?"
"Iya, Pak. Ada urusan," jawab Evan. Padahal dia dan Lia sedang melakukan pemotretan di sini.
"Bapak ini bossnya Sisy ya?" ujar Lia.
Daniel membalas dengan anggukan. Dia melihat Daisy yang cerewet diam saja.
"Sisy ini adik saya, Pak," ujar Lia. "Tolong ajarin dia dalam bekerja. Maklum anak mami, manja!" tuka Lia tersenyum tanpa dosa.
Kening Daniel mengerut mendengar ucapan Lia. Sementara Evan hanya bisa menarik napas sedalam mungkin. Daisy sama sekali tidak peduli, dia biarkan saja wanita berstatus kakak tirinya itu memfitnah dirinya.
"Sejauh ini kerja dia bagus!" puji Daniel. "Daisy bahkan mampu melewati masa training tiga bulan dan sekarang dia menjadi sekretaris tetap saya," jelas Daniel.
Lia mendengkus kesal ketika Daniel memuji adik tirinya, padahal niatnya adalah mempermalukan dan menjatuhkan adiknya itu.
Sementara Evan menyembunyikan senyum tipisnya. Ia memang yakin bahwa Daisy bisa diandalkan dalam segala hal. Mantan kekasihnya itu tak hanya pintar, tetapi juga cerdas dan memiliki banyak bakat.
"Oh saya kira dia nggak bisa kerja. Soalnya di rumah dia manja banget," ujar Lia tersenyum kikuk.
"Bukannya Daisy tinggal sendiri?" Daniel tampak heran, lelaki itu tetap fokus pada Daisy.
"Maaf, Pak, calon istri saya emang sedikit cerewet," sambung Evan menyela.
Lia mendengkus kesal karena mendengar ucapan Evan. Awas saja jika lelaki itu berani curi-curi pandang pada Daisy, dia akan memberikan perhitungan pada adiknya.
"Gimana kalo kita makan bersama aja?" tawar Lia.
"Nggak masalah," sahut Daniel.
Evan dan Lia ikut bergabung. Lia memang sengaja ingin menunjukkan pada adik tirinya itu bahwa Evan adalah miliknya.
Sementara Daisy memutar bola matanya malas. Jika awal-awal dia cemburu, kini malah terlihat jijik karena tingkah kakak tirinya.
Tidak lama kemudian pesanan mereka datang. Daniel sengaja bergeser agar dekat dengan sekretarisnya itu. Entah kenapa dia tidak suka wajah Daisy yang dingin dan cuek, ia lebih suka jika Daisy aktif dan banyak bicara.
"Kamu mau ini?" Daniel mengambilkan beberapa potong stik dengan potongan kecil-kecil.
"Makasih, Pak." Daisy membalas dengan senyuman kaku.
"Makan yang banyak, supaya kamu cepat besar," celetuk Daniel. Lelaki itu seperti sengaja membuat Evan dan Lia kesal.
"Hem, saya udah besar, Pak," protes Daisy tak terima.
Lagi-lagi Lia merenggut kesal karena melihat Daniel yang begitu akrab dengan Daisy. Dia tidak suka, pokoknya adik tirinya itu tidak boleh bahagia. Apalagi bisa mendekati pria-pria berpengaruh dan memiliki jabatan di sebuah perusahaan.
Evan hanya diam saja, sejak tadi tanpa sadar mantan kekasih Daisy itu mencengkram kuat sendok dan garpu di tangannya. Tak ada yang sadar, bahwa dadanya sedang bergemuruh hebat karena menahan cemburu.
"Apa pak Daniel suka sama Sisy? Kenapa dia perhatian banget? Apa bisa dia gantiin aku di hati Sisy? Apa Sisy udah nggak cinta sama aku lagi?"
Bersambung ...