Tidak Ada Pilihan Lain

755 Kata

“Bram!” seru Rama begitu sampai di depan ruang kerja sang ayah. Bram langsung membungkuk hormat sekilas sebelum menghalangi Rama untuk masuk. “Bram! Kenapa kalian tiba-tiba menyeret Nadine ke sini, hah? Apa yang Ayah pikirkan? Dia tahu Nadine sakit!” bentak Rama. “Maaf, Tuan Muda. Saya hanya menjalankan perintah. “Ah! Ayah! Buka pintunya! Bram! Minggir!” Teriakan-teriakan Rama terdengar sampai ke dalam ruangan. Membuat fokus kedua orang di ruangan tersebut pecah. Nadine menggigit bibir, resah karena di luar sana Rama seperti mengkhawatirkan keberadaannya di sini. Berbeda dengan Nadine, Handaru menyesap kopi dengan santai, memperhatikan setiap gerak-gerik Nadine. Wanita di hadapannya itu memang cantik, sama seperti saat pertama kali dia menginjakkan kaki di sini beberapa tahun yang lalu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN