“Kian!” seru Hana begitu Azka berjalan masuk, wanita itu menghampiri dengan penuh semangat. Namun, langkahnya terhenti begitu melihat raut wajah Azka yang suram. “Kian? Ada apa?” tanyanya khawatir, beberapa saat kemudian dia teringat dengan anak kecil yang dikatakan Azka. “Anak itu baik-baik saja, kan?” Yang didapatkan Hana adalah helaan napas berat dari Azka. Lelaki itu menjatuhkan diri ke sofa, disusul oleh Hana. “Semuanya baik-baik saj—“ Kata-kata Hana terhenti begitu Azka menyandarkan kepalanya di bahu Hana. “Aku benar-benar seorang teman yang jahat, Han,” ucapnya. Hana tidak mengerti, tetapi dia tetap diam, mendengarkan lanjutan kata-kata Azka. “Tadi aku ke rumah orang tua Reina karena beliau sebagai wali Gabriel, tetapi mereka tidak ada di rumah. ART di sana bilang orang tuanya sib

