“Ma, sebentar lagi kami akan menikah. Apa salahnya? Lagi pula kami tidak melakukan hal-hal di luar batas,” ujar Azka mencoba menenangkan ibunya yang sudah emosi. Kata-kata Azka semakin menyulut api di hati ibunya. “Menikah?” tanyanya lantang. “Bagaimana bisa kamu menikahi wanita yang bersuami? Di mana otakmu, Azka!” “Mama!” tegur Azka. “Sebentar lagi Hana dan suaminya akan bercerai, setelah itu Azka akan menikahinya. Jadi Mama tidak perlu khawatir.” “Bukan itu yang Mama khawatirkan, Nak.” Suara ibunya kini melemah. “Apa kamu tidak pernah memikirkan apa tanggapan orang-orang melihat kamu seperti ini? Kamu seorang guru yang harusnya memberi contoh baik bagi orang-orang, tetapi apa yang kamu lakukan sekarang tidak mencerminkan perilaku seorang guru, melainkan sampah masyarakat.” Hana yang

