Semuanya berlalu dengan cepat. Hubungan Hana dan Rama kini berjalan dengan mulus. Wanita itu terus saja menyunggingkan senyumnya. Ia bahagia, sungguh, meskipun hatinya masih terus saja memikirkan bagaimana kondisi Azka saat ini. “Bun, besok temani Ayah ke Jakarta, ya? Ayah mau ke tempat reuni.” “Wah, enak dong, bisa ketemu teman-teman SMA.” Rama tersenyum. “Makanya ikut, ya?” Wanita itu mengangguk. Kembali dia menyemprotkan pewangi ke pakaian lalu menyetrikanya. Pelukan hangat dari Rama membuat Hana menghentikan pergerakannya lagi. “Bun, ayo!” “Iya, aku pasti ikut kok. Tenang aja,” ujar Hana. Rama terkekeh. “Bukan ke tempat reuni,” bisiknya, “tapi bikinin dedek buat Ian.” Wajah Hana seketika memerah. Dia menyikut pelan perut Rama hingga membuat lelaki itu mengaduh pelan. “Ish, Mas,

