Azka menekan bel dengan pelan untuk yang ke sekian kalinya. Lelaki itu mengerut kebingungan saat mendapati Hana sama sekali tidak membukakan pintu untuknya. Padahal ia sudah berdiri selama hampir setengah jam, namun pintu itu belum menunjukkan si empunya akan membukakan. Saat ia berbalik hendak pulang, derit pintu membuatnya kembali membalikkan badan dan mendapati Ian yang tengah mengucek sebelah matanya lalu menguap. "Om Azka?" gumam anak itu. "Di mana Bunda? Dan ... kenapa kamu tidak ke sekolah?" Ian mengajak Azka masuk ke rumahnya lalu menutup pintu. Lelaki itu mengikuti langkah Ian menuju lantai atas, entah ke mana Ian akan membawanya. Setiap langkahnya pada anak tangga, Azka merasa was-was. Dia berharap tidak bertemu dengan Rama, karena jika itu terjadi, pertengkaran pastinya aka

