“Oke, sampai di sini pelajaran hari ini. Ingat, PR harus dikerjakan, ya? Bapak tidak terima alasan lupa mengerjakan atau lainnya. Paham?”
“Paham, Pak!”
Azka mengakhiri materi yang diberikannya di kelas enam. Lelaki itu mengemas buku-buku dan memasukkannya ke dalam tas. Setelah ketua kelas memimpin doa, para murid langsung berbaris untuk menyalami Azka sebelum pulang.
“Pak Azka, Riel boleh bicara sama Bapak?”
Azka yang baru saja keluar dari kelas kini menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke samping, Gabriel, keponakan Reina, kini berada di sampingnya. Anak lelaki itu memasang wajah datar seperti biasanya.
Azka mengangguk, ia segera mengikuti langkah Gabriel menuju taman belakang sekolah. Azka mengerutkan keningnya saat anak itu menghampiri seorang anak perempuan yang sedang duduk di bangku taman.
“Gabriel, dia ....” Azka menggantungkan kalimatnya saat anak perempuan itu berdiri dan berbalik. Azka bisa melihat matanya sembap. Azka segera mendekati anak itu. “Kamu kenapa?” tanya Azka lembut.
Masih dengan sesenggukan, anak itu mengarahkan telunjuknya pada Gabriel. Azka beralih menatap Gabriel dengan satu alis terangkat. “Gab, apa yang kamu lakukan padanya?”
Gabriel menggeleng. Azka mendesah, tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
“Pak Azka, Gaby jahat. Hiks, Gaby mau pergi.”
Kerutan di kening Azka semakin mendalam. Dia menatap Gabriel, meminta penjelasan. Gabriel menghembuskan napas. “Riel kan tidak lama, Lucy. Pasti pulang kok,” ujar Gabriel.
“Tapi Gaby sudah janji akan tanggung jawab!”
Azka melongo mendengar apa yang diucapkan anak perempuan bernama Lucy itu. Tanggung jawab? Tanggung jawab apa?
“Ga—“
“Tunggu,” sela Azka.
Lelaki itu kebingungan dengan permasalahan yang terjadi di antara kedua anak kecil ini. Pasalnya, tadi Gabriel mengajaknya ke sini untuk membicarakan sesuatu, namun Gabriel tidak bicara apa-apa selain berinteraksi dengan Lucy. Jadi intinya, fungsi Azka di sini untuk apa?
“Gabriel, tadi kamu mau bicara apa sama Bapak? Dan,” Azka beralih pada Lucy, “tanggung jawab apa yang kamu minta ke Gabriel? Apa yang dia lakukan?”
Gabriel diam, hanya Lucy yang kini menatapnya. “Minggu lalu Gaby cium Lucy, Pak,” cicit Lucy, wajahnya kini bersemu merah. Azka jadi ingat saat Reina datang ke sekolah.
Jadi ini anak yang dicium Gabriel.
Azka menilik Lucy, anak kecil itu manis, setiap ia bicara, lesung pipinya akan muncul. Bulu matanya lentik, dengan rambut hitam panjang yang bergelombang. Azka tidak perlu mencari tahu kenapa Gabriel menciumnya, anak itu pasti menyukainya.
“Hm ... bukannya Gabriel sudah dihukum?” tanya Azka.
Setahu lelaki itu, minggu lalu Gabriel disuruh lari keliling lapangan sebagai hukuman karena membuat Lucy menangis.
“Tapi, Pak. Itu saja tidak cukup! Gaby harus mau menikah dengan Lucy!” Azka ternganga dengan apa yang dikatakan anak itu.
Ia tidak percaya anak SD seperti Lucy meminta anak seusianya untuk menikah. Lelaki itu menggeleng tegas dan berkata, “Tidak boleh, Lucy.”
Bibir Lucy bergetar, tanda ingin kembali menangis. Bulir-bulir bening kini mulai berkumpul di sudut matanya. Melihat itu Azka berdecak. “Lu—“
“Kata Tante Reina, bibir Lucy sudah tidak suci. Jadi Gabriel harus menikah dengan Lucy, Pak! Pokoknya harus! Gaby juga sudah janji, Pak!” sela Lucy.
“Dengar Bapak dulu, ya,” ujar Azka. Dia meraih kedua anak itu dan mendudukkannya di bangku. Tidak habis pikir dengan Reina yang bisa-bisanya memberi pernyataan konyol pada anak sepolos Lucy.
Azka kemudian berjongkok di depan mereka. Matanya kini menatap Gabriel. “Gab, kamu sudah janji mau menikah dengan Lucy?” tanyanya.
Gabriel melirik Lucy sekilas lalu mengangguk dengan mantap. Hal itu membuat Azka speechless beberapa saat. “Jadi, kamu mau menikahinya sekarang?” Oke, Azka akui pertanyaannya sangat bodoh. Mana ada anak SD menikah?
Gabriel menggeleng, Azka jadi menghela napas lega. “Riel tidak akan menikah dengan Lucy sekarang, Pak. Tapi Riel janji, akan menikahi Lucy setelah dewasa nanti.”
Kian janji, Kian akan jemput Arin seperti Pangeran yang menjemput Cinderella kesukaan kamu.
Janjinya dua puluh tahun lalu kini membuat Azka tertegun. Janji itu ... apa Hana masih mengingatnya? Apa wanita itu masih menunggu agar Azka menepatinya?
“Tapi Gaby mau pergi! Gaby pasti lupa sama Lucy!” Suara tangis Lucy menyadarkan Azka. Lelaki itu kini berdiri. Mundur beberapa langkah dan memperhatikan kedua anak di hadapannya.
Gabriel dengan wajah cuek bebeknya dan Lucy dengan wajah polosnya. Mereka berdua sama seperti dirinya dan Hana dulu.
“Gab, kamu memangnya mau ke mana?” tanya Azka.
“Tidak tahu, Pak. Ayah yang meminta Riel untuk pindah sekolah.”
“Tuh, kan. Gaby pergi!” Kembali Lucy menangis.
Azka ingin tertawa melihat keduanya, namun juga sedih. Ini seperti kisahnya dan Hana.
“Riel pergi hanya sementara kok, Lucy. Riel janji akan menikahi Lucy.”
“Tap—“
“Begini,” potong Azka. “Lucy sudah tidak suka sekolah?”
Lucy menggeleng. “Suka, Pak. Lucy kan peringkat satu. Paling pintar di kelas. Mana mungkin tidak suka sekolah.”
“Nah, kalau begitu, kenapa Lucy mau menikah cepat-cepat sama Gabriel?”
Lucy terdiam. Azka melanjutkan, “Kalau Lucy menikah sekarang sama Gabriel, Lucy tidak bisa sekolah lagi. Lucy tidak dapat peringkat dan jadi murid tercerdas di sekolah. Lucy pasti tidak bisa membuat orang tua Lucy jadi bangga dengan kecerdasan Lucy. Paham, kan?” anak itu terdiam cukup lama. Mungkin sedang mencerna ucapan Azka.
Tidak lama kemudian, anak itu mendongak dan mengangguk. “Pak Azka benar juga, ya. Lucy tidak boleh menikah sekarang. Tapi, Lucy boleh kan menikah saat dewasa nanti?”
Baru saja Azka akan bicara, Gabriel dengan cepat berkata, “Boleh. Asal Lucy bisa jaga hati dan tetap menunggu Riel.”
Lucy seketika berbinar. Dia tersenyum. “Baiklah kalau begitu, Lucy akan menunggu Gaby.” Gadis itu segera berdiri. Ia lalu memeluk Gabriel dengan erat. Azka mengangkat satu alisnya, heran dengan anak zaman sekarang. Azka ingin menegur, namun Lucy sudah melepas pelukannya. Gadis itu kini menatap Azka dengan lembut. “Bapak jadi saksinya, ya. Kalau saat dewasa nanti, Gaby harus menikah sama Lucy. Kalau tidak, Lucy akan benci Pak Azka sama Gaby!”
Azka mengangkat satu alisnya mendengar ucapan Lucy. Tadi jadi saksi, kenapa harus ikut bertanggung jawab nantinya?
Azka berdeham lalu merogoh sakunya. Mengeluarkan ponselnya dari sana. “Karena hidup dan mati bukan kita yang mengatur, lebih baik kalian Bapak foto dulu. Nanti diprint biar kalian simpan masing-masing untuk kenang-kenangan. Bagaimana?”
Hal itu tentu saja diangguki dengan antusias oleh Lucy tentunya.
*
“Azka, kamu tahu tidak, kakakku akan bercerai.”
Malam ini, Azka dan Reina berada di dalam mobil menuju sebuah acara yang dibuat oleh Pak Bambang. Sebenarnya Azka malas ke tempat-tempat ramai seperti itu, namun kepala sekolahnya itu mengancam akan memotong gajinya, jika tidak hadir. Dan yang paling mengesalkan adalah, dia harus membawa pasangan.
Hal itu jelas membuat Azka kelimpungan. Bukan karena tidak ada yang mau jadi pasangannya, tapi karena orang yang ingin sekali digamit dan diperkenalkannya kepada semua orang tidak ada di sini.
Untung saja, Reina mewakili kakaknya lagi untuk menghadiri undangan dari Pak Bambang. Bicara tentang acara ini, Reina bersyukur karena Reisa, kakaknya, berteman dengan anak sulung Pak Bambang hingga ia bisa diundang ke acara ini dan bisa pergi bersama Kian walau tanpa memaksa lelaki itu.
“Azka, kamu dengar kan, apa yang kukatakan?”
Azka menoleh sekilas lalu kembali fokus ke ponselnya. Jalanan kini macet, entah ada apa di depan sana hingga mobil, bahkan motor pun tak bisa lewat.
“Kenapa cerai?” tanya Azka sambil lalu.
“Tidak tahu. Yang jelas, aku kasihan dengan Kak Reisa, hak asuh Gabriel jatuh ke Kak Haris.”
Azka terkekeh. Hal itu membuat Reina kesal. Bisa-bisanya Azka menertawakan apa yang diucapkannya. Apa Azka tidak punya perasaan kasihan sedikit pun?
“Kamu tidak sebaik yang kupikirkan, Azka.”
Ucapan itulah yang membuat Azka mendongak dan memfokuskan tatapannya pada Reina. “Maksudmu?”
“Aku tahu Az, kalau masalah kakakku tidak penting, tapi kamu harusnya tidak menertawakan mereka! Pura-pura peduli juga tidak apa-apa kok, asal kamu tidak tertawa di depanku!”
Azka mengangkat satu alisnya. Ia bingung dengan ucapan Reina. “Aku tidak menertawakanmu, Reina. Sama sekali tidak.”
Reina berdecak. Ia membuang pandangannya pada pada jalan raya. Kesal dengan Azka.
“Reina, kapan aku menertawakanmu?”
“Ba-ru-sa-ja!” ujar Reina dengan penuh penekanan.
Azka bingung, kapan? Ia bahkan tidak mendengar sepenuhnya apa yang dikatakan wanita itu. Getar ponsel kini membuatnya mengalihkan tatapannya pada Reina. Ia tersenyum melihat balasan pesan dari Hana.
Ya, setelah pertemuannya dengan Hana beberapa hari yang lalu, lelaki itu meminta nomor ponselnya agar mereka bisa berkomunikasi.
Arin My Princess:
Kamu tuh yang kebo! Aku baru saja selesai beres-beres rumah. :v
Me:
Ini sudah malam, loh, Rin. Bohong kan
Kian men-scroll chat-nya dengan Hana. Entah kenapa hanya dengan pesan w******p itu dirinya jadi bisa senang seperti ini. Tiba-tiba geseran tangannya terhenti. Ia menyadari sesuatu. Dia tadi terkekeh karena Hana mengirimkan emoticon monyet lucu dengan caption ‘mirip kamu’.
Dia segera menoleh pada Reina. “Kamu salah paham Reina. Tadi aku ketawa kare—“
“Tuh, kamu akhirnya mengaku, kan? Dasar!”
“Dengar,” Azka menjalankan kembali mobilnya karena kendaraan di depannya kini sudah bergerak, “aku tadi ketawa karena Arin mengirim emoticon monyet. Dan captionnya itu ‘mirip kamu’, lucu kan?”
Reina akhirnya menoleh menatap Azka. Ada sesuatu yang kini mengganggu pikiran wanita itu.
Arin? Arin siapa?
“Maksud kamu?”
Azka menghela napas. Sebenarnya ia malas menjelaskan untuk yang kedua kalinya, namun demi menjaga perasaan Reina akhirnya ia berkata, “Aku punya sahabat. Namanya Arin. Dia selalu saja berceloteh hal-hal konyol. Dia ....” Mengalirlah cerita Azka tentang wanita yang sangat dicintainya itu.
Azka menceritakan segala hal tentang Hana, mulai dari pertama kenal dengannya di sekolah dasar, pertama kali Azka membuka pintu persahabatan untuknya dan pertama kali ia jatuh hati pada wanita itu. Selama Azka bercerita, tak sedikit pun Reina menyela atau bertanya. Dia hanya diam mendengarkan.
Sesak di dadanya kian menjadi-jadi saat Azka mendeskripsikan seberapa dalam cintanya pada Hana. Setetes air mata kini meluncur di pipinya, dengan cepat Reina menghapusnya. Saat Azka bertanya kenapa, Reina beralasan kemasukan debu. Wanita itu tidak ingin Azka tahu kalau dirinya masih menyimpan rasa untuk Azka.
“Itu sebabnya aku menolak semua wanita demi dia, Reina. Termasuk kamu. Maaf, ya?”
Reina memasang seulas senyum meski matanya menyiratkan kepedihan. Tidak bisakah kamu tidak mengatakannya dengan jelas? Di sini sakit, Az. Sakit sekali!
“Tidak apa-apa, Azka. Lagi pula aku sudah punya Dimas.”
“Terima kasih, ya Reina.” Azka mengelus puncak kepala wanita itu dengan lembut.
Reina memejamkan matanya, menikmati rasa damai dan pedih yang menyerangnya saat ini. Damai akan perlakuan Azka yang selalu manis padanya dan pedih karena lelaki itu memperlakukannya hanya sebatas sahabat.