Lebih Baik Bercerai

1510 Kata
Saat masuk ke rumah milik Pak Bambang yang begitu mewah, Azka disambut dengan hangat oleh semua rekannya. Ya, lelaki itu memang paling mencolok di sana. Namun, bukan karena itu dia disambut begitu antusias tapi karena seseorang yang kini menggamit lengannya. Reina. “Wah, Pak Azka akhirnya bawa pasangan juga. Alhamdulillah,” celetuk Pak Burhan yang langsung diangguki oleh semuanya. Reina, wanita itu tersenyum kikuk. Jujur, dia baru pertama kali datang ke pesta formal seperti ini bersama dengan Azka. Ditambah dengan godaan teman-teman lelaki di sampingnya itu. “Rileks,” bisik Azka tepat di samping telinga Reina. Hal itu justru membuat Reina berdebar. Napas hangat lelaki itu membuatnya panas-dingin. Melihat perlakuan Azka terhadap wanita di sampingnya, Pak Burhan kembali berceletuk, “Bisik-bisik apa lagi Pak Azka? Tidak usah takut. Saya tidak berniat menggodanya. Tenang saja.” Azka berdecak. “Untuk apa takut? Jika memang Pak Burhan menggodanya, yang ada Reina yang akan ketakutan.” Ucapan Azka mengundang tawa dari kerumunan rekan-rekan sesama guru itu. Hal tersebut membuat Pak Burhan menekuk wajahnya, kesal dengan Azka. Pak Bambang yang baru saja ikut bergabung menaikkan alisnya saat melihat Reina. Dia menyalami wanita itu. “Ah, Anda ini walinya Gabriel, kan?” tanyanya. Reina mengangguk dan tersenyum kecil. “Iya, Pak.” “Hm ... saya kaget ternyata Anda bisa menggaet Azka ini. Saya pikir dia jatuh cinta dengan si Hana itu.” “Hana?” tanya mereka bersamaan, termasuk Reina tentunya. Pasalnya, tadi Azka menceritakan bahwa lelaki itu mencintai wanita bernama Arin, kenapa sekarang ada wanita lain lagi? Mereka memberondongi Azka dengan berbagai pertanyaan membuat lelaki itu pusing dan memilih untuk pergi. Reina sebenarnya ingin ikut, tapi ditahan oleh Bu Anis. Karena belum mengenal semuanya, Reina hanya menyimak pembicaraan mereka. Anehnya, pembicaraan itu bertopik pada Azka dan wanita yang ditemui lelaki itu di Puncak. “Ya, kalian belum melihat tatapan penuh cinta dari Azka saat di Puncak kemarin. Si Hana pun sepertinya menyukai Azka. Dan kalian tahu, Azka malah tiap weekend ke sana hanya untuk menemui si Hana.” “Wah, saya penasaran seperti apa si Hana ini. Sampai Azka menyukainya pada pandangan pertama,” komentar Bu Arumi. “Kalau Pak Azka mencintai si Hana ini, lalu Anda siapanya?” tembak Pak Burhan langsung pada Reina. Wanita itu tergeragap saat mendengar pembicaraan Pak Bambang, tadi hatinya sudah sesak ditambah dengan pertanyaan itu. Siapa aku bagi Azka? “Mbak?” “Eh? Hm ... saya sahabatnya.” Mungkin, tambahnya dalam hati. Di sisi lain, Azka berdiri dengan bersandar di pojok ruangan dekat jendela. Tatapannya tertuju pada langit yang kini menampakkan sang dewi malam. Sejak dia sampai di tempat ini, ia merasa resah karena Hana belum membalas pesannya. Ingin meneleponnya, Azka merasa tidak enak. Bagaimana jika wanita itu sudah tidur? Atau sedang sibuk? “Hai,” sapa Ambar yang sudah berdiri di sampingnya dengan menggamit lengannya manja. Azka berdecak lalu berusaha melepaskan diri dari Ambar namun wanita itu tidak mau kalah, ia mempererat pelukannya. “Ambar, menjauh dariku!” desis Azka. “Tidak akan. Aku sudah merindukanmu sejak tadi,” bisik Ambar tepat di telinga Azka. Bau alkohol menyeruak di penciuman lelaki itu. “Kau minum?” Azka tidak habis pikir, kenapa di sebuah acara harus ada yang namanya alkohol? Lihat, Ambar tidak bisa mengendalikan dirinya. “Azka ... sentuh aku,” bisik Ambar kembali dengan suara seraknya. Azka melotot demi mendengar ucapan Ambar. Dia mencengkram tangan Ambar dan menjauhkan dirinya dari wanita itu. Dengan linglung Ambar berdiri, matanya sayu. “Sentuh aku, Azka ....” Azka mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Ia takut jika ada orang yang mendengar ucapan Ambar. Meskipun tidak menyukai wanita itu, dia tidak boleh membuatnya kehilangan harga diri bukan? Saat Ambar kembali akan membuka mulut, Azka dengan cepat membekap mulutnya. Kali ini Azka yakin intonasi suara Ambar lebih tinggi dari sebelumnya dan itu jelas hal yang paling berbahaya. “Kau harus pulang,” ujar Azka berusaha menuntun Ambar. “Aku mau kamu menyentuhku ....” Ambar mengelus d**a bidang Azka membuat lelaki itu berdecak dan menjauhkan tangan Ambar darinya. “Aku akan membawamu pulang!” Setelah pamit kepada Pak Bambang, Azka segera menuntun Ambar menuju mobilnya. Setelah itu mobil fortuner hitamnya melesat membelah jalan. Reina menatap kepergian Azka dengan perasaan yang berkecamuk dalam dadanya. Dia sejak tadi mengikuti Azka semenjak lolos dari kerumunan tadi. Yang ada di pikirannya saat ini adalah akankah Azka menerima tawaran dari wanita itu? Melihat bagaimana Azka merengkuh Ambar dan membawanya pulang, Reina rasa Azka benar-benar akan melakukannya. * “Rin, aku rindu. Kapan kamu ke Jakarta?” tanya Azka yang kini sedang memasang kemejanya. Bahu dan kepalanya menjepit ponselnya. Di seberang sana Hana tertawa. “Rindu seperti Dilan, ya?” “Iya, kamu pernah nonton filmnya?” “Belum.” “Kita nonton, yuk?” ajak Azka. Lelaki itu kini mengeratkan tali pinggangnya, setelah itu menyisir rambutnya. Perlu diketahui Azka baru kali ini berangkat ke sekolah dengan serapi itu. Entah mengapa dia semangat sekali, apa lagi besok adalah hari Minggu. Hari di mana ia akan bertemu lagi dengan Hana. “Boleh, di mana?” “Di sini saja, ya? Oh iya, aku mau memperkenalkanmu dengan Reina.” Di seberang sana Hana bergeming. Ada perasaan tidak suka saat Azka menyebut nama wanita lain. Tidak rela jika bibir lelaki itu mengucapkan nama selain namanya. “Rin?” “Eh? I-iya, Kian?” “Bagaimana? Mau, kan?” Azka memakai sepatunya, mengambil tas lalu keluar dari rumah dan segera masuk ke mobilnya. “Kita lihat besok deh, Kian. Sudah dulu, ya? Aku mau masak.” Azka tersenyum. “Iya, masak yang enak ya, Rin. Kamu sudah cocok loh jadi seorang ibu,” celetuk Azka. Di seberang sana Hana hanya meresponnya dengan kekehan kecil. Wanita itu menatap ponselnya yang baru saja ia pakai menghubungi Azka. Hana mendesah. Apa yang dikatakan Azka seperti kode baginya. Dan, hal itulah yang kini menjadi beban tersendiri baginya. “Nyonya, Tuan Rama memanggil Nyonya,” lapor Bi Asi saat memasuki kamar Hana. Wanita itu mengangguk dan segera turun. Ia mendesah berat. Apa lagi yang akan dilakukan suaminya itu? Dengan langkah berat ia mendekati Rama yang kini duduk di sofa yang berada di depan TV, Hana kemudian duduk bersebelahan dengan suaminya. Rama menatapnya dengan tajam, melihat itu Hana menggigit bibirnya. Selama hampir dua tahun ini ia sudah tidak mendapatkan sorot kelembutan di dalam mata itu. “Besok aku harus pergi, sebulan. Kamu jaga rumah,” ujar Rama sambil menyesap kopinya. Hana diam. Laporan seperti itu tidak penting baginya. Ia sudah kenyang dengan laporan-laporan sejenis. Wanita itu pun juga tidak berniat menjawab, menurutnya kalimat Rama adalah perintah dan bukannya pertanyaan. Rama mengecek ponselnya yang berbunyi. Lelaki itu tersenyum lebar saat melihat nama yang terpampang di id caller-nya. Dia melirik sekilas Hana yang menunjukkan raut tidak suka. “Halo, Sayang? Hm, kamu sudah rindu? Padahal kita baru saja bertemu semalam,” ujar Rama saat lelaki itu mengangkat teleponnya. Hana bergeming demi mendengar Rama mengatakan ‘Sayang’ pada orang lain. Kedua tangannya terkepal. “Ehm ... iya, Mas. Kamu sih, selalu saja membuatku tersenyum. Makanya aku rindu.” Hana menggertakkan giginya saat mendengar dengan jelas suara wanita yang mengalun merdu dari ponsel itu. Rama tersenyum kecil saat sudut matanya mendapati raut tidak suka dari istrinya. Lelaki itu memang sengaja me-loadspeaker ponselnya. Saat Hana berniat pergi, Rama menghentikannya dengan meraih lengan wanita itu tanpa berkata apa-apa. Hana pun tidak berniat bertanya. Terlalu malas berhadapan dengan Rama. “Iya, Mas juga rindu. Oh iya, Mas mau berangkat ke Jakarta selama sebulan. Kamu baik-baik ya, jangan nakal. Awas kalau tergoda lelaki lain.” “Siap, Mas. Jangan khawatir. Hatiku selalu untukmu, Mas!” Tawa renyah di seberang sana membuat Hana mendesis jengkel. Dasar wanita perebut suami orang! “Oke, sudah dulu ya, Sayang. I love you!” “I love you too, my Sweety!” Sambungan telepon akhirnya terputus. Rama mendongak dan menatap istrinya yang kini mengeraskan rahang. “Lihat, kalau kau bisa selingkuh, aku pun juga bisa. Benar, kan?” “Mas, aku tidak pernah selingkuh!” bantah Hana, wanita itu menghentakkan tangan Rama hingga terlepas. “Aku tidak sepertimu, Mas. Yang selalu saja menyakiti pasanganmu!” Rama berdiri tampak santai. Ia memperbaiki dasinya. “Dengar, kalau kau tidak pernah selingkuh, bagaimana bisa kau mengcapkan cinta pada orang lain saat kita sedang bersama?” “Mas, itu ak-aku—“ “Sudahlah, lebih baik kamu pergi. Aku tidak ingin pagiku diawali dengan pertengkaran,” sela Rama. Hana menatap dingin suaminya yang mengusirnya. Siapa yang memulai pertengkaran? Bukankah yang memancing selalu Mas Rama? Kenapa aku harus disalahkan, Mas! Jelas-jelas yang selingkuh itu kamu, bukan aku! “Mas, kalau Mas tidak menganggapku sebagai istrimu lagi, lebih baik kita cerai!” tuntut Hana saat lelaki itu menaiki undakan tangga. Langkah Rama terhenti, ia menoleh dan menatap istrinya dengan mata menyipit. Ia mendengkus. “Cerai katamu? Cih ... dalam mimpi!” Setelah mengatakan itu, Rama segera pergi. Hana menatap nanar kepergian suaminya, ia tersungkur di lantai. “Kenapa kamu harus menyiksaku seperti ini, Mas?" lirihnya. Jika sudah tidak saling mencintai, mengapa harus mempertahankan? Jika sudah tak ada lagi cinta? Mengapa harus mati-matian menjaga hati?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN