Rama menatap pantulan dirinya di cermin. Meski terus mencari, tetap saja Rama tidak menemukan hal dari dirinya yang bisa membuat Hana berpaling darinya. Rama bukan orang yang bangga akan wajahnya yang tampan, tetapi dia cukup yakin kalau wajahnya tersebut di atas rata-rata dan bisa menaklukkan wanita mana pun. Buktinya Nadine yang sampai sekarang tidak mau melepaskannya. Lalu, jika bukan karena wajahnya, apa yang membuat Hana bisa berpaling?
Rama mengingat-ingat segala perlakuannya kepada Hana bertahun-tahun yang lalu. Dia merasa dirinya sudah menjadi sosok suami dan ayah yang sempurna, yang menyayangi keluarga kecilnya meski kerap meninggalkan mereka untuk urusan pekerjaan. Tapi, kenapa Hana tetap bisa berpaling? Apakah selera istrinya itu yang aneh ataukah memang selama ini Hana tidak mencintainya?
Memikirkan itu membuat Rama mengepalkan tangan.
“Mas, kalau Mas tidak menganggapku sebagai istrimu lagi, lebih baik kita cerai!”
Ingatan tentang perkataan Hana membuat Rama mengeraskan rahang.
“Sampai mati pun tidak akan ada perceraian dalam hubungan kita, Hana. Tidak akan!”
*
Bel pintu mengalun dengan merdu, Hana yang sedang memasak berteriak agar Bi Asi mengecek siapa tamu yang datang pagi-pagi buta seperti ini. Beberapa saat kemudian dia menepuk keningnya saat bel itu masih mengalun. “Duh, aku lupa. Bi Asi kan keluar beli kecap.”
“Sebentar!” teriak wanita itu, mengaduk nasi gorengnya yang sudah hampir matang.
Suara bel sudah tidak berbunyi lagi, wanita itu berpikir mungkin si tamu sudah pergi. Setelah mematikan kompornya, Hana membersihkan tangannya di wastafel lalu menggantungkan celemeknya.
Wanita itu segera keluar, memastikan si tamu sudah pergi atau malah menunggu. Saat membuka pintu, Hana dikejutkan dengan kedatangan Azka. Lelaki itu tampak rapi dengan pakaian yang kasual. Rambutnya pun sedikit acak-acakan, menambah kesan nakal padanya.
“Kian?” Selain terkejut, Hana juga was-was akan kedatangan Azka. Apa lagi ini hari Minggu, di mana Ian tidak ke sekolah. Untungnya Rama sudah pergi semalam.
“Tidak mau mengundangku masuk?” tanya Azka memasang seulas senyum.
Hana tersenyum kikuk, masih dengan perasaan was-was, wanita itu mengajaknya masuk. “Kamu tunggu di sini dulu ya, aku ke dapur dulu. Masih suka minum cokelat buatanku?”
Mata Azka melebar. “Cokelat? Jangan deh, nanti aku jadi penunggu toilet lagi,” gerutu Azka.
Hana tertawa, ia jadi teringat saat masa kecilnya. Di mana ia pernah membuatkan cokelat panas untuk Azka namun dengan resep lain. Wanita itu sudah lupa, apa saja yang ia campur sehingga Azka menjadi sakit perut dan seharian di dalam toilet.
Azka memasang wajah cemberut. Namun terganti dengan senyuman saat mendengar tawa renyah Hana. Tawa itu membuatnya tenang dan damai.
“Hihi, maaf. Tapi aku jamin, cokelat buatanku kali ini bisa membuatmu melupakan segala masalahmu.”
“Itu yang kamu katakan dulu. Iya, aku melupakan masalahku karena sibuk di toilet!” Kembali Azka menggerutu.
Hana kembali tertawa tapi tidak selama tadi. “Ah, sudahlah. Kamu tunggu di sini, ya?”
“Oke!”
Sepeninggal Hana, Azka menjelajahkan pandangannya ke seantero ruang tamu rumah wanita itu. Dinding ruang tamu itu tampak kosong, hanya ada satu bingkai lukisan yang tampak menarik.
Lukisan yang menggambarkan matahari terbenam di balik rimbunan pohon teh. Gambarnya seperti nyata, membuat orang yang melihatnya menjadi nyaman.
“Ini, ayo dicicipi.”
Azka yang tadi sedang berdiri sambil memperhatikan lukisan tersebut kini menoleh. Ia tersenyum saat Hana membawakan setoples kue dan secangkir cokelat. Lelaki itu duduk, menyipitkan matanya saat menghirup aroma yang menguar dari cokelat tersebut.
“Minum saja, ini bukan racun!” perintah Hana.
“Baiklah, kalau ini mengandung sianida, orang pertama yang aku gentayangi adalah kau!”
Hana tertawa mendengar hal itu, Azka mendekatkan cangkir ke bibirnya sambil melirik Hana. “Aku minum, ya?”
Wanita itu mengangguk. Saat ia menyesapnya, Azka mendadak tertegun.
“Enak,” ujarnya.
Hana tersenyum, matanya berbinar. “Benar, kan? Aku bilang juga apa. Sekarang aku sudah pandai.”
Azka tersenyum lalu meletakkan cangkir dan mengacak puncak kepala Hana dengan lembut, hal itu membuat Hana merasa sangat nyaman. Jujur, hanya perlakuan sederana Azka ini yang membuat pikirannya yang penat menjadi tenang.
“Assalamu’alaikum!”
“Waalaikumsalam!” Hana melirik gelisah Bi Asi yang baru saja masuk, wanita paruh baya itu melirik sekilas lalu pergi tanpa berkata apa-apa.
“Pembantumu?” tanya Azka.
Hana mengangguk. “Kamu kenapa datang pagi buta seperti ini, Kian? Kamu tahu kan jarak Jakarta ke sini cukup jauh.”
Azka mengulas senyum lalu menjawab, “Ya, aku tahu ke sini membutuhkan waktu satu jam. Tapi, kamu tahu kan, aku sudah rindu denganmu.”
Ucapan Azka sukses membuat pipi Hana merona. Rindu? Dia pun merasakan hal yang sama.
Azka menggenggam tangan Hana dan menatapnya lekat-lekat. “Seminggu tidak melihatmu, aku jadi rindu. Karena minggu lalu kamu sudah mengajakku tour kecil-kecilan di sini, bagaimana kalau aku mengajakmu ke Jakarta?”
Jantung Hana berdetak tidak karuan saat matanya tenggelam dalam hangatnya tatapan Azka, ditambah dengan ucapan lelaki itu yang mengatakan jika merindukannya.
“Bagaimana, Rin?”
Hana mengerjap, dia melepaskan tangannya dari Azka. Ada sedikit keraguan dalam hatinya. Bukan keraguan, tapi kecemasan.
“Rin?”
“Kita tidak menginap, kan?”
Mendengar itu, kerutan di kening Azka muncul. Setelah sadar ke mana arah pembicaraan Hana, lelaki itu menggeleng sembari terkekeh. “Tidak, Rin. Kita kan bukan muhrim. Kalau kamu mau, nanti ya, pas kita sudah muhri—aw!”
Azka meringis saat wanita itu melayangkan tinjuan ke perutnya. Hana menyipitkan matanya. “Jangan menggombal, aku tidak suka!”
“Hehe, oke. Kalau begitu, cepat siap-siap. Kamu tahu kan, padatnya jalanan apa lagi di hari libur seperti ini?”
Hana mengangguk, ia bergegas naik ke kamarnya.
Dari balik pintu penghubung ruang tengah dan ruang tamu, Bi Asi menyaksikan semuanya. Bagaimana lelaki itu memperlakukan atasannya dengan manis. Bagaimana lelaki itu menatapnya dengan penuh cinta. Itu semua, Bi Asi melihatnya.
Tatapan memuja dan cinta dari mata itu, sama dengan tatapan seseorang kepada majikannya beberapa tahun yang lalu.
“Bi Asi! Tolong ke sini!” Panggilan Hana menyentakkannya, wanita itu tergopoh-gopoh menuju kamar nyonya besarnya. Setelah mengetuk pintu, ia segera masuk ke sana.
Hana sibuk memoles wajahnya, Bi Asi mendapati binar kebahagiaan di kedua mata atasannya. Hal itu membuat dia bimbang.
“Bi, tolong jaga Ian, ya? Saya mau ke Jakarta dulu. Tolong jangan beri tahu Mas Rama atau Ian kalau saya pergi dengan laki-laki lain, ya? Bi ... Hana butuh istirahat dari penatnya hidup. Hana mohon bantuan Bi Asi, ya?”
Tidak tahu mau menjawab apa, wanita paruh baya itu hanya mengangguk.
“Terima kasih, Bi. Oh iya, bangunkan Ian setelah saya pergi, ya?”
“Baik, Nyonya.”
Bi Asi menatap punggung Hana yang telah menghilang dari balik pintu. Wanita paruh baya itu menghela napas. Ia sudah berjanji pada Rama untuk menjaga Hana, namun melihat Hana tersenyum, tertawa lepas seperti tadi, dia jadi ingin melihat nyonya besarnya itu bahagia.
“Maafkan saya, Tuan, ” gumamnya.