“Bagaimana kabar Tante Kinan dan Zayn? Apa mereka tidak membuatkanmu seorang pun adik?” celetuk Hana di kala kemacetan membuat mereka terhalangi. Seperti biasa Jakarta memang terkenal dengan kemacetannya.
Azka terkekeh. “Tidak.”
“Kenapa? Kamu kan sendirian. Aku saja yang punya seorang adik masih kesepian. Kenapa sih, apa mereka tidak kasihan padamu?”
“Bukannya mama dan papaku sudah pernah bilang alasan mereka tidak membuatkanku seorang adik?”
Hana memutar otaknya, ia menggali ingatannya kembali. Namun, tetap saja ia tidak menemukannya. Dia mendesah lelah. “Tidak ingat, Kian,” keluhnya.
Azka menjalankan mobilnya kembali saat mobil di depannya sudah bergerak. “Kalau tidak salah, kamu pernah bertanya ke Mama seperti ini ‘Tante, kok Kian tidak dibikinin adik? Nanti dia kesepian!' ingat, tidak?”
Sebenarnya Hana masih tidak ingat, namun ia tetap mengangguk dan terkekeh kecil. Bukan karena menertawakan masa kecilnya, tapi menertawakan kepikunannya.
“Kamu masih ingat jawaban Mama?”
Hana menggeleng. “Apa?”
“Mama bilang, ‘tidak apa-apa Kian sendirian. Kan kalau sudah besar nanti, Arin bisa tinggal di sini. Kan Arin jodohnya Kian’, masih
ingat, tidak?”
Hana terdiam dengan wajah yang memerah. Kali ini Azka menoleh dan menguncinya dalam tatapan. “Ingat, tidak?” desak Azka.
Hana merutuki dirinya karena bisa-bisanya menanyakan hal itu, jelas jawaban dari mama Azka dulu kini membuatnya panas-dingin. Jadi, sejak kecil mereka memang sudah disanding-sandingkan.
“Kian, lihat jalanan deh, nanti kecelakaan,” ujar Hana yang masih menundukkan wajahnya.
Ada sedikit rasa kecewa saat Hana mengalihkan pembicaraan mereka. Azka ingin, Hana mengingatnya. Seperti Azka yang tidak sedikit pun melupakan momen indah kenangannya bersama Hana. Setiap detik bersama wanita itu, ia hafal.
*
“Yuk!” Azka menuntun Hana memasuki gedung apartementnya dengan menggenggam tangan wanita itu. Hal tersebut membuat Hana sedikit kikuk, karena jujur, dia merasa semua orang yang berpapasan dengan mereka, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
“Kamarku di lantai sebelas,” ujar Azka.
Hana tersenyum, wanita itu menghela napas dengan lega karena lift yang mereka masuki kosong. Jujur, jantungnya berdebar tak karuan saat ini. Ia dan Azka akan berduaan di kamar apartement, hal itulah yang membuatnya agak kikuk.
Dia jadi was-was apa yang akan dilakukan Azka. Pikirannya kembali menerka-nerka. Apakah Azka sudah berubah? Pergaulan di sini mungkin bisa saja membuat lelaki itu ikut berubah dan melakukan hal-hal yang tidak terduga. Segala pikiran buruk kini menyergapnya.
Saat Azka menuntunnya untuk keluar dari lift, dia melangkah dengan berat.
Apa yang harus kulakukan?
Sampai di depan kamar bernomor 110, Azka mengeluarkan kunci apartmennya. Saat lelaki itu akan membuka pintu, Hana menahannya.
“Kenapa?” tanya Azka bingung melihat Hana mendadak pucat.
“Apa kita bisa bicara di tempat terbuka saja? Kalau di dalam, a—aku bisa hm ... kepanasan.” Azka mengerutkan kening mendengar ucapan Hana.
“Ada AC, tidak usah takut kepanasan.”
Hana menggigit bibirnya. Aku harus bilang apa? Apa aku harus jujur kalau aku takut dia macam-macam?
Melihat ekspresi Hana yang gugup serta wajahnya yang pucat, membuat Azka cemas. Lelaki itu meraih tangan Hana. “Sepertinya kamu sakit, ayo, aku punya obat di dal—“
“Ti-tidak, Kian!” tolak Hana serta merta menarik tangannya.
Respons Hana membuat Azka terkejut. Kerutan di kening Azka makin menjadi-jadi. Ia bingung dengan apa yang dilakukan Hana. Dia kan tidak berniat macam-ma ... cam? Tunggu, sepertinya Azka tahu apa yang saat ini ada di dalam pikiran Hana.
Lelaki itu menepuk keningnya, membuat Hana menatapnya dengan bingung. Lelaki itu terkekeh. “Astaga, Rin. Kalau kamu berpikir yang tidak-tidak tentangku, kamu salah. Dengar, aku bukan lelaki yang suka macam-macam dengan wanita.”
“Tapi, dua puluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk mengubahmu menjadi lelaki seperti itu, kan?”
Azka menghembuskan napas. “Ayolah, Rin. Aku pegal berdiri di sini.”
Hana masih keukeh tidak mau masu[k. Hingga Azka berdecak. “Begini, di dalam ada tongkat bissbol dan pisau dapur, kamu bisa pilih benda mana yang akan kau gunakan nanti saat aku macam-macam.”
Mendengar itu, Hana mendengkus. Azka kembali terkekeh. “Duh, Rin. Sepertinya kamu sudah tidak sabar menyandang nama Nyonya Mahendra, ya? Sampai-sampai kamu berpikiran jauh seperti itu.”
Wajah Hana kembali memerah, malu. Ia menyikut perut Azka lalu meninggalkan lelaki itu, masuk lebih dulu. Hana menghempaskan dirinya di sofa berwarna cokelat yang tepat berada di dekat jendela.
“Cie .... Arin blushing!” ledek Azka.
“Kian, aku malas mendengar itu.” Hana cemberut.
Namun Azka tetap saja menggodanya. Lelaki itu kini duduk di samping Hana, kedua alisnya naik-turun menatap Hana. “Rin, aku bisa menerkammu saat ini juga,” bisik Azka.
“Kian! Jangan menggodaku seperti itu!”
“Ah, Arin. Aku tahu kamu juga menginginkanku.” Kembali Azka berucap.
Pipi Hana sudah merah padam seperti kepiting rebus. “Ciee .... Arin salah tingkah,” celetuk azka, dengan cepat ia berdiri karena wanita di sampingnya itu kini menunujukkan raut menyeramkan.
“Kian! Awas kamu!”
Hana mengejar Azka, berusaha memberondongi lelaki itu dengan jambakan. Dia kesal, lebih tepatnya malu dengan kejadian tadi. Jujur, dia bodoh karena bisa-bisanya berpikiran yang tidak-tidak tentang Azka.
Lelaki itu terkekeh geli, berusaha menjauh dari kejaran Hana. Azka mengenal wanita itu sejak kecil, dan dia hapal betul seperti apa Hana saat kesal karena ledekannya.
Mereka berlarian di ruang tengah. Hana yang berusaha meraih Azka, dan Azka yang menjauh dari Hana. Azka terkekeh geli saat Hana berkacak pinggang karena lelah. Hal itu justru membuat Hana semakin jengkel. Wanita itu kembali mengejar, namun kali ini Azka tidak berusaha untuk lari.
Lelaki itu meraih Hana dalam pelukannya. Gemas dengan ekspresi wanita itu. Hana yang tidak menyangka Azka akan memeluknya kini hanya bergeming. Azka memeluknya dengan erat, lelaki itu memejamkan matanya. Jujur, sudah lama dia ingin memeluk Hana. Sudah tidak tahu sudah berapa lama ia menyimpan rasa rindu ini sendirian.
“Kian,” lirih wanita itu.
“Sssttt, tolong biarkan seperti ini dulu, Rin,” pinta Azka.
Hana mengangguk samar. Dia cukup terkejut dengan apa yang dilakukan Azka. “Aku men—“
“Azka?”
Hana menjauhkan dirinya saat mendengar suara seorang wanita. Dia mendadak kikuk saat mendapati seorang wanita cantik menatapnya dengan penuh keterkejutan. Melihat wanita itu berada di sini, keluar dari kamar tidur Azka, mendadak Hana menyadari sesuatu. Azka adalah milik wanita itu. Ada rasa sesak dan kecewa yang menyergapnya. Jadi, dia bukan satu-satunya wanita yang dibawa Azka ke sini?
“Maaf, aku harus pulang,” ujar Hana.
Wanita itu meraih tasnya, berniat pergi. Dia tidak ingin jika kekasih Azka salah paham, atau malah menganggapnya sebagai wanita tidak baik.
“Kamu mau ke mana?” Azka kini menahan lengannya saat ia berniat pergi.
Hana melirik wanita yang kini memandangnya dengan bingung. “Maaf, aku tidak berniat mengganggu hubungan kalian,” ujar Hana tiba-tiba.