Gemas dan Sakit Bersamaan

1410 Kata
“Maaf, aku tidak berniat mengganggu hubungan kalian,” Satu alis Azka terangkat, lelaki itu menyadari sesuatu lalu terkekeh. Membuat Hana mengerutkan kening dengan bingung. “Ada apa, Kian?” “Begini,” Azka menarik Hana menghampiri Reina, “dia temanku. Tidak lebih. Jadi kamu tidak perlu khawatir merusak hubungan spesial yang kamu maksud.” Hana terkejut. “Jadi?” “Rin, ini namanya Reina. Dia temanku di sini. Soal dia yang ada di sini, hm ... ini sudah seperti rumah kedua baginya. Jadi jangan salah paham, ya?” Azka mengalihkan tatapannya kepada Reina. “Reina, ini Arin. Wanita yang pernah kuceritakan padamu.” Mata Reina melebar. Arin? Wanita ini kan yang dicintai Kian? Benarkah? Samar Hana menghela napas lega saat tahu Reina hanya sahabat Azka. “Maaf ya, aku salah paham,” ujar Hana akhirnya. “Haha, tidak apa-apa kok. Lagi pula, aku datang dengan kondisi yang ambigu,” kekeh Reina. Siapa pun akan salah paham jika melihat seorang wanita berbaju tidur keluar dari kamar seorang lelaki. Wajah Hana tiba-tiba memerah. Huaaa! Kenapa aku harus selalu negative thingking, sih? Gerutu Hana dalam hati. “Lebih baik kita duduk saja, apa kalian tidak pegal berdiri seperti itu?” Ucapan Azka menyadarkan mereka. Kedua wanita itu segera melangkah ke sofa dan duduk di sana. “Oke, aku akan membuatkan minuman untuk kalian.” Reina dan Hana mengangguk. Kedua wanita itu bergeming, canggung. Tidak tahu mau membahas apa. Hana sejak kecil tidak suka kesunyian namun semenjak kejadian dua tahun lalu, wanita itu sudah terbiasa dengan kesunyian. Jadi, dia tidak masalah jika harus saling diam seperti ini. Hanya Reina yang terlihat canggung. Jujur, dia tidak suka kesunyian. Setiap Azka diam, dia akan merecokinya. Demi membunuh menit-menit dalam kesunyian itu, Reina akhirnya bertanya, “Kamu kenal Azka sudah lama?” Hana yang semula menundukkan wajahnya kini mendongak. “Iya, kami teman sejak SD,” jawabnya sambil memasang senyum. Reina tahu itu! Jujur, Reina ingin bertanya tentang hubungan Azka dengan wanita ini, namun Reina terlalu takut jika Hana berpikiran macam-macam dan menyadari perasaannya. “Kalau kamu?” “Ha?” Reina mendongak. “Maaf, tadi aku tidak mendengarmu. Kamu tanya apa?” “Kamu kenal Azka sudah lama?” “Baru lima tahun,” ujar Reina. Hana mengangguk. Dia dan Reina sama-sama sudah mengenal Azka selama lima tahun. “Apa kalian pacaran?” Pertanyaan Reina sukses membuat Hana terkejut. “Tidak,” jawab Hana kemudian. Helaan napas lolos dari Reina, hal itu jelas menyadarkan sesuatu pada Hana. Namun, ini masih sedikit. Dia tidak bisa mengambil kesimpulan jika belum mempunyai bukti yang kuat. “Sepertinya kalian sudah akrab. Kuharap kalian tidak menggosipkanku.” Azka membawa sebuah nampan berisi tiga cangkir coffe late dan setoples kue nastar. Mata Hana berbinar melihat kue kesukaannya itu. Azka terkekeh, dia mengambil satu nastar tersebut dan menyuapkannya pada Hana. “Hm .... lezat. Ini kue kesukaanku, Kian,” ujar Hana setelah mengunyah satu gigitan. Azka mengembangkan senyumnya. Dia memang tahu apa pun kesukaan wanita yang dicintainya. Itu sebabnya kemarin dia membeli kue nastar kesukaan Hana. Lelaki itu mengacak pelan puncak kepala Hana, membuat wanita itu merengut. Reina menyaksikan interaksi keduanya dalam diam. Ini kali pertama ia melihat binar bahagia dari kedua mata hitam legam milik Azka. Selama lebih dari lima tahun mengenalnya, baru kali ini Reina menyaksikan tawa renyah lelaki itu. Reina tersenyum miris, ia harusnya sudah sadar sejak dulu kalau dirinya tidak akan pernah masuk ke dalam hati lelaki itu walau hanya sementara. “Reina? Ayo, makan,” ujar Hana mempersilakan Reina. Wanita itu tersenyum dan mengangguk. Azka yang duduk di sebelah Hana kini memainkan rambut wanita itu yang tergerai. Satu kebiasaan Azka jika berada bersama Hana adalah lelaki itu sangat suka memainkan rambutnya. “Kian, nanti rambutku kusut,” gerutu Hana. Kian? Reina tersadar sesuatu. Hana tidak pernah memanggil Azka dengan sebutan Azka tapi Kian. “Rin, kenapa kamu memanggil Azka dengan sebutan Kian?” tanya Reina, penasaran. Hana mendongak dan menatap Reina. “Hmm ... mungkin karena aku suka dengan nama itu. Hihi, sejak kecil semua orang memanggil Kian dengan Azka, tapi aku berbeda. Sama seperti Kian yang memanggilku Arin, orang lain memanggilku dengan Hana,” jelas wanita itu panjang lebar. Panggilan kesayangan rupanya, desah Reina dalam hati. Eh, tadi dia bilang apa? Hana? Jangan-jangan Hana yang dibicarakan Pak Bambang adalah Hana yang ini? “Rin, di dalam tidak ada makanan. Bisa kau memasak untukku?” “Biar ak—“ “Baiklah.” Hana berdiri, melangkah menuju dapur. Reina menggigit bibirnya, merutuki dirinya yang baru saja ingin menawarkan diri untuk memasak. Untung saja suaranya kecil jadi kedua orang di hadapannya tidak dengar. “Reina, kamu tunggu di sini ya, aku bantu Arin masak dulu,” ujar Azka. Reina mengangguk. Jika dia melarang Azka untuk pergi, apakah lelaki itu akan menurut? Tidak, bukan? Reina berdiri, melangkah ke arah balkon. Wanita itu memandang langit Jakarta yang kini sedang terik-teriknya. “Kapan kamu bisa membalas perasaanku, Azka?” lirihnya. Air mata yang sempat dia tahan kini meluncur dengan cepat saat ia berkedip, buru-buru wanita itu menghapusnya. Dia tidak ingin jika Azka tahu bahwa ia masih mempunyai perasaan pada lelaki itu. * “Hm ... lezat sekali! Arin—eh Hana, kamu benar-benar pintar memasak!” Pujian itu berasal dari Reina. Jujur, walaupun wanita itu cemburu akan kedekatan mereka, Reina tetap menunjukkan kesukaannya pada masakan Hana. Reina selalu ingin menciptakan masakan seenak ini tapi sayang dia tidak bisa. Masakannya tidak selezat buatan Hana. Pantas saja Azka lebih memilih Hana daripada dirinya. Tatapan sendu yang ditunjukkan Reina membuat Hana yang menyajikan makanan untuk Azka mengerutkan kening. “Kenapa, Reina? Kok murung? Masakanku tidak enak?” Bohong jika Reina mengatakan tidak enak. Nyatanya, Reina sangat menyukainya. Wanita itu menggeleng sebagai jawaban. "Enak kok, aku hanya memikirkan sesuatu." “Reina? Ayo, cerita padaku. Tidak usah malu-malu.” “Hm, tidak apa-apa kok, Rin.” Hana menyipit curiga, dia selain bisa memasak, wanita itu juga paling peka dengan perasaan orang. Dia juga wanita, kalimat ‘tidak apa-apa’ seorang wanita adalah bentuk dari adanya sesuatu. “Makasih,” ujar Azka setelah Hana menyajikan makanan untuknya. Wanita itu kini beralih ke Reina, menghampiri Raina yang kini memasang senyum palsunya. “Ada apa?” tanya Hana, masih tidak percaya. “Sebenarnya, aku malu mengatakan ini,” ungkap Reina tersenyum canggung. Hana tersenyum dan mengelus pundak Reina, menyalurkan rasa tenang pada wanita itu. “Katakan saja.” Reina menghembuskan napas. “Aku tidak bisa memasak seenak ini,” katanya dengan menundukkan kepala. Azka yang melihat itu tersenyum kecil. Ya, dia tahu jika Reina tidak bisa memasak sejago Hana. Wanita itu hanya bisa menyajikan mie instan atau omelet saja. “Oh, hanya itu? Aku kira apa.” Hana berdiri, dia kembali duduk di tempatnya. Menyajikan makanan untuk dirinya sendiri. “Kalau hanya itu, aku bisa membantumu,” ujar Hana akhirnya. Mata Reina berbinar. “Benarkah?” “Yups, asal kamu serius belajar.” “Huaaa. Makasih ya, Hana!” Reina berdiri dan memeluk Hana hingga wanita itu terbatuk-batuk. “Ups, maaf, Hana. Maaf. Aku terlalu semangat.” Reina mengusap tengkuknya, malu karena tingkahnya yang kekanak-kanakan. “Tidak apa-apa, ayo makan!” Reina mengangguk, mereka akhirnya menikmati makanan dengan lahap. Tanpa Azka maupun Hana sadari, Reina meringis, merasakan sakit yang luar biasa di hatinya. Dia, Reina, tidak ada apa-apanya dibanding Hana. Setelah makan, Reina membantu Hana untuk cuci piring. Wanita itu terus saja memperhatikan Hana yang begitu lihai melakukan pekerjaan rumah tangga. Mulai dari memasak, cuci piring dan lainnya. Hana juga membersihkan seluruh ruangan apartemen Azka. Wanita itu juga mencuci semua pakaian kotor si pemilik rumah yang menumpuk di keranjang. Reina terkekeh geli ketika Hana memekik kaget saat mendapati kecoa di cucian kotor Azka. Hana mendumel tidak karuan. “Lihat, kalau kamu malas seperti ini, bisa-bisa bukan hanya kecoa yang bersaran di sini, tapi buaya!” Azka, lelaki itu tidak memedulikannya. Dia menikmati semua ekspresi yang ditunjukkan Hana. Mulai dari marah, kesal dan sebagainya. Hana berdecak kesal melihat Azka yang tidak peduli dengan omelannya. Wanita itu segera menghampiri Azka dan menarik telinga lelaki itu yang seketika meringis. Azka berusaha melepaskan tangan Hana namun wanita itu tetap mempertahankan jewerannya. “Rasakan! Dasar, calon-calon suami penyiksa istri!” gerutu Hana. “Ampun, Rin. Ampun!” Hana melepaskan jewerannya lalu kembali membersihkan kaca jendela balkon kamar lelaki itu. Reina menyaksikan semuanya dalam keterdiaman. “Kalian memang cocok,” gumamnya. Desahan napas lolos dari Reina, wanita itu memegang dadanya, nyeri. Sakit di hatinya mengakar. Dia tersenyum miris, cintanya tidak akan pernah terbalas. Tidak akan pernah!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN