“Aku pulang dulu, ya. Senang bertemu denganmu.”
Reina tersenyum tulus, ya meskipun hatinya sakit karena cemburu, tetapi jujur dia sangat senang mengenal Hana. Wanita itu sangat ramah. Reina membalas uluran tangan Hana. “Aku juga.”
“Baiklah, Reina, tolong jaga rumah, ya?” ujar Azka lalu mengacak puncak kepala Reina sebelum keluar dari kamarnya.
Sentuhan itu ... Reina sangat menyukainya. Lain Reina, lain Hana. Wanita itu menatap tindakan Azka kepada Reina dengan perasaan tidak enak. Wanita itu memalingkan wajahnya saat Azka kembali menatapnya.
“Ada apa?” tanya Azka saat mereka sudah berada di dalam lift. Ia heran melihat Hana yang diam sejak mereka keluar dari apartmentnya.
Wanita itu tidak merespon, ia malah memalingkan tatapannya. Tidak berniat melihat Azka.
Sadar terjadi sesuatu dengan Hana, Azka membalikkan tubuh wanita itu untuk menghadap ke arahnya. Azka menangkup wajah Hana, menatap mata wanita itu dengan lekat.
“Ada apa?” tuntut Azka.
Hana membalas tatapan lelaki itu. “Ak—“
Dentingan lift menginterupsi ucapan Hana. Wanita itu menjauhkan dirinya dari Azka saat lift terbuka. Hana segera keluar dari lift menerobos orang-orang yang mengantre di sana. Sedangkan Azka menggaruk tengkuknya karena kedapatan bermesraan dengan wanita lalu mengejar Hana.
“Rin, ada apa, sih?” tanyanya saat ia sudah berhasil menyamai langkahnya dengan Hana.
“Apa kamu memperlakukan semua wanita seperti kau memperlakukanku?” Hana menatap Azka, ada rasa tidak rela jika lelaki itu bersikap manis juga pada wanita selain dirinya.
Azka mengerutkan keningnya, bingung dengan pertanyaan Hana. Memperlakukan seperti apa? Azka tidak mengerti.
“Maksud kamu apa, Rin?”
“Tidak usah dipkirkan, Kian. Lupakan saja,” ujar Hana kemudian masuk ke mobil Azka.
Lelaki itu segera masuk mengikuti Hana. Selama perjalanan wanita itu tidak bicara. Hana tengah sibuk dengan pikiran-pikiran yang berkelabat di kepalanya.
Kian, apa kau selalu bersikap manis terhadap semua wanita?
Ya, harusnya Hana tahu itu. Azka adalah lelaki normal. Tidak mungkin lelaki itu tidak tertarik dengan wanita, bukan? Termasuk Reina tentunya.
“Kalian pacaran?” tanya Hana tiba-tiba.
Azka menoleh dengan cepat, menatapnya dengan kerutan di kening. “Dengan siapa?” tanyanya tidak mengerti.
“Reina,” jawab Hana singkat.
Satu alis Azka sukses terangkat. Lelaki itu menepikan mobilnya dan mematikan mesin. Kali ini Azka menghadapkan dirinya pada Hana yang nampak cemberut.
“Rin, aku dan Reina tidak punya hubungan spesial. Kami hanya sahabat.”
Hana masih menatap ke depan, tidak berniat menatap lelaki itu. Azka menghela napas. Kemudian meraih Hana, membuat wanita itu sukses berhadapan dengannya.
Azka menangkup wajah Hana, namun kedua mata wanita itu melirik ke arah lain. Masih kesal dengan Azka. “Rin, aku serius. Pleace, jangan marah, ya? Kalau kamu seperti ini aku bisa-bisa tidak fokus mengajar besok. Ya, Rin?”
Wanita itu menghela napas. Rin, Kian bebas berhubungan dengan siapa pun, ingat, kau sudah bersuami! Arin menggeleng, mengusir segala pikirannya. Wanita itu melepas wajahnya dari tangkupan Azka. Ia lalu memasang seulas senyuman. Setidaknya Azka masih di sisinya, ya walaupun lelaki itu—jika memang—berhubungan dengan Reina, ia tidak boleh marah. Itu hak Azka.
“Baiklah, Kian. Kalau begitu, yuk, pulang. Ini sudah sore,” ujar Hana.
Azka menghembuskan napas. Dia tahu Hana masih kesal dengannya. Namun lelaki itu memilih untuk tidak bertanya. Azka mengenal Hana dengan baik, wanita itu akan mengoceh dengan sendirinya jika dia sudah siap.
Azka kembali menjalankan mobilnya, membelah jalan ibukota.
“Kian?” panggil wanita itu setelah terdiam beberapa saat.
Lelaki itu melirik sejenak lalu kembali fokus pada jalanan. “Ya, Rin?”
“Reina itu benar-benar tidak bisa memasak?”
Azka tersenyum sedikit. “Bisa sih, sedikit.”
“Hm, katanya dia mau belajar memasak. Kapan-kapan ajak dia ke Puncak. Nanti kuajari di sana,” ujar Hana.
Meskipun dia sedikit cemburu pada Reina, setidaknya dia harus bersikap baik kepada orang yang baik kepadanya juga bukan?
“Boleh, kamu maunya kapan?”
Hana menimbang-nimbang sejenak lalu berkata, “Terserah kamu, sih.”
Azka mengangguk. “Oke, nanti akan kuajak dia.”
“Baiklah. Nanti akan kupersiapkan semuanya.”
Azka melintas melewati Tol Jagorawi lalu berbelok ke arah Puncak. Saat itulah lelaki itu melihat seorang lelaki yang pernah dilihatnya dulu bersama dengan seorang wanita yang tengah berangkulan masuk ke rumah sakit.
Dasar buaya darat!
Azka tidak habis pikir bagaimana bisa lelaki itu bermesraan dengan wanita lain jika ia sudah punya istri dan anak?
*
“Kian?”
“Ya, Rin?”
“Kamu mau membawaku ke mana?”
Pertanyaan Hana membuat Azka tersadar. Lelaki itu sudah melewati rumah Hana. Azka meringis, ia lalu membutar balik mobilnya.
“Maaf ya, Rin,” ujar Azka saat lelaki itu sudah menghentikan mobilnya.
Hana mengangguk. Wanita itu segera turun setelah mengucapkan terima kasih. Tanpa sepatah kata lagi, Hana segera berlari memasuki rumahnya. Azka mengerutkan kening bingung.
“Kenapa dengan Arin?”
*
“Mas sudah bilang, jangan lupa minum obat. Kamu tidak tahu betapa khawatirnya Mas lihat kamu mimisan lagi?” Rama mengacak rambutnya dengan kasar. Kesal sekaligus khawatir kepada wanita yang terbaring di ranjang rumah sakit. Tadi dia hampir kehilangan akal saat darah tidak berhenti keluar dari hidung Nadine.
Pemilik wajah pucat itu hanya menunduk. Tidak berani bersuara karena sadar apa yang terjadi hari ini adalah kecerobohannya. Memang menghabiskan waktu bersama Rama membuatnya lupa akan segala hal, bahkan hal penting seperti obat yang sudah menopang hidupnya bertahun-tahun. Nadine pun paham kekhawatiran yang Rama rasakan saat melihatnya mimisan tadi.
Rama kemudian menarik kursi ke depan Nadine, meraih kedua tangan wanita itu ke dalam genggamannya, lalu menciumnya lamat. Sesaat kemudian Rama mendongak, menatap pemilik mata sayu di hadapannya. “Kumohon ... seterusnya, jangan pernah membuatku khawatir.”
*
“Aku tidak menyangka kamu benar-benar selingkuh, Mas!”
Rama yang tengah melonggarkan dasinya melirik Hana sekilas. Lelaki itu tidak peduli, kemudian dia segera masuk ke kamar mandi meninggalkan Hana yang berlinang air mata.
Hana, wanita itu tergugu, ia tahu jika Rama selingkuh. Namun tidak pernah berpikir kalau Rama akan serius dengan wanita lain. Tadi, saat perjalanan pulang bersama Azka, wanita itu tidak sengaja melihat Rama dengan wanita lain.
Dia tidak tahu siapa wanita yang bersama Rama karena wajah wanita itu tertutupi dengan rambutnya. Hana merasa sangat kecewa. Bisa-bisanya Rama selingkuh, terlebih lelaki itu pasti sudah tidur dengan wanita itu.
Mungkin, dan dugaan itu kembali membuat Hana terisak. Mas Rama! Kamu jahat, Mas! Jahat!
“Tidak usah berlagak seakan-akan kamu terluka, Hana. Mas tahu kalau kamu hanya mencintai laki-laki itu, Mas tahu itu.”
Hana mendongak menatap Rama yang baru saja selesai mandi. Lelaki itu sudah berganti pakaian dengan piamanya.
“Aku tidak pernah berbohong, Mas!”
“Sudahlah, Han. Lebih baik kamu tidur. Bukankah kau butuh tenaga untuk menciptakan drama baru?”
Kembali Hana terluka. Tidak berdarah, namun terasa sakit.