Cemburu

1379 Kata
“Mas, kamu jaga kesehatan, ya? Jaga hati juga, ya?” Rama terkekeh miris mendengar ucapan Nadine di seberang sana. Lelaki itu menyandarkan dirinya pada kursi kebesarannya. Ia menyilangkan kaki. Jaga hati? Bagaimana bisa? Pemilik hatinya saat ini hanya satu. Dan ... dia masih ingin mempertahankannya. “Kalau Mas tidak bisa jaga hati, bagaimana?” tanyanya hati-hati. Terjadi hening begitu lama. Beberapa saat kemudian terdengar helaan napas di telinga Rama. “Kalau begitu, jaga anak kita saja, Mas.” Tangan Rama mengepal mendengar hal itu. Dia bergumam untuk merespon ucapan Nadine. Setelah berbasa-basi sebentar dengan Nadine, Rama segera mematikan sambungan teleponnya. Lelaki itu menengadah menatap langit-langit ruang kantornya. Pikirannya saat ini dipenuhi dengan Nadine, Nara, putrinya dan Hana serta Ian, puteranya. Lelaki itu menghembuskan napas dengan kasar, segala pikiran berkecamuk di kepalanya. Jujur, selama hampir sepuluh tahun ia menyembunyikan hubungannya dengan Nadine dari Hana, pun sebaliknya. Ia tidak tahu harus bagaimana untuk menyelesaikan masalahnya. Nara sudah besar, dan gadis itu selalu saja ingin ayahnya untuk tinggal di rumah. Rama memang ingin menghabiskan waktu dengan Nara, namun ia pun tidak tega jika harus meninggalkan Hana sendirian di rumah. Lelaki itu memang sering meninggalkan Hana selama tiga hari dengan alasan ke luar kota, padahal ia sedang menginap di rumah Nadine. Rama bingung harus bagaimana. Ian adalah putera kebanggaannya, mana mungkin dia harus meninggalkan Ian demi Nara? Dan, bagaimana pula dia harus meninggalkan Nara demi Ian? Kedua anaknya itu adalah kebanggaannya. Rama mengacak rambutnya frustrasi, ia benar-benar merasa bodoh. Mengapa ia harus menerima perjodohannya dengan Hana dulu jika harus membuat wanita itu menderita? Ketukan pintu membuat ia teralihkan dari segala kerumitan pikirannya. Setelah mempersilakan sang pengetuk pintu itu masuk, Rama menegakkan tubuhnya. “Pak, semuanya sudah hadir di ruang meeting. Tinggal menunggu kehadiran Bapak.” Rama mengangguk mengiyakan ucapan sekretarisnya. Setelah menghembuskan napas sebentar, ia segera keluar menuju ruang meeting. * Hana berjalan tergesa-gesa menuju ruang kepala sekolah. Tadi dia mendapat telepon penting dari wali kelas puteranya. Katanya Ian sakit dan harus dibawa ke rumah sakit, namun mereka menunggu kedatangan orang tuanya dulu. “Assalamualaikum, Pak. Bagaimana keadaan anak saya?” tanya Hana setelah masuk ke ruang kepala sekolah tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. “Ibunya Ardian Bagaskara?” Wanita itu mengangguk. “Anak Ibu ada di UKS. Mari saya antar.” Pak Anton, kepala sekolah Ian menuntun Hana menuju UKS. Tempat di mana anaknya dirawat. Wanita itu menatap cemas Ian yang tidur dengan meringkuk. “Ian, kamu kenapa, Sayang?” Hana menyentuh punggung Ian, sorot matanya penuh dengan kekhawatiran. “Perut Ian sakit, Bu,” lirih Ian parau. “Bu Hana, anak ibu harus dibawa ke rumah sakit. Kami sudah memberikannya obat tapi hasilnya nihil. Sejak tadi dia merintih kesakitan.” Hana mengangguk mendengar ucapan guru yang menjaga anaknya. Wanita itu segera merogoh tasnya, mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. “Ian sakit. Kita harus bawa dia ke rumah sakit!” Setelah mengatakan itu Hana segera memutuskan sambungan teleponnya. Masa bodoh jika suaminya kesal karena mengganggu pekerjaannya. “Ian, tunggu ayahmu sebentar ya, Nak? Ayah akan ke sini secepatnya.” Meski ragu dengan ucapannya sendiri, Hana tetap menyugestikan kepada Ian bahwa ayahnya akan datang. Dia tidak ingin jika Ian berpikir bahwa ayahnya tidak peduli pada dirinya. Rama menghentikan mobilnya tepat di depan sekolah puteranya. Lelaki itu mengabaikan satpam yang bertanya maksud kedatangannya ke sekolah itu. Dia segera berlari menuju UKS tempat di mana Hana memberitahunya. Lelaki itu masuk ke ruangan tersebut dan mendapati Ian tidur dengan memeluk ibunya yang tengah duduk bersandar di ranjang UKS. “Ada apa dengan Ian?” “Perutnya sakit, Mas. Ayo, kita bawa ke rumah sakit.” Rama mengangguk. Lelaki itu segera meraih Ian dalam gendongannya. Setelah mengucapkan terima kasih pada guru yang menjaga Ian, lelaki itu segera keluar dari sana. Tanpa Rama sadari, ia menggenggam tangan Hana dengan erat, menuntun wanita itu untuk ikut keluar. Hal itu membuat Hana menjatuhkan tatapannya pada tangan Rama yang kini menggenggam tangannya. Ada perasaan hangat yang tiba-tiba menjalar di hatinya. Perasaan yang pernah singgah di hatinya. Perasaan itu bermakna ... rindu. Ya, Hana merindukan hal ini. Di mana Rama yang menggenggam tangannya dengan penuh cinta. “Tolong buka pintunya, Hana.” Hana tersadar. Wanita itu kini menatap tangannya yang kini sudah tidak digenggam oleh Rama lagi. “Hana?” Hana tersentak, wanita itu segera mengangguk lalu membuka pintu penumpang dan membantu Rama membaringkan Ian di dalam sana. Setelah itu Hana keluar, ia lupa sesuatu. “Aku ke dalam dulu, Mas. Tas Ian kelupaan.” Rama mengangguk. Lelaki itu menyandarkan tubuhnya pada badan mobilnya. Ia mengeluarkan ponsel, membalas pesan yang masuk baru saja. Tidak lama kemudian, Hana kembali dengan memeluk tas milik puteranya. “Maaf, aku lama," ujarnya pada Rama. “Sudah? Kalau iya, ayo kita pergi.” Hana mengangguk. Wanita itu segera mengikuti Rama masuk ke mobilnya. * “Ada apa, Azka?” Azka menoleh. Mengalihkan tatapannya yang sejak tadi melihat ke luar jendela. Pak Bambang yang sedang menyetir mobil terkekeh melihat Azka yang kelihatan bingung. Saat ini mereka sedang berada di dalam mobil milik Pak Bambang. Mereka; Azka, Pak Bambang, Bu Ambar, Pak Burhan dan Bu Arumi sedang melakukan perjalanan menuju rumah rekan mereka yang berada di Cianjur. Tadi pagi Pak Bambang mendapat telepon dari Bu Nirmala bahwa wanita itu sudah melahirkan, itu sebabnya kepala sekolah gaul itu memboyong rekannya yang sedang free untuk menjenguk Bu Nirmala. “Kau pasti sedang memikirkan Nona Hana, kan?” tanya Pak Bambang, tepat pada sasaran. Azka mendengkus, meskipun yang dikatakan Pak Bambang benar, dia tidak ingin semua orang tahu bahwa dia memikirkan seorang wanita. Rekan-rekannya ini punya rasa penasaran di atas rata-rata. Lelaki itu tidak ingin jika mereka mencari tahu siapa Nona Hana yang dimaksud Pak Bambang. “Nona Hana itu, siapa, Pak?” tanya Ambar. Ya, dialah wanita super kepo. Apalagi hal-hal yang menyangkut Azka. “Bukan siapa-siapa,” ujar Azka cepat, saat Pak Bambang baru akan membuka mulutnya. “Wah, Pak Azka tidak ingin Bu Ambar salah paham, ya?” celetuk Pak Burhan. Ambar tersenyum menanggapi celetukan rekannya itu. Sedangkan Azka kembali mendengkus. “Haha, Azka. Kau ini, ya! Bu Ambar itu tidak kalah cantik dengan Nona Hana. Kenapa kau tidak bisa move on?" Kembali Pak Bambang berkicau, membuat semuanya kembali menatap mereka dengan tertarik. Semua rekannya di sekolah sangat antusias jika membicarakan hal-hal yang berbau dirinya. Apa lagi tentang Azka yang menyukai seorang wanita. Itu adalah hal yang paling spektakuler menurut mereka. Azka dikenal sebagai lelaki dingin yang anti wanita. Selalu memasang wajah datar dan tidak peduli pada wanita yang mencoba mendekatinya. Contoh kecilnya, Ambar. Wanita itu gencar mendekati Azka namun lelaki itu masa bodoh dengannya. Azka selalu membatasi diri. Tidak ingin jika ia jatuh hati pada wanita mana pun selain Hana. “Pak, Nona Hana itu siapa, sih?” Nada bicara Ambar kini tampak kesal. Jujur dia sangat tidak suka jika ada seseorang yang mendekati Azka. Termasuk Reina. Dia jadi ingat peristiwa di pesta Pak Bambang beberapa hari yang lalu saat melihat Azka bersama seorang wanita. Saat itu Ambar ingin agar Azka tidak dekat dengan Reina. Itu sebabnya dia berpura-pura mabuk. Ya, dia memang minum alkohol waktu itu, tapi dia tidak mabuk. Sebotol minuman tidak akan bisa membuatnya mabuk. Sayangnya, walaupun dia sudah berakting dengan baik, Azka sama sekali tidak menanggapinya. Wanita itu bahkan sengaja membuat Azka tidak sengaja menyentuh bagian intim tubuhnya, namun Azka sama sekali tidak tertarik. Melirik saja tidak mau, bahkan saat sampai di rumahnya, Azka langsung meninggalkannya begitu saja. Wanita itu mendengkus jengkel mengingat hal itu. “Iya, Pak. Siapa si Nona Hana ini? Apa dia seorang guru juga?” timpal Pak Burhan penasaran. “Haha, dia itu wanita tercantik yang pernah kutemui bersama Azka di Puncak. Kalian tahu tidak, bagiamana ekspresi Azka saat bertemu dengan Nona Hana?” Mereka menggeleng. Bagaimana bisa tahu kalau mereka tidak pernah melihatnya? Azka memutar bola matanya dengan malas melihat kelakuan kepala sekolahnya itu. “Azka sama sekali tidak berkedip. Dia terpukau akan pesona Nona Hana. Dia ba—“ “Sudahlah, Pak. Lihat jalanan saja, banyak nyawa yang dipertaruhkan di sini,” sela Azka. Pak Bambang terkekeh menanggapi ucapan Azka. Dia tahu kalau anak buahnya ini sangat tidak suka menjadi bahan gunjingan. Azka menyandarkan tubuhnya pada jok mobil, lalu memejamkan mata. Pikirannya melayang pada beberapa saat yang lalu di mana ia melihat Hana bersama dengan lelaki lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN