“Sepertinya aku harus jujur tentang perasaanku pada Arin, Reina.”
Reina menatap Azka yang kini duduk bersandar pada kursi dengan mata tertutup. Saat ini mereka berada di gazebo yang ada di taman belakang rumah Reina. Ucapan lelaki itu membuat Reina menghela napas. Ya, dia tahu jika cepat atau lambat Azka akan menyatakan perasaannya pada Hana.
“Bagaimana menurutmu, Reina?” tanya lelaki itu, kali ini ia membuka matanya dan menatap Reina, meminta agar wanita itu memberi pendapat.
Ditatap seperti itu oleh Azka membuat Reina gelagapan. Wanita itu berdeham sebentar sebelum berkata, “Lebih cepat lebih baik, Azka. Kalau kamu terlambat, Hana bisa dimiliki orang lain lebih dulu. Lihat, Hana sudah didekati lelaki lain, bukan?”
Azka mengangguk. Ya, benar kata Reina, dia harus gerak cepat. Dia tidak boleh terlambat. Lelaki itu harus segera menyatakan perasaannya. Semoga saja Hana mau membalas perasaannya. Namun, sesuatu membuat Azka tersadar. Kemarin Hana terlihat begitu dekat dengan lelaki itu. Dia bahkan menurut saja saat lelaki itu memintanya ikut.
Apa Arin menyukai lelaki itu?
Tidak! Jika memang benar Hana menyukainya, kenapa wanita itu menunjukkan raut-raut kecemburuan saat ia bersikap manis pada Reina? Kalau Hana tidak mempunyai perasaan yang sama dengan dirinya, wanita itu pasti tidak akan kesal dengan sikapnya, bukan?
“Kamu benar, Reina. Tapi, bagaimana caranya aku menyatakan perasaanku? Kamu tahu kan, aku bukan tipe lelaki romantis? Kemarin saja saat membelikannya cokelat dan bunga, aku harus bertanya lebih dulu pada penjaga tokonya.”
Reina berdecak. Azka ini seperti anak kecil saja. Dia kan seorang guru, harusnya tahu apa yang harus dilakukannya untuk menyatakan cinta. “Ajak dia makan malam atau apa pun itu, Azka. Yang penting romantis.”
Lelaki itu tampak berpikir. “Baiklah, aku akan mengajaknya makan malam besok.”
“Baguslah kalau begitu. Setelah itu kita bisa merayakan ulang tah ....” Reina menggantung ucapannya saat ia teringat sesuatu.
Seminggu lagi ulang tahun Azka! Wanita itu menatap Azka lalu menggeleng, membuat lelaki itu mengerutkan keningnya bingung.
“Merayakan apa, Reina?”
“Ck! Kita melupakan sesuatu, Azka. Seminggu lagi adalah hari ulang tahunmu, kan?”
Meskipun bingung ia akhinya mengangguk. “Nah, bagaimana kalau kamu menyatakan perasaanmu saat hari ulang tahunmu nanti. Di depan semua orang. Bagaimana?”
“Hah? Di depan semua orang?” Reina mengangguk. “Kamu mau membuatku malu?”
Reina kembali berdecak. “Azka, kalau kamu menyatakan perasaanmu nanti, itu sekaligus membuat semua orang tahu akan hubungan kalian, bukan?”
Azka termenung. Ia memikirkan ucapan Reina. Meskipun tidak suka menjadi pusat perhatian dan topik pembicaraan, sepertinya usul Reina bagus juga.
*
“Lusa adalah hari ulang tahunku, kamu mau datang, kan?”
Hana yang kini sedang tidur telentang di tanah yang lapang menikmati sang bagaskara yang sebentar lagi akan terbenang kini menoleh ke samping, tempat di mana Azka juga melakukan hal yang sama dengannya. Menikmati indahnya sunset.
Saat ini mereka sedang berada di perkebunan teh milik Hana. Tadi setelah jam pulang sekolah, Azka langsung ke Puncak hanya untuk menemui wanita itu. Saat tahu Azka akan menemuinya, Hana meminta agar lelaki itu langsung saja menuju perkebunan teh, tempat di mana mereka pertama kali bertemu setelah sekian lama. Azka sempat berpikir kenapa Hana melarangnya untuk datang ke rumah wanita itu, namun saat melihat Hana membawa rantang nasi Azka akhirnya tersenyum. Wanita itu ingin memberi suprice untuknya.
“Kamu masih merayakan hari ulang tahunmu?” Terdengar nada geli pada suara Hana.
Azka mendadak merutuki ide Reina itu. Sejak tamat SD ia sudah tidak mau merayakannya lagi, namun beberapa hari yang lalu Reina memaksanya untuk itu. Agar rencana untuk menyatakan perasaannya pada Hana terkesan romantis.
Biar orang-orang tahu siapa wanita yang kamu cintai, termasuk orang tuamu. Itu yang dikatakan Reina kemarin padanya. Dan akbiatnya Hana malah menertawakannya.
“Itu ide Re ....” Azka mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Dia baru ingat tidak boleh memberitahu Hana bahwa ini rencana Reina. Kalau tidak, wanita itu pasti akan terbakar cemburu lagi.
Cemburu? Azka tersenyum geli. Ya, dia suka jika Hana mencemburuinya. Itu menunjukkan kalau wanita itu juga mempunyai perasaan yang sama dengannya.
“Ide siapa?”
“Hm ....” Azka memutar otaknya dengan cepat, memilih siapa yang akan ia jadikan kambing hitam. “Pak Bambang. Ya, kamu tahu kan dia seperti apa?”
Azka meringis geli mendengar ucapannya sendiri. Meminta maaf kepada Pak Bambang dalam hati karena membuat namanya jadi objek kambing hitam olehnya.
“Ha? Pak Bambang? Kepala sekolahmu itu?”
Azka mengangguk, membuat Hana tersenyum geli. Dia tidak habis pikir kenapa Azka bisa punya kepala sekolah yang nyentrik seperti Pak Bambang. “Baiklah, aku akan ke sana. Biar bisa bantu-bantu sekalian. Bagaimana?”
“Jangan!”
Hana mengerutkan keningnya, dia bangun dan duduk. Sang raja langit lima belas menit lagi sudah akan terlelap dan itu artinya tempat ini akan segera gelap. “Kenapa tidak boleh?” tanyanya.
“Hm ....” Azka jadi bingung harus bilang apa. Pasalnya yang menyusun semuanya adalah Reina. Kalau sampai Hana tahu, bisa-bisa dia jadi kesal dan menolak untuk menemuinya lagi.
“Ada yang kamu sembunyikan?” selidik Hana.
Azka menggeleng. Ia ikut bangun dan berdiri, menepuk belakang celananya yang berdebu.
“Lalu?”
“Ya, kamu tahu sendiri bagaimana Pak Bambang kan? Dia akan menggodamu habis-habisan. Aku takut kamu tidak bisa bergerak saking gugupnya karena ulahnya.” Azka menghela napas, lega karena akhirnya dia bisa memberikan alasan yang semoga saja tepat.
“Tapi Pak Bambang sepertinya tidak begitu.”
“Ya, karena kamu baru bertemu dengan dia. Apalagi dia bersama puteranya waktu itu. Dia kan takut sama anaknya.”
Oke, Azka kembali merapallkan kata maaf dalam hati kepada Pak Bambang.
Hana menghela napas, dia ikut berdiri lalu mengangguk. “Baiklah, aku akan ke sana. Hm ....” Wanita itu melirik arloji di pergelangan tangannya. “Lima menit lagi tempat ini akan gelap. Ayo, kita pulang,” ajaknya.
“Kamu tidak mau melihat sunset?”
“Tidak usah, aku takut berduaan denganmu di sini. Bisa saja kau menerkamku.”
Setelah mengatakan itu Hana segera berlari meninggalkan Azka yang terbengong. Sadar akan sesuatu, lelaki itu akhirnya berteriak,
“Rin, aku bukan lelaki seperti yang kau pikirkan!”
Sebelum beranjak dari tempat itu, Azka mengambil rantang nasi yang tergeletak di sampingnya tadi lalu mengejar Hana yang sudah jauh berada di depan sana.
*
“Kuenya bisa diantar besok malam kan? Iya, alamatnya sudah saya kirim lewat w******p. Oke, terima kasih. Selamat malam.”
Reina memutuskan sambungan telepon lalu menaruh ponselnya ke dalam tas. Wanita itu sekarang sedang berada di rumah orang tua Azka. Mempersiapkan segala t***k bengek keperluan acara ulang tahun lelaki itu yang diadakan besok malam.
Wanita itu kembali duduk di tempatnya semula, yaitu duduk di bangku taman. Ya, Reina memakai konsep out door. Kebetulan di taman belakang rumah orang tua Azka cukup luas untuk menampung orang-orang sekampung, jadi dia memutuskan untuk memakai taman itu.
Reina meraih buku notesnya dan memeriksa semua catatan kebutuhan yang ada di sana. Kue, sudah. Catring, sudah. Dekorasi, sudah. Hiburan juga sudah. Hanya tinggal acaranya saja. Reina menghela napas lega. Akhirnya pekerjaannya selesai juga.
“Hm, sepertinya aku harus meminta Dimas ke sini,” gumamnya.
Reina meraih ponselnya dan segera mengubungi Dimas, lelaki yang kini menyandang status sebagai kekasihnya—di depan Azka. Reina tersenyum miris, sengatan kecil menjalar di hatinya.
Ya, Dimas bukanlah kekasihnya. Lelaki itu hanyalah sahabat bagi Reina. Ia hanya tidak ingin jika Azka menjauhinya karena tahu Reina masih memiliki perasaan untuk lelaki itu. Dimas pun memainkan sandiwara tersebut bersama Reina.
Lelaki itu tahu jika Reina tidak menyukainya, ia hanyalah sebuah d**a tempat Reina bersandar sebentar ketika wanita itu tengah lelah menghadapi Azka.
“Hai, sudah lama?”
Reina mendongak mendengar sapaan tersebut. Wanita itu tersenyum ketika seorang lelaki berpakaian kasual kini duduk di sampingnya. Rambut lelaki itu acak-acakan dan sedikit basah. Reina menebak lelaki itu pasti baru selesai mandi.
“Tidak lama. Kamu kok cepat sekali sampai?” tanyanya.
Dimas tersenyum. “Tadi aku ada di dekat sini, jadi cepat sampai.” Reina mengangguk-angguk mengerti.
“Oh iya, bagaimana dekorasi tempat ini? Bagus, tidak?”
Dimas memperhatikan sekeliling, tepatnya pada dekorasi yang telah dirancang Reina. Sedetik kemudian lelaki itu mengacungkan jempol untuk Reina.
“Artinya?”
“Baguslah. Kamu ini,” gerutu Dimas.
Reina tersenyum. Dia senang jika orang menyukai rancangannya. Tidak sia-sia dia kuliah jauh-jauh ke Jepang jika hasilnya sebagus ini. Sederana namun tampak elegan.
Dimas melirik arlojinya, sudah hampir waktu makan malam. “Reina, yuk, kita cari makan. Aku lapar,” ajak lelaki itu.
Mendengar ucapan Dimas, Reina tertawa. Dimas ini, selain baik dia sama sekali tidak malu jika harus tampak tidak keren di mata orang-orang. Seharusnya bisa jaga image, namun lelaki itu sama sekali tidak peduli.
“Oke, baiklah. Aku pamit dulu dengan orang rumah, ya?” Dimas mengangguk.
Reina segera masuk ke rumah, menemui orang tua Azka yang sedang duet memasak. Sekilas info, orang tua Azka sangat suka memasak. Termasuk ayahnya.
“Loh, kenapa tidak makan di sini saja, Sayang? Makanannya sudah hampir siap, loh.”
Reina tersenyum canggung merespon tawaran ibu Azka. Wanita paruh baya yang berambut pendek itu berkacak pinggang. “Maaf Tante, tapi Reina sudah ada janji dengan Dimas. Tidak enak kalau harus menolaknya.”
Ibu Azka, Kinan, akhirnya mengangguk. Dia tersenyum maklum. Mereka tahu kalau Dimas adalah kekasih Reina, jadi tidak enak jika mereka menahannya.
“Oke, Sayang. Hati-hati di jalan, ya!”
“Baik, Tante. Terima kasih, yaa!”
Setelah pamit dengan mencium tangan kedua orang tua Azka, Reina bergegas menemui Dimas yang kini sudah duduk anteng di dalam mobil lelaki itu.
“Maaf lama,” ujarnya saat ia sudah masuk dan duduk di samping Dimas.
“No problem,” balas Dimas.
“Kita ke mana?”
“Hm, Semesta Cafe, bagaimana? Di sana pelayanannya bagus. Menunya juga. Makanannya lez—“
“Satu lagi, pelayannya yang cantik. Iya, kan?” Dimas terkekeh kecil mendengar ucapan Reina yang memotong pembicaraannya. Lelaki itu mengulum senyum kemudian mengangguk.
“Baiklah, kita ke sana,” ujar Reina akhinya.