Birth Day Party

1443 Kata
Alunan musik yang berasal dari panggung kecil yang berada di sudut ruangan kini mengalun merdu. Dentingan piano dan suara biola yang bermain lambat membuat suasan hati yang mendengarnya jadi rileks. Begitu pun dengan Reina. Pikirannya yang terus menerus tertuju pada Azka tadi, kini membuatnya sedikit tenang. Dimas memperhatikan segala ekspresi yang ditunjukkan Reina. Lelaki itu tahu siapa yang membuat pikiran sahabatnya ini menjadi tidak tenang. “Kenapa kamu tidak mencoba untuk move on?” Pertanyaan Dimas membuat Reina yang sedang menyesap coffe late-nya seketika tersedak. Dimas menepuk-nepuk punggung Reina setelah memberinya air putih. “Minumnya pelan-pelan,” ujar Dimas. Seakan-akan dia tidak tahu kenapa Reina tersedak. Reina melayangkan tatapan tajam pada Dimas yang dibalas dengan kerlingan kecil dari lelaki itu. “Kamu tahu pasti isi hatiku, Dimas. Kumohon jangan membuatku gegabah lagi,” gerutu Reina. “Aku hanya kasihan padamu.” “Kasihan bagaimana?” “Ya, seperti yang kau katakan kemarin, kau merancang pesta ulang tahun untuk Azka sekaligus membantunya menyatakan cinta pada wanita lain.” Dimas melipat kedua tangannya di depan d**a lalu tersenyum dengan kepala dimiringkan. “Sakit kan?” Reina tersentak. Sakit? Apakah ia sakit? Bukan, bukan dirinya namun hatinya. Kata sakit sepertinya tidak tepat untuk mendeskripsikan perasaannya saat ini. Hancur mungkin lebih tepatnya. “Aku benar, kan? Bagaimana rasanya?” Reina berdecak. Kesal dengan Dimas yang selalu saja ingin mengingatkannya tentang sakit hatinya itu. Lelaki itu pun selalu saja membuat Reina bermain-main dengan rasa sakit. “Sudahlah, Dimas. Tidak usah dipikirkan. Aku ikhlas kok melakukan semua ini.” “Ikhlas?” Dimas mendekatkan wajahnya hingga jarak antara dia dan Reina hanya sejengkal. Wanita itu cukup terkejut hingga tidak mampu bergerak sedikit pun. “Tidak ada orang yang benar-benar ikhlas, Reina. Bahkan di surah Al Ikhlas pun tidak ada kata ikhlas di dalamnya.” Reina membatu. Ia cukup tertampar dengan ucapan Dimas. Ikhlas? Bagaimana bisa? Mungkin iya, bibirnya mampu mengucapkan kata ikhlas ribuan kali. Namun hatinya? Tidak bisa! Segala yang ia lakukan selama ini hanyalah untuk Azka semata. Hanya agar lelaki itu meliriknya walau hanya sekejap. Sayangnya Azka laksana fenomena alam, ibarat kata bagai gerhana. Butuh waktu sangat lama agar lelaki itu bisa meliriknya, itu pun hanya sekilas. “Jadi, kau masih mau mengorbankan perasaanmu untuk kebahagiaannya?” Reina menggeleng. Dadanya tiba-tiba sesak. Pembicaraan ini menguras emosinya. Ia tidak rela, namun tak bisa berbuat apa-apa. “Maaf, Dimas. Sepertinya aku harus pergi.” Tanpa menunggu respon Dimas, Reina segera berlalu meninggalkan lelaki itu. Hal pertama yang menyambut Hana saat menginjakkan kakinya di kediaman Mahendra adalah alunan musik yang merdu serta kerlap-kerlip lampu taman. Wanita itu melirik sekelilingnya, mencari-cari Azka atau siapa pun yang mungkin dikenalnya. Karena jujur, dia sangat gugup ke tempat di mana ia tidak mengenal seorang pun di sana. Kian di mana? Batinnya. Wanita itu menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan pelan. Ia mengeratkan pegangannya pada tas dan bingkisan kado yang dibawanya. Wanita itu melangkah pelan menuju tempat di mana meja utama yang berisikan kue ulang tahun itu berada. Tiap langkahnya menciptakan keterpesonaan dari berpasang-pasang mata yang meliriknya. Azka yang baru saja menerima tawaran jus dari pelayan, menghentikan tegukannya. Lelaki itu menatap Hana yang berjalan mendekat tanpa berkedip. Hana, wanita itu tampak cantik dengan balutan dress panjang berwarna putih tanpa lengan, di bagian samping bawah sedikit terbelah, menampakkan kaki jenjangnya. Rambutnya ia ikat, namun anak- anak rambutnya terjuntai bebas hingga membuatnya nampak menggemaskan. Wajahnya dipoles dengan make-up natural. “Cantik.” Itu bukan suara dari Azka, namun pujian dari beberapa rekan lelaki itu yang berdiri di sampingnya. Azka menatap kesal Dimas yang tanpa ragu kini mendekati Hana. Kedua mata Azka mengikuti setiap pergerakan lelaki itu. Ingin sekali dia menjauhkan Dimas yang dengan sok dekatnya menuntun Hana untuk menghampirinya. Memangnya Arin tidak tahu jalanan apa! “Terima kasih,” ujar Hana dengan tulus. Dimas menganggukkan kepalanya sedikit. “Sama-sama, Princess.” Hana terkekeh pelan mendengar sebutan yang diberikan lelaki itu. “Siapa namamu?” Hana baru saja akan menjawab saat Azka dengan cepat menariknya pergi. Apa yang dilakukan lelaki itu terhadap Hana membuat semua yang melihat itu—termasuk rekan sesama gurunya—tersenyum geli. Mereka akhinya bisa melihat Azka cemburu. Tatapan-tatapan penasaran itu mengikuti pergerakan Azka yang kali ini membawa Hana menemui kedua orang tuanya. “Ma, Pa. Masih ingat dengan gadis yang selalu merecoki Azka saat kecil, tidak?” Kedua orang tua Azka mengerutkan kening, mengingat-ingat siapakah gerangan yang dimaksud oleh putera mereka. Kinan, ibu Azka menatap Hana lalu tangan puteranya yang masih menggenggam wanita itu. Hana melemparkan senyum pada Kinan dan sontak membuat wanita paruh baya itu melebarkan matanya. “Arin? Kamu Arin, kan?” Hana mengangguk, Kinan dengan segera memeluknya, mencium pipi wanita itu secara bergantian. “Astaga, Rin. Kamu sudah dewasa, ya? Cantik lagi. Pantas Azka menolak semua wanita demi kamu.” Celetukan yang bervolume agak keras itu membuat Azka berdecak merutuki kebodohan ibunya karena bisa-bisanya membongkar aib anaknya sendiri. Sedangkan Arin tersenyum kikuk. Pak Bambang yang tidak jauh dari sana, yang sejak tadi memperhatikan Azka bersama rekan-rekannya kini melangkah menghampiri orang tua Azka. “Selamat malam,” sapa Pak Bambang. Hana tidak terkejut jika lelaki paruh baya itu ada di sini, karena beliaulah yang merancang semua ini—seperti yang dikatakan Azka padanya. Kinan dan Hana membalas sapaan itu dengan ramah. Azka menyipitkan matanya, dia tahu gerak-gerik atasannya itu. Pasti mau membuatku malu lagi. Batin lelaki itu dengan jengkel. “Tadi Bu Kinan memanggilnya dengan apa? Arin?” tanya Pak Bambang lalu menunjuk Hana. Meski bingung Kinan mengangguk, ia melirik Hana yang tak kalah bingungnya juga. “Saya pikir nama Anda Nona Hana.” Hana tersenyum. “Nama saya memang Hana, Pak. Rihana Wulandari. Semua orang memanggil saya denyan Hana. Kecuali Azka dan kedua orang tuanya.” Pak Bambang mengangguk-angguk. “Jadi, kalian sudah saling mengenal?” “Mereka sahabatan sejak kecil, Pak,” jawab Kinan mewakili. Pak Bambang menaikkan satu alisnya, bingung. Kalau merrka bersahabat, kenapa saat itu keduanya seperti orang asing yang sama-sama tak saling memgenal? “Ceritanya panjang, Pak,” jawab Azka setelah Pak bambang menanyakan isi hatinya. Walau masih belum mengerti, lelaki itu akhirnya mengangguk. “Baiklah kalau begitu, Azka. Kau harus memberiku potongan istimewa, ya?” pesan Pak Bambang sebelum berlalu dari sana. Reina yang sejak tadi hanya memperhatikan kini memberanikan diri untuk segera menghampiri mereka. Ia mengulas senyumnya saat mendapati Hana yang ikut tersenyum. Mereka melakukan ritual cipika-cipiki. “Bagaimana kabarmu?” “Baik. Kamu?” “Seperti yang kau lihat.” Reina mengajak Hana untuk berkeliling. Memperkenalkan wanita itu pada beberapa teman seperkuliahannya dan Azka. Setelah beberapa menit, Reina akhirnya mengajak Hana untuk duduk. Wanita itu menyodorkan jus jeruk yang langsung diterima oleh Hana. “Terima kasih,” ujarnya. “You are welcome.” Sambil menunggu acara puncak, mereka menghabiskan waktu dengan membahas hal-hal yang hanya dimengerti oleh wanita hingga membuat Azka yang tadi sempat ikut bergabung mendadak pergi. “Ya, lip balm keluaran terbaru itu benar-benar menggoda loh. Pokoknya produk terbaru Maibelina benar-benar mahal tapi berkualitas. Jadi kita tidak rugi. Kamu tahu, Ayahku bahkan mengancam akan mengusirku kalau rekeningku membengkak lagi.” Hana terkekeh mendengar curhatan Reina. Wanita itu merasa senang karena Reina adalah tipe wanita friendly. Yang meskipun tahu jika mereka mencintai lelaki yang sama, dia tetap tidak memedulikannya. “Hm, kamu belum mencoba produk Wanda, ya? Pokoknya produknya tidak kalah bagus dari merek itu. Kamu harus coba deh.” “Iya, nanti aku aka—“ “Reina, Azka memanggilmu,” potong Dimas yang muncul tiba-tiba. Reina berdecap lalu menatap Hana. “Aku ke sana dulu, ya?” pamitnya. Hana mengangguk, Reina segera berlalu dari sana. Saat Hana juga akan beranjak, Dimas dengan cepat mencekal tangannya, membuat Hana seketika meringis dan melayangkan tatapan tajam pada lelaki itu. “Lepaskan,” desisnya. Dimas menyipitkan matanya, dia tersenyum miring mendapati raut wajah ketakutan dari mata wanita itu. “Tidak perlu buru-buru, Nyonya Bagaskara.” Pemberontakan Hana terhenti saat ia mendengar nama belakang suaminya. Wanita itu menatap Dimas dengan sorot keterkejutan. Bagaimana lelaki ini tahu? “Anda pasti bingung, kenapa saya bisa tahu. Iya, kan?” Tanpa sadar Hana mengangguk. Ya, dia benar-benar bingung. Bagaimana bisa lelaki di hadapannya ini tahu? Bahkan Azka yang selalu bersamanya tidak tahu apa-apa, atau mungkin Azka sudah tahu? Mendadak tubuh Hana jadi dingin. Wanita itu pucat menyadari sesuatu. Kalau Azka tahu yang sebenarnya, apa yang dia akan lalukan? “Anda tidak perlu bingung dari mana saya tahu siapa Anda sebenarnya. Yang jelas, malam ini jangan pernah melangkah ke jalan yang salah, Nyonya. Suami Anda sangat mencintai Anda.” Setelah mengatakan itu Dimas segera pergi, meninggalkan Hana yang kini menatap ke arah Azka yang berada di kerumunan dengan tatapan sendu. “Apakah mencintaimu itu kesalahan, Kian?” gumamnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN