The Game

2092 Kata
“Baca doa dulu, Azka. Agar semua keinginamu tercapai.” Azka mengangguk. Mengiyakan ucapan ibunya. Reina dan yang lainnya segera mengelilingi lelaki itu yang akan memotong kue. Sebenarnya Azka tidak suka perayaan seperti ini. Menurutnya semua hal ini hanya dilakukan oleh anak- anak dan dia terpaksa melakukan ini. “Ayo, Kian,” bisik Hana. Azka melemparkan senyum terbaiknya pada wanita itu. Membuat hampir seluruh tamu yang bergender wanita seketika terpesona. Untuk pertama kalinya mereka melihat senyum penuh kebahagiaan tersungging di bibir lelaki itu. Namun berbeda dengan yang lainnya, Ambar menatap hal itu dengan gigi bergemeletuk. “Azka hanya milikku,” desis Ambar. Kedua tangannya mengepal di samping tubuhnya. Azka memejamkan mata setelah menatap Hana untuk beberapa detik. Lelaki itu menghembuskan napas. Merapalkan doa dalam hati. Ya, Tuhan. Aku mohon, lancarkanlah rencanaku ini. Semoga saja Hana mempunyai perasaan yang sama denganku. Azka membuka matanya. Riuh tepuk tangan seketika menyambutnya setelah ia meniup lilin. Ucapan selamat segera terlontar dari beberapa rekannya. Azka mengulas senyum, hanya sedikit, seperti biasanya. “Ayo, Azka. Sekarang waktunya potong kue. Kau tahu, aku sudah lapar.” Celetukan Pak Bambang membuat semua orang tertawa. Kinan segera memberikan Azka pisau dan piring untuk lelaki itu. Azka menggerakkan pisaunya, membelah cake cokelat yang bentuknya simple, dengan lilin berbentuk angka 36. “Potongan pertama buat siapa, ya? Harus orang paling spesial loh ini,” celetuk Reina. Wanita yang memakai dress biru aqua itu kini memegang microphone, bertugas sebagai MC dadakan. Kinan dan Zayn—ayah Azka, tersenyum menanti siapakah orang terspesial di hati anaknya itu. “Baiklah, kue pertama ini untuk orang yang paling kucintai. Yang selalu mendukung dan menyayangiku hingga aku bisa jadi seperti ini. Berdiri di hadapan kalian semua tanpa kekurangan apa pun.” Azka melangkah mendekati orang tuanya. “Potongan pertama untuk kalian. Karena kalianlah segalanya bagiku. Duniaku.” Kinan tersenyum lalu memeluk puteranya. “Uh, anak Mama ini.” Azka beralih ke ayahnya yang juga disambut pelukan. Mereka tidak mengucapkan apa-apa namun dari kedua mata mereka saling menyiratkan kebanggan tersendiri. Cara seorang ayah menunjukkan rasa sayangnya kepada anaknya. “Oke, tepuk tangan semuanya.” Reina kembali berucap, semuanya pun koor bertepuk tangan dengan riuh. “Okeee ... potongan kedua! Ayo, Azka. Siapakah orang paling spesial di hidupmu selain kedua orang tuamu. Ayo, berikan padanya.” “Ayo, ayo, ayo!” Pak Bambang memulai, yang lainnya ikut berkata seperti itu dengan bertepuk tangan berirama. “Baiklah. Potongan kedua ini khusus untuk seseorang yang membuatku tak bisa mengalihkan tatapan saat memandangnya ....” Azka melangkah pelan, mendekati Hana yang kini menjadi pusat perhatian semua orang. Reina yang melihat itu tersenyum miris, ya, inilah saatnya lelaki yang ia cintai harus menyatakan cintanya pada wanita lain. “Seseorang yang sudah mecuri hatiku sekian lamanya ....” Setiap langkah yang dilakukan Azka membuat jantung Hana berdetak begitu cepat. “Seseorang yang mengunci hatiku hingga tak ada seorang pun yang bisa singgah walau hanya sebentar. Seseorang yang selalu saja menjadi orang pertama yang kupikirkan saat terbangun dari tidurku.” Azka berhenti tepat di depan Hana. Sangat dekat, hingga membuat wanita itu menahan napasnya. Mata setajam elang itu menatap manik cokelat Hana. Ada binar bahagia yang terbaca saat Hana menatap matanya. “Ini untuk seseorang yang bisa mengalihkan duniaku hanya dengan menatap matanya. Untukmu, Cinderellaku, Rihana Wulandari.” Hening. Tatapan keduanya saling bertubrukan. Saling tenggelam dalam arti yang sama. Azka terpesona akan manik cokelat wanita itu, pun dengan Hana. Mereka sama-sama tenggelam dalam waktu yang sama. “Mana tepuk tangannya semua!” Mereka tersentak, Azka dan Hana buru-buru menjaga jarak. Keduanya tersenyum canggung. Hana menundukkan wajahnya, malu karena baru saja menjadi pusat perhatian semua orang di sini. Sedangkan Azka merutuki dirinya, lelaki itu hampir saja melakukan hal yang bodoh dengan berniat mencium Hana tepat di depan semua orang. Lelaki itu berterima kasih dalam hati pada Reina, untung saja wanita itu punya inisiatif untuk membuatnya tidak malu. “Wah, selamat ya, Hana. Kamu jadi orang paling spesial di hidup Azka. Oke, sekarang semuanya silakan menikmati hidangan yang sudah tersedia. Oh iya, malam ini kita akan membuat sebuah permainan. Kalian setuju, kan?” Reina kembali berkoar di depan microphone. Orang-orang yang sejak tadi menatap Hana dengan intens kini mengalihkan tatapannya saat Reina memerintahkan mereka untuk ikut bergabung. Hana menghela napas lega. Untung ada Reina! Wanita itu mendongak, sebagian orang-orang sudah berlalu menuju tempat yang tadi diberitahukan oleh Reina. “Kamu tidak apa-apa?” Wanita itu tersentak ketika bahunya ditepuk oleh seseorang. Dia menoleh, lalu seulas senyum seketika mengembang darinya. “Tidak apa-apa. Terima kasih, ya?” “Sama-sama. Yuk, kamu harus ikut permainan ini juga.” Reina menuntun Hana untuk ikut. Wanita itu mengantre mengambil sebuah kertas yang sudah digulung lalu diikat dengan pita. “Ini untuk apa, sih?” tanya Hana heran. “Nanti kamu lihat sendiri.” Reina segera menuju panggung kecil yang sudah ia sediakan. Menyambut para tamunya dengan sebuah puisi karya Khalil Gibran. Setelah itu, Reina menyimpan kertas puisinya lalu memfokuskan tatapannya pada para tamu. “Baiklah, terima kasih karena sudah mau mengikuti permainan saya. Oke, akan saya tunjukkan tata caranya, ya.” Reina mengambil sebuah kertas yang serupa dengan yang diambil Hana dari sebuah kaca di samping kanannya. “Nah, setiap kertas di sebelah sini sudah diisi dengan beberapa angka. Nah, coba cek punya kalian wahai para ladies.” Hana membuka gulungan kertas seperti interuksi Reina. 32 12. Wanita itu mengerutkan keningnya menatap angka-angka tersebut. Dia melirik sekitarnya, yang menunjukkan raut kebingungan yang sama. “Ini maksudnya apa, ya?” tanya Ambar yang terlihat bingung. Reina berdeham di microphone, melirik sebal Ambar yang kelihatan tidak sabaran. “Tunggu ya, sabar. Nanti akan saya jelaskan.” Hana mendekati Reina, dia pun juga bingung. “Ini apa, sih, Reina?” “Memangnya kamu dapat angka berapa?” Hana menyodorkan kertas itu pada Reina. Wanita itu mengangguk-angguk mengerti lalu tersenyum. “Kamu duduk saja dulu. Nanti akan kujelaskan.” Masih dengan rasa bingungnya, Hana kembali ke tempat duduknya. “Oke, karena bagian wanita sudah mengambil kertas masing-masing. Sekarang bagian para lelaki untuk memilih bola di sebelah sini.” Dimas menarik Azka mendekati Reina. Menjadi lelaki pertama yang mengambil bola di sana. “Azka, cari angka 44,” bisik Reina. Meskipun bingung, lelaki itu mengangguk. Setelah mendapatkannya lelaki itu segera kembali ke tempatnya. Sedangkan Dimas bergeming di samping Reina. “Ayo, pilih,” desak Reina. Dimas menghela napas. “Apa ini wajib?” "Tidak wajib kok. Sunnah aja. Tapi dengan konsekuensi kau harus menikmati kejomloanmu di antara pasangan-pasangan ini.” Dimas memutar bola matanya, dengan malas lelaki itu segera mengambil bola bertuliskan angka 20. Melihat itu Reina tersenyum kecil. Setelah Dimas, beberapa lelaki kini ikutan mengambil bola tersebut. “Oke, karena semuanya sudah selesai. Saya akan memberi tahu tata caranya. Simak baik-baik, ya.” “Untuk bagian wanita. Setiap angka yang ada di sana itu berhubungan, ya. Dua angka pertama selalu lebih besar dari dua angka setelahnya. Nah, coba kalian jumlahkan sekarang.” Semua orang langsung mengikuti interuksi Reina. Termasuk Hana tentunya. Wanita itu mendapat angka 44. “Sambil menunggu para wanita menjumlahkan angkanya, “Reina terkiki geli dengan ucapannya sendiri yang seakan-akan menganggap mereka tidak tahu berhitung, “maaf ya, barisan para lelaki sudah memilih bola masing-masing dengan angka yang sudah tertera di sana kan?” “Nah, sekarang untuk wanita, silakan mencari angka yang sama dengan hasil penjumlahan dari kertas tadi. Etz, jangan dibuang kertasnya, ya.” Setelah interuksi dari Reina, semua ornng tidak dikenalinya. Azka memperhatikan pergerakan Hana, lelaki itu menatap bergantian bola di tangannya, Reina lalu Hana. Lelaki itu tersenyum tipis. Ini pasti rencana Reina. Melangkah dengan pasti, Azka segera menghampiri Hana. Saat ia sudah berada di hadapan wanita itu, Azka menepuk pelan puncak kepalanya hingga membuat wanita yang sedang berdiri membelakanginya itu tersentak kaget. “Kian! Kamu mengagetkanku saja,” gerutu Hana. Azka terkekeh. Lelaki itu segera menyodorkan bola di tangannya kepada Hana. “Apa angka ini adalah hasil dari penjumlahanmu?” Wanita itu menatap bola bertuliskan angka 44 lalu beralih menatap Azka. “Sepertinya kau memang tidak mau jauh-jauh dariku,” bisik Azka membuat wajah Hana bersemu merah. “Wah, sepertinya kalian sudah menemukan pasangan masing-masing. Oke, sekarang kalian bisa berdansa mengikuti alunan musik yang setiap menit akan berganti-ganti. Pasangan yang gagal mengubah gerakan dansanya akan didiskualifikasi. Ingat, kalian harus bermain serius. Karena hadiahnya adalah saham perusahaan Om Zayn.” Zayn yang sedang menyesap kopi di sudut taman bersama rekan-rekan bisnisnya seketika tersedak mendengar ucapan Reina. Teman-teman Zayn tertawa melihat ekspresi terkejut dari Zayn. Reina terkekeh. "Maaf, tadi hanya bercanda. Oke, tapi ini seirus, loh. Hadiahnya ini sangatlah indah. Kalian tidak akan menyesal.” “Oke, kalian sudah siap?” tanya Reina, suaranya ia sengaja naikkan beberapa oktaf. “Kamu siap?” Azka mengulurkan tangannya, dan langsung disambut oleh Hana. “Sangat siap.” Alunan musik mengalun dengan merdu. Ritmenya pelan. Membuat semua pasangan berdansa dengan santai. Hana mengalunkan tangannya ke leher Azka, sedangkan lelaki itu menggamit pinggangnya. Mereka tidak bicara, namun kedua mata merekalah yang berbicara. Tatapan yang sangat dalam. Hal itu membuat Reina yang berada di panggung berdecak. Kalau begini terus, mereka tidak akan sadar saat musiknya diganti! Yang ada juga mereka tidak akan menang! Musik tiba-tiba berganti dengan ritme yang lebih cepat. Reina menutup matanya, takut jika Hana dan Azka sama sekali tidak mengubah alur dansa mereka. Yang nantnya akan kena diskualifikasi. “Wowww! Baru putaran pertama tapi yang gugur sudah banyak!” Celetukan dari Joseph—DJ yang disewa Reina membuat Reina membuka sedikit matanya. Ia terpana saat melihat kerumunan orang yang sudah memilih untuk duduk di pinggir karena kena diskualifikasi. Reina tercenung ketika melihat Azka dan Hana masih bertahan! Hanya ada sekitar sepuluh pasangan yang bertahan, termasuk Dimas. Yang membuat Reina terkejut adalah tarian mereka mengikuti ritme musik. Berputar dan sebagainya dengan gerakan cepat. Musik kembali berganti, kali ini sangat lambat, dan tidak ada yang gugur. Hana terlihat menyandarkan kepalanya pada d**a bidang mikik Azka. Lelaki itu pun terlihat menempelkan dagunya pada puncak kepala Hana. Semua itu ... membuat Reina meringis. Nyeri di hatinya makin menjadi-jadi. Dimas, yang menari di antara pasangan itu menatap Reina lekat. Ck, wanita ini! Musik berhenti. Tepuk tangan riuh bergemuruh. Reina menetralisirkan perasaannya dengan berdeham. “Baiklah, musiknya sudah selesai. Nah, coba yang masih bertahan silakan lihat kertasnya lagi.” Hana menuruti ucapan Reina, wanita itu segera mengambil kertasnya. “Karena tadi adalah penjumlahan, sekarang pengurangan. Cari pasangan kalian yang punya nomor, hasil dari pengurangan tersebut. Jika tidak ada, silakan duduk. Itu artinya Anda gugur.” “Tiga puluh dua dikurang dua belas hasilnya dua puluh. Hm, siapa, ya. Semoga tidak ada.” Dimas mengangkat bola di tangannya tinggi-tinggi. Satu tangannya berada di dalam saku celananya. Melihat itu—lebih tepatnya angka yang tertera di sana—Hana bergeming. Wanita itu merutuki kesialannya saat ini. “Kenapa harus dengan dia?” desahnya. “Ada apa, Rin? Ayo, kamu harus berdansa dengan Dimas. Dia temanku, tidak apa-apa, kok.” Hana ingin menolak namun Azka sudah menuntunnya menghampiri Dimas. Melihat kedatangan pasangan itu, Dimas menurunkan tangannya. “Tolong jangan sampai lecet,” pesan Azka. Dimas tidak meresponnya, karena tatapannya tertuju pada Hana yang kini sedang menunduk. Dia tidak habis pikir, kenapa bisa seorang Nyonya Bagaskara, istri dari seorang pengusaha sukses malah bermain api dengan Azka yang hanyalah seorang guru. Meski tidak bisa dipungkiri bahwa lelaki itu cukup kaya karena usaha orang tuanya. “Baiklah, Rin. Karena aku didiskualifikasi, kamu harus berdansa dengan baik, ya. Semoga menang!” Hana melempar senyum canggung. Lebih tepatnya senyum keterpaksaan. Wanita itu menyambut uluran tangan Dimas yang sekarang menuntunnya menuju tempat dansa. Satu tangan Dimas kini berada di pinggang Hana, begitu pun dengan tangan wanita itu yang kini memegang bahunya. Tangan yang lainnya saling menggenggam, bergeser kiri-kanan mengikuti tempo musik yang lambat. “Dia mencintaimu,” bisik Dimas. Hana mendongak, menatap bingung lelaki itu. Menyadari kebingungan yang tersirat di kedua matanya, Dimas berkata, “Suamimu.” Hana seketika menegang. Wajahnya pucat. “Ba—Bagaiamana kau tahu?” “Tidak usah memikirkan dari mana aku tahu. Yang terpenting adalah jauhi Azka. Dia butuh cinta yang utuh.” Hana bergeming mendengar hal itu. Ia bingung. Perasaannya campur aduk. Cinta yant utuh? Aku sangat mencintai Kian. Cintaku padanya itu utuh! “Baiklah, aku sudah memperingatkanmu. Selebihnya ada di tanganmu. Oh iya, dan satu lagi.” Hana menatapnya bingung. Apa lagi? “Tidak usah khawatir, tidak ada yang tahu kalau kau sudah punya suami.” Dimas menekankan kata terakhirnya. Setelah mengatakan itu, Dimas melepas Hana. Tersenyum miring, lelaki itu berjalan mundur beberapa langkah sebelum akhirnya berbalik dan meninggalkannya. Hal itu membuat semua orang menatap mereka dengan bingung. Termasuk Reina.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN