Little Things

1094 Kata
“Yah, sayang sekali kamu tidak menang. Ini gara-gara Dimas. Maaf, ya.” Hana menatap Reina dengan menyunggingkan seulas senyumnya. “Tidak apa-apa.” “Baiklah, aku harus mengumumkan pemenangnya dulu, ya.” Hana mengangguk. Reina akhirnya berjalan menuju panggung. Hana memilih menepi, tidak ingin bergabung dengan orang-orang yang ada di sana. Jujur, hatinya saat ini sedang kacau. Ucapan Dimas tadi mengganggu pikirannya. Apa benar Rama mencintainya? Kalau iya, kenapa lelaki itu hanya memberinya rasa sakit? Jika Rama mencintainya, kenapa lelaki itu tak pernah menunjukkannya? Kalau benar Rama mencintainya, kenapa lelaki itu harus selingkuh? Kalau ... Hana menggeleng. Mengusir segala pertanyaan yang berkelabat dalam pikirannya. Rama tidak pernah mencintainya. Ia menyugestikan dirinya dengan kalimat itu. Ya, suaminya itu tidak pernah mencintainya. Jadi, untuk apa dia harus setia? Siapa pun wanita yang menikah, pasti menginginkan rasa tentram dan bahagia. Begitu pun dengan dirinya. Jika cinta yang ia beri pada Rama tidak dipandang oleh lelaki itu, untuk apa dia harus bertahan? Hanya tinggal menunggu waktu semua ikatan itu terpisah. Hana menghembuskan napas kasarnya. Terlihat jelas dari raut wajahnya yang sarat akan kecemasan. Kali ini, bukan tentang Rama, melainkan Azka. Bagaimana jika lelaki itu tahu kalau dirinya telah bersuami? Bagaimana jika Azka tahu nantinya tapi ternyata lelaki itu memang hanya menganggapnya sebagai sahabat saja? Tidak lebih. Walaupun tadi Azka mengatakan kalau dirinya begitu berarti bagi lelaki itu, Hana masih tidak yakin. Bisa saja kan Azka menganggapnya sahabat paling spesial? Di atas panggung, tepatnya di sebelah Reina yang tengah sibuk memberi reward untuk pemenang dansa tadi, Azka memandang Hana yang sepertinya sedang banyak pikiran. Entah mengapa Azka merasa wanita itu menyembunyikan sesuatu. Perasaannya mendadak tidak enak. “Ini saatnya, Azka,” bisik Reina. Azka mengangguk lalu duduk di depan grand pianonya. Lelaki itu menekan tuts-tutsnya. Mencari nada. Hana mendongak saat mendengar dentingan piano. Di panggung sana, Azka akan memainkan sebuah lagu. Reina mengambil microphone yang masih berada pada tongkatnya di dekat Azka, agar ketika lelaki itu bernyanyi, suaranya bisa terdengar dengan jelas. Tamu undangan yang masih ada di sana kini duduk di kursi-kursi yang tersedia. Menunggu musik indah yang lahir dari tangan lelaki itu. “Lagu ini aku persembahkan untuk wanita yang sangat kucintai,” ujar lelaki itu. Dentingan piano kini mengalun merdu setelah mengatakan itu. Jemarinya bergerak lincah menekan tuts-tust secara bergantian. “Your hand fits in mine like it's made just for me. But bear this mind, it was meant to be. And I'm joining up the dots with the freckles on your cheeks and it all makes sense to me.” Tatapan Hana terpaku pada keseriusan di wajah Azka. “I know you've never loved the crinkles by your eyes when you smile. You've never loved your stomach or your thighs. The dimples in your back at the bottom of your spine. But I'll love them endlessly.” Dentingan itu semakin mengalun seiring jantung Hana berdetak sangat cepat. Wanita itu tidak bisa mengalihkan fokusnya pada Azka terlebih pada lirik yang ia bawakan. Lagu itu … apakah untukku? “Maybe you'll love yourself like I love you, oh. And I've just let these little things slip out of my mouth. Cause it's you, oh, it's you. It's you, they add up to. And I'm in love with you. And all these little things. I won't let these little things slip out of my mouth. But if it's true, it's you. It's you, they add up to. I'm in love with you. And all your little things. Dentingan itu berhenti. Berbeda dengan jantung Hana yang semakin lama semakin berdetak dengan cepat. Tatapan Azka yang mengarah ke arahnya membuatnya bergeming. Lelaki itu berdiri, dengan tatapan seluruh pasang mata yang berada di sana mengikuti langkah Azka yang turun dari panggung. Melangkah dengan pasti menuju wanita yang duduk di sudut taman sendirian. Langkah Azka terhenti tepat di hadapan Hana. Mereka sama-sama bergeming. Tidak tahu harus berkata apa. Beberapa menit hanya dilewati dengan saling menatap satu sama lain. Memutus kontak mata, Azka berjongkok dengan satu lutut menempel pada tanah. Kini Hana tidak usah mendongak hanya untuk menatap Azka. Lelaki di depannya itu kini merogoh sesuatu dalam saku jasnya. Sebuah kotak beludru berwarna biru dikeluarkannya. Hana bisa menebak apa isinya. Ada rasa bahagia saat menyadari Azka ingin menyatakan cintanya, mungkin. Tapi yang jelas, Hana sangat yakin jika lelaki itu akan menyatakan cintanya. Di sisi lain, Azka menahan degup jantungnya yang memompa dengan cepat. Ia bahkan merasa kalau orang lain bisa mendengar detak jantungnya saking kerasnya berdetak. Menghembuskan napas, Azka memejamkan matanya. Merapalkan doa dalam hati agar wanita yang begitu sangat dicintainya akan menerima cintanya. “Aku tidak pandai merangkai kata dan membuat puisi seperti Didikwakwak atau menyatakan rasa lewat diksi seperti Lavenia Suci. Aku pun tak pandai memakai majas tuk mengungkapkan makna. Aku hanya bisa mengatakan satu kalimat ini. Dan semoga saja kau mengerti.” Azka menyodorkan kotak beludru tadi yang kini telah terbuka dan menampakkan sebuah cincin bermatakan berlian ke hadapan Hana. Lelaki itu menatap mata wanita di hadapannya dengan penuh cinta dan harapan agar Hana, wanita yang ia cintai setengah mati itu membalas perasaannya. “I love you my Cinderella, will you marry me?” Sontak semua mata kini melebar hanya demi mendengar ucapan Azka. Begitu pun dengan Reina. Wanita itu yang masih berdiri di panggung sedikit terhuyung, untungnya Dimas dengan cepat menahannya. Reina tidak menyangka jika Azka akan melamar Hana secepat ini. Tidak menyangka! Dia kira Azka hanya akan menyatakan cintanya bukan melamarnya! Benar kan? Kian mencintaiku! Batin Hana bahagia luar biasa. Wanita itu mengulas senyum. Baru saja ia akan menjawab, ponselnya berbunyi. Wanita itu menatap Azka yang menunggu jawaban darinya. Hana mendadak bingung. Senyum yang tersungging di bibir Azka kini membuatnya menggeser layar ke arah ikon berwarna merah. “Kian, aku juga sangat ….” Ucapan Hana terinterupsi oleh bunyi ponselnya lagi. Wanita itu memilih mengangkatnya, baru saja ia akan berkata ‘halo’, suara di seberang sana membuatnya membeku. Azka dan juga orang-orang yang ada di sana juga bisa melihat perubahan dari raut wajah Hana. Di sana tidak lagi terlihat kegembiraan, melainkan ketakutan dan keputusasaan. Azka merasakan akan ada sesuatu yang buruk akan terjadi ketika melihat binar di mata Hana yang menggelap. Mematikan telepon, Hana berdiri. Tidak sengaja dia menyenggol tangan Azka hingga membuat kotak itu terjatuh. “Maaf Kian, aku harus pergi!” Tanpa menunggu jawaban dari lelaki itu, Hana segera berlari. Meninggalkan semua orang yang menatapnya kebingungan. Meninggalkan seseorang yang menatap kepergiannya dalam kekecewaan. Seseorang yang baru saja ia lukai habis-habisan. Seseorang yang saat ini tersungkur di tanah dengan pandangan tertuju pada cincin yang tergeletak di tanah. “Arin ….”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN