Hana menepikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi. Wanita itu kini sudah berada di perbatasan Jakarta—Bogor tepatnya di Ciawi. Wanita itu mematikan mesin lalu menghempaskan dirinya pada jok mobil. Air mata yang sempat ia tahan sejak tadi kini merembes keluar.
Rasa bersalah kini melandanya. Ia terisak, lalu menyandarkan keningnya pada kemudi mobil. Bahunya berguncang.
“Maafkan aku, Kian,” lirihnya masih dengan sesenggukan.
Hana tergugu. Menyesali tindakannya tadi yang sangat jelas menyakiti perasaan Azka. Wanita itu benar-benar dirajam rasa bersalah. Apa yang harus dilakukannya? Dia mencintai lelaki itu namun menyembunyikan rahasia besar padanya. Apa yang harus ia lakukan?
“Maafkan aku, Kian.” Sekali lagi ucapan permintamaafan itu kembali terdengar. Malam sudah semakin larut namun wanita itu masih tetap meratapi rasa bersalahnya. Andai saja dulu dia jujur pada lelaki itu, pasti Azka tidak berharap banyak padanya. Andai saja dia tidak selalu memperlakukan Azka seperti kekasihnya, lelaki itu pasti tidak akan terluka seperti ini. Kali ini, wanita itu nelangsa. Tidak tahu harus bagaimana.
Ingatannya terjatuh pada beberapa saat yang lalu, di mana saat Azka melamarnya di depan umum seseorang menelponnya. Ucapan lelaki di telepon itu seketika menamparnya pada kenyataan. Di mana ia merasa sangat-sangat bersalah.
“Ingat siapa dirimu, Rihana. Melambungkan perasaan seseorang dan menjatuhkannya di satu waktu itu rasanya sangat sakit. Kau harus ingat, sakit yang paling menyakitkan bukanlah luka yang berbekas, akan tetapi sebuah kepercayaan dan harapan yang dipermainkan.
“Dan satu lagi, pondasi dari sebuah hubungan bukanlah cinta, namun kejujuran. Jika pondasi hubunganmu adalah kebohongan, maka kebahagiaan yang kau rasakan pun hanyalah semu. Pikirkan perkataanku baik-baik, Nyonya Bagaskara!”
Hana mengerang frustrasi saat mengingat ucapan si penelpon. Dia tidak tahu siapa orang itu, yang jelas ucapannya langsung menohoknya. Dia terus saja menggumamkan permintamaafan.
Hana tertampar dengan ucapan itu. Ya, benar kata lelaki penelpon itu, dia hanya akan menyakiti Azka semakin dalam jika menerima lamaran lelaki itu. Semua yang dikatakan lelaki misterius itu benar. Hana menegakkan tubuhnya. Menghapus air mata yang masih saja berlinang.
Dihembuskannya napas berkali-kali, menguatkan dirinya. Kedua tangannya mencengkram setir mobil, tatapannya tajam ke arah depan. Sekali lagi ia menghirup napas dalam-dalam lalu menghembuskannya.
“Maafkan aku Kian, aku tidak pantas untukmu.”
***
Bisik-bisik kini terdengar di seluruh penjuru taman sesaat setelah kepergian Hana. Mereka semua bingung, kenapa Hana menolak lamaran Azka. Padahal sejak tadi keduanya terlihat baik-baik saja. Azka masih di posisinya, duduk tersungkur di tanah dengan menunduk.
Reina tahu jika lelaki itu tengah menangis. Terlihat jelas dari bahu Azka yang naik-turun. Wanita itu bergerak menghampiri Azka namun baru beberapa langkah, tubuhnya terhuyung ke belakang. Dia menoleh, Dimas yang sejak tadi entah ke mana kini menahan lengannya.
“Kenapa?” tanya wanita itu dengan heran.
“Biarkan dia sendiri dulu. Lebih baik kalau kita mengusir secara halus para tamu ini.”
Reina memandang sekelilingnya, di mana orang-orang sudah berkasak-kusuk dengan segala komentar mereka tentang apa yang dialami Azka. Reina menatap Dimas lalu mengangguk. Dengan pelan Reina melangkah menuju panggung dan menginformasikan bahwa lima menit lagi acara akan selesai.
Tahu diri, satu per satu dari para tamu tersebut pamit kepada Kinan dan Zayn. Kedua orang tua Azka memberi ucapan terima kasih lewat tatapan mata pada Reina yang tersenyum tipis.
Akhirnya taman hanya tinggal mereka berlima. Dimas, Reina, kedua orang tua Azka serta lelaki itu sendiri. “Sepertinya kita harus membiarkannya sendiri,” gumam Zayn yang langsung diangguki oleh yang lainnya.
“Ayo, Ma. Kita ke dalam,” ajak Zayn pada Kinan. Tatapannya kini teralih pada Dimas dan Reina. “Kalian juga lebih baik pulang. Sudah larut,” ujarnya.
Keduanya mengangguk bersamaan. Zayn dan Kinan segera berlalu dari sana. Bukannya tidak menyayangi Azka atau tidak ingin menghibur anaknya itu, namun mereka tahu jika Azka butuh ketenangan. Memancing lelaki itu bicara hanya akan memperburuk kondisinya.
Dimas menggamit lengan Reina, menuntun wanita itu untuk pergi. Tatapan Reina terus saja berada pada Azka meskipun wanita itu sudah jauh. Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya.
“Kenapa, Reina?”
Lengan Reina yang tadi digamit oleh Dimas kini terlepas karena wanita itu bergerak mundur. “Aku harus menghibur Azka, Dimas.”
“Jangan! Dia sedang dalam emosi yang labil. Dia butuh sendiri.”
“Tidak, Dimas. Dia butuh seseorang yang bisa menopangnya saat dia terpuruk.” Kini Reina berbalik, berjalan menghampiri Azka yang masih tetap berada pada posisinya.
“Jangan membuat dirimu semakin terluka dengan penolakannya, Reina. Dia, sampai kapan pun tidak akan memandangmu! Kau masih ingat kan, dia sudah menegaskan bahwa kalian hanya sahabat, tidak lebih! Jangan berpikir kalau saat ini adalah kesempatan untuk mendekatinya. Yang ada kau hanya akan tersakiti lebih dalam, Reina! Biarkan dia menikmati patah hatinya dulu!”
Reina mengepalkan kedua tangannya mendengar ucapan Dimas. Ya, tanpa lelaki itu beri tahu pun dia sudah tahu jika Azka tidak akan menoleh padanya. Lelaki itu tidak akan lari kepadanya. Dia juga yakin bahwa Azka selalu membatasinya sebagai sahabat. Hubungan mereka hanya berada pada lingkaran persahabatan.
Namun, tidak bisakah Dimas untuk berpura-pura tidak tahu menahu tentang itu? Tidak bisakah lelaki itu memberinya semangat? Reina tidak akan mencari kesempatan. Dia hanya ingin menghibur sahabatnya walau hanya menjadi pendengar.
“Ayo, pulang, Reina!” ajak Dimas sekali lagi. Tangannya kini meraih lengan Reina.
Namun Reina menepis tangan Dimas. Tanpa menoleh sedikit pun pada Dimas, wanita itu berkata, “Dia menganggapku sebagai sahabat, jadi di sini aku akan berada di sampingnya seperti sahabat yang menguatkan sahabatnya. Bukan untuk mencari celah agar dia mau menerimaku. Aku sahabatnya. Kau pun sepertinya masih ingat jika kau juga sahabatnya. Tapi, bukankah sahabatlah yang akan menjadi penopang bagi sahabat mereka? Bukankah sahabat yang akan mengulurkan tangan saat sahabatnya terjatuh?
“Sepertinya kau lupa arti sebuah persahabatan, Dimas. Di sini, mulai malam ini, aku hanya akan bertindak sebagai sahabat. Jika Azka bahagia dengan hubungan persahabatan ini, maka hanya itu yang akan terjalin.”
Dimas mengeraskan rahangnya. Ingin sekali dia berteriak memaki kebodohan Reina. “Kau hanya akan semakin tersakiti, Reina!”
“Pulanglah, Dimas. Ini sudah malam.” Kembali Reina menolak mendengar ucapannya.
Dimas menghembuskan napas dengan kasar. Lelah berdebat dengan wanita di hadapannya ini. Dia menatap punggung Reina. “Kalau begitu, jangan lari padaku saat kau kembali terluka oleh lelaki yang sama, Reina.”
Setelah mengatakan itu, Dimas bergegas pergi. Terlalu lelah dengan Reina yang tetap keukeh dengan pendiriannya. Di sisi lain, Reina yang sejak tadi menggigit bibirnya menahan gejolak rasa ingin menangis, kini bergumam, “Maaf, Dimas. Aku harus berada di sisi Azka. Jika dia bahagia dengan persahabatan kami, aku pun akan bahagia. Kau tahu kan, cinta tidak harus memiliki. Cinta yang sesungguhnya adalah saat kita melihat orang yang kita cintai bahagia. Dan itulah kenyataannya, aku ingin melihat Azka bahagia walau tak bersamaku.”
Pelan, Reina duduk di samping Azka yang masih tetap pada posisinya semula. Lelaki itu bergeming tidak menanggapi kehadiran Reina. Wanita itu menatap Azka sendu. Sebegitu dalam kah cinta Azka pada Hana, hingga lelaki itu terpuruk seperti ini? Tiba-tiba Azka mendongak, menoleh ke arah Reina. Lelaki itu tersenyum namun matanya menyiratkan duka.
“Aku benar-benar menyedihkan ya, Reina?” bisiknya dengan suara parau.
Reina tidak menjawab, wanita itu hanya diam. Karena terkadang, seseorang yang sedang terluka lebih butuh pendengar daripada penasihat.
“Aku sangat mencintai Arin. Dua puluh tahun lebih aku menyimpan perasaan ini sendirian, Reina. Aku—aku tidak tahu kenapa Arin menolakku. Apakah aku tidak cukup baik untuknya? Ataukah dia mencintai lelaki lain? Kalau iya, kenapa dia memberiku harapan?”
Terlintas kenangan masa lalu di kepala Azka. Di mana Hana saat kecil yang selalu saja mengganggunya, mengejar sampai merecokinya tiap hari karena ia tak ingin bicara padanya. Lihat, sekarang siapa yang mengejar?
“Mungkin ini karma ya, Reina?”
Reina tidak menjawab, namun wanita itu hanya menatap Azka terus-menerus. “Aku harus apa, Reina? Aku hancur,” lirih Azka.
Wanita itu menepuk pundak Azka, menyalurkan sedikit kekuatan pada lelaki itu.
“Reina,” panggil Azka dengan pelan.
“Ya?”
“Tolong tetap di sini. Kumohon,” ujar lelaki itu.
Reina menatap Azka dengan mata berkaca-kaca. Walau kau tidak memohon pun, aku tetap akan berada di sisimu, Azka.