“Nyonya. Teman Nyonya yang pernah ke sini, ada di luar, Nya.”
Hana yang sedang menyendokkan nasi goreng ke piring Ian kini mendongak menatap Bi Asi.
“Teman? Siapa, Bi?” wanita itu mengerutkan keningnya, satu nama langsung muncul di pikirannya saat Bi Asi mengatakan hal itu. Namun wanita itu tidak ingin hanya menebak ia ingin memastikannya.
“Itu loh, Nya. Yang tampan dan keren,” jawab Bi Asi.
Kian? Tapi mana mungkin. “Kian?”
Bi Asi mengedikkan bahunya. “Entahlah, Nya.”
Hana mengangguk. Ia lalu berdiri dan segera keluar menemui Azka. Di teras, Azka yang semula duduk di kursi kini berdiri saat melihat Hana. Wanita itu menatap sendu Azka yang sepertinya kelelahan. Kedua mata lelaki itu tampak bengkak.
Mungkinkah dia menangisiku?
Lelaki itu bergerak mendekati Hana namun dengan cepat wanita itu memundurkan langkahnya. Penolakan itu membuat d**a Azka seketika berdenyut.
“Apa salahku, Rin? Kenapa kau menjauhiku,” lirih lelaki itu.
Hana menahan isakannya yang tiba-tiba ingin menyeruak. Dia cukup sedih melihat Azka. Lelaki itu masih memakai pakaian yang dia pakai semalam di pesta.
“Pulang, Kian,” usir Hana secara halus.
Azka menggeleng. Lelaki itu menolak pergi. Untuk apa dia pagi-pagi datang ke tempat ini jika harus pergi tanpa kepastian dari Hana?
“Jangan membuatku gila, Rin!”
“Aku tidak membuatmu gila, Kian!” Suara Hana tercekat di tenggorokannya.
Untuk kali pertamanya wanita itu menatap mata Azka setelah ia melukainya habis-habisan tadi malam. Azka tertegun, ini bukan Arin-nya.
“Rin, kumohon. Jelaskan padaku apa salahku,” pinta lelaki itu.
Azka kembali bergerak mendekati Hana, wanita itu bergeming namun pandangannya tidak tertuju pada Azka melainkan ke arah yang lain. Jujur, ia pun tersiksa jika harus mendiami lelaki itu.
“Rin, aku mencintaimu, Rin!”
“Tapi aku tidak mencintaimu, Kian! Aku mencintai lelaki lain!”
“Bohong!” tukas Azka geram.
Lelaki itu menggeleng tidak percaya dengan apa yang dikatakan Hana. “Kita sama-sama mencintai, Rin. Aku tahu itu,” tandasnya.
Matanya menatap Hana yang tidak ingin menatapnya dengan tajam. Lelaki itu meraih Hana dalam pelukannya hingga wanita itu tersentak. “Lepaskan aku, Kian!” bentak Hana.
Wanita itu berusaha dengan keras melepas dirinya dari Azka namun lelaki itu semakin merengkuhnya. Setiap Hana memberontak, Azka pun semakin mengeratkan pelukannya. Lelaki itu rapuh, namun berusaha sekuat tenaga menopang Hana yang sama-sama terluka oleh takdir.
“Jadilah milikku, Rin,” bisik Azka dengan lembut, tepat di telinga Hana.
Dan satu lagi, pondasi dari sebuah hubungan bukanlah cinta, namun kejujuran. Jika pondasi hubunganmu adalah kebohongan, maka kebahagiaan yang kau rasakan pun hanyalah semu. Pikirkan perkataanku baik-baik, Nyonya Bagaskara!
Seperti disengat listrik, Hana menjauhkan dirinya dari lelaki itu. Membuat jarak mereka semakin terbentang. Wanita itu bergerak gelisah mengingat ucapan si penelpon misterius itu. Dia lalu menatap Azka, lelaki itu tampak terkejut. Pandangan matanya sendu.
“Rin, aku moh—“
“Pulang, Kian,” potong Hana.
Azka menggeleng. “Menikahlah denganku, Rin.”
“Tidak, Kian. Pergilah!”
“Rin, kumohon!”
Hana menggeleng. Wanita itu bergegas masuk ke rumahnya lalu menutup pintu. Meninggalkan Azka yang menatap kepergiannya dengan nelangsa.
“Kenapa mencintaimu harus sesakit ini?” gumam lelaki itu.
***
“Mas, bisa kita bicara?”
Rama yang sedang menyesap kopinya di gazebo kini mendongak menatap Hana yang berdiri di sebelahnya. Lelaki itu menaruh cangkir ke meja. Kedua matanya memberi isyarat agar wanita itu duduk di sampingnya.
“Ada apa?”
Hana diam. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Jika dia salah bicara, lelaki yang hanya memakai boxer itu pasti akan marah padanya. Rama memperhatikan raut wajah istrinya. Hari ini wanita itu terlihat murung, padahal beberapa waktu yang lalu Hana terus saja menyunggingkan senyum.
“Hana?” panggil Rama sekali lagi.
“A—aku—aku anu ....”
“Ada apa, sih?” Kerutan di kening Rama semakin bertambah melihat Hana seperti itu. Lelaki itu berdiri, meraih baju mandi dan memakainya lalu kembali duduk.
“Kenapa?” tanyanya lagi, untuk ke sekian kalinya.
Hana menghembuskan napasnya lalu memberanikan diri menatap mata suaminya. “Aku ingin kita memulai hubungan kita yang baru, Mas. Aku ingin kita perbaiki semuanya. Mungkin kamu belum bisa memaafkanku, tapi bisakah kau membuka saja sedikit pintu maaf bagiku? Apa pun yang kau minta akan kulakukan, Mas.” Semua itu diucapkan dengan penuh keyakinan dan satu tarikan napas oleh Hana.
Rama diam, mencerna segala ucapan istrinya. Sesaat kemudian, dia bertanya, “Apa pun?”
Anggukan mantap dari istrinya membuat dia tersenyum. “Baiklah.”
Hana menghela napas lega. Merapalkan doa dalam hati, berharap keputusan untuk memperbaiki hubungan dengan Rama adalah benar. Namun, tiba-tiba dia teringat sesuatu yang paling penting sebelum merajut rumah tangganya kembali.
“Mas ... karena kita sepakat memperbaiki hubungan ini, aku mau kamu jujur sama aku.”
“Tentang?”
“Wanita selingkuhanmu.”
Rama menegang, tetapi hanya beberapa saat sebelum berkata, “Kenapa dengannya?”
“Putuskan hubungan kalian.”
Memutuskan hubungan dengan Nadine? Tidak mungkin!
“Mas?” panggil Hana.
Rama tersentak. “Ya?”
Hana menatap dalam mata suaminya, berusaha mencari kebenaran di dalamnya. “Hubungan Mas dengan wanita itu hanya main-main, kan? Mas tidak berbuat lebih dari itu, kan?”
Rama mengeraskan rahangnya. Main-main dengan Nadine? Tidak, ini bukan lagi sekadar main-main, hubungannya dengan Nadine lebih dari itu. Namun, Rama tidak mungkin mau mengakui hal itu, apalagi beberapa saat yang lalu mereka baru sepakat memperbaiki hubungan.
Mengulas senyum sebagai penenang, Rama kemudian meraih Hana dalam pelukannya. “Ya. Mas akan memutuskan wanita itu.”
***
Kau pernah merasa berada pada titik terendah hidupmu? Di mana kau seperti berada di tengah laut tanpa tahu arah. Terombang-ambing dalam keheningan. Jika pernah, kau pasti tahu bagaimana perasaan Azka jika tidak bisa memiliki Hana, wanita yang ia cintai selama lebih dari dua puluh tahun.
Sebulan ini lelaki itu hanya menunjukkan wajah menyeramkannya; datar sedatar-datarnya. Tak ada senyum yang tersungging walau hanya sedikit. Guru-guru yang tahu penyebab lelaki itu jadi seperti ini pun hanya memperhatikannya dalam diam. Pak Bambang yang biasanya sangat suka bercanda kepadanya pun cukup tahu diri untuk tidak menambah beban pikiran lelaki itu.
Hanya Ambar yang gencar mendekatinya walau Azka sudah menolaknya untuk yang ke sekian kalinya. Seperti saat ini, wanita itu kembali memulai aksinya saat jam istirahat berbunyi. Azka yang sedang menginput data siswa kini terganggu oleh kehadiran wanita itu.
“Azka, sepulang sekolah kita jalan, ya!” ajak Ambar, kedua tangannya kini menempel pada pundak lelaki itu.
Azka tidak merespon. Terlalu lelah menanggapi wanita sepertinya. Beberapa guru yang melihat itu hanya memasang tampang masa bodoh. Mereka tahu kalau Ambar sejak dulu sudah mengejar-ngejar Azka, tapi sayang lelaki itu sama sekali tidak tergoda walaupun wanita itu sangat cantik dengan tubuh bak seorang model.
“Azka, kamu dengar aku, kan?”
Tiba-tiba Azka berdiri, membuat Ambar yang berada di belakanganya mundur beberapa langkah. Lelaki itu memutar tubuhnya menatap Ambar. Tatapan matanya tajam, raut wajahnya pun kelam. Tidak ada sedikit pun pancaran kebaikan dari sana.
“Kau butuh perhatian dari seorang lelaki? Sepertinya kau salah jika memilihku. Kau seorang guru, dan sepertinya kau tidak bodoh untuk memahami jika seseorang menolak didekati olehmu. Anak kecil yang dijuhi sekali dua kali oleh temannya sudah cukup tahu diri, kenapa kau tidak?"
“Dan sepertinya kali ini aku perlu bicara blak-blakan karena penolakan secara halus tidak akan membuatmu mengerti. Jadi ....” Lelaki itu menggantungkan ucapannya dan memicingkan mata. “Berhenti mendekatiku! Aku muak!”
Setelah mengatakan itu, Azka segera berlalu dari sana. Meninggalkan Ambar yang kini berurai air mata.