Butuh Jawaban

1227 Kata
Saksi kenelangsaan Azka adalah Reina. Selama hampir sebulan ini wanita itu terus saja berada di dekat Azka ketika mereka pulang kerja. Hari ini Reina bolos dari pekerjaannya karena Azka memanggilnya. Lelaki itu sedang kacau pikirannya dan Reina tidak mau mengambil resiko Azka akan melakukan hal-hal yang bisa merugikan dirinya sendiri. Hari ini kafe yang letaknya tidak jauh dari Monas tampak sepi. Mungkin karena sekarang jam kerja dan waktu sibuk orang-orang. Reina menatap Azka tidak kalah nelangsanya. Wanita itu sudah ribuan kali melihat mata yang menyimpan duka tersebut. Reina mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Berinisiatif untuk bertanya ada apakah gerangan lelaki itu memintanya ke sini. “Kemarin aku ke rumah Arin,” ujar Azka dengan pelan. Reina tidak menjawab, wanita itu menunggu kalimat selanjutnya namun sampai beberapa detik, hanya sunyi yang menguasai. Reina menghembuskan napasnya dengan kasar, lagi. “Bagaimana?” tanya wanita itu. Azka gusar, lelaki itu mengembuskan napas berulang kali. Memaki dalam hati kenapa dia bisa selemah ini hanya karena cinta. “Dia tidak mau menemuiku. Pembantunya selalu saja bilang dia tidak ada. Padahal aku tahu dia ada di rumah.” Seorang pelayan datang membawakan secangkir chocolate latte dan coffe late yang tadi dipesan oleh mereka. Baru setelah pelayan itu pergi Azka melanjutkan, “Dia benar-benar tidak mau menemuiku, Reina. Aku salah apa? Kalau Arin tidak mencintaiku, harusnya dia bilang. Jangan menjauhiku. Sudah cukup kami terpisah selama dua puluh tahun. Sudah cukup aku menyimpan rasa rindu yang teramat dalam selama dua puluh tahun, Reina.” Reina ingin berkomentar atau memberi ucapan penyemangat dan penenang bagi Azka, namun wanita itu bingung. Lelaki yang masih berseragam dinas itu tiba-tiba berdiri lalu menatap Reina. “Hari ini aku harus meminta jawaban dari Arin. Sampai dia tidak menjelaskan alasannya menolakku, aku takkan pergi dari rumahnya.” *** “Bunda, Ayah belum pulang?” tanya Ian yang baru saja selesai mandi. Hana yang berada di depan lemari anaknya itu menjawab, “Belum, Sayang.” Ian menatap ke luar jendela, langit kini menampakkan awan hitam, gemuruhnya pun terdengar. Ian menarik ujung baju ibunya. “Sebentar lagi hujan, Bun. Kenapa Ayah belum pulang?” tanyanya dengan cemas. Hana tersenyum. Wanita itu duduk setengah berlutut. Kedua tangannya memegang lengan anaknya. “Ayah kan kerja, Sayang. Kata Ayah, dia lembur malam ini.” “Tapi kan, Ayah sudah janji mau temani Ian ke pasar malam.” “Besok ya, Sayang. Kasihan Ayah, pasti capek. Ian tidak boleh egois ya, Nak?” Walau masih kesal, Ian akhinya mengangguk. Setelah memakai pakaiannya, dia bergegas keluar dari kamar. Hana berdiri lalu menuju balkon. Malam ini sepertinya hujan akan turun sangat lebat. Di bawah langit yang hitam, Hana tersenyum. Setidaknya hubungannya dengan Rama sebulan ini cukup baik. Yah, walaupun dia harus rela membuang benda apa saja yang berhubungan dengan masa lalunya. Sejak dulu Hana selalu menyimpan benda yang selalu Azka berikan padanya. Mulai dari boneka sampai gaun. Wanita itu menghela napas berat. Meski sebenarnya ia tidak rela, tapi ia harus melakukannya. Suaminya sudah memberinya satu kesempatan jadi dia pun harus memanfaatkannya dengan baik. Demi kebaikan rumah tangganya. Dering ponsel menginterupsi keterdiamannya. Ia berjalan masuk mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Id caller bertuliskan Mas Rama terpampang di layar ponselnya. Senyum tulus tersungging di bibir wanita itu sebelum mengangkat telepon tersebut. “Halo, Mas,” sapanya riang. Di seberang sana Rama terkekeh geli. Rasa senang membumbung tinggi di dadanya. Keceriaan Hana yang pernah hilang dua tahun belakangan ini akhinya kembali. Rama merindukan hal ini. “Halo, Sayang. Tebak aku di mana?” Hana mengerutkan keningnya, bingung dengan pertanyaan Rama. “Kantor kan?” Rama menggeleng, meski ia tahu Hana tidak bisa melihatnya. “Bukan.” “Lalu?” “Aku di dekatmu.” Hana menoleh dengan cepat, wanita itu ingin mengumpat namun tidak menemukan siapa pun. Ia pun sadar jika sedang dibohongi Rama. “Mas, tidak lucu loh!” Di seberang sana, Rama tertawa geli. Dia membayangkan ekspresi kesal yang ditunjukkan Hana saat ini. Lelaki itu menghela napas setelah tawanya redah. “Aku tidak bohong, Han.” Hana masih mengerucutkan bibirnya, kesal dengan Rama. “Aku di dekatmu, tepatnya, di hatimu.” Perasaan hangat kini menjalar di hati Hana. Wanita itu tersenyum, matanya menyiratkan hal yang sama. Dia berjalan menuju tempat tidur lalu duduk bersila. “Kau raja gombal,” celetuknya.. “Bukan,” elak lelaki itu. “Lalu apa?” “Raja hatimu.” “Yee ... sama saja!” Tawa keduanya kembali berderai. Masing-masing saling melempar candaan. Sama seperti dulu. Keduanya kini sama-sama merasakan kebahagiaan yang pernah hilang. Hana memutuskan sambungan ketika Rama pamit karena ada rapat penting yang harus dihadirinya. Wanita itu menatap layar ponselnya. Senyum tersungging di bibirnya. “Terima kasih Mas Rama,” bisiknya pelan. *** “Hari ini aku harus meminta jawaban dari Arin. Sampai dia tidak menjelaskan alasannya menolakku, aku takkan pergi dari rumahnya.” Reina menghembuskan napas panjang berulang kali, berat rasanya menghadapi Azka. Ingin sekali Reina membuat Azka mengerti bahwa Azka tidak boleh memaksakan perasaannya terhadap Hana. Penolakan yang dilakukan Hana di depan orang banyak sudah jelas menjadi bukti bahwa wanita itu tidak mencintainya. Namun, terlepas dari perasaanya kepada Azka, Reina cukup bingung dan heran dengan penolakan Hana. Melihat interaksi dan tatapan Hana terhadap Azka saat mereka bertemu, Reina yakin bahwa wanita itu juga mencintai Azka. Namun, entah mengapa dia malah menolaknya. “Sudah kubilang, kan? Dia sudah dibutakan cinta.” Reina mendongak saat seseorang menarik kursi dan duduk di tempat yang ditinggalkan Azka. Wanita itu mengembuskan napas panjang melihat Dimas. Reina yakin seratus persen kalau Dimas akan menceramahinya lagi. “Kau yang dikelilingi banyak wanita mana mungkin mengerti apa yang dinamakan cinta.” Reina menopang dagu dengan kedua tangan yang bertumpu pada meja. “Aku dan Azka itu sama-sama jatuh cinta, sayangnya harus bertepuk sebelah tangan.” Helaan napas berat kembali terdengar, kini Reina menatap wajah Dimas. “Miris, kan?” Dimas menyandarkan punggungnya pada kursi, menggeleng tegas seraya berkata, “Tidak semiris itu andai saja kau move on dari Azka.” “Haaah.” Reina mendesah, kemudian ikut bersandar pada kursi. “Tidak semudah itu, Dimas.” “Move on itu mudah kalau diiringi dengan niat yang kuat.” “Susah, Dim. Aku sudah berusaha.” Kedua alis Dimas menukik tajam mendengar ucapan Reina. “Usahamu yang mana? Berpura-pura pacaran denganku tetapi hanya menghabiskan seluruh waktumu untuk memikirkan Azka saja? Atau ... mencoba ikhlas tiap kali melihat Azka dengan wanita lain? Itu yang kau namakan usaha?” Reina berdecak sebal. Dimas ini selalu saja menceramahinya, padahal saat ini Reina butuh ketenangan. Ingin menenangkan hati dan pikirannya melihat laki-laki yang dia cintai kini berjuang meraih cintanya yang lain. “Aku tidak tahu hatimu itu terbuat dari apa, tapi aku penasaran. Apa kau tidak pernah jatuh cinta?” “Cinta?” Reina mengangguk. “Iya, cinta yang benar-benar cinta.” Dimas terdiam beberapa saat. Cinta, ya? Apa ada wanita yang bisa membuatku jatuh cinta? Dimas memutar otak, memikirkan siapa wanita yang dekat dengannya dan kemungkinan bisa membuatnya jatuh cinta. Namun, setelah mencari-cari, Dimas yakin belum ada wanita yang bisa mengisi hatinya. “Sepertinya tidak ada,” ujarnya kemudian. Reina memutar bola mata. “Suatu hari nanti, kalau kau sudah jatuh cinta dengan seseorang, aku orang pertama yang harus kau beri tahu. Aku mau lihat, bagaimana orang sepertimu dalam memperjuangkan cinta.” Dimas tertawa mendengarnya. “Baiklah, aku janji. Kau akan jadi orang pertama yang kuberi tahu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN