“Kian?”
Hana terperanjat saat ia keluar dari rumahnya. Wanita itu berniat ke super market. Dia terkejut melihat penampilan Azka yang berantakan. Wajah lelaki itu sangat kusut. Hana berniat menutup pintu namun dengan cepat ditahan oleh Azka. Tanpa bisa dicegah oleh wanita itu, Azka menerobos masuk.
“Kian! Kamu mau apa ke sini?”
“Meminta jawaban dari pertanyaanku.”
Hana tertegun mendengarnya, hanya sebentar karena wanita itu segera berkata, “Apa dengan pergi meninggalkanmu di pesta waktu itu belum cukup membuatmu tahu jawabanku?”
Azka mengepalkan kedua tangannya. Dia tahu! Hanya saja lelaki itu menolak menerima kenyataan itu.
“Jelaskan padaku, Rin,” pinta Azka pelan. Jujur, melihat Hana yang terlihat segar dan nampak sehat seperti sekarang membuat hatinya ngilu. Tidakkah Hana merasa sedih karena telah melukai hati sahabatnya itu?
“Aku mencintai lelaki lain, Kian.” Jawaban itu meluncur dari mulut Hana.
Azka bergeming demi mendengar ucapan Hana. Lelaki itu menatap matanya, mencoba mencari kebohongan di sana. Namun yang ia dapati justru sebaliknya.
“Tidak mungkin.” Azka menggeleng.
“Itulah kenyataannya, Kian.”
“Tidak, Rin! Tidak! Kamu bohong!” Azka memegang kedua bahu Hana.
Dia masih tidak ingin percaya. Tidak ingin. Yang dia tahu Hana juga mencintainya. Hana tersenyum getir, hatinya sakit melihat Azka yang kini menatapnya penuh luka. Sangat sakit. Tidak perlu mencari tahu seberapa besar hatinya ikut terluka.
“Putuskan lelaki itu, Rin! Dia tidak boleh memilikimu!” desak Azka.
Putus? Hana menantang tatapan Azka. “Tidak bisa, Kian. Aku mencintainya.”
Azka melepas Hana, lelaki itu menghempaskan tubuhnya pada dinding yang dingin. Dia menggeleng. Rasa sesak di hatinya meghimpit tenggorokannya.
“Jangan pernah bohong padaku, Rin! Aku mencintaimu! Aku mau kamu jujur padaku, Rin!”
Hana memalingkan wajahnya. Ia menggigit bibirnya, hatinya pun ikut terluka melihat kondisi lelaki yang sangat ia cintai itu. Namun, ia tak bisa melakukan apa-apa. Cinta mereka takkan pernah bisa menyatu. Takkan pernah bisa.
"Kumohon, Rin. Katakan yang sebenarnya. Apa kamu mencintaiku?"
Hana, wanita itu menggeleng dan berkata, "Tidak." Jawaban Hana tak selaras dengan hati dan bahasa tubuhnya.
Wanita itu menunduk, tangis yang ia tahan sejak tadi akhirnya keluar. Ia tak sanggup untuk membohongi dirinya sendiri terlebih pada seseorang yang ia cintai sejak dua puluh tahun yang lalu.
Melihat Hana menangis, Azka mendekati dan merengkuhnya. Tangis Hana pecah di dalam d**a bidang lelaki itu.
"Jangan pernah berbohong padaku Rin, aku terlalu mengenalmu," lirih Azka.
Sejenak Hana merasa nyaman, sejenak wanita itu ingin terus seperti ini. Sejenak, ia ingin selamanya seperti ini. Melupakan segala kenyataan dan takdir yang mempermainkan mereka. Namun, di detik berikutnya, Hana melepaskan dirinya dari rengkuhan Azka, membuat lelaki itu menatapnya dengan nanar.
"Aku dan kamu tidak akan pernah menjadi KITA, Kian. Tidak akan pernah!"
Azka tertegun. Apakah ia semenyedihkan ini hingga wanita yang sangat ia cintai menolaknya mentah-mentah?
"Beri tahu aku alasan yang cukup jelas, Rin. Agar aku mengerti. Setelah kamu memberikan alasan yang jelas, aku janji akan pergi."
"Aku mencintai lelaki lain." Lagi dan lagi Hana memilih untuk berbohong.
Haruskah wanita itu terus berbohong seperti ini demi menjaga hatinya sendiri?
Azka mengerang, dia menjambak rambutnya sendiri, merasa frustrasi dengan jawaban Hana.
Lelaki itu menatap Hana, tatapannya sangat-sangat terluka. Dengan cepat dia memegang bahu Hana, kedua matanya menatap mata cokelat milik wanita itu. "Aku tahu kau mencintaiku, Rin. Sudah kukatakan, jangan pernah berbohong padaku. Aku sangat men—“
"Iya! Aku juga mencintaimu, Kian! Sangat mencintaimu!"
Azka tertegun, mencerna ucapan Hana. Wanita itu melepaskan dirinya dari Azka. Dia terduduk di lantai, isak tangisnya kini terdengar. Sungguh, membohongi perasaan sendiri benar-benar melelahkan.
Azka tersenyum, benar bukan, Arin juga mencintainya?
Lelaki itu kini ikut duduk, menangkup wajah Hana yang berlinang air mata. Dihapusnya air mata itu dengan jemarinya dan ditatapnya kedua mata itu dengan lembut.
"Aku tahu, Rin. Kamu sangat mencintaiku. Tapi kenapa kamu selalu saja mengelak? Tidak bisakah kau memenangkan hatimu?"
Kedua tangan Hana terangkat, menyentuh tangan Azka lalu melepaskan tangkupannya. Wanita itu tersenyum miris. "Percuma kita saling mencintai, jika kita tak bisa bersama, Kian."
Azka tertegun. Bagaimana bisa mereka takkan bisa bersatu? Sedangkan dasar sebuah hubungan adalah cinta, dan mereka memiliki itu.
"Bag—“
"Aku sudah menikah, Kian," lirih Hana.
Azka terkesiap. Ia terhuyung ke belakang. Dadanya terasa sesak. Ia bagai dihantam godam raksasa.
"Aku punya seorang anak ...."
Azka menggeleng. Tak mau percaya dengan ucapan wanita itu. Tak ingin menerima kenyataan. Arin berbohong lagi!
"Aku bahagia dengan pernikahanku ...."
"Cukup, Rin!" Azka tak sanggup mendengarnya.
"Keluarga kecil kami sangat bahagia, Kian."
"Tidak mungkin!"
Hana mendongak, menatap Azka yang kini terlihat kacau. "Itu kenyataannya Kian," ujarnya dengan pelan.
"Tidak mungkin!"
Azka berdiri. Ingin sekali ia memaki, mengumpat atau apa pun agar bisa melegakan hatinya, tapi yang ada dia terus saja semakin tersiksa.
"Kamu bohong!"
Hana menghela napas. Dadanya terasa sesak. Meskipun ingin bersama lelaki di hadapannya ini seperti mimpinya, ia tetap mempergunakan akalnya.
Hana mengangkat tangan kanannya. "Lihat, cincin ini disematkan oleh suamiku sebelas tahun yang lalu."
Azka menatap tangan Hana, sebuah cincin emas putih dengan berlian sebagai permatanya terlihat berkilau akibat cahaya lampu yang menerpanya. Lagi dan lagi, Azka menggeleng. Masih tidak ingin percaya apa yang dikatakan wanita itu.
"Kami sangat bahagia. Kuharap kau bisa menerima kenyataan itu."
Setelah mengatakan itu, Hana segera berlalu dari sana. Sepeninggal Hana, lelaki itu merosot. Memejamkan matanya. Kenapa? Kenapa Hana harus menikah dengan lelaki lain? Kenapa? Tidakkah dia tahu bahwa selama dua puluh tahun lelaki itu tetap setia menunggunya?
Bi Asi yang sedari tadi memperhatikan pertengkaran itu segera menghampiri Azka dengan membawa segelas air putih.
"Diminum dulu," ujarnya.
Azka menatap nanar Bi Asi. Lelaki itu tersenyum getir. Kehancurannya pun disaksikan oleh orang lain.
"Terima kasih, Bi," ujarnya setelah menandaskan minumannya.
Lelaki itu berdiri, setelah meengangguk singkat pada Bi Asi, ia segera pergi.
Malam yang gelap kini menemani langkahnya. Lelaki itu menuju tempat di mana ia pertama kali bertemu dengan Hana setelah puluhan tahun terpisah. Di bawah guyuran air hujan di tengah malam, lelaki itu meluapkan perasaannya pada hamparan sawah di bawah sana. Memaki kesialannya karena tak bisa memiliki Hana.
Jika menyakiti aku bisa membuatmu bahagia
Maka lakukanlah itu tanpamu kuyakin bisa
Ikhlas kumencintaimu, ikhlas kukehilanganmu
Semoga kau bahagia dengan pilihanmu itu
Kau bersama dia ... aku bersama doa...
***
Reina terbangun ketika mendengar ketukan pintu. Wanita itu brrgegas keluar dari kamarnya. Dia terkesiap saat membuka pintu tiba-tiba mendapati Azka terjatuh di hadapannya. Reina segera menarik lelaki itu yang basah kuyup. Sekuat tenaga dia menuntun lelaki itu menuju kamar tamu lalu membaringkannya di tempat tidur.
Reina tidak peduli jika kasurnya basah, yang terpenting baginya adalah Azka. “Dia basah,” gumam Reina.
Baru saja ingin memanggil pembantunya, wanita itu seketika tersadar bahwa sudah seminggu ini pembantunya izin pulang kampung. Reina menggigit jarinya gelisah. Azka saat ini sedang kedinginan, pakaiannya basah. Ia tidak tahu harus bagaimana untuk mengganti pakaian lelaki itu.
“Aku harus bagaimana?”
Dia melirik Azka yang tengah tertidur. “Azka,” panggilnya. Namun tak ada respon dari lelaki itu.
Reina meneguk salivanya. Sepertinya dia yang harus menggantikan pakaian Azka. Apa boleh buat, daripada lelaki itu mati kedinginan. Pelan, Reina mendekatinya. Wanita itu segera duduk di sampingnya. Tangannya terulur membuka satu per satu kancing kemeja Azka. Seiring tangannya bergerak, jantung Reina pun berdebar sangat kencang. Bahkan wanita itu takut jika Azka tiba-tiba sadar dan menganggap dirinya berniat macam-macam.
Semua kancing sukses terlepas dari pengaitnya. Hanya tinggal mengeluarkan kemeja itu dari tubuhnya. Gemetar, Reina mengangkat lengan kiri Azka lalu mengeluarkan pakaian lelaki itu. Reina menghela napas lega. Tinggal satu lagi, pikirnya.
Kembali Reina membantu Azka mengeluarkan pakaiannya, saat itulah tiba-tiba tangan Azka bergerak cepat lalu merengkuhnya. Reina terkesiap. Kini wanita itu berada dalam rengkuhan Azka, tepatnya berbaring di samping lelaki itu.
“Azka,” cicitnya.
Kedua mata Azka sedikit terbuka, lalu lelaki itu tersenyum. Tanpa Reina sadari Azka dengan cepat meraih wajahnya dan mencium bibirnya. Jantung wanita itu kembali berdebar tidak karuan. Memompa dengan cepat. Kini lelaki itu melumat bibirnya dengan dalam.
Untuk sesaat Reina membiarkan Azka melumat bibirnya tanpa membalas ciuman tersebut. Dia hanya bergeming. Tiba-tiba Azka bergerak, ia menempatkan Reina berada di bawahnya, tanpa menindih wanita itu. Azka melepaskan ciumannya sebentar hanya untuk mengatakan, “Aku mencintaimu.”
Yang membuat Reina membeku. Cinta? Sesaat Reina tersenyum bahagia namun detik berikutnya dia merasakan sesuatu yang ganjil. Napas lelaki itu ... bau alkohol! Belum sempat berpikir lagi, Azka kembali melumat bibirnya.
Lumatan itu begitu dalam hingga Reina merasa dirinya akan terbang. Wanita itu meloloskan desahan saat Azka sejenak melepaskan pagutan mereka. Kembali Azka memagut bibir Reina. Kini Reina membalasnya, tangan wanita itu terulur memeluk lehernya. Saat ini Azka duduk bersandar di kepala ranjang sedangkan Reina berada di pangkuannya.
“Aku mencintaimu.” Kembali Azka mengucapkan kata itu hingga perasaan Reina membuncah ruah.
Wanita itu tidak peduli lelaki yang kini bersamanya itu sedang mabuk atau tidak, yang penting saat ini mereka saling mengungkapkan isi hati masing-masing.
Mata Reina melebar saat merasakan sebuah tangan menelusup di punggungnya, tepatnya di balik piamanya. Ia ingin menepis tangan Azka, namun melihat tatapan lelaki itu yang menginginkannya wanita itu akhirnya membiarkan hal itu terjadi.
Malam ini, Reina tidak peduli lagi akan apa yang terjadi nanti. Yang terpenting, saat ini ia memiliki Azka, seutuhnya.