“Maaf, Tante. Azka masih sama seperti terakhir kali Reina kabarkan. Dia lebih banyak murungnya.”
Kinan menghela napas berat. Sudah berulang kali dia mempertanyakan kabar Azka pada Reina, tetapi tetap saja dia hanya mendapatkan jawaban yang sama. Sebagai seorang ibu, melihat anaknya disakiti dan dipermalukan di depan banyak orang, dia jelas tidak akan memaafkan orang yang membuat anaknya seperti itu. Kinan bahkan tidak menyangka kalau anaknya masih menyimpan cinta masa kecilnya sampai sekarang. Kinan sempat salut saat Azka ingin melamar wanita yang dicintainya. Kinan senang karena Azka yang dikenal anti wanita akhirnya mendeklarasikan diri bahwa dia jatuh cinta dan akan melamar wanita itu. Kinan bahkan senang saat tahu bahwa Hana-lah wanita yang dicintai Azka. Namun, wanita baik-baik yang dia kenal sejak kecil, ternyata adalah orang yang tega menghancurkan nama baik keluarga Mahendra. Jika Hana memang tidak mencintai Azka, setidaknya jangan menolak Azka dengan seperti itu. Mereka bisa saja membicarakan semuanya setelah pesta berakhir.
Tindakan Hana benar-benar mencoreng reputasi keluarga Mahendra dan Kinan bersumpah tidak akan memaafkan Hana meskipun wanita itu menyembah-nyembah dirinya. Sudah beberapa bulan sejak hari dipermalukannya Azka dan sampai sekarang masih saja banyak sindiran-sindiran nakal dari para tetangga dan keluarga.
“Tante? Tante masih di sana, kan?”
Kinan tersentak dari lamunan. “Iya, Tante masih di sini. Baiklah, Reina. Tante titip Azka, ya, Sayang.”
“Baik, Tante.”
Setelah Reina menutup telepon, Kinan kemudian menghempaskan dirinya ke sofa, menatap langit-langit ruang tamu bernuansa gold itu. Ingatannya kemudian berlalu ke saat Azka mengabarkan akan melamar wanita yang dicintainya.
“Ma, Azka jatuh cinta.”
Ucapan Azka membuat Kinan dan Zayn langsung menghentikan aktivitas mereka. “Kamu serius, Nak?” tanya Zayn lalu meletakkan koran di meja. Anggukan Azka membuat Kinan segera ikut duduk di samping anaknya itu. Azka jatuh cinta? Wow, itu adalah momen paling langka. Kinan dan Zayn sangat mengenal anak mereka yang anti wanita, dan melihat Azka curhat dirinya sedang jatuh cinta, itu jelas sesuatu yang spesial dan tak boleh terlewatkan.
“Siapa wanita beruntung itu, Nak? Apa kami mengenalnya?”
Azka mengangguk, seulas senyum terbit di wajahnya. “Iya, kalian mengenalnya.”
“Huaaa!” Kinan menutup mulutnya sendiri, takut pekikannya terdengar sampai ke rumah tetangga. “Jangan-jangan Reina?”
Azka menggeleng tegas. “Bukan.”
“Kalau bukan Reina, lalu siapa?” Kinan yakin selain Reina tidak ada wanita lain yang dekat dengan Azka. Tapi siapa wanita yang mereka kenal dan dicintai Azka? Kinan dan Zayn sibuk berpikir, mencari tahu siapa kenalan mereka yang bisa saja jadi dambaan Azka.
“Mama dan Papa tidak perlu pusing memikirkan siapa orangnya. Yang paling penting dia orang yang akan membuat Azka bahagia.”
Senyum Azka waktu itu terasa ringan, hangat dan penuh kebahagiaan. Namun, kini hilang bagai ditelan bumi. Kinan kembali menghela napas panjang nan berat. “Andai wanita yang dicintai Azka adalah Reina ....”
***
“Dia masih depresi?” celetuk Dimas begitu tiba di apartemen Azka. Reina yang membukakan pintu langsung memelototinya dengan tajam. “Kenapa, sih? Aku kan hanya bertanya.”
Bola mata Reina berotasi, setelah menutup pintu dia segera menyusul Dimas yang menuju kamar Azka. “Jaga bicaramu di depan Azka, Dimas,” desis Reina. Wanita itu tidak ingin Dimas yang suka to the point, menyerang Azka dengan kata atau fakta menyakitkan di saat kondisinya sedang tidak baik-baik saja.
Tak memedulikan peringatan Reina, Dimas langsung masuk ke kamar Azka. Lelaki itu menggeleng-geleng pelan melihat si pemilik kamar duduk lesuh di lantai dengan kepala bersandar di pinggiran ranjang. Kondisi kamar tidak terawat; selimut berantakan, pecahan vas berserakan, baju kotor di mana-mana, pintu balkon terbuka lebar, serta album-album foto berisikan foto Hana yang tergeletak begitu saja di depan Azka. Dimas yakin Azka menghabiskan waktunya hanya untuk memikirkan Hana dan melihat kondisi kamar Azka yang sudah seperti kapal pecah, Dimas yakin Reina tidak berani masuk untuk beres-beres. Wanita itu hanya membersihkan ruangan-ruangan lain di apartemen Azka.
Dimas perlahan mendekat, melempar jasnya ke tempat tidur Azka kemudian ikut duduk di samping Azka. Dimas bisa melihat kantun mata menggantung di wajah Azka, lelaki itu yakin kalau Azka pasti sangat menderita. Namun, kenapa penolakan Hana memberi dampak segitu dahsyatnya? Dimas jadi bertanya-tanya apakah Azka sudah tahu bahwa Hana adalah istri orang atau tidak, memilih bertanya pun Dimas tidak ingin, bisa saja Azka belum tahu dan malah rahasia itu dia yang membeberkannya.
“Patah hati semenyakitkan itu, ya?” ujar Dimas, dia memperhatikan gerak-gerik Azka ketika mengatakan itu, tetapi Azka tidak menunjukkan reaksi apa pun. Dimas kemudian mengeluarkan rokok dari saku celananya lalu menyodorkan kepada Azka. “Mau rokok? Yah, aku tahu kau tidak merokok. Tapi terkadang, orang depresi butuh nikotin.”
“Haaah.” Azka menghela napas panjang, dia lalu menengadahkan wajah yang semula terus menunduk. Tangannya meraih sebatang rokok yang disodorkan Dimas. “Thanks,” ujarnya.
Azka mengisap rokok itu dalam-dalam dan seketika terbatuk. Namun, diulanginya kembali meski tahu dirinya tidak bisa merokok. Dimas memperhatikan itu dengan tatapan miris. Padahal ada Reina, perempuan yang selalu ada di sisi Azka dan sangat mencintainya, tetapi Azka malah mengharapkan cinta dari wanita bersuami.
“Dia sudah menikah.”
Sunyi yang sempat mendominasi ruangan itu lantas terpecah karena suara Azka. Meski Dimas sudah menebak-nebak hal itu, tetapi dia cukup terkejut karena Azka menceritakannya tiba-tiba dan tentu dengan kondisi yang tidak baik-baik saja. Untuk sesaat Dimas bingung memberi tanggapan apa, mengangguk berarti membuktikan kalau dia sudah tahu yang sebenarnya. Mau pura-pura terkejut pun rasanya aneh. Namun, Dimas memilih pilihan kedua.
“Siapa yang menikah?”
“Hana.”
“Apa?” Dimas pura-pura terkejut. “Dari mana kau tahu?”
Azka tidak langsung menjawab, tatapannya kini mengarah pada balkon kamar. “Dia sendiri yang cerita.”
“Jadi ... alasan dia menolakmu adalah ini?” tanya Dimas hati-hati.
Azka mengangguk singkat, kemudian kembali menoleh pada Dimas. “Itu alasan konyol, bukan?”
Dimas tidak mengangguk, pun menggeleng. Hanya diam.
“Saat Hana mengatakan itu, kupikir dia memberi alasan palsu. Tetapi setelah bertanya ke pembantunya, akhirnya aku percaya.” Kepala Azka tertunduk. “Ternyata aku mencintai istri orang.”
Dimas memandang Azka penuh prihatin. Lelaki mana pun pasti akan begitu terpukul jika berada di posisi Azka. Diberi harapan seluas samudra, tetapi saat sudah memberikan seluruh hati, semuanya malah dicampakkan. ‘Maaf, Azka. Andai aku tidak menekan Hana, dia pasti sudah menerimamu. Tapi, jika itu terjadi, kau pasti akan lebih menderita. Maaf karena membuatmu patah hati seperti ini.’ Batin Dimas.
“Kalau dia istri orang, bukankah itu alasan yang tepat untuk meninggalkannya dan mencoba move on?”
Terdengar suara tawa Azka, tetapi nadanya begitu memprihatinkan. “Andai hanya aku yang jatuh cinta, ini pasti akan mudah.”
“Maksudmu?”
Azka menatap Dimas dengan serius. “Sayangnya kami saling mencintai, Dimas.”
“Hah!” desah Dimas. Lelaki itu kemudian bangkit berdiri di depan Azka. “Dengar, meskipun kalian saling mencintai, tetapi kalian tidak ditakdirkan untuk bersama.”
“Bagaimana kau yakin dengan hal itu? kami belum mencoba memperjuangkannya.”
“Hei! Kalau wanita itu ingin berjuang denganmu, seharusnya dia sudah memintanya sekarang. Tapi apa? Dia malah mencampakkanmu, kan?”
Azka mendongak dan menggeleng tegas. “Dia pasti punya alasan.”
“Arght! Kenapa kau bodoh sekali sih?” gerutu Dimas lalu menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. “Buka matamu, Azka. Ada banyak wanita single di sekitarmu. Jangan menyia-nyiakan hidupmu dengan menunggu istri orang.”
Azka terdiam. Entah mendengarkan atau tidak peduli. “Orang tuamu mencemaskanmu, Azka. Bukan hanya mereka, aku dan Reina juga khawatir padamu.” Dimas melompat turun dari ranjang kemudian berjongkok di depan Azka. “Bro, kalau move on tidak semudah yang kau katakan, maka coba saja untuk kembali menjalankan hidup. Tidak perlu cepat-cepat melupakan, setidaknya hargai waktumu yang berharga. Ada banyak orang yang menyayangi dan membutuhkanmu. Jadi, kembalilah seperti Azka yang dulu.”
“Ck.”Azka berdecak, meninju pelan bahu Dimas seraya tertawa pelan. “Kau benar. Aku akan mencoba melanjutkan hidup.”
“Ini baru Azka.”
***
“Tumis kangkung, sudah. Ayam kecap, sudah. Sup ayam, sudah. Oke, beres!” Reina menatap puas masakan yang sudah tertata rapi di meja makan. Wanita itu kemudian duduk sambil bertopang dagu, memperhatikan sekeliling ruang dapur dan makanan yang tersaji di hadapannya. Sudah seperti Nyonya Mahendra,’ pikirnya tiba-tiba. Reina mengulas senyum tanpa sadar saat membayangkan dirinya berperan sebagai istri Azka. Namun, sedetik kemudian ingatan tentang Azka yang begitu mencintai Hana membuat senyumnya menghilang. Untuk menetralisir perasaannya, Hana mengembuskan napas panjang berulang kali hingga merasa lega.
Reina kemudian menaruh celemek ke tempatnya dan segera menuju kamar Azka. Di depan pintu berwarna merah bata itu, Reina terdiam cukup lama. Ada perasaan ragu saat ingin mengetuk. Bukan apa-apa, beberapa hari ini Azka menolak tawarannya untuk makan. Tidak ingin kondisi Azka jadi parah, Reina memberanikan diri untuk mengetuk.
“Azka, makanannya sudah siap. Ayo, makan!” ajaknya seperti biasa. Namun, seperti biasa pula Azka tidak menjawab. “Azka, kalau kau tidak makan, bisa-bisa kau jatuh sakit. Kau mau membuat murid-muridmu sedih?”
Lagi, tak ada jawaban. Reina menghela napas berat, sesaat setelah dia beranjak dari depan kamar Azka, suara lelaki itu terdengar. “Makanlah duluan, nanti aku menyusul.”
Hanya itu, tetapi membuat Reina senang luar biasa. “Baik!”
***
Uhuk! Uhuk!
“Mama, muka Mama pucat. Mama sakit?”
Gadis kecil berusia lima tahun itu menempelkan punggung tangannya di kening sang ibu. “Gak panas kok. Tapi kenapa Mama pucat? Mama lapar?”
Nadine yang sejak tadi siang terbatuk-batuk lantas menatap putrinya dengan tatapan sayu. “Nara ... bisa panggilin Bibi? Mama haus,” pintanya.
“Baik, Mama.” Nara segera turun dari ranjang dan berlari keluar dari kamar. Sepeninggal Nara, Nadine segera bangun dari tempat tidur dan buru-buru ke kamar mandi. Di sana batuk hebat menyerangnya, sampai-sampai mengeluarkan darah.
“Darah?” desisnya. Cepat Nadine menyalakan keran wastafel, takut Nara tiba-tiba datang dan melihatnya dengan kondisi seperti ini. “Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan?” Nadine menatap dirinya dari pantulan cermin. Wajah wanita di cermin begitu menyedihkan, kurus dan pucat, serta beberapa bercak darah yang masih belum dibersihkan.
“Mama, ini minumnya.”
Nadine meraih tisu dengan cepat, melap noda darah yang masih menempel di pakainnya. Setelah yakin penampilannya lebih baik, dia segera keluar dari kamar mandi. Nara sudah menyambutnya dengan segelas air minum yang sudah diletakkan di nakas. “Bibi gak ada di dapur, Ma. Nara gak tahu Bibi ke mana,” lapor Nara.
Nadine mengusap pipi putrinya dengan lembut. “Tidak apa-apa, kan ada Nara yang ambilin.” Tertatih, Nadine segera berbaring di tempat tidur. “Nara, ayo sini sama Mama,” ajaknya.
Nara mengangguk. Gadis itu segera mengambil tempat di samping ibunya. “Nara jaga Mama, ya? Mama kan sakit.”
Senyum lemah Nadine berikan. Dia bersyukur memiliki putri yang sangat menyayanginya. Meskipun sang suami tidak bersamanya, tetapi dengan hadirnya buah hati mereka, Nadine sangat bersyukur. Sambil berbaring menemani Nara yang bermain di sampingnya, Nadine meraba ponsel yang dia letakkan di bawah bantal. Nadine merasa kepalanya berdenyut dengan keras dan nyeri sangat terasa.
Nadine menekan ikon call pada nomor Rama. Nada sambung mulai terdengar, Nadine menunggu. “Ha—“
“Nomor yang Anda tuju tidak menjawab, silakan ulangi beberapa saat lagi.”
Suara provider memotong sapaan Nadine. Wanita itu mendesis jengkel, kemudian kembali menelepon. Nada sambung kembali terdengar, tetapi lagi-lagi tak ada jawaban. Napas Nadine mulai memburu. “Aku mohon angkat, Mas!”
Satu kali, dua kali, tiga kali .... “Kenapa tidak ada jawaban? Uhuk!” Nadine kembali terbatuk disertai darah yang keluar dari mulutnya. Tiba-tiba napas Nara mulai sesak dan nyeri di kepala begitu kuat. Sebelum kehilangan kesadaran, hal terakhir yang didengar Nadine adalah tangisan Nara yang memanggil namanya.
***
“Totalnya 453.500.”
Reina mengangguk. Dia meraba dompetnya, tetapi tidak ada. “Tunggu ya, Mas.”
Si mas-mas kasir super market mengangguk. Reina mencari ke seluruh kantung baju tetapi tiak menemukannya. “Astaga, Mas. Sepertinya dompet saya ketinggalan. Saya izin menelepon dulu, ya?”
“Iya, Mbak.”
Reina bergegas menelepon Azka, tetapi baru beberapa detik dia langsung mengakhiri panggilannya. “Ayolah, Reina, Azka saat ini tidak bisa dimintai tolong,” gumamnya. Wanita itu beralih menghubungi Dimas. Tidak butuh waktu lama, Dimas langsung mengangkatnya.
“Aku baru meninggalkan kalian dua jam yang lalu, tetapi kau sudah rindu?” Gombalan Dimas menyapa.
Reina memutar bola mata dan berdecak. “Berhenti main-main. Cepat ke super market yang tidak jauh dari apartemen Azka. Bawa uang, aku butuh bantuan.”
“Hei, kau kenapa? Ada apa?”
“Tidak usah banyak bertanya, cepat datang!”
“Ta—“
Reina langsung mematikan telepon. Di seberang sana Dimas yang baru mau tidur siang lantas menggerutu. Segera dia bangun dan meraih jaketnya. “Dasar Reina!” gerutunya.
Reina mengetuk-ketukkan kakinya di lantai, menunggu kedatangan Dimas. Sudah lima menit tetapi lelaki iu belum datang. Reina jadi malu karena membuat pegawai super market menunggu. “Tunggu ya, Mas,” ucapnya seraya mengangguk kecil.
“Iya, Mbak.”
Reina merutuki kecerobohannya. Bisa-bisanya dia melupakan dompetnya, padahal itu adalah benda paling penting. Siang ini Reina memang belanja untuk keperluan dapur Azka. Kulkas lelaki itu sudah hampir kosong dan Reina tidak ingin meninggalkan lelaki itu dalam keadaan kekurangan makanan.
Tidak lama kemudian, Dimas datang. Sebelum Reina mengomelinya, dia segera menyodorkan dompetnya kepada Reina yang langsung disambut wanita itu dengan senang. Setelah membayar mereka segera keluar dari sana.
“Zaman sudah canggih, tapi kau tidak menggunakan uang elektrik?” celetuk Dimas saat memasukkan belanjaan Reina ke bagasi mobilnya.
Reina yang baru duduk di kursi penumpang bagian depan lantas menepuk kening. “Astaga, Dimas! Kenapa aku gak kepikiran?”
“Kau kekurangan fokusmu karena terlalu memikirkan Azka,” ucap Dimas kemudian menjalankan moil.
“Ah, tidak kok. Aku cuman gak kepikiran aja.”
“Yah, baiklah. Oh ya, kita mampir ke resto dulu, ya? Lapar nih.”
“Baiklah.”
***
“Jadi dia sudah menikah?” pekik Reina dengan mata melotot.
Dimas berdecak. “Jangan berisik, ganggu tahu!” tegur Dimas karena akibat suara Reina yang cukup keras, mereka jadi pusat perhatian. Reina masih syok untuk sekadar merespons. Bertanya-tanya bagaimana mungkin Hana sudah menikah, sedangkan wanita itu memadu kasih dengan Azka. Sempat terbesit pikiran kalau Hana w************n yang suka selingkuh, tetapi sisi hatinya yang lain membantah hal itu. Dia memang baru beberapa kali bertemu dengan Hana, tetapi Reina yakin kalau dia adalah perempuan baik-baik.
“Hana pasti punya alasan bermain di belakang suaminya,” komentarnya setelah bisa mengendalikan diri.
Dimas membenarkan dalam hati. Dia mungkin orang yang paling tahu alasan Hana melakukan itu. Memiliki suami seperti Rama memang hanya akan memupuk luka. Namun, Dimas tidak ingin berkomentar apa pun tentang Hana.
“Ini mungkin kesempatan untuk mendekati Azka, Reina,” ujar Dimas tiba-tiba.
Reina melotot. “Apa maksudmu?”
“Dengar.” Dimas meraih coffe late-nya terlebih dahulu kemudian berkata, “Saat ini Azka sedang galau karena kenyataan bahwa Hana sudah menikah. Di saat-saat terpuruk seperti inilah lau harus mendekati Azka aga—“
“Tunggu,” potong Reina. “Kemarin kau melarangku berharap pada Azka. Sekarang kenapa kau malah mendorongku mendekatinya?”
“Karena sekarang ada alasan untuk Azka merelakan Hana.”
Ucapan Dimas benar. Kemarin-kemarin Azka sedang berbunga-bunga dengan kehadiran Hana. Kalau pun sekarang Azka masih mencintai Hana, sekarang tak ada jalan untuk mereka bersama. Kecuali Hana bercerai dengan suaminya. Namun, hal itu mungkin takkan terjadi mengingat Hana langsung mencampakkan Azka setelah lelaki itu menyatakan cintanya yang artinya Hana tidak mencintai Azka. Itu artinya aku punya kesempatan?
“Ini kesempatanmu. Kau harus menggunakannya sebaik mungkin.”
“Tapi apa aku akan berhasil?” tanya Reina sangsi.
“Kenapa kau ragu? Kau harus per—“
Dering ponsel Dimas menginterupsi. Melihat nama yang muncul di ID Caller, dia segera mengangkatnya. Entah apa yang dikatakan si penelepon, wajah Dimas mendadak pucat. Mematikan telepon sesegera mungkin, Dimas berdiri, meletakkan uang seratus ribu beberapa lembar di hadapan Reina. “Aku harus pergi. Pokoknya kau harus mencobanya!” setelah itu Dimas secepat mungkin berlari menuju mobilnya.
“Dimas kenapa?”