Dimas berlari menelusuri koridor rumah sakit. Kekhawatiran tergambar jelas di wajahnya. Wanita paruh baya yang cukup familier bagi Dimas menyambut lelaki itu di depan UGD bersama seorang gadis kecil yang matanya sembab. “Apa yang terjadi dengan Nadine, Bi?”
“A-anu, Den ....”
Pembantu Nadine itu tidak sempat menjelaskan karena dokter tiba-tiba keluar dari ruangan tersebut. Dimas segera menghampirinya. “Suami Bu Nadine?” tanya dokter.
Dimas menggeleng. “Bukan, Dok. Saya sepupunya. Suaminya sedang di perjalanan. Bagaimana keadaan adik saya, Dok?”
“Kondisi pasien saat ini sudah membaik. Untungnya beliau cepat dibawa ke sini. Mungkin pasien sedang banyak pikiran hingga membuatnya drop. Saya sarankan keluarga menjaga pasien dengan baik, jangan biarkan dia banyak berpikir.” Dokter mengambil bolpoin lalu mencatat sesuatu di kertas kemudian menyodorkannya kepada Dimas. “Ini resep obatnya, silakan ditebus.”
“Baik, Dok.”
Dimas memejamkan matanya berat. Dia bisa menebak apa yang dipikirkan Nadine hingga membuatnya drop. Apa lagi kalau bukan tentang suaminya?
“Paman?” panggil Nara.
Dimas hampir melupakan keponakannya itu. Dimas kemudian berbalik dan menggendong Nara. Mata gadis itu sembap, pasti karena khawatir dengan ibunya. “Mama baik-baik saja kan, Paman?”
“Iya, Mama pasti baik-baik saja.”
“Mama sakit, tapi Papa gak ada.”
“Sabar ya, Sayang. Papa lagi di jalan. Oh, ya, Nara mau ketemu Mama, kan? Sana, Nara masuk duluan, nanti Paman nyusul.”
Nara mengangguk paham. “Baik, Paman.”
Dimas kemudian menurunkan Nara. Setelah gadis itu masuk ke ruang UGD, Dimas segera menghampiri Bi Darsi, pembantu Nadine. “Bi, Rama ke mana?”
Bi Darsi menggeleng takut. “Tuan tidak mengangkat teleponnya, Den.”
Rahang Dimas mengeras. “Bibi lebih baik masuk dan temani Nara, sebentar lagi Nadine dipindahkan ke ruang rawat. Biar saya yang telepon Rama.”
“Baik, Den.”
Dimas kemudian mengeluarkan ponsel, menghubungi Rama. Namun, tidak ada jawaban, hanya nada sambung yang menemani. “Arght! Anak ini ke mana, sih?” gerutunya. Lagi, Dimas menelepon, tapi hasilnya tetap sama. “Rama sialan, kalau sampai terjadi apa-apa pada Nadine, akan kubuat kau menyesal telah mengabaikannya!”
***
“Huaaa! Ian senang banget! Besok-besok kita jalan-jalan lagi, ya, Ayah, Bunda?” seru Ian sambil berlari masuk ke rumah.
Rama dan Hana saling tatap kemudian tersenyum bersama. “Iya, weekend nanti, kita jalan-jalan lagi,” janji Rama.
“Hore!” seru Ian senang.
Hana menghela napas lega. Senang karena bisa melihat Ian bahagia seperti dulu. Meski butuh pengorbanan, Hana merasa keputusannya adalah tepat karena bisa melihat keluarga kecilnya kembali seperti dulu. Wanita itu kemudian meletakkan beberapa paper bag di meja, hasil belanjaan Ian seharian. Libur hari ini Rama mengajak mereka ke tempat-tempat wisata di Jakarta, menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya.
“Mas, aku antar Ian ke kamar dulu, ya? Mas mandi saja, Bi Asih sudah siapkan air panas,” ucap Hana.
Rama mengangguk. Sambil mengacak rambut Ian, dia berkata, “Sana bersih-bersih, lalu tidur.”
Ian mengangguk, saat sudah berada di undakan tangga, Ian kembali berlari dan memeluk ayahnya. “Kenapa, Ian?” tanya Rama.
“Malam ini Ian boleh tidur bareng Ayah sama Bunda, gak?” pintanya.
Hana mengangkat alis, melirik sang suami, menunggu jawaban yang akan diberikan Rama. Apakah dia akan mengabulkan permintaan pangeran cilik mereka ataukah tidak. Rama kemudian berjongkok di depan Ian, menyejajarkan tingginya dengan sang buah hati. “Ian takut tidur sendiri di kamar?”
Ian meggeleng. “Enggak, Ayah. Ian kan pemberani.”
“Trus kenapa mau tidur sama Ayah dan Bunda?”
Ian kemudian menatap sang ibu yang juga menunggu jawabannya, lalu kembali menatap Rama. “Ian kangen banget sama Ayah. Selama ini kan Ayah jarang di rumah, Ian kesepian begitu juga dengan Bunda.” Hati Rama terenyuh mendengar isi hati Ian. Dia jadi merasa bersalah karena sudah membuat anaknya menderita hanya karena pertengkarannya dengan Hana. “Tapi hari ini Ian senang banget! Ayah kembali seperti Ayah yang dulu. Ayah yang selalu ada buat Ian. Ian harap Ayah tetap seperti ini, Ayah yang selalu sayang sama Ian.”
Sedetik kemudian Ian sudah berada dalam dekapan Rama. Kepala Ian dieus Rama dengan sayang. Rama sendiri menciumi pipi putranya itu dengan penuh penyesalan karena selama ini sudah jadi ayah yang tidak baik. “Maafkan Ayah, Sayang. Maafkan Ayah.”
“Ayah ....”
“Maafkan Ayah karena bikin Ian menderita.”
Hana membekap mulutnya, menahan isakan yang mendesak keluar melihat apa yang ada di hadapannya. Selama ini Ian selalu jadi sosok tegar di hadapannya. Tidak pernah terlihat rapuh seperti sekarang ini. Ketiga manusia di ruang tamu itu kini sama-sama menangisi kehidupan mereka yang lalu. Tak hanya mereka sebenarnya, karena di balik pintu penghubung ruang tamu dan ruang keluarga, berdiri sosok Bi Asih yang juga menangis haru. Dialah saksi air mata semua anggota keluarga di rumah itu.
“Semoga kalian selalu bahagia,” bisiknya parau.
***
“Ian sudah tidur?” tanya Hana setelah keluar dari kamar mandi.
Rama mengangguk sambil tersenyum menatap putranya yang tidur sambil memeluk dirinya. Rasa bersalah pada Ian masih menyisakan penyeselan di hati Rama. Anaknya yang masih kecil itu sudah melewati hari-hari yang buruk, Rama berjanji akan membuat Ian terus merasa bahagia.
“Sayang, sepertinya ponselku ada di tasmu,” ucap Rama. Baru ingat jika ponselnya dia silent, Rama takut ada telepon penting.
Hana yang baru selesai memakai piama segera menuju meja untuk mengambil ponsel Rama lalu memberikannya kepada suaminya itu. saat menyalakan ponsel, mendadak Rama diserang kekhawatiran karena banyaknya missed call. ‘Nadine dan Dimas? Ada apa dengan mereka?’ batin Rama. Baru saja Rama akan menelepon, sebuah panggilan masuk dari Dimas sudah menyambutnya. Segera dia mengangkat telepon tersebut. “Ha—“
“Nadine sekarat, bajinhan!”
Bagai disambar petir, Rama membeku. Tanpa memutuskan panggilan, dia segera bangun setelah menggeser Ian. Buru-buru Rama mengambil jaket, dompet, kunci mobil dan segera berlari keluar dari kamar. Saat akan keluar dari rumah, langkahnya terhenti karena seseorang menarik lengannya. “Kamu mau ke mana, Mas?”
Hana. Mata Rama melotot. Dia melupakan Hana. Apa yang harus dia katakan?
“Mas, ini sudah tengah malam. Mas mau ke mana? Ada apa?” Hana khawatir melihat wajah suaminya yang pucat.
“A-aku ... ada urusan penting.” Rama mencoba melepas tangan Hana, tetapi Hana menahannya dengan sekuat tenaga.
“Katakan padaku kamu mau ke mana?!” tegas Hana.
Namun, Rama memilih bungkam. Pikirannya ngeblank mendengar kabar bahwa Nadine sekarat. “Mas ...?”
“Hana.” Rama memegang kedua bahu Hana, membuat wanita itu mundur beberapa senti. “Mas tidak bisa menjelaskannya sekarang. Tapi Mas janji tidak akan membuatmu menderita lagi,” ucap Rama sebelum masuk ke dalam mobil.
Hana menggeleng keras, mengetuk-ketuk kaca jendela mobil. “Mas! Katakan padaku kamu mau ke mana? Mas tidak boleh pergi! Mas mau mengecewakan Ian lagi?”
Rama tertegun, tetapi hanya beberapa detik sebelum akhirnya menancap gas pergi dari sana, meninggalkan Hana yang kini tergugu. “Mas ... apa kita harus seperti ini lagi?”
***
Reina terkejut melihat Azka yang tampak segar dan kelihatan tidak murung lagi saat masuk ke apartemen lelaki itu. Reina seolah melihat sebuah keajaiban. Sejam yang lalu dia meninggalkan Azka yang masih terpuruk karena masalahnya dengan Hana, tetapi sekarang lelaki itu sudah ada di sini dengan wajah seperti biasa, seolah tidak ada beban.
“Ah, Reina. Ayo, sini,” panggil Azka.
Reina bingung sekaligus penasaran apa yang membuat Azka berubah secepat itu. Apakah perkataan Dimas tadi pagi yang membuat lelaki itu sekarang berdiri tegar tanpa celah? Reina melangkah ragu, entah kenapa, padahal harusnya dia senang karena Azka sudah melupakan kesedihannya. Namun, melihat dia berubah hanya dalam beberapa jam itu membuat Reina khawatir. Reina takut Azka memendam perasaan sedihnya dan suatu saat nanti akan meledak seperti bom waktu.
“Kamu sudah makan?” tanya Reina pelan setelah duduk di depan Azka. Melihat makanan yang tadi dia siapkan di meja belum berkurang sedikit pun, harusnya Reina sudah tahu jawabannya. Namun, keheranan membuat pertanyaan itu keluar begitu saja.
Tak terduga, Azka tertawa, pelan tapi membuat Reina terpana. “Belum. Aku menunggumu. Ayo, kita makan bersama,” ajaknya.
Reina mencubit lengannya, ingin membuktikan ini mimpi atau bukan. Saat merasa cubitannya sakit, Reina mengembangkan senyum. Ini benar-benar nyata. Azka sudah tidak murung lagi.
“Ayo, makan!” perintah Azka.
Reina mengangguk. Senyumnya tidak luput dari wajahnya. Meski tadi sudah makan bersama Dimas, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama Azka. Dia memang sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun bersama Azka, tetapi sangat jarang Azka memperhatikannya seperti sekarang. Contohnya mengambilkan makanan untuk Reina. Harapan yang sempat dikubur di hati Reina kini kembali bertunas, Reina berdoa kesempatan untuk memiliki Azka datang.
“Dimas tidak cerita apa-apa padamu?” Suara Azka membuyarkan pikiran-pikiran Reina. Wanita itu mendongak menatap Azka kemudian mengangguk. Meski sudah menduga Azka akan tahu bahwa Dimas bercerita padanya, tetapi jika ditanya terang-terangan membuat Reina waswas juga. Takut Azka salah paham atau apa.
“Mungkin Dimas sudah cerita kalau Hana sebenarnya sudah menikah.”
Reina memperhatikan diam-diam mimik wajah Azka saat membahas tentang Hana. Hati wanita itu kembali perih melihat kemurungan di wajah Azka kembali lagi. ‘Sepertinya butuh waktu lama untuk melupakan Hana, ya?’ batin Reina.
“Rasanya baru kemarin aku bahagia bisa bertemu dengan cinta pertamaku, rasanya baru kemarin aku ditolak dan dipermalukan mentah-mentah di depan banyak orang. Dan sekarang aku malah mendapat fakta menyakitkan seperti ini?” Azka tertawa hambar. “Menyedihkan ya, Reina? Apa aku salah karena jatuh cinta?”
Reina meletakkan sendok dan garpunya. Selera makannya mendadak hilang membahas permasalahan Azka. “Jatuh cinta itu bukan kesalahan,” ujar Reina. “Hanya saja terkadang cinta datang terlambat dan tidak di waktu yang tepat.” ‘Seperti aku yang terlambat setelah kau mencintai orang lain’, tambah Reina dalam hati.
Azka mengangguk pelan. “Kau benar, aku terlalu terlambat.”
Sunyi kini menguasai, bahkan denting sendok pun tak terdengar karena kedua orang itu sama sekali tidak menyentuh makanannya, membuat suasana benar-benar dikuasai oleh kesunyian. Reina tidak ingin memulai karena tahu pembahasan berikutnya masih akan tetap dengan topik yang sama, yaitu tentang Hana. Sedangkan Azka tengah menikmati kesunyian.
“Menurutmu apa yang harus kulakukan, Reina?” Akhirnya Azka bicara setelah beberapa menit berlalu.
‘Lupakan Hana, berlarilah kepadaku. Aku akan memberikan cintaku seutuhnya kepadamu’. Reina ingin sekali mengatakan itu, tetapi yang keluar dari mulutnya adalah. “Apa pun itu, tetap ikuti kata hatimu. Jika kau ingin melupakannya, silakan.Tapi jika kau masih tetap mengharapkannya, itu boleh saja. Karena di dunia ini tidak ada orang yang tahu akhir dari sebuah kisah cinta.”
Azka tersenyum, perasaannya sedikit lega. “Aku ada satu pertanyaan lagi untukmu, Reina.”
“Apa itu?”
“Hm ... menurutmu, Hana orang yang seperti apa?”
Reina memperhatikan wajah Azka, sepertinya sekarang dia mengerti arti pertanyaan lelaki di hadapannya itu. “Kalau kau mengira aku menganggap Hana sebagai w************n, kau salah, Azka,” ucapnya. “Bertemu beberapa kali dengan Hana membuatku tahu kalau dia adalah wanita baik-baik. Terlepas dari apa yang dia lakukan, aku tetap menganggapnya sebagai temanku.”
Kelegaan luar bisa merasuk di paru-paru Azka, lelaki itu meraih kedua tangan Reina yang berada di meja, menggenggamnya dengan erat. Tatapan mata Azka hangat menatap reina. “Terima kasih sudah jadi sahabatku, Reina. Kau memang orang baik.”
Berbeda dengan Azka yang saat ini merasa lega setelah bicara dengannya, Reina justru sudah seperti kepiting rebus. Genggaman Azka membuatnya teringat saat dia melewatkan malam bersama Azka. ‘Jangan membuatku gila, Azka!’ teriaknya dalam hati.
***
BUGH!
Satu pukulan menghantam wajah Rama dengan telak begitu dia sampai di kamar rawat Nadine. Jelas saja serangan itu membuatnya jatuh terjerembap. “Ke mana saja kau, hah? Sepupuku sakit dan kau tidak ada?!” bentak Dimas.
Rama mengusap sudut bibirnya yang kena tonjok oleh Dimas. Lelaki itu meringis karena sudut bibirnya robek dan mengeluarkan sedikit darah. Rama sebenarnya kesal karena perbuatan Dimas yang semena-mena, tetapi dia mengakui dirinya salah. Salah karena tidak selalu menjaga Nadine. Tanpa memedulikan Dimas, Rama bangkit mendekati Nadine yang kini tertidur di ranjang rumah sakit bersama alat-alat medis yang menempel di tubuhnya.
Perasaan bersalah lantas menyergap Rama melihat wajah pucat istrinya itu. Rama tidak bisa membayangkan bagaimana sakit yang dirasakan Nadine. “Sejak kapan Nadine dirawat?” tanyanya pelan.
“Sejak kau tak bisa dihubungi, brengsk!”
Rama menelan bulat-bulat makian kasar Dimas. Dia tahu dirinya salah dan itu memang pantas untuknya. Rama bisa mendengar helaan napas Dimas yang kasar, Rama tahu Dimas sangat khawatir dengan keadaan sepupunya, itu sebabnya dia bersikap seperti itu. derit kursi terdengar, kali ini di dekat jendela besar. Di sana Dimas memandang keluar jendela.
“Nadine ... satu-satunya keluarga yang kupunya sekarang,” ujar Dimas. Suaranya serak. “Kalau aku kehilangan dia sekarang ... aku tidak tahu harus bagaimana.” Lelaki itu menunduk, Rama bisa melihat bahu Dimas bergetar, Rama yakin dia menangis.
Rama menunduk dalam-dalam, menggenggam tangan Nadine yang dingin dan pucat, seakan tak ada aliran darah di dalamnya. “Maaf ...,” bisik Rama. “Beberapa hari ini aku bersama Hana.”
Dimas mengeraskan rahang, berbalik menghadap Rama. Jarak mereka hanya tiga meter. “Meskipun sedang bersama istri sahmu, apa kau tidak bisa mengangkat sekali saja panggilan telepon?” Dimas mengerang tertahan. “Aku tahu sekarang hubunganmu dengan Hana sudah membaik, tapi bisakah kau menunggu sedikit lagi? Hidup Nadine tidak lama lagi, biarkan dia bahagia. Tolong jangan tinggalkan dia sekarang.”
Rama tidak menjawab. Pikirannya kali ini sedang kalut.
***
04.21
Hana memandang nanar jam yang menempel di dinding kamar. Sudah hampir fajar tetapi Rama belum memberi kabar. Ada perasaan takut yang Hana rasakan saat melihat Rama pergi. Perasaan seperti kali ini dia akan kembali dicampakkan.
Sejak Rama pergi, Hana sama sekali belum tidur. Hati dan pikirannya dipenuhi oleh pertanyaan ke mana perginya sang suami. Hana sudah berusaha menelepon Rama, memberondonginya dengan SMS, tetapi suaminya itu sama sekali tidak merespons. Hana mengalihkan pandangan dan menatap Ian yang masih tertidur pulas. Wanita itu meremas jemarinya resah, membayangkan reaksi Ian saat bangun tidur dan tidak mendapati sang ayah. Hana yakin Ian akan sedih lagi.
“Mas Rama ... kamu ke mana?”